
Hampir semua orang di tempat kejadian menahan napas, karena takut akan mengganggu penilaian Tuan Brian yang sedang berlangsung.
Brian memegang kaca pembesar dan pena pencahayaan profesionalnya, dengan hati-hati mengoreksi detail salah satu lukisan, dengan ekspresi yang sangat serius.
"Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan" karya Hendra Gunawan adalah lukisan terkenal, jadi tentu banyak replikanya, dan bahkan ada beberapa yang bisa meniru hingga kepadatan tinta dan saturasi garis yang persis sama. Dapat dilihat bahwa jika tidak ada bantuan alat profesional, pasti akan sulit untuk membedakannya.
Vincent sangat menantikan saat ini, bahkan telapak tangannya berkeringat karena terlalu bersemangat.
"Erwin, dasar pecundang miskin, hari kehancuranmu sudah tiba, dan tidak ada yang bisa menghentikannya."
Mengingat kembali adegan di mana dia dipermalukan dan direndahkan di Klub Hiburan Gold, mana mungkin dia tidak dendam pada seorang pecundang miskin yang sudah keterlaluan seperti itu?
Brian yang sedang memeriksa sangat lambat di atas panggung, sehingga membuat orang-orang yang di bawah panggung mulai menebak dan saling berbisik, terutama paras anak kaya dari keluarga Aleda.
"Menurutmu, lukisan mana yang asli?"
"Bukannya sudah jelas? Tentu saja punya Vincent, dia membelinya seharga 76 miliar, jadi mana mungkin palsu?"
"Betul juga, tetapi melihat pemeriksaan Tuan Brian, lukisan palsu punya Erwin sepertinya juga sangat sulit untuk dibedakan."
"Tak tau dari mana pecundang miskin itu aku mendapat lukisan replika yang bisa meniru sampai semirip itu."
...
__ADS_1
Sebagian besar penonton mengira lukisan Erwin itu palsu.
Setelah setengah jam, Tuan Brian akhirnya selesai menilai satu lukisan, kemudian sekarang berpindah ke lukisan yang satunya lagi.
Mata penonton di bawah panggung juga beralih ke lukisan yang satunya tersebut.
Dibandingkan dengan penilaian sebelumnya yang memakan waktu lama, Tuan Brian hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk menyelesaikan pemeriksaan lukisan ini, karena dia sudah melihat secara keseluruhan lukisan ini beberapa hari yang lalu, dari segi detail garis, kerapatan tinta, dan bahkan saturasi garisnya sudah ada di benaknya, jadi kecepatan pemeriksaannya otomatis sangat cepat.
Ketika dia berbalik, penonton di bawah semuanya menunjukkan ekspresi yang sangat menantikan.
“Sudah selesai kuperiksa.” Brian menyimpan kembali kedua alatnya, kemudian mengumumkan dengan ekspresi yang sedikit lelah.
"Lukisan yang di depan ini palsu, dan di belakang ini adalah yang asli, tapi walaupun lukisan yang di depan ini palsu, namun tingkat peniruannya adalah tiruan tertinggi serta termirip yang pernah kulihat sepanjang hidupku ini, kalau aku tidak membawa pena pencahayaan hari ini, mungkin hasilnya tidak akan kuketahui."
Pernyataan Tuan Brian membuat para hadirin di bawah bersemangat, dan Vincent sudah tidak sabaran, jadi berdiri untuk berkata,
"Kalau begitu maaf harus merepotkan Tuan Brian untuk membalikkan kedua lukisan itu, karena dibalik kedua lukisan itu tertulis nama orang yang mempersembahkannya, biarkan semua orang melihat siapa yang mempresentasikan kedua lukisan itu."
Vincent sangat percaya diri dan bersemangat, karena akhirnya tiba saatnya untuk mengumumkan hasilnya.
Mendengar ini, penonton di bawah tiba-tiba menantikannya, tetapi Profesor David sedikit tidak senang, dan berdiri untuk berkata,
"Sekarang Tuan Brian telah mengidentifikasi hasilnya, yang berarti tujuan kita semua sudah tercapai, jadi siapapun yang mempersembahkan produk asli itu tidak terlalu penting, selama niat baik mereka tersampaikan saja sudah cukup."
David ingin melindungi Erwin, karena banyak orang yang hadir, dan ada juga orang-orang yang lumayan terkenal di sini, jadi jika lukisan palsu Erwin diekspos seperti ini, itu mungkin akan berdampak buruk pada karir masa depan Erwin, dia tahu Erwin ini adalah anak miskin dari pedesaan, jadi dapat membangun karir mulai dari nol di kota besar ini sudah merupakan suatu hal yang tidak mudah untuk dilakukan.
“Profesor Aleda, itu seperti kurang cocok!” Vincent sangat marah tapi masih menahannya saat mendengar bahwa David sengaja ingin melindungi Erwin. Dia sudah memberinya lukisan terkenal dan liontin batu giok, tapi lelaki tua itu justru ingin melindungi Erwin pada saat kritis seperti ini?
“Vincent, kenapa kamu begitu memaksa?” David tiba-tiba menyesal menerima liontin gioknya. Anak ini terlalu keras kepala dalam temperamen, akan lebih baik untuk berdamai, agar kedepannya bisa berteman, mengapa harus memaksa orang hingga ke arah penghancuran?
"Aku terlalu memaksa? Tuan David, aku ini ingin memberi penjelasan dan alasan masuk akal untuk para hadirin. Kalau tidak, untuk apa para hadirin datang jauh-jauh ke sini hari ini? Bukannya sudah jelas ingin tau lukisan mana yang asli." Vincent bersikeras ingin mengekspos lukisan Erwin di depan umum hari ini, tidak peduli siapapun yang menghalangi.
__ADS_1
"Vincent, k-kamu sangat mengecewakanku ..." David sedikit marah, karena beraninya seorang anak muda bersikap begitu keterlaluan.
“Apa kalian ingin tahu siapa yang mempersembahkan kedua lukisan ini?” Vincent mengabaikan Tuan David, dan malah berkata dengan suara keras kepada semua penonton di bawah panggung.
"Ya, tentu saja." Kay berteriak lebih dulu. Dia adalah penjilat Vincent, jadi tentu saja ingin mengambil kesempatan ini untuk mengangkat dan membantu Vincent.
“Kami juga ingin tahu, cepat perlihatkan nama dibalik lukisan itu!” Daisy, Rosa, dan yang lainnya juga mengangkat tangan. Mereka berdua ini ingin mendekati Vincent yang merupakan seorang bujangan kaya raya, jadi otomatis akan mendukungnya.
Tidak lama setelah itu, para hadirin mulai penasaran dengan nama dibalik kedua lukisan tersebut.
Melihat ini, David juga sedikit tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa menghampiri Erwin dan berkata dengan tak berdaya,
"Erwin, sepertinya Kakek hanya bisa membantumu sejauh ini."
“Tidak apa-apa, biarkan saja mereka melihatnya, umumkan saja nama orang yang mempersembahkan lukisan yang asli dan yang palsu, aku tidak terlalu peduli dengan pandangan orang lain terhadapku juga.” Erwin tersenyum tipis dan terlihat tenang. Awalnya, jika dia mengikuti keinginan lelaki tua itu, Vincent mungkin tidak akan merasa malu di depan semua orang, tapi karena Vincent begitu keras kepala, maka Erwin juga tidak bisa menghentikannya.
“Apa kamu yakin ingin mengumumkannya?” David tidak menyangka reaksi Erwin begitu tenang dan tidak gugup sama sekali, seolah-olah percaya lukisan yang dia persembahkan adalah yang asli.
“Iya, Kakek tak perlu merasa kesulitan, karena Vincent ingin hasilnya diumumkan, Kakek hanya perlu melakukan seperti yang dia inginkan.” Erwin menjawab dengan tenang.
"Haiss..." Tuan David menggelengkan kepalanya. Bagaimanapun, Erwin masih terlalu muda, orang-orang yang datang ke pameran ini rata-rata adalah orang-orang yang lumayan terkenal. Jika lukisan palsu Erwin diekspos, itu akan berdampak buruk bagi masa depan karir Erwin nanti.
Terlebih lagi, melihat tatapan jahat Vincent, sepertinya anak ini masih menyimpan banyak cara licik yang masih belum digunakan, dan semuanya hanya menunggu hasilnya diumumkan.
“Kakek, cepatlah dan perlihatkan nama dibalik lukisan, kita ini sudah tak sabaran.” Kay mendesak lagi dengan keras. Dia ingin menyanjung Vincent sebisanya, karena mungkin dia bisa mendapatkan sedikit keuntungan dari Vincent di pelelangan sore nanti.
“Karena semua orang meminta ini, aku akan secara pribadi baik ke panggung untuk memperlihatkan hasilnya.” David juga tidak berdaya, Vincent ini telah mengendalikan dan memanfaatkan emosi semua orang untuk menekannya, jadi dia tidak punya pilihan lain.
Di bawah tatapan semua orang, Tuan David secara perlahan membalikkan kedua lukisan itu. Namun, ketika dua nama yang tertulis di balik kedua lukisan terlihat, para penonton terkejut, terutama nama di balik lukisan yang asli, bahkan Tuan David juga terkaget hingga kehabisan kata-kata.
__ADS_1