
Pada hari ini Hotel Bellagio akan diadakan pesta pernikahan Drew Gibson, putra Clovis Gibson yang merupakan CEO Draco Group, cabang dari Keluarga Gibson, mereka sudah menyewa seluruh hotel sejak pagi untuk mengadakan pesta pernikahannya.
Para tamu perjamuan tidak hanya terdiri dari kerabat dan teman, tapi juga mitra bisnis, sehingga Hotel Bellagio sangat ramai hari ini.
Ketika Erwin, Lina dan yang lainnya tiba, sudah ada banyak mobil mewah yang terparkir di tempat parkir, para tokoh dari berbagai kalangan dan kelas keluar dari mobil.
Lina yang sudah berdandan dengan teliti juga keluar dari mobil, dia mengenakan gaun putih-merah tanpa bahu yang memamerkan bentuk tubuhnya yang bagus, dengan rambut gelombang yang menawan itu, Lina tampak seperti seorang putri kerajaan yang anggun.
“Lina, kamu mencuri pusat perhatian dari mempelai wanita ya?” Erwin berkata dengan setengah bercanda, Lina hari ini benar-benar sangat cantik sehingga Erwin pun sedikit terpana.
"Sejak kapan mulutmu menjadi semanis itu." Lina mengangkat sudut bibirnya, tapi hatinya terasa manis, dia segera meraih lengan Erwin dengan penuh kasih sayang dan berjalan menuju lift.
Mereka naik lift dari tempat parkir ke lobi lantai pertama. Ada seorang wanita muda cantik di meja resepsionis yang bertanggung jawab untuk mendaftarkan nama para tamu, kerabat ataupun teman. Setelah Lina membawa Erwin mendaftarkan nama mereka, wanita resepsionis itu memberi Lina sebuah plat nomor.
"Meja No. 28, seharusnya meja teman masa sekolah." Lina mengambil plat nomor tersebut dan berjalan masuk bersama Erwin.
Di sepanjang jalan, banyak tamu pria dan wanita yang tanpa sadar melihat ke arah Lina. Penampilan Lina yang bagaikan bidadari turun ke bumi benar-benar mengejutkan banyak orang yang hadir, hingga Erwin merasa sedikit tekanan.
"Lina, berjalan denganmu benar-benar tertekan sekali," Kata Erwin dengan nada setengah bercanda.
"Makanya cepat lamar aku kalau tidak mau tertekan." Lina menjawab dengan sedikit arogan.
Erwin juga ingin melamar Lina, tapi sayangnya masih ada halangan dari kontrak pernikahan.
Keduanya mengobrol dan tertawa sejenak dan tiba di meja nomor 28. Seperti yang diduga, orang-orang yang duduk di sini adalah teman masa sekolah, baik pria maupun wanita.
"Lina, lama tidak bertemu, kamu semakin cantik saja." Para teman perempuan menyapa dengan iri.
Lina juga menanggapi. Setelah mengobrol sebentar, mereka semua menatap Erwin di samping Lina.
"Lina, ini pacarmu? Berkarir di bidang apa? Keluarganya pasti kaya, 'kan?"
"Lina kita secantik ini pasti punya pacar yang sukses, 'kan?"
"Ayo kenalkan, buat kami iri padamu."
__ADS_1
Semua teman perempuan di sini ingin tahu karir pacar Lina beserta latar belakang keluarganya.
Ketika Lina hendak memperkenalkan, sebuah suara dengan sedikit nada sarkas tiba-tiba terdengar dari belakang.
"Tak perlu iri, pacar Lina ini cuman anak miskin pedesaan, bekerja sebagai manajer departemen yang gajinya cuman 20 juta sebulan, mobil juga hanya merek BYD."
Mendengar ini, semua orang yang hadir menoleh untuk melihat sekeliling, kemudian terlihat seorang pemuda tampan yang berdiri dengan seringai di mulut, pakaian di tubuhnya juga merupakan merek internasional dengan gaya tren terkini, yang jelas merupakan orang kaya.
Pria ini adalah teman masa sekolah Lina, Fintan, yang juga merupakan salah satu pria yang pernah mengejar Lina, tapi ditolak.
Fintan melihat Lina dan Erwin keluar dari mobil BYD di tempat parkir, jadi rasa cemburu membuatnya menyuruh anggota keluarga untuk menggali informasi tentang Erwin hanya bermodal plat nomor mobil, itulah sebabnya dia bisa tahu serinci itu tentang pekerjaan Erwin.
"Lina, kamu juga primadona semasa sekolah, tetapi kenapa cari pacar yang seperti ini?" kata Fintan sambil duduk di tempat duduk meja nomor 28.
Mendengar ini, teman-teman perempuan lainnya tanpa sadar meminta konfirmasi.
"Lina, yang dibilang Fintan itu benar ya?"
Sebenarnya, mereka juga berharap apa yang dikatakan Fintan itu benar. Dulu Lina adalah primadona sekolah yang banyak dikejar oleh pria tampan maupun kaya, tapi semuanya ditolak.
Sekarang setelah lulus justru punya pacar miskin, memikirkan itu membuat mereka diam-diam merasa puas.
"Jadi ternyata benar. Lina, kamu itu cantik sekali, jadi kenapa tidak cari yang kaya? Dengan begitu sudah bisa menjadi istri yang kaya selama sisa hidupmu." Salah satu teman perempuan, Fariah, tampaknya mulai membujuk dengan niat baik.
Tetapi sebenarnya dia merasa sangat puas karena keberadaan Lina selalu menekannya saat masih sekolah, tetapi setelah justru dapat pacar yang biasa-biasa saja, jelas itu membuatnya senang.
Manusia memang seperti ini, kecemburuan selalu bekerja, begitu seseorang yang dulunya lebih baik dari dirinya dalam segala hal berakhir buruk, pasti akan merasa puas.
"Lina, kenapa tidak cari pacar sepertiku." Teman perempuan lainnya, Jannah, memperkenalkan seorang pria tampan di sampingnya.
"Meskipun pacar bukan orang kaya, tapi dia seorang wakil CEO perusahaan dengan gaji tahunan 100 juta perbulan, mobilnya juga merek BMW."
Teman-teman perempuan lainnya juga sangat setuju dengan kata-kata Jannah, Lina yang begitu cantik sungguh tidak memanfaatkan parasnya sebaik mungkin untuk mencari pacar yang bisa diandalkan.
Tepat ketika mereka meremehkan Lina, pengantin hari ini, Nadira, datang ke meja nomor 28 sambil tersenyum.
__ADS_1
"Terlihat menyenangkan, apa yang sedang kalian bicarakan?"
Dia datang ke sini untuk mengumpulkan hadiah dan sekalian mengobrol dengan teman-teman lama ini.
"Tentang pacar Lina. Ngomong-ngomong, Nadira, ini sedikit hadiah dariku, selamat atas pernikahanmu yang bahagia," kata Jannah dan menyerahkan sebuah amplop merah.
"Selamat atas pernikahanmu Nadira." Lina juga menyerahkan amplop merah, dia sedikit iri karena ingin mengenakan gaun pengantin juga suatu hari nanti.
Setelah semua orang di meja menyerahkan amplop merah, Fintan tidak hanya mengeluarkan amplop merah, tapi juga sebuah hadiah.
"Nadira, kudengar kau suka perhiasan, jadi aku bawakan satu dari luar negeri sebagai hadiah pernikahanmu, kuharap kau menyukainya."
Sambil berbicara, Fintan langsung membuka kotak seukuran telapak tangan dan memperlihatkan kalung perhiasan berwarna merah di dalamnya.
“Ya Tuhan, Kalung Bulan Merah, ini setidaknya 2 miliar, kamu terlalu murah hati Fintan!” Nadira menyukai perhiasan, jadi otomatis tahu barang-barang perhiasan, terlebih lagi dia juga bekerja di sebuah perusahaan perhiasan sehingga bisa langsung tahu bahwa kalung bulan merah itu asli dan setidaknya seharga 2 milliar.
Orang-orang yang hadir tidak bisa menahan pandangan iri.
"Fintan memang murah hati sekali."
Mendengar pujian dari yang lainnya, Fintan merasa bangga dan mengalihkan pandangannya ke arah Erwin, dia tiba-tiba ingin mempermalukannya lagi, jadi memberitahu Nadira.
"Nadira, kami baru saja bicara tentang pacar Lina, kau tahu orang seperti apa yang Lina pacari sekarang?"
"Benarkah? Primadona kelas kita sudah dapat pacar? Apa Tuan ini?" Nadira melihat sekeliling dan matanya tertuju pada Erwin.
Erwin baru sadar semua orang sedang memandangnya, dia tidak bisa lagi bersikap rendah hati, jadi berdiri perlahan dan berkata,
"Kebetulan aku juga bawa hadiah yang murah hati untuk mempelai wanita, sekarang sepertinya adalah waktu yang tepat."
Seperti yang dikatakan Erwin, dia mengeluarkan kotak kado yang sangat indah seukuran setengah wastafel. Teman-teman Lina tidak terlalu optimis dengan apa yang ada di dalam kotak kado, emangnya apa yang bisa Erwin berikan dengan gaji sekecil itu?
Dibandingkan dengan kalung bulan merah berian Fintan, bukankah itu sama saja dengan minta penghinaan?
"Ini sedikit hadiah dariku, kuharap kamu suka." Erwin membuka kotak kado dan memperlihatkan satu set perhiasan biru di dalamnya, termasuk kalung, gelang, cincin, dan anting-anting.
__ADS_1
Ketika Nadira melihat ini, matanya yang indah terbuka lebar dengan ekspresi kaget dan tidak percaya.
"Astaga Tuhan, ini ...," ujarnya dengan cukup terkejut.