Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Melawan Balik dengan Rencana Musuh Itu Sendiri


__ADS_3

Langit sudah larut malam ketika Erwin pulang ke Villa mahkota, tapi Anita datang untuk melapor begitu Erwin pulang.


"Tuan, Liam sudah lama berada di sini, dan sedang menunggumu di ruang tamu, dia bilang punya sesuatu yang penting untuk dilaporkan."


“Liam?” Erwin sedikit mengerutkan kening. Saat ini sudah tengah malam, jadi untuk apa Liam datang mencarinya? Pasti ada sesuatu yang mendesak, kalau tidak mungkin pada saat tengah malam seperti ini.


Memikirkan hal ini, Erwin berjalan cepat menuju ruang tamu, dan terlihat Liam yang mengenakan cheongsam hitam sedang duduk di sofa sambil menunggu dengan ekspresi gugup di wajahnya.


“Liam, kenapa datang cari aku tengah malam begini?” Erwin duduk di sofa, dan Anita dengan pengertian memberi Erwin segelas air.


“Tuan Muda Smith, Vincent baru saja mengajakku ke Vesper Sky Bar tadi.” Liam berkata dengan gugup.


“Vincent?” Erwin berpikir sejenak, dan segera bisa menebak apa yang ingin Vincent lakukan dengan mengajak Liam bertemu, kemudian tidak bisa menahan senyum, "Apa dia mencarimu untuk berurusan denganku?"


"Iya, anak ini terlalu berbahaya, dia rela menghabiskan 10 miliar untuk membuatmu mengalami kecelakaan di alam liar. Selain itu, dia juga ingin membuat pacarmu ..." Liam berhenti, karena takut ucapan selanjutnya akan menyinggung Erwin.


"Apa yang ingin dia lakukan pada Lina?” Erwin mengambil gelas air di depannya dan meminumnya. Dia benar-benar ingin tahu apa yang direncanakan Vincent untuk balas dendam.


“D-dia juga menyiapkan bubuk obat untuk pacarmu.” Liam ragu untuk sementara waktu, tapi memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya, jika tidak, dia tidak akan sanggup memikul tanggung jawabnya jika sesuatu benar-benar terjadi.


Mendengar ini, wajah Erwin langsung menjadi dingin, dan genggaman gelas di tangannya semakin erat.


“Vincent ini, sepertinya mau pakai cara kasar karena tidak bisa mendapatkan Lina." Mata Erwin penuh kemarahan, tidak masalah kalau ingin berurusan dengan dirinya, tapi kalau Vincent berani menyentuh Lina, Erwin pasti tidak akan membiarkan Vincent begitu saja.

__ADS_1


“Rencana seperti apa yang akan dia pakai?” Erwin bertanya setelah menekan amarah di hatinya.


Liam memberi tahu Erwin semua rencana yang Vincent katakan padanya sebelumnya, dan Erwin pun tersenyum.


"Kamu sudah terima?"


"Belum, aku bilang akan mempertimbangkannya, aku bermaksud menunggu jawaban dari Tuan Muda Smith sebelum menanggapi tawarannya. Lagipula aku sudah berhenti menerima pekerjaan seperti itu lagi semenjak mengikuti Tuan Damon, tapi Vincent ini belum tahu apa-apa sudah datanglah mencariku.” Liam tidak bisa menahan rasa malu saat melaporkan ini.


"Iya, belajar bisnis dengan Tuan Damon memang pilihan yang tepat, jangan fokus pada pekerjaan semacam ini. Tapi kali ini, kamu boleh terima! Buat Vincent merasa bahagia dulu, lalu lihat saja bagaimana aku membereskannya nanti." Erwin berkata dengan tenang, berpikir untuk memanfaatkan rencana lawan untuk melawan balik, sekaligus ingin memberinya sedikit pelajaran untuk mengingatkannya bahwa dirinya ini bukan orang yang boleh sembarang disinggung.


“Baik, semuanya perintah Tuan Muda Smith.” Liam menjawab dengan ekspresi serius.


"Kalau begitu, kamu pulang dulu, kita bertindak sesuai kondisi nanti!"


Setelah menyuruh Liam pulang, mata Erwin menjadi gelap.


Tampaknya Vincent tidak akan menyerah jika tidak dipatahkan salah satu anggota tubuhnya.


Pikir Erwin dalam hati.


Dua hari kemudian, saat pagi hari, Erwin menerima telepon dari Lina, mengatakan bahwa salah satu sahabatnya akan kembali dari luar negeri dan mengajak beberapa teman untuk mendaki gunung sekaligus berkemah di alam liar, beserta pesta api unggun juga, jadi Lina ingin mengajak Erwin untuk pergi bersama.


Tentu saja, Erwin tidak akan menolak, dia juga ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk memberi Vincent sedikit pelajaran, dan mengingatkan Vincent bahwa dia ini bukan orang yang boleh sembarang disinggung, jadi dia setuju.

__ADS_1


"Tidak masalah, berkemah di alam liar adalah kesukaanku, tapi apa aku boleh membawa sepupuku juga?"


Erwin memutuskan untuk membawa Lisa bersamanya, untuk berjaga-jaga jika terjadi kecelakaan. Bagaimanapun, Vincent ini sangat licik, jadi mungkin saja punya rencana lain, dengan adanya Lisa yang melindungi Lina, maka Erwin juga akan merasa lebih lega.


"Seharusnya boleh, aku akan beritahu Fiona nanti, jadi ikutkan saja." Lina dengan cepat setuju pada Erwin.


Setelah menutup telepon, Erwin bersiap-siap dan menyuruh Lisa untuk mengemasi peralatan.


Saat hampir siang hari, Erwin bersama Lisa langsung menjemput Lina.


Dibandingkan dengan koper sederhana yang dibawa Erwin dan Lisa, Lina membawa banyak barang, seperti makanan, pakaian, termasuk tenda dan kantong tidur.


“Erwin, Lisa, kalian tak bawa tenda sama kantong tidur?” Lina berkedip karena terkejut. Bagaimana bisa pergi berkemah di alam liar tanpa membawa tenda dan kantong tidur?


Erwin dan Lisa saling memandang dengan canggung, karena mereka berdua terus berpikir tentang cara memberi Vincent pelajaran nanti, jadi sampai lupa tenda dan kantong tidur adalah barang paling penting untuk berkemah di alam liar.


“Untungnya aku bawa tenda cadangan dan kantong tidur, Lisa tidur denganku saja, lalu Erwin bisa pakai tenda cadanganku.” Lina memikirkan mereka berdua bagaikan seorang menantu baik.


“Kalau begitu sesuai perkataanmu aja!” Erwin sendiri ingin membiarkan Lisa melindungi Lina, jadi akan lebih aman kalau mereka berdua tidur bersama.


"Ngomong-ngomong, Erwin, akan ada banyak teman dan sahabatku yang cantik-cantik di sana, usahakan jangan melihat mereka terus ya." Lina memperingatkan dengan nada rendah.


"Iya iya, mereka juga kalah cantik denganmu, jadi Lebih baik melihatmu daripada melihat mereka," kata Erwin sambil tersenyum.

__ADS_1


“Baguslah kalau begitu.” Lina tersipu dan sangat senang!


Setelah semuanya siap, Erwin langsung mengemudi ke tempat yang telah disepakati, tetapi masing-masing orang dengan suasana hati yang berbeda.


__ADS_2