
Meisha yang duduk di mobil saat ini sangat bangga, dia sudah merencanakan ini selama beberapa hari terakhir demi menggantikan adik keduanya untuk menandatangani kontrak, dan akhirnya dia berhasil sesuai keinginannya.
"Dek, dek, hasil dari pesanan yang susah payah kau dapat malah diwakili sama aku, maaf atas semua usahamu ya." Meisha tampaknya dalam suasana hati yang sangat baik, berkat perhitungan dari suaminya, dia bisa menggantikan Mary sesuai keinginannya.
“Wakil CEO Millano, selamat.” Bahkan Ezra, asisten yang mengemudi juga tidak lupa untuk menyanjung.
"Ya, begitu aku jadi CEO nanti, aku nggak bakal memperlakukan kalian dengan buruk." Meisha membalas dengan murah hati, karena menurut pendapatnya, tanda tangan kontrak kali ini sudah hal yang pasti, setelah kejadian ini berlalu, kepercayaan Rick pada adik kedua akan turun drastis.
Mobil yang dinaikinya dengan cepat sampai dan berhenti di gerbang Perusahaan Real Estate West Garden di barat kota, Meisha keluar dari mobil dengan penuh semangat diikuti kedua asistennya, auranya tampak seperti orang yang sangat sukses.
"Saat penandatanganan kontrak nanti, tolong bantu baca persyaratan dengan teliti." Karena orang yang menegosiasikan kontrak ini bukanlah Meisha, jadi Meisha perlu harus baca isinya dengan teliti sebelum tanda tangan, kalau tidak tahu isinya spesifik dari kontrak.
Dan terjadi kesalahan, dia pasti akan dimarahi oleh Rick begitu pulang nanti.
"Dimengerti, Wakil CEO Millano!" Kedua asistennya mengangguk serempak.
Tak lama kemudian, mereka bertiga berjalan ke dalam Perusahaan Real Estate West Garden, setelah menjelaskan tujuan kunjungan kepada wanita resepsionis, Meisha dan yang lainnya dipandu ke ruang konferensi.
“Tolong tunggu sebentar, Direktur Rodriguez kami akan segera datang.” Wanita resepsionis meninggalkan kata-kata ini sebelum pergi.
Mereka bertiga tidak mempermasalahkan itu, mereka hanya duduk di ruang konferensi dan menunggu dengan sabar.
Tak lama kemudian, Vicky Rodriguez atau Direktur Rodriguez yang disebut tadi masuk dengan wajah ramah, dan bertanya pada Meisha begitu masuk.
"Ini pasti Nona Mary Millano kan?"
Meisha sedikit canggung, tapi asisten di sebelahnya menjelaskan, "Direktur Rodriguez, ini Wakil CEO kami, Meisha Millano."
"Meisha?" Vicky mengerutkan kening, CEO Ghania tadi sudah meneleponnya secara langsung dan bilang kalau satu-satunya orang yang boleh menandatangani kontrak ini hanya Mary itu sendiri, memikirkan hal ini, wajah Vicky tiba-tiba menjadi dingin.
"Maaf, kami hanya menandatangani kontrak dengan Mary Millano, kalian kembali saja dulu, kami akan menandatangani kontrak begitu Mary Millano datang nanti."
Setelah selesai berbicara, Vicky langsung meninggalkan Meisha dan yang lainnya di ruang konferensi.
“A-apa apaan ini??” Meisha tampak bingung, tapi dia dengan cepat menyadari bahwa Perusahaan Real Estat West Garden hanya menandatangani kontrak dengan perwakilan tertentu bukan siapapun yang berkuasa di perusahaan mereka.
Meisha langsung marah.
__ADS_1
"Apa-apaan ini, memangnya kenapa? Aku juga nggak butuh!"
“Wakil CEO, apa yang harus kita lakukan sekarang?” Ezra bertanya dengan agak khawatir.
"Memangnya apa lagi? Tentu aja pulang dulu." Meisha marah besar, karena tidak nyangka Mary bisa begitu hebat sampai-sampai Perusahaan Real Estate West Garden hanya mau menandatangani kontrak dengannya.
"Adik kedua ini kayaknya nggak mudah untuk dihadapi! Gimana bisa perusahaan itu hanya mau tandatangan kontrak dengannya?" Meisha kembali bersama kedua asistennya dengan marah, tapi terus berpikir cara untuk menghadapi Mary selanjutnya.
Setelah kembali ke perusahaan, Rick buru-buru mendekat untuk menanyakan situasinya dengan ekspresi serius,
“Kontraknya udah ditandatangani?” Hal yang paling dipedulikan oleh Rick masih pesanan dengan harga selangit itu, sampai-sampai hal-hal lain seperti mencari putri keduanya saja ditunda dulu.
“Belum, perusahaan itu hanya mau tanda tangan dengan adik kedua secara langsung," ujar Meisha sambil menggelengkan kepalanya dengan enggan.
"Harus Mary sendiri? Tunggu apalagi? Cepat cari dia." Rick langsung mendesak, dia awalnya berpikir untuk menandatangani kontrak terlebih dahulu lalu mencari putri keduanya, tetapi sekarang sepertinya tidak bisa, jadi dia harus menemukan putri kedua baru bisa menandatangani kontraknya.
“Ayah, tenang dulu, akan segera kukirim orang buat cari dia." Meisha berpura-pura menghibur, dan buru-buru melarikan diri, dia tidak ingin memperburuk keadaan, jadi akan membebaskan Mary secepat mungkin.
Pada saat yang sama, Lina sedang menunggu dengan cemas di rumah, tampak bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.
Ayahnya tiba-tiba bergegas kembali dengan tergesa-gesa.
“Belum, ini udah berjam-jam, apa kita telepon polisi aja?” Lina menyarankan.
“Jangan dulu, kita lihat dulu situasinya.” Lucas mengerutkan kening, hari ini adalah hari penting bagi Mary untuk menandatangani kontrak, Mary sendiri tidak mungkin melewatkan acara sebesar itu, kemungkinan sesuatu terjadi padanya di jalan.
Kejadian ini sangat aneh, terkadang menelepon polisi mungkin tidak bisa menyelesaikan masalah, tapi malah memperburuk keadaan, contohnya penculikan.
“Kita terus nunggu seperti ini?” Lina tampak cemas dan pucat.
“Tunggu dulu, apa ada yang menelepon rumah tadi?” Kalau itu penculikan, para penculiknya seharusnya menelepon.
“Nggak ada.” Lina menggelengkan kepalanya.
“Aneh." Lucas tampak bingung, apa jangan-jangan kecelakaan mobil?
Memikirkan hal ini, Lucas bahkan tidak berani membayangkan yang selanjutnya lagi.
__ADS_1
Keduanya menunggu dengan cemas di rumah selama lebih dari satu jam, dan Mary tiba-tiba pulang dengan ekspresi pucat.
“Ma, akhirnya kamu balik juga, kamu membuatku takut setengah mati.” Melihat Mary muncul, Lina langsung lari ke sana untuk membantunya.
“Ke mana aja kamu? Sampai kontrak aja tak kamu tanda tangan.” Lucas juga bertanya dengan cemas.
"Nggak usah dibahas lagi, tadi aku baru sampai di daerah Sungai Citarum, tapi seorang pria bertopeng tiba-tiba melempar telur ke jendela mobilku, begitu aku turun buat membuat perhitungan dengannya, wajahku tiba-tiba disemprot dan aku pun pingsan, begitu bangun aku udah terbaring di dalam mobilku sendiri, sampai sekarang aja kepalaku masih pusing."
Mary memaksa diri untuk mengemudi pulang, sekarang dia hanya ingin tidur dan istirahat.
"Masih mau istirahat? Kontrakmu aja udah direbut orang!" Lucas yang cemas mengingatkannya dengan keras, dari panggilan telepon sebelumnya dari Rick, dia mengetahui bahwa ayah mertuanya tidak bisa menemukan Mary, jadi sudah menyuruh putri sulungnya, yaitu Meisha untuk mewakili Mary menandatangani kontraknya.
“Apa??” Mary tiba-tiba jadi sadar kembali, kemudian teringat bahwa hari ini adalah hari penandatanganan kontraknya. "Iya ya, bisa-bisanya aku lupa, Hari ini hari H kontrak dengan Perusahaan Real Estate West Garden, aku harus ke sana."
Mary baru teringat, tapi begitu mengambil beberapa langkah ke depan, dia hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan, untungnya Lina membantunya, tetapi dengan kondisinya yang sekarang, sepertinya akan sulit untuk menandatangani kontrak.
"Ayah mertua baru saja menelepon, dia sudah suruh Meisha buat mewakilimu." Lucas berkata tanpa daya.
"Apa kamu bilang? Meisha yang menandatangani kontraknya dan bukan aku, siapa yang setuju??" Mary marah besar saat ini, dia dengan tidak mudahnya berhasil menegosiasikan kontrak dengan Perusahaan Real Estate West Garden, begitu sudah saatnya panen, buahnya malah dipetik sama Meisha, mana mungkin dia bisa terima ini.
Dia sudah sibuk beberapa hari ini, tapi malah Meisha yang dapat hasilnya, sekali lagi, mana mungkin dia bisa terima ini.
"Tidak, aku harus buat perhitungan dengannya, kakakku udah keterlaluan!"
"Tak perlu lagi, dia nggak bakal bisa tanda tangan." Erwin tiba-tiba masuk dari pintu dan berkata dengan tenang, tetapi dia lega melihat ibu Lina pulang dengan selamat.
“Erwin, apa maksudmu, kenapa nggak bisa??” Tidak hanya Mary yang heran, Lucas dan Lina juga penasaran.
"Aku sudah beritahu temanku buat menginstruksi orang-orang di West Garden kalau kontraknya harus ditandatangani sama kamu secara langsung, sepertinya kakakmu pasti kesal lagi sekali sekarang." Erwin tersenyum ringan.
“Serius?” Mary tidak nyangka anak malang dari pedesaan ini begitu pintar dan sudah mengatur semuanya.
“Ya, kalau tak percaya, telepon aja kakek Lina buat pastikan.” Erwin menjawab sambil tersenyum.
Mendengar ini, Mary langsung menelepon Rick, tapi dia justru dimarahi sama Rick begitu panggilan tersambung, dan disuruh cari waktu untuk menandatangani kontrak.
Tentu saja, pada saat yang sama sebuah hal telah dipastikan, yaitu Meisha ingin mewakilinya untuk menandatangani kontrak, tapi ditolak oleh Perusahaan West Garden!
__ADS_1
“Hehe, rencana kakakku ini benar-benar licik sekali, sampai-sampai mau mewakili aku untuk tanda tangan kontraknya!” Mary tersenyum dingin, pada saat yang sama juga merasa lega, kalau kakaknya beneran berhasil, bukankah semua kerja kerasnya selama ini jadi sia-sia?
Namun, cara pandang Mary terhadap Erwin si anak malang dari pedesaan ini sudah semakin berbeda.