
Fiona sepenuhnya membuang harga diri untuk berlutut dan meminta maaf pada anak miskin pedesaan yang selalu dia benci sebelumnya.
Ini adalah harapan terakhirnya, kalau dia gagal memanfaatkan kesempatan ini, keluarganya pasti akan berakhir hancur.
Tapi Erwin tak mudah untuk dibujuk, Erwin tak akan begitu mudah untuk setuju membantu walau dimohon sambil berlutut seperti ini.
"Fiona, kau berulang kali membantu pria yang dinafkahi wanita itu untuk melawanku, kita seharusnya membuat perhitungan hari ini!"
“Erwin, silakan mau pukul atau maki aku, selama kamu bisa memaafkanku!” Fiona telah memutuskan untuk menanggung semua konsekuensinya.
Dia bertekad untuk menanggung semua konsekuensi dari semua perbuatannya sendiri.
"Erwin, kau beneran mau pukul Fiona? Fiona yang udah merawatku selama empat tahunku di luar negeri, jadi maafkanlah dia." Lina tak mau Erwin memukul Fiona. Karena mereka berdua itu teman sekelas sewaktu SMA dan juga saling menjaga selama empat tahun di luar negeri, jadi punya perasaan yang mendalam.
"Aku takkan memukulmu, kau lihat sepatuku yang kotor ini? Kalau kau bantu jilat sampai bersih, aku janji akan diskusikan investasi perusahaan Ayahmu dengan Tuan Damon kami," kata Erwin dengan datar.
Tentu Erwin tak benar-benar bermaksud seperti itu, dia hanya ingin melihat tekad dan ketulusan Fiona dalam permohonan maaf ini.
"Erwin, kau..." Lina mau marah, tapi dihentikan oleh Fiona.
“Oke, akan kujilat, Lina, jangan marah sama Erwin, aku penyebab dari semua ini, jadi aku bersedia menanggung konsekuensinya.” Fiona bersedia mengambil risiko kali ini, karena ini satu-satunya kesempatannya, jadi dia tetap tak mau menyerah mau sesulit apapun itu.
Setelah mengambil napas dalam, dia membungkuk untuk menjilat sepatu Erwin. Adegan ini terlihat sangat menyedihkan, tapi begitu lidahnya hampir mengenai sepatu Erwin, Erwin tiba-tiba menarik kembali kakinya, dan itu membuat Fiona terkejut.
“Cukup, aku hanya bercanda aja, mana mungkin aku membiarkanmu menjilat sepatuku, kalau iya Lina pasti marah besar padaku!” Mulut Erwin tersenyum sedikit.
__ADS_1
Fiona sedikit lega, tapi pada saat yang sama, dia sangat berterima kasih kepada Erwin, dan akhirnya punya sedikit harga diri!
“Erwin, kupikir kau beneran membiarkan Fiona menjilat sepatumu!” Lina juga menghela nafas lega, kalau Fiona melakukan ini, itu akan menjadi jejak terakhir dari harga dirinya.
"Bangunlah, besok aku akan bicara dengan Tuan Damon tentang masalah ini, aku tak yakin 100% bisa berhasil, tapi seharusnya hasilnya bakal kita tau dua hari nanti," kata Erwin sambil tersenyum.
Walau Erwin yang memutuskan untuk berinvestasi atau tidak, tapi Erwin tidak bodoh, karena dia akan berinvestasi dalam sebuah bisnis, jadi dia juga harus tahu dan akan membuat bisnisnya berjalan dengan lancar, bukan hanya main asal investasi uang.
"Oke, makasih Erwin, kalau berhasil, keluargaku pasti akan berterima kasih padamu." Fiona berdiri sambil memasang wajah senang dan bersemangat, karena kalau mereka bisa mendapat investasi dari High Build Group, maka keluarganya tak hanya bisa mempertahankan properti, tapi bisnis merak juga akan meroket.
Setelah pisah, Erwin mengantar Lina pulang terlebih dahulu, lalu dia sendiri langsung pulang ke villa.
Setelah tiba di villa, Erwin menelepon Damon dan menyuruhnya untuk mengevaluasi secara profesional proyek industri keluarga Fiona. Untuk dilihat apakah layak untuk diinvestasikan, dan akan lebih bagus lagi kalau menyuruh para profesional untuk datang berbicara dengannya, dan menjelaskan investasi proyek properti keluarga Fiona.
“Baik, Tuan muda, saya akan membiarkan para profesional kerja lembur untuk mengevaluasi sesuai permintaan Anda, dan hasilnya akan saya serahkan besok.” Damon menjawab dengan tegas.
Pada saat ini, Fiona baru saja pulang ke rumah, kompleks villa Daksina bisa dikatakan daerah perumahan mewah, jadi dapat dilihat kalau keluarga Fiona itu juga termasuk keluarga orang kaya.
Begitu Fiona membuka pintu, dia melihat orang tuanya sedang sibuk mengemasi barang, terutama barang berharga, mereka memasukkan semua barang berharga di rumah ke dalam koper mereka.
“Pa, Ma, apa yang kalian lakukan?” tanya Fiona sambil bergegas mendekat.
"Fiona, udah pulang ya, baguslah, cepat kemas semua yang mau kamu bawa, aku udah diskusi sama ibumu, kita akan kabur malam ini." Ayah Fiona, Harry Anderson, berkemas sampai keringatan, memasukkan semua barang yang dianggapnya berharga ke dalam koper, dan bersiap untuk kabur malam ini, kalau sampai penagih utang datang nanti, situasinya akan gawat.
“Bukannya udah kubilang? Beri aku beberapa hari lagi, aku pasti akan dapat investornya.” Fiona tidak ingin hidup dalam persembunyian.
__ADS_1
"Aku udah cari orang kaya di seluruh selatan kota, dan juga udah kucoba bujuk semuanya, Investor apa yang bisa kamu dapat? Atau Farzan yang kamu sebut sebelumnya? Dia itu licik, jangan sampai tertipu sama dia." Harry berkata dengan marah, dia telah sudah berada dalam dunia bisnis bertahun-tahun, jadi dia tahu dengan jelas kalau Farzan ini tak mungkin mau berinvestasi di properti keluarganya.
Fiona tak nyangka penglihatan Ayahnya begitu akurat, kalau dia mendengar ini beberapa hari lebih awal, mungkin dia tak akan menyinggung Erwin, apalagi adegan minta maaf selanjutnya. Pada akhirnya, dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu muda dan kurang pengalaman, sehingga bisa tertipu.
"Fiona, bukannya kamu masih punya pacar? Aku sudah bahas dengan Ayahmu, kalau kamu tak mau hidup bersembunyi, kamu pergi cari pacarmu aja." Ibu Fiona, Adelia, juga tak ingin putrinya menjalani kehidupan yang susah.
“Aku mana ada pacar lagi, waktu dia tahu keluarga kita bakal bangkrut, dia udah buru-buru putusin aku.” Fiona sedikit sedih, seseorang akan menyadari realita kehidupan saat berada dalam kesulitan, serta akan tau siapa yang cuma baik di depan, dan siapa yang merupakan teman sejati.
“Fiona, maaf udah melibatkanmu.” Adelia berkata dengan mata memerah dan perasaan hangat. Pada titik ini, mereka bahkan tak punya bantuan dari kerabat, para kerabat menjauhkan diri dan mengabaikan mereka.
"Pa, Ma, tidak apa-apa, masih ada pacar sahabatku, bosnya itu Damon Brown, dia udah janji sama aku bakal bicara dengan bosnya tentang investasi di perusahaan kita." Fiona memberi tahu orang tuanya tentang kabar baik ini.
Namun, Harry tak bisa menahan diri dan mencibir,
"Pacar sahabatmu? Singkatnya, karyawan High Build Group, Damon itu setidaknya juga punya 8 ribuan karyawan bawahan, Masing-masing bos dari 8 ribu karyawan itu juga Damon, mana mungkin karyawan semacam itu punya hak bicara, jangan bercanda!"
“Fiona, pacar sahabat yang mana?” Adelia masih menaruh sedikit harapan, karena dia juga tak mau hidup bersembunyi sampai akhir.
"Pacar Lina." Fiona menjawab tanpa sadar.
"Hah, pacar Lina?! Bukannya kamu bilang pacar Lina itu dari pedesaan miskin? Anak miskin pedesaan itu mana mungkin punya hak untuk bicara di depan Tuan Damon? Bertemu dengan Tuan Damon aja belum tentu bisa." Harry meremehkan Erwin dan tak punya harapan sama sekali padanya.
Adelia yang awalnya masih menaruh secercah harapan, saat mendengar putrinya mempercayakan semua ini pada seorang anak miskin pedesaan, secercah harapan itu menghilang dalam sekejap.
"Fiona, lupakan saja, cepat kemas barangmu, kita akan berangkat subuh nanti."
__ADS_1
“Pa, Ma, beri aku dua hari lagi, cukup tunggu dua hari lagi. Dia bilang akan ada hasil dua hari nanti.” Fiona tak mau menyerah, walau dia juga merasa tingkat keberhasilan Erwin bisa membujuk Damon untuk investasi sangatlah tipis, bahkan keberhasilannya tak sampai 1%, tapi dia tetap tak mau menyerah, dia akan terus menunggu meski harapannya sekecil apapun.