Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Bab 218 Jangan-jangan Kau Jatuh Cinta Padanya


__ADS_3

Andi langsung datang ke lokasi yang dikirim Nora.


“Nora, akhirnya kamu mau bertemu denganku.” Setelah Andi tiba, mata berbentuk kacang hijaunya terus menatap Nora, wajahnya yang gemuk penuh dengan kegembiraan, tampak seperti selalu ditolak Nora sebelumnya.


Erwin tanpa sadar menoleh dan melihat ke atas, penampilan Andi ini ternyata sangat pendek dan gemuk, ditambah dengan mata kacang hijau itu, sungguh tampang yang jelek sekali, tak heran mengapa Nora tak suka.


“Andi, kamu datangnya kebetulan sekali, aku mau perkenalkan seseorang.” Nora berkata dan duduk di sebelah Erwin, lalu menarik Erwin untuk memperkenalkan. “Dia pacarku, jangan ganggu aku lagi kedepannya, untuk masalah investasi juga sudah dibantu pacarku, jadi tak perlu bantuan keluargamu lagi."


Setelah mengatakan itu, Nora juga memegang lengan Erwin dengan penuh kasih sayang untuk dilihat Andi, sehingga Andi bisa sadar dan tidak mengganggunya lagi.


"Nora, apa maksudmu? Ayahmu sudah janji pada keluarga kami, kalau tiba-tiba batal keluarga kami bakal kehilangan muka, memangnya siapa pria bertopeng ini? Percaya tidak kubuat cacat pria ini?" Wajah gemuk Andi penuh amarah, dan pada saat yang sama matanya melototi Erwin dengan kilatan niat membunuh.


Gadis yang dia naksir selama lebih dari 20 tahun, yang pada akhirnya bisa dia jadikan istri, tiba-tiba direbut oleh orang lain, ini memang hal yang sangat menjengkelkan.


"Terserah, yang penting sudah kujelaskan, aku tak butuh dana investasi keluargamu lagi, jadi jangan ganggu aku, kita tak punya hubungan sama sekali mulai sekarang." Setelah mengatakan ini, Nora langsung pergi sambil menarik Erwin, alasan kedua bertemu dengan Erwin kali ini selain tentang investasi adalah menyingkirkan Andi yang menyebalkan ini.


Andi tidak mungkin membiarkan Nora pergi begitu saja, jadi menghentikan mereka.


"Kalau tak kamu jelaskan sekarang juga, jangan harap mau pergi! Siapa pria ini?!"


Andi mengepalkan tinjunya dan menyembunyikan niat membunuh, berani rebutan wanita dengannya itu sama saja dengan cari mati.


“Sudah kubilang dia pacarku, tolong minggir.” Wajah Nora menjadi dingin, tapi tidak menyangka Andi masih begitu keras kepala.


Melihat pria gemuk itu menghalangi jalan, Erwin mengerutkan kening dan sedikit tidak senang, lalu memeluk pinggang Nora dan menarik Norw ke dalam pelukannya sambil berkata kepada Andi dengan sedikit ancaman,


"Sekarang Nora itu wanitaku, kalau berani ganggu, jangan salahkan aku bersikap kasar!"


Nora juga memeluk pinggang Erwin dan bersandar di lengan Erwin, wajahnya sampai merah merona, tapi dia tahu dalam hati bahwa ini hanya akting untuk membuat Andi menyadari kenyataan dan mundur, kedua lengan Nora perlahan memeluk Erwin dengan erat, dan bahkan menyandarkan kepalanya ke lengan Erwin.


Dia menggigit bibirnya sendiri yang halus dan berkata dengan kejam,


"Andi, aku sudah tinggal bersamanya, yang berarti sudah miliknya, jadi jangan repot-repot lagi."


Meskipun kata-kata ini sedikit kurang jelas, tapi semua orang dapat memahami artinya, bahkan Erwin juga tercengang karena tidak menyangka gadis gila ini akan berani mengatakan hal seperti itu! Namun, pernyataan itu benar-benar membuat Andi marah besar.


"Matilah!" Andi tiba-tiba menjadi liar, wanita yang disukainya sudah ditiduri oleh orang lain, dia jelas tidak bisa menahan diri dan mengeluarkan belati untuk menikam Erwin.


Wajah Nora langsung pucat ketakutan, sedangkan Erwin tidak panik, melainkan mendorong Nora dan menendang jatuh tubuh Andi, kemudian melangkah maju dan menginjak tangan Andi yang memegang belati.


Andi pun berteriak kesakitan.

__ADS_1


“Kalau masih keras kepala, bakal kuhajar kau lagi! Menjauhlah dari Nora, dia itu wanitaku sekarang.” Erwin membungkuk dan mengambil belati tersebut, lalu pergi sambil memeluk Nora, untuk menyingkirkan pria gemuk ini, Erwin juga sudah berusaha semaksimal mungkin.


Setelah Andi bangkit dari lantai, wajahnya penuh amarah, dan berteriak ke arah punggung Nora dengan mata merah dan suara serak,


"Nora, kamu akan menyesali pilihanmu hari ini."


Setelah Erwin dan Nora keluar dari restoran teh, mereka berjalan berdampingan untuk sementara waktu, kemudian Erwin menoleh dan berkata padanya,


"Dia seharusnya tidak akan mengganggumu lagi kedepannya."


"Terima kasih~" Wajah Nora masih memerah, masih merasa sedikit malu dan gugup ketika mengingat adegan di mana mereka berdua begitu dekat satu sama lain, karena dia belum pernah melakukan kontak fisik sedekat itu dengan seorang pria sebelumnya.


“Karena sudah selesai, gimana kalau kuantar pulang?” Erwin berkata dengan ringan.


“Pulang secepat ini? Gimana kalau temani aku sedikit lebih lama?” Nora tampaknya tidak ingin berpisah dengan Erwin secepat ini, dan ketika berpikir bahwa kata-katanya terlalu ambigu, dia buru-buru menjelaskan, "Bukan begitu, maksudku rumahku itu sepi jadi membosankan, gimana kalau kita pergi belanja bersama!"


"Oke, kutemani belanja." Erwin tidak banyak berpikir, dan pergi berbelanja dengannya.


Nora diam-diam melirik Erwin dan bertanya dengan gugup.


"Kamu punya pacar?"


Setelah mengatakan ini, ada kegugupan dan rasa menantikan di mata Nora.


"Baru dapat tadi."


Mendengar kata pertama itu, hati Nora tiba-tiba merasa sedikit kosong, tapi begitu Erwin selesai berbicara, Nora yang bereaksi kembali langsung tersipu, karena bukankah dia yang menjadikan Erwin sebagai pacarnya barusan?


“Jahat, kamu selalu gombal para gadis seperti ini ya?” Wajah Nora memerah karena gombalan Erwin, dan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat!


“Bukannya kamu yang mau aku jadi pacarmu? Kenapa jadi gombal sekarang?” Erwin pura-pura tidak bersalah.


"Ka-kamu." Nora sampai kehabisan kata-kata, dia sedikit gembira dan bahkan menyetujui kata-kata Erwin, kemudian diam-diam melirik Erwin lagi sambil bertanya dengan lemah,


"Lalu gadis seperti apa yang kamu suka?"


“Yang sepertiku, bergaya anggun dan dewasa! Aku benci gadis gila yang pergi clubbing buat joget tiap hati.” Erwin memutar matanya untuk menggoda lagi dan ingin melihat sejauh mana Nora ingin berpura-pura.


“Penampilan dewasa ya.” Wajah Nora sedikit canggung, lalu berkata dengan tak sadar diri. "Aku juga tidak suka pergi clubbing, bahkan belum pernah pergi."


“Serius?” Erwin hampir tidak bisa menahan tawa, Nora ini bahkan sampai berbohong sejauh ini! Sebelumnya Nora ini selalu minta pergi clubbing, tapi sekarang justru mengaku tidak pernah pergi.

__ADS_1


Jika ini adalah pertama kalinya Erwin bertemu dengan Nora, mungkin Erwin akan tertipu oleh penampilannya yang manis dan cantik.


“Te-tentu saja benar, aku sama sekali tidak suka clubbing atau joget." Nora tiba-tiba mengencangkan tali tasnya dengan gugup, ekspresinya sedikit tidak alami, matanya juga terus mengelak, karena takut Erwin tahu aku gaya dewasanya ini hanya sedang berpura-pura.


“Oke, kalau begitu yuk kita belanja pakaian!” Erwin tersenyum dan tidak ingin menggodanya lagi, jadi mengajak Nora untuk membeli pakaian.


Saat menjelang malam, Erwin baru mengantar Nora kembali ke area Villa Fancy Garden.


Nora melambai pada Erwin dengan enggan, bahkan sesekali menoleh untuk melihat kepergian Erwin.


Setelah mengantar Nora pulang, Erwin kembali ke Villa Mahkota di Teluk Oak, setelah melepas topeng dan mengganti kembali pakaiannya, Erwin tidak pergi ke Villa Fancy Garden, melainkan memilih untuk menginap di Villa Mahkota karena sudah larut malam.


Pada saat ini, Nora sedang diseret oleh Giselle dan duduk di sofa untuk mengobrol tentang pertemuan tadi.


“Nora, gimana penggemar nomor satu tadi?” Giselle bertanya dengan kepo.


"Lumayan! Walau pakai topeng, tapi keseluruhannya terlihat keren dan misterius, bukan hanya banyak membantuku tapi juga belanja banyak pakaian untukku! Pokoknya senang bertemu dengannya!" kata Nora dan tanpa sadar teringat lagi dengan adegan ambigu kontak fisik itu, yang membuatnya tidak bisa menahan pipi yang memerah.


"Begitu ya? Terus kenapa tersipu? Jangan-jangan kau suka sama dia?!” Giselle terus menggoda ketika melihat wajah Nora tiba-tiba memerah.


“Mana mungkin, ruangan ini yang terlalu panas, udahan dulu, aku harus buka siaran langsung!” Nora buru-buru naik ke lantai atas dengan panik ketika isi pikirannya ketahuan oleh Giselle.


"Jelas sedang jatuh cinta." Goda Giselle sambil tersenyum.


Setelah kembali ke kamar, Nora langsung menghampiri komputernya, setelah komputer dinyalakan, Nora masuk ke aplikasi siaran langsung, tapi bukannya memulai siaran langsung, tapi Nora justru memilih untuk mengobrol secara pribadi dengan [menggenggam Nora di tangan].


“Sudah sampai rumah?” Setelah Nora mengirim ini, dia berharap bisa dibalas secepatnya.


Sambil menunggu, adegan saling berpelukan erat itu terus berulang kali muncul di benaknya, yang membuatnya tersipu malu lagi.


Namun tidak ada balasan dari pihak lain setelah menunggu lama, sehingga membuat Nora sedikit kecewa.


"Mungkin, dia tidak menyukaiku~" Nora merasa sedikit sedih, dan setelah menunggu beberapa saat lagi, Nora mulai khawatir apakah sesuatu telah terjadi, jadi mengirim pesan lain.


"Tolong dibalas ya kalau sudah dilihat pesannya." Kemudian lanjut lagi sebuah penungguan yang lama.


Untungnya, kali ini Erwin dengan cepat membalasnya.


"Baru siap mandi, kamu tidak siaran langsung hari ini?"


Nora daritadi menunggu pesannya dibalas sampai lupa memulai siaran langsung, tapi suasana hatinya naik turun terus karena jawaban Erwin.

__ADS_1


Malam ini Nora kurang tidur, dia tidak pernah memikirkan seseorang selama ini sebelumnya, bahkan lebih buruk daripada malam di mana ayahnya memintanya untuk menikah dengan Andi! Adegan saling berpelukan yang muncul di benak membuatnya merasa malu sekaligus gembira!


Tetapi keesokan paginya, tiba-tiba suara ketukan pintu membangunkan mereka!


__ADS_2