Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Siapa Peduli Kau Itu Siapa


__ADS_3

Erwin menghentikan Tuan muda Baxter, terutama karena dia tidak ingin anak orang kaya ini mengganggu waktu istirahat Jocelyn.


"Jocelyn sedang beristirahat sekarang, jadi tolong jangan ganggu dia!"


Erwin memperingatkan dengan dingin, dia masih tak mau bertentangan dengan Tuan Muda Baxter ini secara langsung, tapi kalau orang ini masih tak mau menyerah, Erwin juga bukan orang yang boleh sembarang disinggung, dia tak peduli siapapun orang ini, yang penting orang yang berani mengganggu waktu istirahat Jocelyn tetap akan dia hajar.


“Memangnya kau siapa? Minggir!” Tuan Muda Baxter juga tak mungkin bisa ditakuti oleh Erwin.


"Kubilang sekali lagi, Jocelyn sedang istirahat di dalam, tolong jangan ganggu dia.” Erwin memperingatkan lagi dengan serius.


"Sialan, aku juga memperingatkanmu sekali lagi! Kuhitung sampai tiga, kalau masih berani menghalangi jalanku, akan kubuat kau cacat di tempat." Tuan muda Baxter sangat sombong dan percaya diri, karena ada juga orang yang sombong di depannya sebelumnya, dan orang tersebut pada akhirnya juga berakhir tragis.


"Satu!" Tuan muda Baxter menghitung dengan kuat, sedikit kekejaman melintas di matanya yang dibawa bersama peringatan.


Namun, begitu dia selesai menghitung 'satu', Erwin tak basa-basi lagi dan langsung meninju wajah tampan pria itu, karena Erwin tak terpengaruh sama sekali, dan tindakan beraninya tersebut membuat pria itu terpana.


"Sialan, beraninya kau memukulku?!” Tuan muda Baxter tidak percaya sekaligus terkejut dengan ini, di tempat seperti Kota Bandung ini, siapa yang berani memukul dirinya yang merupakan seorang Tuan muda keluarga Baxter?


Erwin tidak memberinya kesempatan untuk bereaksi sama sekali, setelah meninju, dia langsung menerjang ke arah pria itu dan terus memukulnya.


“Beraninya kau! Kau udah pasti mampus kalau udah pukul aku!” Setelah ditinju beberapa kali, pria itu mulai bereaksi, dan dengan cepat mengayunkan tinjunya untuk meninju balik.


Tapi pria yang terbiasa minum-minuman keras ini mana mungkin adalah lawannya Erwin yang besar di pedesaan, begitu berkelahi, pria yang tampan dan kaya malah dipukuli sama Erwin sampai babak belur.


"Pengawal, mana pengawalku? Cepat bantu aku!"


Tuan muda Baxter dipukul sampai tak bisa melawan, sudut mulutnya juga ditampar sampai berdarah, sehingga dia jadi cemas dan buru-buru minta bantuan. Namun, kedua pengawalnya yang berpakaian hitam masih disibukkan oleh dua penjaga keamanan.


Sebenarnya dua penjaga keamanan itu dengan sengaja mati-matian menahan kedua pengawal berpakaian hitam, dalam kekuatan satu lawan satu, kedua penjaga keamanan itu bukan lawan dari pengawal berpakaian hitam, tetapi menahan masih memungkinkan, karena mereka juga tidak tahan dengan kesombongan Tuan muda ini, dan kebetulan saat ini ada seorang pemuda pemberani yang tidak takut mati tiba-tiba memukul Tuan muda Baxter begitu muncul, jadi otomatis mereka ingin membantunya sebisa mungkin.


“Mana pengawalku! Kalau masih tak datang kupecat kalian!” Hidung Tuan muda Baxter dihajar oleh Erwin dan langsung mimisan.


Erwin menjambak rambut Tuan Muda Baxter dan memperingatkan lagi dengan tegas.


“Sudah kuperingatkan dua kali, tapi masih mau masuk ganggu Jocelyn, kau cari mati ya!” Erwin menampar wajah pria itu lagi saat mengatakan itu, sama sekali tidak memandang identitas Tuan Muda Baxter ini sama sekali.


Saat ini, semakin banyak anggota staf yang kembali dari pengemasan alat peraga di atas panggung, dan mereka terpana begitu melihat Tuan Muda Baxter dipukuli seperti itu oleh seorang pemuda.


"Astaga Tuhan, itu Tuan Muda Baxter, kan? Seriusan dipukul sampai begitu?” Banyak anggota staf yang mengenal Tuan Muda Baxter ini, karena setiap kali Jocelyn mengadakan konser, Tuan muda ini selalu ada, dan selalu datang ke belakang panggung untuk mengganggu Jocelyn.


Kali ini, bahkan sampai membawa dua pengawal berpakaian hitam ke sini, yang sudah jelas tidak akan menyerah kalau tidak tercapai keinginannya.


“Kak Ametta, Tuan muda Baxter dipukuli!” Seorang staf dengan cepat berbalik dan berlari ke tempat Ametta berada.


Pada saat ini, Ametta baru saja kembali, dia awalnya ingin kembali untuk membangunkan Jocelyn karena melihat para penggemar sudah hampir pulang semua, tapi tak nyangka akan melihat Tuan muda Baxter dipukuli oleh seorang pemuda begitu tiba di depan pintu.

__ADS_1


Terlebih lagi sejenis pemuda yang tak berbelas kasihan sama sekali dalam tinjunya, dan terkejut sampai kehabisan kata-kata untuk sementara waktu.


“S-siapa pemuda ini? Sampai berani memukul Tuan muda Baxter sekuat itu?” Ametta benar-benar terkejut.


Tuan muda Baxter ini adalah putra ketiga dari keluarga Baxter, salah satu empat keluarga raksasa di ibukota, yang bernama Xavier Baxter, pria ini bagaikan raja Iblis, siapapun yang melihatnya pasti akan menjauh karena takut menyinggungnya, tapi malah dipukuli separah ini sama seorang pemuda yang terlihat biasa-biasa saja.


“Cepat pisahkan, akan buruk nanti kalau terus berlanjut.” Ametta juga takut akan kecelakaan, jadi dia buru-buru bersuara, meskipun dia juga membenci Xavier ini, karena selalu datang mengganggu Jocelyn, tetapi keluarga Baxter itu termasuk keluarga peringkat sepuluh besar di negara ini, jadi mana mungkin dia berani menyinggungnya, sehingga mereka biasanya hanya bisa menghindarinya sebisa mungkin.


Begitu Ametta berbicara, beberapa anggota staf laki-laki yang ada di tempat langsung melangkah maju untuk memisahkan Erwin dan Xavier.


Pada saat ini, wajah tampan Xavier sudah membengkak karena pukulan Erwin, sampai tak terlihat tampan lagi sama sekali.


Melihat Xavier dipukul separah ini, orang-orang di sekitar tidak bisa menahan tawa diam-diam, bahkan Ametta saja merasa lega.


“Tunggu aja kau sialan, aku kusuruh orang buat bunuh kau!” Setelah Xavier dipisahkan, wajahnya sangat kejam dan tak puas, dia tak pernah dihina seperti ini sejak kecil, tentu dia harus membalas dendam ini.


Xavier langsung berjalan keluar pintu dengan wajah pucat, kedua pengawalnya juga ikut pergi setelah dilepaskan oleh penjaga keamanan.


Setelah Xavier pergi, semua orang di tempat kejadian seketika terfokus pada Erwin, meskipun mereka mengagumi orang yang berani memukul Xavier, tapi mereka dapat membayangkan kalau riwayat orang ini berakhir sudah karena sudah menyinggung raja iblis, orang ini pasti akan diburu ke manapun dia pergi.


“Tunggu, dia kayaknya bukan anggota tim kita deh, kok bisa punya kartu karyawan dari tim kita?” Pemimpin tim pakaian dengan mata tajamnya langsung melirik kartu karyawan tim mereka di dada Erwin.


Dan nama yang tertulis juga tak sesuai dengan wajah Erwin.


Erwin berteriak gawat di dalam hati, dia begitu fokus untuk memukul orang barusan sampai lupa kalau sekarang sudah di lihat banyak orang.


Mereka terlihat seperti ingin menginterogasinya, jadi Erwin tidak punya pilihan selain berbalik dan kembali. Namun, begitu berbalik, wajahnya berhadapan dengan Jocelyn yang berdiri di depan pintu ruang tata rias, Jocelyn yang cantik menatapnya dengan dingin sambil membawa pakaian yang menyelimuti tubuhnya saat tertidur tadi.


"Tante, suruh mereka bubar."


Jocelyn juga sudah melihat adegan di mana Erwin memukul Xavier sebelumnya, pemuda yang terlihat biasa-biasa saja ini bahkan berani mengambil resiko diburu oleh Xavier, hanya untuk menjaga dan memberinya sedikit lebih banyak waktu untuk istirahat.


“Bubar, bubar." Ametta buru-buru menyuruh para staf untuk bubar.


Segera, orang-orang yang mau lihat tontonan di tempat kejadian semuanya bubar, tapi saat mereka melihat Erwin, mereka tidak dapat menahan diri dan menggelengkan kepala, karena tahu kalau Erwin ini mungkin tidak akan bertahan lebih dari tiga hari, dan pasti akan dibuat cacat oleh Xavier


"Ikut aku!" kata Jocelyn dengan lelah.


Erwin mengangguk, dan hanya bisa ikut Jocelyn masuk ke dalam ruang tata rias, begitu juga dengan Ametta, Ametta juga langsung mengunci pintu, lalu bertanya sambil melipat kedua tangan di depan dada.


"Cepat bilang, kenapa kamu kamu menyamar sebagai anggota staf dan menyelinap masuk?"


“Aku hanya penggemar Jocelyn, dan mau masuk buat minta tanda tangannya, jadi tak punya maksud lain.” Erwin hanya bisa dengan keras kepala menggunakan alasan ini.


“Lalu kok bisa keluar dari ruang tata rias?” Jocelyn bertanya sambil mengerutkan alis, seorang pria yang bersembunyi di ruang tata rias seorang wanita pasti punya maksud lain.

__ADS_1


"Kalian tiba-tiba datang ke sini, tentu aku bersembunyi karena gugup." Erwin menjelaskan dengan canggung, "Aku hanya mau tanda tanganmu, nggak ada maksud lain."


“Lalu, kamu tahu siapa orang yang baru saja kamu pukul tadi? Dan kenapa memukulnya?” Ametta yang ada di sebelahnya tanpa sadar bertanya, hal yang membuatnya penasaran adalah kenapa pemuda ini berani memukul Xavier sekuat itu, Xavier itu bagaikan raja Iblis dan punya dukungan keluarga Baxter, yang merupakan salah satu dari empat keluarga besar di Kota ibukota, bahkan sampai keluarga Taylor saja tidak berani menyinggung mereka.


"Yang kudengar namanya Tuan Muda Baxter ini, dia mau masuk ruang tata rias buat ganggu istirahat Jocelyn, jadi aku menghentikannya, tapi dia malah mengancamku, kalau aku berani menghentikannya lagi dia bakal hajar aku, tentu aja aku pukul duluan." Erwin menceritakan adegan sebelumnya dan tampak tidak peduli siapa tuan muda Baxter ini sama sekali.


Mendengar ini, Jocelyn dan Ametta membuka mulut kecil mereka dengan terkejut, karena pemuda ini beneran tidak takut pada apapun! Namun, untuk membiarkan Jocelyn beristirahat sedikit lebih lama, Erwin yang tidak ragu-ragu untuk menyinggung Xavier, membuat Jocelyn sedikit tersentuh.


“Sini, aku kasih tanda tangan," ujar Jocelyn tiba-tiba.


Erwin sedikit tercengang, ini seriusan percaya dan mau kasih tanda tangan??


“Mau tanda tangan di mana?” Jocelyn mengedipkan matanya lagi dan menatap Erwin, Erwin bahkan sedikit terpesona oleh wajah cantik Jocelyn.


“D-di tangan aja!” Erwin tak terpikir untuk mau tanda tangan di mana, jadi tanpa sadar mengulurkan tangannya.


Ametta memutar matanya saat melihat ini, karena dia sudah melihat terlalu banyak orang yang mau minta tanda tangan di tangan mereka, dan orang-orang tersebut pasti tidak mau mencuci tangan mereka selama beberapa hari, hanya agar tanda tangan bias mereka bisa bertahan di tangan mereka sedikit lebih lama, kebanyakan yang seperti itu adalah penggemar laki-laki, tidak tahu cara berpikir mereka itu seperti apa.


Jocelyn tidak terlalu memikirkannya, soalnya Erwin sudah berusaha melindunginya, jadi seharusnya tidak masalah kalau memenuhi sedikit keinginan kecil Erwin.


Setelah meraih pulpen besar dan menandatangani namanya di tangan Erwin, dia tidak bisa menahan rasa khawatir, "Kamu udah menyinggung Xavier, dan dia pasti akan membiarkanmu begitu saja, aku saran kamu tinggalkan saja kota ini, kalau tidak, mungkin kamu akan dibuat cacat olehnya, atau bahkan ..."


Jocelyn tidak mengatakan lebih lanjut, tetapi artinya sudah jelas, kalau sudah menyinggung Xavier, Erwin pasti akan diburu, jadi lebih baik cepat kabur!


“Nggak perlu, siapa yang bakal diburu masih belum tentu,” Erwin tersenyum ringan, di Kota Bandung ini, tak mungkin dia takut sama Tuan muda Baxter dari ibukota, kan?


"Besar mulut aja! Kulihat kamu cukup tunggu mati aja!" Ametta tidak bisa menahan cibiran di samping.


Melihat Erwin tidak mau melarikan diri, Jocelyn ragu-ragu dan berkata,


"Aku akan tinggal di Villa Fancy Garden barat kota selama sebulan, kalau kamu di buru sama Xavier, kamu boleh bersembunyi di tempatku beberapa hari, dia masih nggak berani macam-macam denganku."


Sambil berbicara, Jocelyn juga menulis nomor di selembar kertas dan memberikannya kepada Erwin sambil berkata,


"Ini nomor teleponku, hubungi aku aja kalau terjadi sesuatu."


Jocelyn masih berhati lembut, bagaimanapun, Erwin sudah menyinggung Xavier demi melindunginya, dan tidak mungkin mengabaikan Erwin yang akan diburu.


“Jocelyn, ini seriusan? Tempat tinggalmu kamu ekspos begitu saja? Sampai nomor telepon pun kamu kasih orang yang nggak jelas ini?” Ametta terkejut, Jocelyn itu bintang besar, alamat dan nomor teleponnya seharusnya harus dirahasiakan, kalau sampai jadi target paparazzi, itu akan menjadi masalah yang tak ada habisnya!


"Tante, yuk pulang dulu, aku capek.” Jocelyn memberikan selembar kertas yang tertulis nomor telepon kepada Erwin.


"Ngomong-ngomong, siapa namamu?"


“Namaku Erwin,” Erwin ragu-ragu, tetapi memutuskan untuk memberitahu nama aslinya, dia awalnya berpikir Jocelyn mungkin akan punya sedikit kesan dengan namanya, tetapi setelah menunggu beberapa saat, sepertinya tidak ada reaksi dari Jocelyn, dan sepertinya juga tidak ada kesan istimewa saat mendengar nama Erwin sama sekali.

__ADS_1


“Kalau gitu, kamu pulang aja dulu.” Jocelyn berdiri dengan sedikit lelah saat mengatakan itu, kemudian meninggalkan ruang tata rias sambil ditemani Ametta.


Erwin melirik tanda tangan dan nomor telepon di tangannya, dan tidak bisa menahan senyum pahit di sudut mulutnya. Pertemuan pertama dengan tunangannya ternyata akan seperti ini, ngomong-ngomong bukan suatu hal yang buruk juga dengan Jocelyn yang tidak mengenal namanya.


__ADS_2