Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Bab 256 Menghentikan Pernikahan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Erwin sudah melatih teknik tinjunya dengan serius di halaman, yang merupakan rutinitas hariannya, tetapi hari ini ada penonton tambahan, yaitu si pria tua botak itu.


"Ternyata nadinya sudah terbuka, dan terlebih lagi energi qi di tubuhnya mengalir dengan lancar. Tuan muda dari keluarga kaya memang beda." Pria tua itu diam-diam menghela napas, orang yang dapat membuka nadi orang lain jelas merupakan ahli seni bela diri tingkat master, dan hanya dapat dilakukan dengan melepaskan energi.


Master pada umumnya tidak mungkin ingin menghabiskan banyak energi untuk membuka nadi orang lain, kecuali orang tersebut dapat memberi kekayaan dalam jumlah besar atau hal-hal lain yang diinginkan oleh sang master, yang jelas tidak mungkin bisa ditawarkan oleh orang biasa.


"Bocah ini sudah membuka denyut nadinya, kebetulan bisa mewarisi teknik seni bela diriku." Setelah berpikir sejenak, pria tua itu melangkah maju dan berkata, "Bocah, dengan siapa kau belajar teknik itu."


“Henry James, master tinju dari Raung Mountain, Anda kenal dia?” Erwin mengobrol dengannya sambil berlatih.


"Henry itu sudah jadi master juga? Dulu aku pernah melawannya, dia memang ahli bela diri yang sangat berbakat, tetapi teknik tinjunya tidak punya aura pembunuh dan terlalu lembut. Sini, berlatihlah sedikit denganku.” Pria tua itu tidak bisa menahan diri dan ingin melawan Erwin.


"Anda terluka, aku tidak berani, kita lakukan saja setelah Anda sembuh." Erwin takut luka pria tua itu terbuka lagi saat bertarung, lagi pula kekuatan pukulannya bisa mencapai 300 kilogram, yang sama sekali mustahil sanggup diterima orang biasa, apalagi seorang pria tua.


Namun, pria tua botak itu tersenyum.


"Jangan takut, kau masih tak mampu menyakitiku, ayo."


Pria tua itu sudah berkata demikian, Erwin sendiri juga segan untuk menolak lagi, jadi berkata dengan hormat.


"Kalau begitu ayo mulai." Erwin hanya menggunakan setengah dari kekuatannya untuk meninju pria tua botak itu, dia takut akan menyakiti pria tua botak itu jika mengerahkan seluruh kekuatannya.


Tetapi kenyataan membuktikan bahwa Erwin yang berpikir berlebihan, pria tua itu dengan mudah menghalau pukulannya, dan juga melakukan serangan balik dengan kecepatan yang luar biasa cepat. Erwin mengayunkan tinju untuk memblokir, tetapi terkejut saat kepalan tangan pria tua itu mendekati dadanya, karena tiba-tiba pergelangan tangan pria tua itu berguncang dan kekuatan pukulan yang datang tersebut meningkat signifikan dalam sekejap.


Pukulan mengenai dada Erwin, dan kekuatan besar langsung membuat Erwin terpental mundur.


"Bagaimana? Teknikku tidak buruk, bukan?" Pria tua botak itu berjalan menuju Erwin sambil tersenyum. Setelah Erwin bangkit dari tanah, dia juga sangat terkejut, tinju pria tua botak itu jelas tidak kuat, tetapi begitu mendekat tiba-tiba pergelangan tangan berguncang dan kekuatan pukulan meningkat secara signifikan, yang membuat Erwin sangat penasaran dengan teknik tinju pria tua botak itu.


"Senior, teknik tinju macam apa itu? Kenapa kekuatannya bisa meningkat saat jaraknya satu inci dari dadaku?"


"Ini disebut One Inch Punch, mau belajar?" kata lelaki tua botak itu dengan niat jahat.

__ADS_1


"Tentu saja mau, cepat ajari aku." Erwin sangat senang, jika teknik pukulan seperti itu dikombinasikan dengan kekuatannya, maka jelas dapat memberikan dampak kerusakan yang beberapa kali lipat lebih dahsyat, tentu saja Erwin ingin mempelajarinya.


"Kalau mau, angkat aku jadi gurumu." Pria tua itu akhirnya mengungkapkan niatnya yang sebenarnya, tujuan pertarungan singkat barusan hanya untuk memperlihatkan kekuatannya kepada Erwin, sehingga Erwin tertarik untuk belajar darinya.


“Mengangkatmu menjadi guruku?” Erwin tiba-tiba menyadari bahwa dirinya telah masuk jebakan pria tua itu, tidak heran pria tua itu bersikeras ingin bertarung dengannya. "Kalau begitu lupakan saja, aku sudah janji pada Master Henry untuk mengakuinya sebagai guruku di Raung Mountain setelah setahun kemudian."


"Kenapa tiba-tiba tidak jadi? Teknikku sangat kuat, apalagi teknik tembakanku yang bisa membunuh musuh dari jarak seratus meter." Pria tua itu memungut sebuah batu dengan santai, lalu menembak dengan jarinya. Saat berikutnya, batu tersebut menembus udara, dan burung yang berdiri di atas pohon langsung tertembak jatuh.


Erwin tercengang, teknik tembakan seperti itu sangat menarik bagi Erwin, menguasai teknik itu setara dengan memegang pistol setiap saat, dan dapat menyerang lawan dari jarak jauh, tetapi Erwin tetap menolak.


"Tidak, karena sudah janji pada Master Henry, aku tidak boleh mengingkari janji."


Setelah berbicara, Erwin berjalan kembali ke rumah, tetapi pria tua itu jelas tidak puas dan menghentikan Erwin.


"Begini saja, kamu bisa jadi murid biasa tanpa bergabung dengan perguruan, seharusnya bisa diterima, 'kan?"


Melihat bahwa Erwin menolak begitu saja, pria tua itu tidak punya pilihan selain mengalah dan memberi tawaran seperti itu, sehingga setidaknya dia bisa meneruskan tekniknya.


“Menjadi murid, tetapi tidak masuk perguruan?” Erwin berpikir sejenak, dan merasa ini seharusnya tidak masalah, jadi menjawab, “Oke, kita lakukan seperti yang Anda katakan.”


"Panggil saja Pak Tua Conor." Pak Tua Conor sepertinya tidak mau memberitahu nama lengkapnya.


"Pak Tua Conor." Erwin sangat penasaran alasan mengapa pria tua itu ingin dipanggil seperti ini.


Pada siang harinya, Erwin mengadakan tiga meja jamuan makan di vila, pertama untuk memberi penghargaan kepada Lisa, Azura, dan lainnya atas kontribusi mereka, dan kedua untuk berkenalan dengan tiga orang yang diselamatkan dari ruang bawah tanah. Dalam benak Erwin, mereka yang bisa terkurung di ruang bawah tanah bersama Tuan Besar Taylor jelas memiliki identitas yang tidak biasa, mereka setidaknya berada di level yang sama dengan Tuan Besar Taylor.


Pria paruh baya dengan cheongsam bernama Derek Marvello, tuan ketiga dari Keluarga Marvello yang menempati posisi kelima di peringkat keluarga besar, dia sudah dipenjara oleh Keluarga Gibson sejak dua tahun lalu. Dalam dua tahun ini, keluarga Marvello telah menganggapnya sebagai orang mati, dan kekuasaannya juga sudah musnah, jadi pada dasarnya akan sangat sulit untuk membangkitkan Keluarga Marvello lagi.


“Paman Derek, apa rencanamu untuk masa depan?” tanya Erwin setelah menuangkan segelas anggur untuk Derek.


"Tidak ada, aku ingin tinggal di tempat Tuan muda untuk sementara ini, kuharap Tuan Muda tidak keberatan untuk menampungku."

__ADS_1


Derek tidak berani di depan Erwin, dia memang sudah kehilangan kekuasaan, tetapi pengalaman dan cara dia menilai seseorang tidak musnah, Tuan muda yang memiliki banyak ahli seni bela diri seperti Lisa dan Baka secara tidak langsung telah mengekspos identitas Erwin yang jelas tidak biasa, jadi membangun hubungan baik dengan Erwin mungkin bisa sangat menguntungkan, dan berkesempatan membangkitkan kembali Keluarga Marvello di masa depan.


"Paman Derek boleh tinggal selama mungkin," kata Erwin sambil tersenyum.


Kemudian Erwin mengarahkan pandangannya ke arah gadis berusia sepuluh tahun yang sangat imut itu. Gadis itu bernama Jessy, anak kecil seperti itu tidak dapat mengingat latar belakang keluarganya, tetapi Erwin tetap membawanya ke rumah.


Dengan tambahan beberapa dari mereka, seluruh vila tiba-tiba menjadi ramai.


Sementara Erwin dan yang lainnya merayakan dengan meriah, suasana Mansion Keluarga Gibson justru sangat senyap, Clovis duduk di sofa sambil memasang wajah suram dan pupil mata yang tanpa emosi.


Empat tahanan dari markas Keluarga Gibson yang terkurung di sini telah melarikan diri, tidak hanya itu, para satpam di mansion juga tewas, ditambah hancurnya manor di pinggiran timur kota, Clovis pada dasarnya tidak memiliki kekuatan tempur lagi sama sekali.


Ini sama saja dengan malapetaka baginya, dan begitu markas Keluarga Gibson tahu tentang ini, sepertinya hanya bisa memikul tanggung jawab tersebut dengan kematian.


Saat dia sedang merasa putus asa, putranya, Drew bergegas masuk.


"Ayah, Paman Ketiga pulang."


Mendengar tentang adik ketiganya yang pulang, Clovis tiba-tiba bersemangat kembali, dan segera berdiri untuk berbicara.


"Cepat sambut paman ketigamu!"


Satu-satunya harapan Clovis sekarang adalah adik ketiganya, adik ketiganya ini tidak hanya pintar dan licik, tetapi poin kuncinya adalah hubungan baik adik ketiganya dengan orang-orang seni bela diri di Gunung Elbus, jadi dia hanya bisa mengharapkan ini untuk membalikkan keadaan.


Clovis buru-buru menyambut Yanto ke dalam rumah, dan Yanto sebenarnya telah mendengar tentang apa yang terjadi saat dalam perjalanan ke sini.


“Adik ketiga, menurutmu apa yang harus kita lakukan sekarang?” Clovis sedikit bingung saat ini.


"Tenang dulu, kali ini aku sudah menghabiskan banyak uang untuk mengundang Barry Baron, kepala perguruan di Gunung Elbus untuk datang ke sini, dia datangnya juga membawa dua puluh murid, yang masing-masing adalah ahli seni bela diri," kata Yanto dengan percaya diri.


"Serius? Baguslah, kebetulan kita sudah tidak punya kekuatan tempur lagi sama sekali." Ketika Clovis mendengar bahwa kepala perguruan di Gunung Elbus akan datang, harapan untuk membalikkan keadaan tersulut di dalam hatinya.

__ADS_1


“Hal terpenting berikutnya adalah pergi ke lokasi konser untuk mengatur rencana, prioritas utama kita adalah menangkap Jocelyn dan mencegah pernikahan politik antara keluarga Taylor dan keluarga Smith. Mungkin pihak markas akan lebih toleran dengan kesalahan kita jika rencana ini berhasil. Tetapi jika gagal, cabang Keluarga Gibson kita ini mungkin akan musnah, dan kita juga mustahil bisa kembali ke markas."


Mata Clovis terlihat suram, dan samar-samar merasa ada seseorang yang diam-diam menyerang Keluarga Gibson, tetapi mereka masih harus bersabar, begitu Jocelyn berhasil ditangkap dan tugas yang diberikan oleh markas besar selesai, maka mereka dapat bebas untuk menangani musuh yang mengincar Keluarga Gibson, termasuk Erwin.


__ADS_2