
Erwin dengan cepat membantu Lucas mendapat surat undangan untuk Keluarga Aleda, sehingga Lucas bergegas mencari David sambil membawa surat undangan tersebut, yang membuat para saudara-saudarinya menatap dengan penuh tidak percaya, karena ini baru sehari, tapi Lucas sudah berhasil, bukankah ini terlalu cepat?
“Lucas, kau punya kenalan bos kaya ya baru-baru ini?” David melihat surat undangan yang dicap oleh walikota dan merasa penasaran sekaligus curiga pada Lucas, karena perfoma Lucas sungguh mencolok sekali akhir-akhir ini.
Segala macam kesulitan selalu bisa ditangani Lucas dengan mudah, yang benar-benar mengejutkan mereka.
"Cuma beruntung saja, tak ada kenalan bos besar." Lucas jelas tidak akan membongkar identitas Erwin, karena Erwin ini adalah pendukung rahasianya saat ini, dan akan bergantung terus kedepannya, tentu tidak mau Erwin direbut.
"Beruntung? Mana mungkin beruntung? Bahkan surat dari walikota aja bisa dapat," kata Simon dengan iri.
"Benar, kakak kedua pasti punya kenalan tokoh penting, ayo kenalkan pada kami semua, lagian kita ini sekeluarga, kenapa bersikap seperti orang luar?" Kata Darwin yang sebenarnya juga ingin mengenal tokoh penting tersebut.
"Kakak kedua, gimana kalau kita adakan pesta untuk mengumpulkan para bos bisnis kita kenal, agar bisa saling kenal dan memperluas koneksi masing-masing." Stella juga memikirkan berbagai cara untuk mengenal pendukung besar di balik Lucas ini.
Ide ini memang cukup bagus, tapi mau bagaimana mereka membujuk, Lucas masih bersikeras tidak mau sebut tentang Erwin, takut calon menantu ini akan direbut orang lain.
David tidak bisa berbuat apa-apa, dan juga berpikir bahwa Lucas yang hanya memiliki satu anak perempuan tidak bisa diwarisi bisnis keluarga Keluarga Aleda, David menghela nafas tak berdaya.
Tidak peduli seberapa bagus perfoma Lucas, posisi CEO perusahaan baru tetap tidak akan diwariskan kepadanya.
"Oke, kalau begitu sesuai dengan yang telah kita sepakati, Lucas akan jadi manajer umum perusahaan baru ini, dan lelang akan dimulai dalam beberapa hari lagi, kalian berusahalah untuk cari tahu perusahaan besar mana yang ikut pelelangan!"
Setelah memikirkannya, Tuan David melanjutkan.
"Perluaslah sebisa mungkin, cobalah untuk tidak memprovokasi bos besar dari kota lain, karena bisa jadi mereka akan jadi mitra kita di masa depan."
Lucas dan saudara-saudarinya juga mengangguk, cukup setuju dengan ini, karena koneksi itu tergolong penting dalam berbisnjs.
Hari lelang di Distrik Baru utara kota sudah semakin dekat, selain berlatih beladiei setiap hari, Erwin juga melatih tenaga, tapi kemajuannya relatif lambat.
Selain itu, pembangunan Balai Seni Bela Diri Pencak Silat akhirnya selesai dua hari sebelum pelelangan dimulai, Erwin langsung pergi merayakannya, dan tanpa diduga Damon juga hadir.
__ADS_1
Dengan adanya keberadaan Damon, Balai Seni Bela Diri Pencak Silat tidak heran bisa seramai ini, untuk menyenangkan Damon, banyak bos bisnis yang datang untuk meramaikan.
Karena tak punya pilihan lain, Erwin hanya bisa masuk lewat jalur lain.
Balai Seni Bela Diri Pencak Silat ini dibangun kembali dari sebuah Aula Taekwondo di utara kota, dengan total tiga lantai, yang masing-masing seluas 1.000 meter persegi, penampilan luarnya juga direnovasi seperti aula seni bela diri, yang sangat cocok dengan konsep Pencak Silat.
Lantai pertama adalah aula yang digunakan untuk pelatihan, terdapat berbagai macam jenis peralatan olahraga lainnya, serta arena tanding, pancang kayu, latihan beban, dan lain sebagainya, terlihat sangat lengkap.
Lantai dua sebagai temat administrasi, keuangan, personalia, kantor, dan lainnya, sedangkan lantai tigas sebagai asrama, tempat istirahat dan tempat makan untuk para murid.
Erwin berjalan di sekitar aula seni bela diri sendirian sambil kelilingi oleh orang-orang yang datang untuk meramaikan.
Melihat peralatan pelatihan itu, Erwin merasa tidak sabaran untuk mencobanya, pasti akan terasa jauh lebih baik daripada pelatihan tangan kosong.
"Kedepannya latihan di sini saja, ada kolam pasir untuk latihan menahan beban, kalau sudah larut juga tinggal menginap." Erwin diam-diam merencanakan rencana pelatihannya untuk kedepannya.
Mayoritas angkatan pertama dari balai seni bela diri adalah petinju hitam, mereka ingin meningkatkan kemampuan mereka, jadi berlatih di Balai Seni Bela Diri Pencak Silat yang dilengkapi pelatih profesional seperti ini adalah tempat yang tepat.
Namun meski begitu, pada hari pertama juga banyak yang mendaftar, bahkan ada beberapa gadis, yang kebanyakan dari keluarga kaya Kota Bandung.
Ada yang memang mau mendukung Damon, tapi ara yang benar-benar ingin anak mereka belajar sedikit bela diri, terutama perempuan, agar tidak mudah diganggu oleh orang jahat di masa depan.
Leona tiba-tiba melihat sosok Erwin yang ada di antara kerumunan dan buru-buru menghampirinya.
"Sepupu juga datang ya." Karena di sini sangat ramai, jadi Leona memanggil Erwin dengan sebutan sepupu.
"Leona, kalian bertiga pasti sangat sibuk hari ini." Kata Erwin sambil tersenyum saat melihat dahi Leona yang penuh keringat.
"Jumlah pendaftar sudah melebihi yang kami harapkan, untungnya Tuan Damon membawa bantuan, kalau tidak kami bertiga mana mungkin sanggup, ngomong-ngomong, Guru juga akan datang nanti, seharusnya Guru akan senang melihat Balai Seni Bela Diri Pencak Silat yang seramai ini~"
Leona berkata dengan penuh semangat, karena tak menyangka hari pertama pembukaan Balai Seni Bela Diri Pencak Silat akan didatangi orang sebanyak ini.
__ADS_1
"Begitu ya? Baguslah, tidak tahu apakah Gurumu masih mau menerima murid."
Erwin sudah lama ingin mendapat bimbingan secara langsung dari master Henry, sehingga keterampilan tinjunya bisa meningkat lebih pesat, sekalian juga meminta beberapa saran tentang metode pelatihan yang lebih cepat, karena latihan sendiri tanpa arah terlalu lambat perkembangannya.
"Guru sudah lama tak terima murid baru, jadi ini masih belum tentu," kata Leona dengan cemberut.
Erwin tidak terlalu mempermasalahkan itu, selama Henry muncul, Erwin pasti punya berbagai cara untuk membuatnya setuju.
Balai Seni Bela Diri Pencak Silat semakin ramai, sampai ada beberapa tokoh penting dari kota lain yang datang untuk meramaikan atau menonton.
Erwin bahkan bertemu dengan beberapa kenalan, yaitu Farel dan Chris, belakangnya diikuti seorang pria paruh baya berjubah biru, yang memiliki mata elang yang tajam, hidung mancung, tubuh ramping, sekilas bisa ditebak pasti merupakan seorang master seni bela diri.
Mereka kebetulan berpapasan, mata Farel dan Chris yang melihat Erwin langsung membara.
"Erwin, tak kusangka akan bertemu denganmu di sini, sungguh dunia yang kecil, padahal sudah kucari kau ke mana-mana."
“Dunia ternyata kecil! Kaki kalian sudah sembuh?” Erwin tidak terlalu memperhatikan kemarahan mereka, justru sangat penasaran dengan kaki mereka yang sekarang sudah bisa berjalan seperti biasa, walau hanya seminggu lebih.
Terutama Chris yang kedua kakinya patah, tapi bisa sembuh secepat ini, Erwin penasaran dokter mana yang seahli itu dalam pengobatan.
"Hehehe, kamu tentu punya cara untuk cepat pulih dari cedera ringan ini, tapi hari ini sudah giliran kau yang patah tulang." Farel mencibir dengan nada membunuh.
"Kau beruntung karena Paman Joni tak ikut kemarin, tapi tidak untuk kali ini."
Dapat dilihat bahwa Paman Joni adalah seorang master seni bela diri hebat di mata mereka.
“Paman Joni??” Erwin mengerutkan kening, matanya tanpa sadar beralih ke pria paruh baya dengan mata elang dan hidung mancung di belakang mereka.
"Paman Joni kami ini seorang tetua dari perguruan WD, jangan harap bisa kabur hari ini."
"Paman Joni, ini orang yang patahkan kaki kami, tolong balas dendam untuk kami."
__ADS_1
“Gampang, akan kubuat mereka cacat dalam satu menit, dan jangan harap bisa keluar dari aula seni bela diri ini.” Paman Joni menjawab dengan percaya diri, kemudian mata elang menjadi dingin, tangannya terulur dan meraih Erwin, sangking cepatnya sampai Erwin tidak sempat bereaksi sama sekali.