
Keesokan paginya, Erwin dibangunkan oleh panggilan telepon Lina, Lina mengajak Erwin untuk pergi berbelanja bersama, dengan kedua sepupunya beserta pacar mereka.
“Kamu di mana? Aku akan segera ke sana,” kata Erwin sambil menguap, seolah-olah dia belum pernah bersama Lina sebelumnya.
“Di Jalan Mandro barat kota!” Lina dengan cepat memberitahu lokasinya, setelah tahu lokasinya, Erwin sedikit terkejut. Sekelompok anak orang kaya ini benar-benar memilih pergi ke jalan terkenal 24 jam buat belanja di sana.
Jalan 24 jam ini artinya buka 24 jam penuh, akan ada orang yang bertugas di shift pagi dan malam, jadi bisa pergi berbelanja ke sana kapan saja kalau mau membeli sesuatu.
Ini adalah jalan yang sangat terkenal di Kota Bandung, tapi barang-barang yang dijual di jalan ini juga cukup mahal, merek terkenal, Club, bahkan sampai makanan juga sangat mahal.
Walau demikian, jalan ini tetap ramai 24 jam penuh, dan ada juga yang datang dengan mobil dari kota lain untuk membeli barang ke sini, yang menunjukkan bahwa Jalan Mandro ini sangat terkenal.
“Aku akan ke sana sekarang.” Setelah Erwin menutup telepon, dia sedikit berkemas dan langsung pergi ke Jalan Mandro terkenal di barat kota.
Saat Erwin tiba, jam baru menunjuk pukul sembilan pagi, banyak toko yang masih tutup di pinggir jalan, tapi toko-toko utama di Jalan Mandro masih buka dan penuh dengan pelanggan.
“Erwin, akhirnya datang juga, nah, udah kusiapkan sarapan.” Setelah Lina melihat Erwin datang, dia bergegas kemari dengan wajah cantiknya dan memberikan kotak sarapan pada Erwin.
“Mau berbelanja juga gak sepagi ini.” Sementara Erwin berbicara, dia membuka kotak sarapan yang diberikan Lina, dan mengeluarkan sebuah kue berbentuk anak anjing di dalamnya. Ternyata kuenya masih hangat, kebetulan dia juga belum sarapan dan sudah lapar, jadi dia langsung buka mulut dan memakannya.
Awalnya dia kira rasa kuenya akan manis krim, tapi tak nyangka bagian dalamnya bukan kue murni, melainkan sesuatu seperti kue beras, dan bentuk anak anjing yang terliat dari luar juga bukan terbuat dari krim murni, tapi sepertinya dicampur dengan hal-hal lain, rasanya sangat lembut, ditambah ada cairan manis yang mengalir keluar saat digigit.
Rasanya sangat enak, dan ini pertama kalinya Erwin makan kue yang seenak ini.
“Ini kue apa? Enak banget." Erwin tak bisa menahan diri dan melahap habis kue tersebut.
“Ini kue pastry dari toko berpredikat michelin star, satu ini 16 juta loh.” Lina sangat senang melihat Erwin menyukai kue itu.
“Satu ini 16 juta?” Erwin sedikit terkejut. Kue seukuran telapak tangan ini 16 juta? Ini terlalu mahal! Bukannya ini gak ada bedanya dengan makan uang mentah?
Ekspresi terkejut Erwin dilihat terus oleh beberapa pria tampan dan wanita cantik di sebelah, mereka berempat adalah kedua sepupu Lina beserta pacar mereka.
"Yang dari desa memang kuno, kue 16 juta aja udah sekaget itu." Orang yang berbicara adalah Michael, seorang pria kaya di barat kota, dan merupakan pacar Helena.
Seorang wanita cantik yang berdiri di sebelahnya adalah sepupu Lina, Helena. Dia juga sangat cantik dan punya tubuh yang bagus, tapi tetap kalah polos kalau dibandingkan dengan Lina.
"Anak miskin pedesaan baru pertama kali makan kue yang semahal itu, jadi reaksi ini bisa dimaklumi.” yang berbicara adalah pacar sepupu Lina, bernama Edric Hugo, yang merupakan putra dari keluarga kaya keluarga Hugo di selatan kota.
__ADS_1
Sedangkan seorang wanita cantik yang memeluk lengannya adalah sepupu Lina yang bernama Tina, Tina ini juga cantik, kalau tidak, anak orang kaya itu tak mungkin tertarik dengannya.
Generasi Ibu Lina punya gen yang bagus, walau semuanya anak perempuan, tapi mereka cantik-cantik semua, ini sungguh sebuah keajaiban.
“Siapa kalian berdua?” Erwin mengerutkan kening, dan mengamati mereka berempat bolak-balik, terutama keduanya pemuda kaya itu, karena tatapan kedua pemuda itu seperti sengaja mengejeknya, Erwin baru pertama kali bertemu dengan mereka, tapi kenapa begitu ketemu mereka terlihat seperti tidak senang padanya?
“Namaku Michael, putra dari keluarga kaya di barat kota, kudengar kau yang bantu bibi kedua Helena dapatin kontrak?” Michael tak senang, karena ulah Erwin dia dipandang rendah oleh Ibu Helena.
Awalnya dia sudah minta bantu wakil CEO Perusahaan Real Estat West Garden, jadi keberhasilan kontrak seharusnya terjamin, tapi tiba-tiba muncul Erwin miskin dari pedesaan ini yang merusak segalanya, dan menginjak martabatnya.
Ini membuatnya bukan cuma malu di depan Helena, tapi juga dikritik oleh Ibu Helena, mengingat itu, dia mengajak Erwin keluar untuk mencari kembali panggungnya.
“Oh, ternyata dua anak orang kaya yang tak berguna itu ya? Yang disebut sampah sama kedua bibi Lina itu, kan? Setelah ketemu hari ini, kayaknya memang begitu sih.” Erwin menjawab sambil tersenyum, dengan kata-kata yang tajam bagaikan pisau yang menusuk.
Pada saat yang sama, Erwin juga jadi tahu mengapa kedua anak orang kaya ini tak senang denganya, ternyata karena dia sudah merampas muka dan martabat mereka, jadi mereka hari ini datang buat cari kembali panggung mereka.
“Kau yang tak berguna, seluruh keluargamu tak berguna!” Edric yang di samping juga berdiri dan menjawab dengan tatapan marah.
Mereka tak pernah dipermalukan seperti itu sejak kecil, diremehkan dan dimarah tak berguna, jadi kali ini mereka harus memberi sedikit pelajaran pada anak miskin pedesaan ini
“Oh, begitu ya.” Erwin tersenyum. Karena dia ingin mencari tempat darinya, itu harus membayar harganya.
Setelah berbicara, Erwin berpisah dengan mereka dan langsung menelepin Anita, kemudian menyuruh Anita untuk menyelidiki properti apa saja yang dimiliki Michael, putra dari keluarga Barnard di barat kota, beserta Edric, putra keluarga Hugo di selatan kota, dan tinggal kirim saja semua informasi yang didapatkan nanti lewat pesan ke ponselnya.
“Baik Tuan muda, akan segera saya siapkan!” Erwin bertanya lagi sebelum kata-kata Anita selesai berbicara,
“Ngomong-ngomong, Jalan Mandro ini punya kartu anggota gak ya?” Erwin merasa bahwa barang-barang di jalan ini terlalu mahal, walaupun dia sangat kaya, tapi dia masih belum terbiasa belanjakan uang sebanyak itu sekaligus.
Selain itu, dilihat dari situasi sekarang, nantinya pasti akan belanja banyak, jadi dia harus dapat kartu keanggotaannya dulu, kalau tidak, para anak kaya ini punya, sedangkan Erwin tak punya, itu jelas akan sangat merugikan nantinya.
"Ada Tuan muda, kartu keanggotaan tingkat tertinggi di Jalan Mandro itu kartu VIP bintang sembilan, sepertinya cuma kurang dari sepuluh orang di Kota Bandung yang punya, tapi Tuan Damon seharusnya punya satu juga, apakah perlu saya antar?" kata Anita.
“Tunggu apa lagi, cepat antar ke sini!” Erwin tak nyangka bahwa Damon bisa punya kartu VIP bintang sembilan di Jalan Mandro, semuanya akan berjalan lebih lancar dengan begini."
Setelah menutup telepon, Erwin kembali ke sisi Lina, pada saat ini, mereka sedang mendiskusikan di mana tempat yang akan mereka kunjungi.
Erwin belum pernah ke sini, jadi Erwin hanya ikut ke manapun mereka pergi, dan menemani mereka sampai akhir.
__ADS_1
“Erwin, kartu bank ini buat kamu, kata sandinya hari ulang tahunmu.” Lina diam-diam memberi Erwin sebuah kartu bank saat mereka tak memperhatikan.
“Kartu bank?” Erwin berpikir sejenak, dan langsung mengerti mengapa Lina memberinya kartu bank, mungkin Lina takut Erwin tak mampu bayar waktu mau beli barang dan kehilangan muka di depan kedua sepupu Lina, jadi diam-diam memberi Erwin sebuah kartu bank, agar Erwin mampu membeli barang-barang di sini.
Sejujurnya, Lina sangat perhatian pada Erwin, bahkan kata sandi kartu banknya adalah hari ulang tahun Erwin, yang menunjukkan bahwa hatinya itu penuh dengan Erwin.
Namun, Erwin takkan mau memakai uang wanita, jadi dia mengembalikan kartu banknya dan berbisik,
"Aku punya uang kok, aku juga punya kartu VIP bintang sembilan di sini, jadi tak akan terlalu mahal nanti."
Setelah Lina mendengar ini, dia membuka mulutnya dengan ekspresi terkejut. Kartu VIP bintang sembilan ini adalah kartu keanggotaan yang hanya diperoleh saat sudah menghabiskan lebih dari 200 milyar rupiah pertahun di Jalan Mandro, bagaimana Erwin bisa punya?
"Kami udah tentukan, kita akan ke Factory Outlet yang ada di Jalan Mandro ini, karena situ banyak merek terkenal." Michael melirik Erwin yang mengenakan pakaian murah, dan jejak penghinaan melintas di matanya, dia ingin lihat bagaimana Erwin dipermalukan nanti.
“Tapi kayaknya ada orang pedesaan yang gak mampu beli, mungkin bakal kaget sama harganya nanti.” Edric juga menghina di samping.
Benak kedua anak orang kaya ini penuh dengan pikiran untuk mencari tempat bagus untuk mencari panggung, dan cari muka di depan pacar mereka sendiri, jadi mereka akan mengejek dan menghina Erwin sebisa mungkin.
Dan membiarkan Erwin merasakan rasanya dipermalukan di depan pacar sendiri.
“Baiklah kalau gitu, aku justru takut kalian gak mampu beli dan kehilangan muka di depan pacar kalian lagi nanti," kata Erwin sambil tersenyum.
"Erwin, kau yang hanya anak miskin jangan besar mulut, palingan kau itu dinafkahi sama sepupu keduaku, memangnya berapa banyak uang yang anak miskin kayak kau punya? Jangankan belanja, bawa kau masuk ke Factory Outlet aja udah memberimu wajah, kau seharusnya tahu yang bisa masuk Factory Outlet di sini itu setidaknya anggota bintang satu." Tina juga mulai mengejek.
“Betul tuh, anak miskin kayak kau itu cuma bisa bohongi sepupu keduaku dengan omongan manismu, tapi jangan harap bisa belanja di Factory Outlet di sini hanya mengandalkan omongan aja, jangan sampai kabur juga ya nanti.” Helena juga tidak tahan dan ikut mengejek.
“Kalian akan tahu nanti, aku itu hanya mengandalkan omongan aja atau tidak.” Erwin tersenyum tipis di sudut mulutnya.
“Oke, aku mau liat kau mau sok-sokan sampai kapan, kalau gitu kita pergi!” Kata Michael sambil menyeringai.
“Bentar, aku mau ke toilet dulu.” Erwin berpikir sebelum mendapatkan kartu VIP sembilan bintang dari Anita, akan lebih baik kalau menunda waktu dulu.
Setelah berbicara, dia langsung buru-buru berpisah dengan mereka, setelah setengah jam kemudian, Anita datang sambil mengantarkan kartu VIP bintang sembilan Tuan Damon. Pakaian pelayan membuatnya terlihat imut dan cantik, sehingga menjadi pusat perhatian banyak orang di Jalan Mandro.
"Tuan muda, ini kartu VIP bintang sembilan Tuan Damon! Selain dapat diskon maksimum 10%, pemilik juga bisa menikmati prioritas berbagai kegiatan, dan ada beberapa tempat di mana Anda dapat menerima uji coba produk baru secara gratis," kata Anita sambil terengah-engah, sepertinya Anita buru-buru lari kemari setelah keluar dari mobil karena mau kejar waktu.
"Kartu VIP bintang sembilan ini punya banyak manfaat dan hak lain yang sudah saya kirim lewat pesan ke ponsel Anda, jadi bisa tinggal dibaca nanti, selain itu, informasi properti dan industri atas nama kedua anak orang kaya itu juga sudah saya kirim."
__ADS_1
“Makasih ya kerja kerasnya, kamu pulang duluan aja." Setelah Erwin memasukkan VIP bintang sembilan ke dalam saku, dia bertekad untuk memberi mereka sedikit pelajaran.