
Sementara Erwin sedang membayar, pria paruh baya yang merangkul wanita cantik itu tampaknya tidak ingin membeli dan pergi.
Beberapa sales itu pun kembali dengan tangan kosong, merasa sedikit tertekan, menoleh dan melihat sekeliling toko, namun tidak kelihatan sosok Erwin dan Lucy, sehingga mereka mulai bertanya-tanya, "Ke mana perginya si Lucy dan bocah miskin tadi?"
"Sepertinya sudah pergi, sudah kuduga bocah miskin itu tidak mungkin mampu membeli mobil di sini."
"Baguslah kalau sudah pergi, aku paling benci pelanggan yang tidak punya uang tapi pemarah seperti itu."
Beberapa sales setuju dengan sudut pandang ini, tetapi pada saat ini, beberapa staf internal keluar dan mengobrol sambil berjalan.
"Orang-orang zaman ini benar-benar sulit diprediksi, aku tidak menyangka kalau pemuda biasa-biasa saja itu akan langsung membeli dua mobil mewah termahal di toko ini sekaligus."
"Kali ini Lucy untung banyak, sepertinya akan dapat bonus sebesar 200 juta rupiah."
"Iya, iri sekali aku dengannya."
Isi obrolan mereka kebetulan terdengar oleh sales di sebelah, yang membuat beberapa sales itu terkejut ditempat.
"A-apa kalian dengar kalau bocah miskin itu benar-benar membeli dua mobil mewah termahal di toko ini sekaligus? Atau aku yang salah dengar?"
"Tidak mungkin, mereka pasti salah dengar, bagaimana mungkin bocah itu bisa membeli mobil mewah di toko ini."
"Sepertinya memang begitu yang mereka katakan, ayo kita pastikan, bagaimana mungkin bocah itu mampu membeli dua mobil mewah, yang terlebih lagi paling mahal di toko ini, semua ini pasti hanya sebuah kesalahan."
__ADS_1
Para sales pun berlari ke kantor pembayaran untuk mencari kakak penerima pembayaran itu untuk memastikan hal tersebut, dan kebetulan mereka bertemu dengan Lucy dan Erwin yang keluar dari kantor pembayaran setelah membayar.
Mereka pun segera bertanya sambil berpura-pura ramah. "Lucy, bagaimana penerimaan pelanggan ini? Apa perlu bantuan kami?"
“Tidak perlu senior, aku sangat berterima kasih karena telah memperkenalkan pelanggan kelas tinggi seperti ini untukku, Tuan Muda Smith ini telah membeli dua mobil mewah termahal di toko kita.” Lucy yang polos berterima kasih kepada mereka.
Ini membuat mereka merasa sangat menyesal, tetapi lebih kepada tidak percaya. "Maksudmu, orang ini membayar dua mobil mewah papan atas secara langsung?"
"Yah, jika kamu tidak percaya, kamu bisa memastikannya dengan kakak penerima bayaran. Lagi pula, aku akan keluar untuk menguji mobilnya dengan Tuan Muda Smith ini. Aku mungkin tidak berada di sini sore ini, manajer juga telah mengizinkanku untuk pergi." Lucy berkata dengan gembira.
Hari ini dia tidak hanya bertemu dengan Erwin, tapi juga merupakan orang yang membantunya menyelesaikan kinerja penjualan. Pada saat yang sama, dia juga mendapat komisi lebih dari 200 juta di akhir bulan nanti, ini membuat Lucy sangat senang, hari ini adalah hari yang paling membahagiakan baginya.
Secara alami, dia harus berterima kasih kepada Erwin dengan benar, jadi setelah menyelesaikan semua formalitas, dia meminta cuti dengan manajer dan berencana mengajak Erwin keluar makan sampai sepuasnya sebagai untuk menunjukkan rasa terima kasihnya.
Tapi sekarang dia ingin tes mengemudi Ferrari, terlebih lagi ada seorang wanita cantik seperti Lucy yang menemaninya.
Para sales senior yang menyaksikan Erwin dan Lucy pergi sambil mengobrol dengan senang benar-benar membuat mereka sangat menyesal, tetapi semuanya sudah terlambat, karena siapa suruh mereka memandang rendah orang lain.
Ini adalah pertama kalinya Erwin mengendarai Ferrari, yang tentu membuatnya gugup sekaligus bersemangat.
"Lucy, ingin ke mana? Kubawa kamu jalan-jalan."
"Masih ingat tempat yang selalu klub kita kunjungi waktu kuliah?" Lucy berkata dengan penuh nostalgia setelah mengenakan sabuk pengaman.
“Hotel Wood, baiklah kita ke sana.” Erwin sudah lama tidak ke tempat itu. Dia dulu ke sana untuk makan malam bersama teman-teman kuliahnya, tetapi sudah pernah pergi ke sana lagi setelah lulus dan bekerja, kebetulan sekarang bertemu dengan seorang teman lama, jadi secara alami Erwin ingin pergi ke sana untuk mengenang masa kuliahnya.
__ADS_1
Erwin mengendarai Ferrari hitam yang baru saja dia beli, Raungan keras mesin Ferrari membuat suasana hati Erwin semakin bersemangat.
Ferrari melaju dengan kencang di jalan raya yang menarik perhatian serta keirian banyak orang.
"Erwin kapan kamu akan menikah dengan Leticia?” Lucy yang duduk di kursi sebelah pengemudi bertanya dengan ragu, dan merasa sangat gugup ketika berbicara.
“Aku sudah putus dengannya, dia sudah bersama seorang pria kaya, dan membuangku karena aku tidak punya uang.” Erwin tersenyum sedikit, dan merasa sudah tidak terlalu memedulikan masalah itu lagi.
"Benarkah? Itu adalah kerugiannya." Lucy merasa lega tanpa alasan dan sedikit senang ketika mendengar ini.
“Bagaimana denganmu? Kamu itu sangat cantik, apa kamu sudah menemukan orang yang kamu sukai?” Erwin ingat bahwa ketika masih kuliah, Lucy itu dikejar oleh banyak laki-laki, tetapi semuanya tertolak, bahkan banyak dari mereka yang kaya dan tampan, namun tetap saja tertolak, dengan alasan ingin mencari pria yang selaras dengan pikirannya.
"Sangat sedikit dari masyarakat zaman ini yang benar-benar menyukai sastra, terlebih lagi kuliah, yang bisa berbicara tentang sastra, serta mendiskusikan cerita dan novel denganmu." Erwin sedikit merindukan masa-masa kuliah, mimpinya bahkan telah dia tekan secara bertahap karena dikalahkan oleh realita kehidupan, jika tidak, bagaimana mungkin dia menjadi sales mobil.
"Masa-masa kuliah memang yang terbaik! Lucy, mau aku perkenalkan sebuah pekerjaan yang berhubungan dengan apa yang kamu suka?" Erwin berpikir sejenak. Dengan kepribadian Lucy yang polos, Lucy ini sebenarnya tidak cocok untuk menjual mobil, dan mungkin senior salesnya akan mem-bully nya lagi.
"Benarkah? Pekerjaan apa?” Lucy memang sudah lama tidak ingin melakukan penjualan seperti ini, dia memilih pekerjaan ini hanya karena ingin bertahan hidup.
"Bekerja sebagai seorang penulis skenario!" Erwin berpikir bahwa dia akan kembali ke perusahaan dalam beberapa hari ini, dan sebuah produksi program yang baik itu membutuhkan naskah yang bagus juga. Meskipun Lucy tidak pernah menjadi penulis skenario, tapi Lucy pernah menulis novel dan cerita waktu kuliah, dan Lucy juga memiliki imajinasi serta gaya penulisan yang tidak dimiliki orang lain. Dengan sedikitnya pelatihan, Erwin percaya Lucy pasti akan menjadi seorang penulis skenario profesional yang baik.
“Penulis skenario, apa bisa?” Lucy juga ingin mencoba. Dia suka semua hal yang berhubungan dengan cerita, belum lagi penulis skenario yang memang sudah lama ingin dia coba.
"Yah, aku percaya dengan kemampuanmu, kamu pasti bisa berkembang dengan cepat, belum lagi kita akan menjadi rekan kerja di ke depannya, jadi kalau kamu tidak mengerti sesuatu, langsung tanyakan saja padaku," kata Erwin sambil tersenyum.
“Kalau begitu mohon bantuannya.” Lucy sedikit senang ketika mendengar bahwa dia dapat bekerja dengan Erwin di tempat yang sama.
__ADS_1