
Setelah mengusir Barry dan para muridnya, Erwin baru menghela nafas lega. Rencana dan usaha penculikan yang diatur oleh Keluarga Gibson terus berdatangan datang satu per satu, dan setiap langkah penculikan menjadi semakin sulit untuk dihadapi, mereka bahkan hampir saja berhasil, untungnya Erwin membuat perencanaan yang lebih matang, sehingga Jocelyn berhasil diselamatkan.
"Erwin, terima kasih!" Jocelyn menjadi sedikit lebih tenang saat ini, adegan barusan benar-benar menakutkan, dia pasti sudah diculik kalau tidak ada Erwin.
"Tak masalah, cukup lebih berhati-hati ke depannya, ada yang ingin menculikmu, dan mereka semua adalah master seni bela diri! Tinggal saja bersamaku beberapa hari ke depan, kebetulan ada seseorang yang pasti ingin kamu temui di tempatku." Erwin teringat dengan Tuan Besar Taylor.
Dengan adanya perawatan yang teliti dari Nana beberapa hari ini, tubuh Tuan Besar Taylor berangsur-angsur pulih, Tuan Besar Taylor juga pasti ingin melihat cucu perempuannya, Jocelyn, dan putrinya, Ametta.
"Ti … Tinggal di tempatmu? sepertinya kurang cocok." Jocelyn sedikit ragu, dia tiba-tiba menjadi gugup sekaligus menantikan saat berpikir untuk tinggal di bawah atap yang sama dengan Erwin lagi.
“Tak masalah, bukan hanya tinggal bersama, tetapi aku juga akan menemanimu ke mana pun kamu pergi, kalau tidak kamu bisa saja diculik kapan pun.” Erwin berpikir bahwa selama Keluarga Gibson belum musnah, mereka pasti akan terus mengincar Jocelyn, jadi satu-satunya cara untuk menjaganya tetap aman adalah dengan menjadi pengawal pribadinya.
“Kalau begitu, kita akan terus tinggal bersama ke depannya?” tanya Jocelyn tanpa sadar sekaligus menaruh sedikit harapan di hatinya.
"Iya, aku akan menjadi pengawal pribadimu mulai sekarang!" jawab Erwin sambil mengangguk.
“Menjagaku tiap hari? Memangnya kamu tidak kerja?” Jocelyn bertanya dengan mata penuh perhatian.
"Asistenku akan mengurus pekerjaannya, keselamatanmu adalah prioritas nomor satu sekarang. Selain itu, bukannya syuting musim kedua Wilderness Life Phase 2 itu minggu depan? Melindungi keselamatanmu itu untuk memastikan kelancaran syuting." Erwin berpikir sejenak, dan menemukan alasan yang tepat untuk menanggapi.
"Oh, ternyata untuk kelancaran syuting."
Jocelyn tiba-tiba merasa sedikit kecewa, ternyata alasan Erwin melindunginya dengan segala cara adalah kepentingan Wilderness LIfe, Jocelyn sendiri juga tidak tahu mengapa dirinya bisa merasa sedikit kecewa ketika mendengar itu.
"Gimana menurutmu? Jangan banyak pikir," hibur Erwin, kemudian berbalik untuk memeriksa luka Pak Tua Conor, Pak Tua Conor terluka dan harus segera dirawat karena bertarung melawan Barry tadi.
Dalam perjalanan pulang, Jocelyn bersandar di kursi mobil dan menutup matanya untuk beristirahat, dia sangat kelelahan karena nyanyi selama tiga jam dan ditambah pelarian tadi, sehingga membuatnya tertidur lelap.
__ADS_1
Namun, adegan Erwin yang berusaha menyelamatkannya terus muncul berulang kali di dalam mimpinya, yang sangat membuatnya tersentuh, tetapi alasan Erwin justru karena kelancaran syuting.
Erwin menyaksikan Jocelyn tertidur di dalam mobil, jadi melepas mantel dan mengenakannya pada Jocelyn karena takut Jocelyn masuk angin.
Sedangkan tante Jocelyn sedang duduk di kursi sebelah pengemudi dan tertidur karena kelelahan.
Mobil segera berhenti di depan Vila Gardeners, Erwin membangunkan Jocelyn yang tampak mengantuk, dan Jocelyn justru bersandar di kursi dengan lelah dan tidak mau keluar dari mobil.
"Erwin, aku terlalu ngantuk untuk turun, aku tidur di mobil saja malam ini." Jocelyn memang lelah dan mengantuk, tubuhnya benar-benar tidak sanggup bertahan lagi.
"Kalau begitu lanjutkan tidurmu, biar aku gendong!" Saat berbicara, Erwin langsung memeluk dan menggendong Jocelyn, bagi Erwin yang sekarang berat Jocelyn sama sekali bukan masalah.
Jocelyn berteriak kaget, Erwin yang berani menggendong membuatnya secara naluriah merasa sedikit malu, tetapi karena rasa lelah dan kantuk, dia justru merasakan kehangatan pelukan Erwin dan tanpa sadar memejamkan kedua matanya lagi.
Pada akhirnya, dia membenamkan kepalanya di pelukan Erwin dan tertidur seperti seekor kucing.
"Ternyata memang ngantuk sekali." Erwin tersenyum, menggendong Jocelyn ke dalam vila, dan menempatkan Jocelyn di atas tempat tidur milik Erwin sendiri, begitu juga dengan Ametta, Erwin membiarkan mereka berdua tidur di ranjang yang sama.
Lagi pula, area vila Gardeners ini milik Green Group, jadi hanya perlu berbicara dengan Darius nanti.
Bawahan yang telah melalui pertempuran antara hidup dan mati bersama Erwin, mustahil bahkan tidak diberi tempat untuk tidur, bukan? Jika Erwin tega berbuat demikian, mana mungkin ada yang bersedia mempertaruhkan nyawa untuknya lagi.
Setelah semuanya beres, langit juga sudah hampir terang, dan Erwin adalah orang terakhir yang tidur, hari yang menegangkan sekaligus seru ini akhirnya berlalu.
Sinar matahari pagi hari yang hangat menyinari wajah lembut dan cantik Jocelyn, kemudian Jocelyn membuka kedua matanya, seolah mencium bau masakan yang membuatnya merasa lapar.
"Baunya harum sekali." Hanya makanan enak yang bisa membangunkan kucing rakus Jocelyn ini, tetapi ketika menyadari isi kamar yang asing, dia langsung menjadi waspada, dan apa yang terjadi tadi malam masih membuatnya ketakutan.
__ADS_1
"Di mana ini? Tante!" Jocelyn menemukan bahwa Ametta juga berbaring di sampingnya, jadi segera membangunkan Ametta, "Tante, cepat bangun, di mana ini?!"
"Erwin yang bawa kita ke sini tadi malam, jangan ribut, biarkan aku tidur sebentar lagi!" Ametta berbaring di tempat tidur dan kembali tertidur, tetapi ketika mencium aroma masakan yang harum, dia tiba-tiba bangun lagi.
“Harum sekali, ada makanan!”
Keduanya saling memandang sejenak, mengingat tentang makanan yang pernah dimasak oleh Erwin, mereka buru-buru memakai sepatu, lalu membuka pintu untuk keluar, dan melihat sekelompok orang yang sedang berada di ruang tamu.
Lisa, Baka, Kaila, Nana, Sharon, Cale, Calum, dan lain-lain, yang setidaknya ada sepuluh orang.
"Kenapa ramai sekali? Apa ini semua adalah teman Erwin?" Ametta tampak bingung, dia tidak menyangka Erwin akan punya teman sebanyak ini di sini, dilihat dari pakaian orang-orang ini, jelas tidak ada satu pun yang merupakan orang kaya.
Kita pasti akan terpengaruh dengan pergaulan sendiri, Ametta diam-diam mengklasifikasikan Erwin sebagai orang miskin.
Melihat begitu banyak orang yang meragukan di sini, wajah Ametta tiba-tiba menjadi dingin, dia marah karena Jocelyn diatur untuk tinggal bersama orang-orang ini, jika terjadi sesuatu yang buruk, memangnya siapa yang akan bertanggung jawab?
"Di mana Erwin?" Jocelyn melangkah maju dan bertanya dengan lemah, di tengah keramaian ini dia hanya kenal dengan Lisa yang sepertinya adalah sepupu Erwin, sedangkan yang lainnya benar-benar pertama kali bertemu.
"Dia di dapur," kata Lisa sambil menunjuk Erwin yang ada di dapur.
"Kebetulan aku mencarinya juga!" Ametta berjalan mendekat dengan marah, dia hendak menanyai Erwin tentang maksud dari mengatur mereka untuk tinggal bersama orang-orang yang meragukan ini, dia pasti akan keberatan jika tahu Erwin akan mengatur seperti itu.
"Erwin, apa maksudmu? Mana boleh biarkan orang-orang meragukan ini tinggal satu atap dengan Jocelyn? Jika sesuatu yang buruk terjadi, siapa yang akan bertanggung jawab? Apa kamu tahu seberapa banyak paparazzi yang sedang mencari Jocelyn sekarang? Jika di antara orang-orang ini ada yang tidak bisa menjaga mulut mereka, bukankah keberadaan Jocelyn akan ketahuan? Dan siapa yang akan bertanggung jawab nanti?!”
Begitu Ametta masuk ke dapur, dia langsung meraih Erwin dan marah-marah.
Erwin mengerutkan kening karena Ametta menyebut yang lainnya sebagai orang yang meragukan, tetapi saat dia hendak berbicara, sebuah suara yang berat dan keras tiba-tiba terdengar dari luar dapur.
__ADS_1
"Apa aku juga salah satu dari orang-orang meragukan yang kau sebut itu? Ametta, kau sungguh lancang sekali!"
Setelah mendengar suara itu, beberapa orang menoleh dan melihat Tuan Besar Taylor yang sedang menatap Ametta dengan wajah marah.