Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Lihat Bagaimana Kau Masuk Nanti


__ADS_3

Vincent sangat marah. Awalnya, dia ingin menggunakan insiden lukisan palsu untuk menghancurkan Erwin, dan mendapatkan Lina, tapi sekarang situasi justru sebaliknya.


Tidak hanya dipermalukan, tapi juga membuat Lina semakin menyukai Erwin.


Beberapa orang bahkan menertawakannya secara diam-diam, bukan hanya menghabiskan 76 miliar untuk produk replika, tapi juga begitu memaksa untuk diumumkan dan sekarang justru dipermalukan.


Bagaimana mungkin Vincent sanggup menerima  menerima desas-desus seperti itu, dan Vincent juga menyalahkan semuanya pada Erwin.


“Erwin, aku pasti akan menginjakmu.” Vincent tidak tahan dengan ejekan orang lain, karena dia tidak pernah diejek dan dipermalukan seperti ini sejak kecil.


“Kak Vincent, tenanglah, kita ke pelelangan saja nanti sore, kita balikin suasana hati di sana, dan hanya perlu tidak mengajak Erwin.” Kay benar-benar pandai dalam menyanjung, dan memperhatikan suasana hati orang lain.


“Betul itu, Kak Vincent, kenapa harus repot-repot kesal dengan bocah miskin pedesaan itu.” Daisy juga berjalan mendekat. Wanita ini tinggi dan seksi, tapi memakai riasan tebal, meskipun memang terlihat cantik, tapi wajahnya lebih terlihat seperti artis yang tidak tahu sudah berapa kali oplas.


"Kak Vincent, untuk apa begitu marah sama anak miskin pedesaan? Kak Lina tidak peduli padamu, tapi kami peduli, yuk kita bersenang-senang ke pelelangan nanti!" Rosa juga imut dan cantik, tapi masih kalah jauh dengan Lina.


"Ya~" Vincent mengangguk, dan amarahnya berangsur-angsur mereda, dia tidak ingin pulang dipermalukan seperti itu, jadi dia perlu cari panggung.


Dan pelelangan sore nanti jelas merupakan peluang bagus.


Apalagi sore nanti akan ada kalung misterius yang melambangkan cinta, konon gadis yang memakai kalung ini akan mendapatkan cinta yang paling bahagia di dunia, ini adalah salah satu hal yang didambakan oleh setiap gadis.


Setelah kerumunan bubar, Vincent mendatangi Lina dan mengajak dengan tidak tahu malunya.


"Lina, nanti sore akan ada pelelangan, mau ikut pergi denganku? Kudengar ada kalung misterius yang melambangkan cinta, jadi mau ikut lihat?"


Lina mengabaikannya, tetapi berbalik untuk melihat Erwin.


"Erwin, kau mau ikut?"

__ADS_1


Lina tidak berminat sedikit pun pada pelelangan, dia hanya ingin bersama Erwin sekarang, tindakan memberi tusuk konde Erwin barusan benar-benar membuatnya terpesona, dan merasa bahwa tindakan itu terlalu tampan.


"Kalung yang melambangkan cinta? Kurasa ikut lihat-lihat bukan ide yang buruk juga~" Erwin mengangguk. Dia belum pernah berpartisipasi dalam pelelangan sama sekali sampai saat ini, kebetulan Pameran Sun Galery juga sudah menjadi industri pribadinya, jadi bukan ide buruk juga untuk masuk dan mengenal lebih dalam tentang industrinya sendiri.


Di tengah percakapan, Kay dan yang lainnya juga ikut berjalan kemari, kemudian saat mereka mendengar Erwin ingin  ikut juga, mereka tidak bisa menahan diri dan mulai mengejek,


"Haha, maaf, tapi hanya orang-orang yang punya kekayaan setidaknya 20 miliar yang bisa mengikuti pelelangan, jadi anak miskin pedesaan sepertimu sepertinya bahkan tidak diperbolehkan untuk masuk."


Kay mencemooh secara blak-blakan, tidak memberi Erwin wajah sama sekali. Vincent sangat puas dengan kinerja penjilat ini, dia memang ingin mempermalukan Erwin secara terang-terangan, membuat Erwin sadar diri untuk jangan mencoba-coba merebut wanitanya.


“Setidaknya 20 miliar ya, kalau begitu lupakan saja!” Lina mengerutkan kening sebagai jawaban.


Vincent langsung cemas saat mendengar Lina tidak jadi ikut.


"Jangan khawatir, pemilik pameran ini adalah sahabatku, dan aku juga anggota kartu emas di sini, jadi aku bisa membawa kalian masuk."


Vincent berencana menyuruh satpam untuk secara diam-diam mengusir Erwin saat masuk nanti dan mempermalukannya di depan banyak orang, tidak peduli caea apapun, yang penting bisa mengusir Erwin.


Setelah Erwin diusir nanti, dia bisa berduaan dengan Lina, dan pada saat terakhir dia bisa memberi Lina kalung misterius yang melambangkan cinta itu, dengan menciptakan adegan romantis seperti itu, Lina pasti akan terpesona padanya.


Rencana ini sempurna, dan Vincent mengagumi dirinya sendirinya karena terlalu cerdas.


“Kalau begitu, yuk kita lihat-lihat ke dalam!” Mulut Erwin tersenyum sedikit.


"Betul juga, anak miskin sepertimu hanya bisa ikut masuk untuk lihat-lihat saja seumur hidup, benar-benar menyedihkan dan kasihan sekali." Kay tak bisa menahan diri dan menertawakan Erwin lagi.


"Kay, jangan bilang begitu! Erwin itu mau sukses dengan usaha sendiri, gimana kalau sudah jadi kakek-kakek nanti dia beneran bisa menghasilkan 20 miliar? Itu mungkin saja, kan?! Hahaha." Kata-kata Daisy jelas juga mengandung sarkas.


"Iya juga, 20 miliar itu hanya sebagian kecil dari kekayaan Kak Vincent. Ada orang yang walau udah bekerja keras seumur hidup pun, masih hanya punya kekayaan yang setara dengan sebagian kecil dari yang orang lain punya, benar-benar konyol sekali." Rosa tidak bisa menahan diri dan ikut mengejek.

__ADS_1


Vincent yang mendengar itu merasa puas dari lubuk hatinya. Benar, memang ada orang yang walau sudah bekerja keras seumur hidup pun, masih punya kekayaan yang setara dengan sebagian kecil miliknya. Tapi dia masih tetap berpura-pura berbaik hati.


"Rosa, jangan bilang begitu, beri sedikit wajah padanya."


"Kalian..." Lina sangat marah, mereka benar-benar merendahkan Erwin seperti sampah masyarakat dan menghinanya secara blak-blakan, yang benar-benar membuatnya tidak sanggup untuk terus mendengarkan lagi.


Ketika Lina hendak membawa Erwin pergi secara langsung, Erwin menahan Lina dan menanggapi mereka dengan senyuman,


"Untuk apa marah dengan orang yang membeli lukisan replika sebagai hadiah untuk orang lain? Mungkin saja lukisan itu hanya 200 ribu dan bilang itu 76 miliar untuk pamer, dan kebetulan aku bawa yang asli, jadi membuatnya gagal pamer sana sini."


"Erwin, apa kau bilang? Bilang sekali lagi kalau berani!" Vincent marah besar, masalah ini adalah titik tersakit hari ini, tentu dia marah besar saat Erwin menyebut kembali hal itu.


“Kau yang beli lukisan replika untuk pamer masih berani menyebut tentang kekayaan di depanku? Kau itu entah bisa masuk lelang aja belum tau, masih berani sok kaya di sini." Amarah Erwin mulai naik karena ucapan mereka, kalau tidak memberi mereka sedikit pelajaran, sepertinya mereka akan menganggap dirinya ini pecundang yang mudah dibully.


"Kuterima tantanganmu, begitu pelelangan dimulai sore nanti, akan kutunjukkan kalau aku bisa masuk.” Vincent keluar meninggalkan ruang pameran dengan marah, Kay, Daisy, dan Rosa juga ikut keluar.


Lina tersenyum senang ketika mereka pergi dengan marah.


"Erwin, tak kusangka kau begitu hebat memarahi orang, aku benar-benar puas mendengarnya tadi."


“Ada yang lebih hebat lagi nanti!” Sudut mulut Erwin tersenyum sedikit.


Saat siang hari, Erwin mengambil kesempatan waktu istirahat makan siang bersama Lina di lantai pertama ruang pameran, untuk pergi ke pelelangan di lantai dua sendirian, kemudian menelepon orang yang bertanggung jawab atas lelang Pameran Sun Galery untuk datang menemuinya.


Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, hampir semua orang dari pelelangan bergegas kemari untuk melihat Erwin, yang merupakan bos baru mereka, mereka dipimpin oleh seorang pria paruh baya berusia 50 sampai 60-an yang mengenakan setelan jas hitam.


"Tuan Muda Smith, nama saya Calvin, Tuan Damon mengatur agar saya datang ke sini untuk membantu Anda menangani hal-hal yang berkaitan dengan Konvensi dan Pameran Sun Galery, tolong beritahu saya jika ada keperluan."


“Mm, di pelelangan sore nanti, aku ingin kau membatalkan kartu emas seseorang yang bernama Vincent dan larang dia untuk masuk.” Erwin berkata dengan ringan.

__ADS_1


“Baik, Tuan Muda Smith, akan segera saya perintahkan seseorang untuk menanganinya.” Jawab Calvin sambil mengangguk.


Erwin sangat puas dan ingin melihat cara apa yang akan dipakai Vincent untuk memasuk pelelangan ini nanti sore.


__ADS_2