Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Bab 180 Menurutmu Ini Bisa Menjebakku?


__ADS_3

Setelah semuanya siap, Erwin mengantar Giselle dan Lisa ke Hotel Robin di utara kota saat siang, sebelum pergi Erwin juga sudah menyelidiki Hotel Robin.


Penyelidikan ini membuatnya menemukan beberapa keraguan, Hotel Robin ini ternyata milik Keluarga Cole di utara kota, yang jelas adalah musuh Erwin!


Begitu mereka tahu bahwa Erwin ada di Hotel Robin, mereka pasti akan berusaha menangkapnya, untungnya Erwin sudah menyuruh Baka membawa lebih dari 100 petinju hitam untuk menyamar di sana.


Jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi, Erwin hanau perlu memberi perintah, maka para petinju hitam akan datang secepat mungkin.


Tim petinju hitam yang terdiri dari lebih dari 100 orang dapat dengan mudah menghadapi seluruh petugas keamanan Keluarga Cole, petinju hitam yang terlemah saja dapat mengalahkan tiga personel keamanan, apalagi Baka yang setidaknya bisa melawan sepuluh sendirian.


Selain itu, ada juga Lisa yang melindungi Erwin, itu membuat mereka tidak akan bisa macam-macam dengan Erwin.


“Erwin, apa menurutmu ini jebakan?” Giselle yang duduk di dalam mobil mengerutkan kening, karena curiga dengan kabar baik yang tiba-tiba ini.


"Tidak masalah bagiku mau itu jebakan atau bukan, yang aku pedulikan itu kehadiran Toni, selama dia hadir, maka kita tidak akan rugi!"


Erwin tersenyum sedikit, selama Toni berani muncul, dia akan percaya diri bisa mengambil 10% saham Lawa Group, jika mereka berani macam-macam, Erwin akan punya alasan untuk mengambil alih saham dengan harga yang lebih murah.


“Toni seharusnya hadir.” Giselle menjadi tidak yakin saat ini, meskipun memang Toni yang meneleponnya, tapi dalam situasi ini, dia benar-benar tidak yakin apakah Toni itu berbohong atau tidak.


Erwin mengendarai mobil ke garasi parkir bawah tanah Hotel Robin, terdapat banyak mobil mewah kelas atas yang terparkir di sini, dapat dilihat bahwa Hotel Robin adalah hotel yang relatif mewah. Setelah keluar dari mobil, Erwin membawa Giselle dan Lisa langsung ke lantai tiga dengan lift, tapi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di sepanjang jalan.


Ruangan nomor 308 di lantai tiga, merupakan tempat pertemuan yang disepakati oleh Giselle dan Toni.


Setelah mereka bertiga masuk, ternyata ruangan nomor 308 ini sangat besar, dengan luas kira-kira 200 meter persegi, ruangan sebesar ini umumnya digunakan untuk pesta pernikahan, tapi sekarang hanya berisi satu meja yang ditempatkan di tengah ruangan.


Hanya ada tiga orang yang duduk di meja tersebut, salah satunya adalah Toni, yang tampak ramah dan polos, mengenakan kacamata berbingkai hitam dan tampak berusia sekitar tiga puluh tahun, merupakan pria yang cukup muda.


Dua orang lainnya juga dikenal oleh Erwin, yaitu Morgan, CEO Keluarga Cole, dan Hendy, pengurus rumah Keluarga Cole.


“Erwin, lama tidak bertemu, tampaknya semuanya cukup lancar ya.” Morgan menyapa dengan senyum lebar, diam-diam mengagumi kecerdikan Hendy, karena rencana ini benar-benar berhasil memancing Erwin ke sini.


“CEO Morgan, lama aku tidak ketemu, kali masih mau memberiku aset ya?” Erwin tersenyum, dia tidak takut saat melihat Morgan, sebaliknya bersikap tenang dan tak gentar.


Karena Baka bersama lebih dari 100 petinju hitam sudah menyamar secara terpisah di Hotel Robin ini, jadi selama dia menelepon atau mengirim pesan, kira-kira dalam sepuluh menit para petinju hitam bisa sampai di ruangan nomor 308 ini.


“Kali ini bukan aku yang beri melainkan kau, ini saatnya aku membuat perhitungan denganmu.” Morgan menertawakan Erwin yang tidak menyadari situasi sendiri.


Di ruangan yang seluas dua ratus meter persegi, Morgan sudah menempatkan lebih dari 100 personel keamanan sebelumnya, jadi mau sekuat apapun pengawal wanita Erwin, akan tetap mustahil untuk mengalahkan 100 orang, selama Morgan memberi perintah, Erwin dan yang lainnya akan langsung dikepung, dengan begitu Erwin akan menjadi ikan yang bisa disembelihnya sesuka hati.


“Baru berapa hari tidak bertemu, tapi CEO Morgan sudah pandai menyombongkan diri, aku kagum." Erwin tersenyum dan memprovokasi Morgan secara kebetulan.

__ADS_1


Pada saat ini, satu-satunya orang yang berani memprovokasi kepala Keluarga Cole dengan begitu santai dan tenang sepertinya hanya Erwin.


"Erwin, aku kagum kau masih bisa seoptimis itu, tapi aku justru ingin lihat seberapa lama optimismu itu bisa bertahan."


Morgan mendengus dingin, dan segera bertepuk tangan dengan keras.


Tak lama kemudian, pintu depan dan belakang ruangan 308 tiba-tiba terbuka, dan sekelompok penjaga keamanan berseragam hitam menyerbu masuk dengan agresif, mengepung Erwin dan yang lainnya di lantai tiga hingga memenuhi ruangan, di sini setidaknya ada lebih dari 100 orang.


Melihat tempat ini, Giselle yang ketakutan menjadi pucat, dia tidak menyangka Toni akan menipunya untuk datang ke sini dengan pancingan saham harga murah. Karena sangking ketakutan, dia sampai tidak menahan diri dan bersembunyi di balik Erwin.


Melihat bahwa Erwin dan yang lainnya dikepung oleh begitu banyak anak buahnya sendiri, Morgan sangat puas.


“Bagaimana Erwin? Masih bisa berpikir optimis sekarang? Tidak perlu berpura-pura lagi di depanku, hahaha.” Morgan tertawa karena akhirnya berhasil menjebak Erwin, langkah selanjutnya hanya perlu mengikat Erwin untuk melakukan pertukaran dengan Damon.


“Hanya dengan seratus lebih orang ini kau ingin menjebakku?” Erwin tersenyum ringan, saat berbicara, dia diam-diam mengirim pesan pada Baka, menyuruhnya untuk membawa para petinju hitam ke ruangan nomor 308 di lantai tiga.


Setelah mengirim pesan teks ini, yang perlu dilakukan Erwin hanyalah menunda waktu, begitu Baka dan yang lainnya tiba, mereka dapat dengan mudah membantai para penjaga keamanan ini.


"Erwin, sudah cukup aktingnya! Di sini ada 150 bawahanku, kau pikir pengawal wanita dan kau itu bisa menang?" Wajah Morgan menjadi semakin dingin saat, dia mengambil gelas anggur di atas meja dan menyesap dengan ringan.


"Kalau begitu aku kubuat kau berlutut dan memohon padaku!"


Morgan hendak menyuruh anak buahnya maju dan menghajar Erwin, tapi justru dihentikan oleh Toni.


Toni telah lama mendambakan Giselle, dan sekarang adalah waktu yang tepat.


“Oke, pergilah, jangan terlalu lama, kesabaranku ada batasnya.” Morgan berkata dengan ringan, ini bisa dianggap sebagai pemberian muka untuk Toni! Bagaimanapun Toni yang membantunya memancing Erwin ke sini.


“Terima kasih CEO Morgan.” Toni sangat berterima kasih kepada Morgan, kemudian berjalan ke arah Erwin dengan mata yang tertuju pada Giselle yang seksi dan cantik.


Hari ini Giselle mengenakan gaun mini tanpa bahu bewarna putih, yang dengan sempurna menonjolkan bentuk tubuhnya yang anggun dan mempesona. Gaun itu hanya menutupi pinggulnya yang montok, tapi kedua pahanya terlihat jelas dan menarik perhatian.


Ditambah dengan paras cantik Giselle yang memikat, jelas merupakan tipe kesukaan para lelaki, sebagian besar pria yang ada di sini sedang menatapnya saat ini! Dapat dilihat bahwa Giselle adalah seorang wanita yang menarik perhatian pria.


Toni ini sudah lama mendambakan Giselle.


"Giselle, kamu juga sudah dengar kalau CEO Morgan akan menyerang Erwin, kalau pertarungan terjadi, kamu pasti akan tersakiti, jadi datang ke sisiku, aku akan melindungimu!" Toni berpura-pura lembut dan bersikap seperti orang baik untuk membujuk Giselle, tapi semua orang tahu dengan jelas niat Toni yang sebenarnya.


"Toni, jangan berpura-pura baik, jelas kamu yang memancing kami ke sini, untuk apa masih lanjut aktingmu? Aku tidak akan ke sisimu." Giselle menolak secara langsung, jika Toni tidak menipunya ke sini, maka mereka tidak mungkin jatuh ke dalam perangkap yang dibuat oleh Morgan!


"Giselle, aku berniat baik untuk melindungimu, tetapi justru dianggap sejahat itu, selama kamu ikut denganku, aku bisa memberi 1% dari saham Laws Group, jadi kamu bisa menjadi pemegang saham group dan bisa pergi dari sini sekarang juga, jika tidak, kalau pertarungsn terjadi, kamu pasti akan terluka." Toni terus memaksa.

__ADS_1


Namun, pandangan Giselle terhadap Toni ini sudah jelek total, sama sekali tidak mungkin untuk setuju.


"Toni, menyerah saja! Aku tidak mungkin akan bersamamu, kamu tidak layak!"


Kalimat ini benar-benar membuat marah Toni, dia menunjuk Giselle dan berteriak dengan marah,


"Oke, lihat saja bagaimana aku berurusan denganmu nanti!"


Toni menoleh dan berkata dengan nada menyanjung kepada Morgan,


"CEO Morgan, apa boleh menyuruh bawahanmu untuk tidak menyakiti Giselle? Cukup ikat saja, aku ingin membawanya pergi."


"Hahahaa, Toni memang seorang pria tulen! Baiklah, karena hari ini kamu sudah membantuku, tidak ada alasan bagiku untuk tidak membantu hanya soal seorang wanita belaka." Morgan dalam suasana hati yang baik, mengikat Giselle dan menyerahkannya pada Toni dapat dianggap sebagai balas budi.


“Kalau begitu terima kasih banyak CEO Morgan!” Toni sangat gembira, dia sangat senang akhirnya bisa mendapatkan Giselle.


"Baiklah, saudara-saudara sekalian, pria ini..." Morgan hendak mengeluarkan perintah untuk menghajar Erwin dan Lisa, tapi pada saat ini Jonathan yang menjaga di luar, tiba-tiba berlari masuk dengan panik sambil berteriak keras,


"Gawat, CEO Morgan, ini gawat!"


Jonathan buru-buru menerobos kerumunan dan akhirnya tiba di hadapan Morgan, tapi wajahnya langsung ditampar oleh Morgan.


"Kenapa teriak-teriak?! Selalu saja merusak suasana hatiku, katakan dengan jelas apa yang terjadi!"


“Di-Diluar, di luar sana ada banyak orang yang masuk dengan paksa, penjaga keamanan kita tidak bisa membendung mereka sama sekali, sekarang mereka sudah mendobrak masuk menuju ruangan ini!” Jonathan menarik napas sebelum melapor dengan ekspresi panik.


“Kau tidak salah lihat? Ini Hotel Keluarga Cole, siapa yang berani masuk paksa?” Morgan menampar wajah Jonathan lagi.


“Tidak salah lagi, pemimpinnya Baka dari Stadion Tinju Hitam, aku pernah melihatnya saat judi di sana, tidak mungkin salah,” kata Jonathan dengan sedih smabil menutupi pipi.


“Baka?” Saat Morgan sedang ragu, kerumunan besar tiba-tiba mendobrak pintu depan dan belakang ruangan 308, mereka akan menghajar siapapun yang mereka lihat, pria besar yang memimpin adalah Baka, tidak ada yang bisa bertahan dari pukulan tinjunya.


Tak lama kemudian, Baka bergegas tiba di tengah kerumunan dengan agresif, setelah melihat bahwa Erwin baik-baik saja, dia akhirnya menghela nafas lega, menghampiri Erwin dengan hormat dan berkata,


"Tuan Erwin, 120 petinju dari Stadion Tinju Hitam sudah tiba, sesuai dengan perintah Tuan!"


Begitu kata-kata itu keluar, semua orang terkejut, semua petinju hitam di stadion tinju hitam mematuhi perintah Erwin? Situasi apa-apaan ini?


Ekspresi Morgan sangat tidak percaya, Hendy sekalipun terkejut saat ini! Toni bahkan lebih ketakutan dan pucat.


Justru mulut Erwin dengan sedikit senyum, matanya menatap Morgan dan berkata dengan ringan,

__ADS_1


"CEO Morgan, apa menurutmu orang-orangmu masih bisa menjebakku sekarang?"


__ADS_2