Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Bab 238 Wanita Misterius Berpakaian Hitam


__ADS_3

Zesven, Williamson, dan anak-anak kaya lainnya terkejut melihat Erwin bisa masuk hanya bermodal mulut.


“Bagaimana cara anak miskin itu melakukannya?” Tidak hanya Zesven yang ingin tahu jawabannya, tetapi begitu juga dengan Williamson, Divia dan yang lainnya.


"Kenapa masih berdiri diam, ayo masuk pergi! Di luar sini dingin sekali." Salah satu gadis kaya bernama Henny, berkata dengan gemetar sambil ikut masuk, kemudian diikuti oleh dua gadis lainnya, mereka semua mengenakan rok, jadi sangat kedinginan ketika angin malam bertiup.


Ketiga para gadis sudah masuk, hanya tersisa tiga pemuda kaya yang saling menatap, tapi mereka pada akhirnya ikut juga.


Meskipun ini sedikit memalukan, mereka masih sangat tertarik untuk masuk dan melihat ruangan tingkat mahkota dari Klub Emgrand.


Setelah Erwin, Lina dan yang lainnya masuk ke dalam, mereka langsung dipandu oleh manajer akun ke ruangan tingkat mahkota di lantai dua, tapi manajer akun itu juga mengingatkan mereka dengan sangat serius.


"Seseorang sudah menyewa seluruh tempat ini, jika tidak ada situasi khusus, tolong jangan keluar dari ruangan ini atau itu akan menyinggung orang yang menyewa dan akan mempersulit semua pihak."


"Manajer, apa boleh tahu siapa yang menyewa tempat ini?" Divia sangat ingin tahu, orang yang dapat menyewakan seluruh Klub Emgrand ini bukan sekedar kaya raya tapi juga luar biasa berkuasa.


"Ini melibatkan privasi pelanggan dan sementara ini harus dirahasiakan, tapi tolong ingat apa yang saya sampaikan barusan, walaupun terjadi sesuatu di luar, tapi jangan keluar atau itu bisa saja membahayakan keselamatan Anda semua." Manajer akun berjalan pergi setelah selesai berbicara dan memandu Erwin beserta yang lainnya ke ruangan tingkat mahkota di lantai dua.


Yang lainnya juga mengikuti tapi samar-samar mereka dapat mendengar berbagai macam suara berisik masing-masing ruangan di lantai pertama, dapat dilihat bahwa orang yang menyewa tempat ini mengundang banyak teman untuk bersenang-senang di sini.


Setelah tiba di ruangan tingkat mahkota di lantai dua, Erwin membawa Lina dan Divia ke dalam terlebih dahulu dan langsung terkejut oleh dekorasi mewah di dalam.


Ruangannya berukuran lebih dari dua ratus meter persegi, dengan keseluruhan berwarna kuning keemasan, ditambah lukisan naga emas besar di langit-langit, yang sangat mengesankan dengan gigi dan cakar tajam.


Ada juga tiga baris lemari anggur merah di dalam kotak, berisi berbagai anggur merah yang boleh dipilih sesuka hati, kemudian sebuah layar besar yang bisa digunakan untuk menonton film, nyanyi, ataupun bermain game VR.


Di Pojok terdapat sebuah meja biliar untuk bersantai, bahkan ada ruangan rahasia yang dilengkapi tempat tidur besar di dalam, sungguh sangat memperhatikan kenyamanan para tamu.


Ini adalah sebuah ruangan rekreasi dan hiburan bergaya bioskop besar dengan fasilitas lengkap dan mewah.


Di sini juga bisa memesan berbagai layanan termasuk pijat, cuci kaki, pendamping minum-minum atau nyanyi yang siap melayani.


"Benar-benar punya segalanya." Erwin sedikit emosional, dia sedikit terkejut dengan tingkat kemewahan di sini, seperti yang diharapkan dari fasilitas kota-kota besar. Namun, Erwin hanya terkejut sesaat dan segera tenang kembali.

__ADS_1


Saat di Kota Bandung sebelumnya, Erwin sudah pernah melihat banyak ruangan tingkat atas mewah lainnya, jadi dengan cepat bisa menerima desain mewah di sini.


Sebaliknya, Divia, Zesven, Williamson dan lainnya baru pertama kali melihat ruangan dengan fasilitas kelas atas seperti ini, jadi terkejut dengan dekorasi mewahnya.


“Semua yang ada di sini gratis, jadi mainlah sepuasnya!” Erwin berkata ringan dengan sudut mulut terangkat.


"Yeah, baguslah." Henny dan gadis lainnya sangat bersemangat, ruangan mewah ini bisa dinikmati sepuasnya, apalagi yang lebih menarik dari ini?


Untuk sesaat, mereka menjadi sedikit kagum dengan Erwin yang dari pedesaan ini.


Sementara Zesven justru merasa sedikit iri, tapi dia juga penasaran bagaimana anak miskin ini bisa melakukannya, jadi dia segera melangkah maju dan bertanya tanpa sadar.


"Hei anak sialan, bagaimana kau melakukannya? Jangan-jangan pakai cara tercela?"


Jawaban dari pertanyaan ini sebenarnya ingin diketahui oleh Divia, Williamson, dan yang lainnya juga, jadi mereka semua menatap Erwin dengan penuh harapan.


“Aku memungut sebuah kartu keanggotaan VIP tempat ini saat di stasiun kereta sebelumnya, jadi mereka izinkan aku masuk.” Erwin mengarang sebuah alasan untuk membohongi mereka.


“Sialan, ternyata cuma beruntung menunggu kartu VIP di sini, tidak heran mereka izinkan begitu saja, bahkan dapat ruangan tingkat mahkota.” Zesven marah dengan suara rendah, sedangkan teman-teman lainnya juga tiba-tiba menyadari bahwa anak miskin tetaplah anak miskin, mereka menyesal karena mengira Erwin memiliki latar belakang yang misterius, sepertinya hanya mereka yang salah paham.


"Erwin, itu beruntung sekali, apa kartu VIP itu bisa dipakai lagi?" Divia tiba-tiba membungkuk dan bertanya dengan suara rendah, jika memang bisa dipakai berulang kali, maka Divia bersedia berteman dengan Erwin.


“Sepertinya hanya bisa satu kali dan sekarang kartunya sudah di ambil mereka." Erwin menghela nafas dan berkata tanpa daya.


“Kamu yang kukira bisa menjadi berguna malah kembali ke titik semula lagi.” Divia menghela nafas. Dia awalnya berpikir ingin mengandalkan Erwin untuk datang ke sini lagi kedepannya, tapi sekarang ternyata Erwin masih anak miskin yang tidak berguna.


Erwin tersenyum dan tidak memperdulikan itu! Dia hanya tidak ingin mencolok, lagi pula masih banyak hal-hal penting yang harus dilakukannya di Kota Santa kali ini.


Semua orang mulai bermain secara terpisah, Divia menyeret Lina untuk bernyanyi dan bermain game VR bersama.


Sementara Erwin kurang tertarik, dia menghitung waktu dan lusa adalah hari di mana kesepakatan di Klub Vodka akan diadakan. Dari sini, dia tahu bahwa itu sepenuhnya adalah jebakan dari Keluarga Gibson dan merasa harus melakukan persiapan lebih awal.


Ketika Lina dan yang lainnya sedang bersenang-senang, Erwin mengirim pesan kepada Damon, memintanya untuk membantu menyelidiki informasi tentang Klub Vodka, sehingga dapat melakukan gerakan yang ditargetkan ketika waktunya tiba.

__ADS_1


Tepat saat di tengah-tengah sedang bersenang-senang, mereka tiba-tiba mendengar keributan di luar, serta suara pertengkaran dan raungan, seolah-olah ada yang sedang berkelahi.


Erwin mengerutkan kening dan ingin keluar untuk melihat apa yang terjadi, tapi begitu mengingat akan peringatan dari manajer akun, Erwin pada akhirnya berhasil menahan diri. Erwin baru saja tiba ke kota ini, jadi tidak ingin menimbulkan masalah, keingintahuan bisa saja menyebabkan masalah yang tak diperlukan.


Yang lainnya juga mendengar suara keributan di luar, itu sangat menakutkan sehingga mereka kehilangan minat untuk lanjut bermain dan mulai berspekulasi.


"Kenapa bisa ada pertengkaran di luar?"


"Sepertinya orang yang menyewa tempat ini punya identitas yang beda kelas."


"Ada suara langkah kaki yang menuju ruangan ini."



Sebelum sempat menyadari siapa yang mengatakan itu, pikiran semua orang di tempat kejadian tiba-tiba menegang, lalu pintu tiba-tiba terbuka dan seorang wanita yang mengenakan pakaian kulit hitam berjalan masuk dengan pisau panjang di tangan.


Seluruh tubuhnya penuh darah, terlihat bahwa dia terluka parah, bahkan wajah dinginnya juga berlumuran darah.


"Dia mendobrak masuk." Para gadis memucat pucat karena ketakutan ketika melihat wanita berbaju hitam penuh darah.


Wanita berbaju hitam itu sangat terampil, meski terluka, kecepatannya tidak melemah. Setelah menerobos masuk, dia langsung meraih Divia yang paling dekat dengannya, lalu mengancam Erwin dan yang lainnya dengan pisau di leher Divia.


"Siapapun yang berani bilang aku ada di sini, akan kubunuh dia." Saat berbicara, wanita berbaju hitam itu memaksa Divia bersembunyi di kamar rahasia dalam ruangan ini


"Tolong, tolong aku." Wajah Divia menjadi pucat karena sangking takutnya dan hampir menangis, dia tidak menyangka hal buruk dan sial seperti ini akan terjadi padanya.


Zesven, Williamson, Henny dan yang lainnya ketakutan sampai tidak berani berbicara karena tidak pernah mengalami hal seperti ini.


Erwin mengerutkan kening, merasa malam di sini tidak akan berakhir damai.


Ternyata benar, tak lama setelah wanita berbaju hitam itu memaksa Divia bersembunyi di ruang rahasia, sekelompok besar orang menyusul datang, yang dipimpin oleh seorang pria botak dengan kalung emas tebal dan pisau panjang berlumuran darah di tangan.


Di belakangnya diikuti oleh lebih dari selusin bawahan yang menyusul, masing-masing dari mereka juga membawa pisau dengan aura membunuh yang kuat.

__ADS_1


“Tadi ada seorang wanita berpakaian serba hitam yang masuk ke sini, 'kan?” Pria botak yang bertanggung jawab itu berkata kepada Erwin dan yang lainnya dengan nada dingin.


__ADS_2