Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Masih Bisa


__ADS_3

Meskipun Mary tak begitu menyukai Erwin miskin yang dari pedesaan, tapi bagaimanapun Erwin sudah membantu dia menandatangani kontrak senilai dua triliun, jadi dia harus tetap berterima kasih padanya.


Jadi malam itu, dia menyiapkan jamuan untuk Erwin di rumahnya.


"Erwin, berkatmu tante bisa berhasil kali ini, semuanya berkat koneksi darimu, tapi tante mau tau, atasan mana di Perusahaan Real Estat West Garden yang kamu hubungi?" tanya Mary dengan penasaran.


Dia masih ingat dengan jelas proses peninjauannya, penanggungjawab hanya bertanya padanya tentang hubungannya dengan Erwin begitu mereka bertemu, saat tahu cuma hubungan biasa, penanggungjawab itu bahkan tak melihatnya, tapi begitu tahu putrinya itu pacar Erwin, Penanggungjawab itu langsung memperlakukannya secara berbeda, dan bahkan menawarkan harga beli yang 10% lebih tinggi dari harga pasar.


Dapat dilihat kalau orang dalam yang dicari Erwin harusnya punya posisi yang sangat tinggi, kalau tidak, penanggungjawab itu tak mungkin begitu menghormatinya.


"Cuma karyawan biasa aja kok, aku itu miskin dan tak berkuasa, mana mungkin kenal atasan di sana." Erwin menggigit paha ayam sambil mencari alasan, kalau dia berbicara jujur, takutnya mereka pasti akan terkaget-kaget.


Mary merasa malu, bukankah ini serasa menampar wajahnya sendiri? Karena sebelumnya dia memandang rendah Erwin dan bilang kenalannya di Perusahaan Real Estat West Garden, palingan cuma karyawan biasa atau tukang bersih-bersih, sekarang hasilnya sudah keluar, ini tak ada bedanya dengan menampar wajahnya sendiri.


Mary tersenyum canggung, Erwin tidak ingin mengatakannya, jadi dia juga tak maksa terus tanya lagi.


Sebagai gantinya, dia mengambil ponsel dan mengirim pesan ke grup keluarga untuk mengumumkan kabar baik ini, memang disebut kabar baik, tapi tujuan sebenarnya Mary cuma mau pamer di depan kedua saudarinya, dan mengambil kesempatan ini untuk membalas penghinaan siang tadi.


Namun, Mary juga tahu dirinya tak punya banyak pengalaman di perusahaan ayahnya, walau jadi CEO nanti kedepannya, dia mungkin bukan lawan dari kakak tertuanya yaitu Meisha dan pemegang saham lainnya.


Kemudian dia menoleh untuk melihat putrinya, dan berkata,


"Lina, saat mama jadi CEO nanti, kami juga datang bantu mama ya, kedua sepupumu juga ada di perusahaan Kakekmu, jadi kalian bisa saling belajar."


“Tapi aku gak mengerti bisnis bahan bangunan sama sekali!” Lina menjawab dengan mata yang melotot.


Mary ingin membujuk lagi, tapi Lucas menyela dengan ekspresi serius,

__ADS_1


"Bantu ibumu aja, dia itu tiba-tiba jadi CEO, takutnya di perusahaan Kakekmu ada banyak orang yang tak puas."


Lucas sendiri adalah CEO, jadi tahu akan terjadi masalah internal seperti itu, dia juga beberapa kali hampir diturunkan dari posisi CEO-nya. Untungnya, Erwin diam-diam membantu, kalau tidak, keluarganya ini pasti sudah bangkrut.


“Oke,” jawab Lina sambil mengangguk.


Pada saat yang sama, bibi tertua Lina yang di rumah saat tahu Mary berhasil menandatangani kontrak untuk pemasok bahan bangunan West Garden, merasa terkejut sekaligus kesal.


Terutama melihat Mary yang terus pamer di obrolan grup keluarga, yang membuatnya makin kesal.


"Adik kedua udah berhasil, kayaknya hidupku di perusahaan akan jadi sulit kedepannya."


Saat berbicara, dia melirik putrinya yang bernama Helena dengan tatapan tajam, dia seharusnya tak usah percaya pada pacar putrinya, lupakan saja kalau cuma habiskan banyak uang, tapi babak pertama aja tak lolos, itu yang membuatnya marah.


“Ma, kalau gitu, bukannya kita udah gak bisa ambil uang dari perusahaan Kakek lagi mulai sekarang?” Helena juga kerja di perusahaan Rick, jadi tahu apa yang ibunya lakukan, dan tentu saja menjadi penerima keuntungan secara tak langsung.


“Hah, mana boleh bandingkan pacar miskin sepupuku itu sama Michael-ku? Aku bakal ajak mereka keluar besok buat mengejek mereka nanti, sekalian untuk balas dendam mama.” Saat mendengar ibunya bilang Michael tak sebaik Erwin yang miskin, Helena merasa tak puas.


Berpikir untuk mengajak mereka keluar besok, dan mengejek mereka.


"Ini baru namanya putriku yang baik, ingatlah kalau kamu itu yang terbaik, tapi kalau adik kedua beneran jadi CEO dan mulai penyelidikan dengan serius, kayaknya kita bakal dikeluarkan dari perusahaan Kakekmu." Berbicara sampai sini, Meisha merasa ada sesuatu yang tak bisa dilampiaskan keluar dari hatinya.


Saudari kedua, Mary, sama sekali tidak berpartisipasi dalam kegiatan operasi dan manajemen di perusahaan, dan hanya sebatas numpang nama di perusahaan saja.


Meisha adalah orang yang biasanya membantu Rick, tapi sekarang justru saudari kedua nganggurnya yang jadi CEO, mana mungkin Meisha tidak kesal.


“Ini masih bisa." Yang berbicara adalah suami Meisha yang bernama Alfred Garfield, dia itu berasal dari keluarga Garfield, seorang pria kaya di barat kota. Beberapa hari terakhir dia sedang perjalanan bisnis, dan begitu pulang langsung dapat kabar Mary si penganggur itu justru dapat warisan posisi CEO, yang membuatnya tidak puas juga,

__ADS_1


“Kontraknya aja udah mau ditandatangani, masih bisa apaan?” tanya Meisha dengan bingung dan mata yang melotot.


“Kontraknya baru saja siap negosiasi, tapi belum ditandatangani, kan? Bilang aja sama Ayahmu, kalau kamu akan wakili Mary buat tanda tangan kontraknya, dengan begitu, bukannya posisi CEO bakal jadi milikmu?” Alfred berkata dengan tajam.


"Gak, ini gak bisa, Ayahku tak bodoh, adik keduanya yang negosiasi kontraknya, tapi malah aku yang akan tanda tangan nanti, mana mungkin dia setuju dengan perubahan mendadak kayak gini?" jawab Meisha.


"Gimana kalau adik keduamu tiba-tiba hilang kabar waktu hari kontrak ditandatangani? Apa Ayahmu akan menyerah sama kontrak ini cuma karena halangan itu?" kata Alfred dengan kejam.


“Tiba-tiba hilang kabar?” Meisha bingung sejenak, dan langsung paham maksud Alfred.


"Jangan-jangan kamu mau...."


Meisha tak menyelesaikan kata-katanya, karena maksudnya sudah jelas, tapi tiba-tiba dia jadi sedikit takut


"Tapi kayaknya gak baik deh!"


“Tenang aja, aku gak akan berbuat apa-apa padanya, cuma mau buat dia menghilang seharian waktu hari penandatanganan kontrak, dan bakal balikin dia begitu kamu selesai tandatangan nanti.” Alfred berhenti sejenak, lalu melanjutkan,


"Saat dia kembali nanti, nasi sudah jadi bubur, jadi dia udah gak bisa apa-apa lagi kalau mau cari ribut, palingan kita kasih aja 10% saham bonus dari Ayahmu itu, dia juga bakal gak bisa cari ribut lagi karena udah dapat untung, tapi posisi CEO bakal jadi milikmu nanti."


Mata Meisha tiba-tiba berbinar saat mendengar ini. Rencana ini lumayan bagus, memberi 10% saham masih bisa ditoleransi sama Meisha, yang terpenting itu adalah posisi CEO tak boleh sampai jatuh di tangan Mary, kalau Mary dapat posisi CEO dan mulai menyelidiki masalah internal, takutnya dia akan tertangkap atas perbuatannya pada perusahaan.


Selain itu, mau gali uang waktu jadi CEO justru bakal lebih mudah nanti.


“Suamiku memang pintar, atur aja secepatnya, tapi jangan sampai sakiti adik kedua.” Meisha juga tidak beneran mah menyakiti Mary. Bagaimanapun, Mary itu adik kandungnya, cuma karena demi posisi CEO ini, dia terpaksa harus membuat Mary hilang kabar seharian penuh.


“Tenang aja, aku tak bodoh!” Alfred mengangguk, karena dia itu juga tahu batas.

__ADS_1


__ADS_2