Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Pusat Perbelanjaan Bagaikan Medan Perang


__ADS_3

Setelah Erwin keluar dari rumah sakit, dia mengantar Lina ke perusahaan dan pergi bekerja menggantikan Lucas, yang sebenarnya hanya ingin mengawasi anggota dewan bernama William.


Orang ini selalu ingin menggantikan posisi Lucas sebagai CEO perusahaan, dan telah berulang kali merancang dan menjebak Lucas, tetapi untungnya tidak berhasil sebelum, tapi hampir saja membuat Lucas tidak berhasil mempertahankan posisi CEO.


"Erwin, kita mulai dari mana nanti? Aku nggak terlalu tahu tentang urusan perusahaan," kata Lina dengan cemas.


“Gapapa, ada aku!” Erwin merasa memperoleh saham William dan mengeluarkannya dari dewan direksi perusahaan adalah satu-satunya cara terefektif, cara lain akan terlalu memakan energi dan waktu.


Tentu saja, ingin membeli saham William dengan jumlah uang yang paling sedikit juga perlu beberapa cara licik!


Mereka berdua masuk ke dalam perusahaan Hotel Aleda yang terdiri dari dua belas lantai, seluruh bangunan ini dimiliki oleh Hotel Aleda, perusahaan Lucas ini bisa dibilang cukup besar.


Ketika masuk, penjaga keamanan menghentikan, mungkin karena tahu identitas Lina, ketika melihat Lina, mereka datang untuk menyambut dengan hormat, yang mengejutkan Erwin.


“Kamu sering ke sini ya?” Erwin bertanya dengan rasa ingin tahu.


“Dulu pernah kerja di sini, jadi mereka semua mengenalku, ayo masuk!” kata Lina sambil memeluk lengan Erwin dengan penuh kasih sayang, dan senyuman manis di wajah. "Kita pergi lihat lemari besi kecil punya ayahku, dia menyembunyikan banyak barang bagus."


"Jangan deh, Ayahmu pasti bakal menyalahkanku kalau tahu nanti.” Erwin sedikit kehabisan kata-kata, karena putri Lucas ini sedikit berlebihan pada Ayahnya!


"Kamu akan tahu begitu lihat nanti, aku yakin kamu pasti suka." Lina langsung menarik lengan Erwin dan berjalan lurus ke dalam.


Pada saat yang sama, William sedang berada di kantor sambil melihat dokumen, asistennya, yaitu Caiden tiba-tiba berlari masuk dengan gembira.


"Tuan Willi, kabar baik! Ada kabar baik!"


“Kenapa masuknya nggak ketuk pintu dulu.” William meletakkan dokumen itu dan berkata dengan ekspresi tidak senang.


“CEO Lucas sakit dan dirawat di rumah sakit, jadi putrinya yang menggantikannya datang menangani urusan resmi.” Setelah menutup pintu kantor, Caiden berbisik setelah menghampiri William.


"Serius? Udah dikonfirmasi kabar itu? Ada surat kuasa resminya?" William sangat gembira, ini memang kabar baik, dia baru-baru ini sudah ditekan oleh Lucas! Ini adalah kesempatan yang bagus!


“Ada, bagian administrasi sudah menerima surat kuasa dari CEO, yang berisi memberikan putrinya wewenang penuh untuk menangani urusan resmi,” kata William dan menunjukkan surat kuasa kepada William.

__ADS_1


Setelah mengambil surat kuasa itu dan melihat sekilas, senyum muncul di sudut mulut William.


"Apa putrinya udah ada di sini?" kata William, dia pernah bertemu dengan putri Lucas yang bernama Lina ini  yang berparas cantik, tipe kecantikan yang langka, tetapi tidak memiliki pengalaman sosial, dan orang seperti inilah yang mudah untuk ditipu.


“Baru saja masuk, tapi dia ditemani seorang pria, mungkin pacarnya,” tebak Caiden itu.


"Pacar? Seharusnya nggak terlalu tua, kamu coba pergi tes dia dulu, kita lihat seberapa besar potensi kesempatan ini." William berpikir sejenak dan berkata.


“Tuan William, bagaimana kalau menggunakan kontrak pinjaman 400 miliar itu, untuk mengetes batasannya?” Caiden tiba-tiba menyarankan.


“Yah, boleh, ingat ekstra waspada!” William tidak ragu-ragu, bagaimanapun, ini hanya mengetes, akan bagus kalau berhasil, tapi walau tidak berhasil sekalipun, dia masih memiliki rencana licik lainnya.


Setelah Caiden menerima pesanan, dia langsung pergi ke kantor keuangan!


Pada saat ini, Lina dan Erwin berada di ruang tersembunyi di kantor CEO, melihat yang disebut lemari besi kecil milik Lucas yang disebut Lina tadi.


“Ini semua anggur?” Erwin melihat deretan lemari anggur di ruang tersembunyi dan sedikit terkejut. Dia tidak menyangka Lucas mengumpulkan begitu banyak anggur, meskipun ruangan ini tidak besar, tapi penuh dengan berbagai jenis anggur, yang setidaknya berjumlah dua sampai tiga ratus botol.


"Iya, ayahku suka mengoleksi seperti kakek, tapi dia koleksi anggur, jadi semua anggur berharga di sini itu dari berbagai penjuru dunia, yang paling mahal itu seharga lebih dari 20 miliar," kata Lina dan mengeluarkan sebotol dari sudut, kemudian dengan bangga ditunjukkan kepada Erwin.


Erwin terkejut untuk sementara waktu, Lina ini benar-benar sedikit berlebihan pada Ayahnya! Tetapi untuk anggur yang semahal itu, Erwin juga ingin mencicipinya, anggur itu seharusnya sudah sangat tua.


Tetapi mereka tidak menemukan apapun untuk membuka botol anggur. Di luar ruangan kecil koleksi anggur, ada seseorang yang masuk ke kantor CEO untuk mencari mereka.


“Kayaknya ada orang yang cari kamu di luar,” kata Erwin dengan suara rendah.


“Kalau gitu kita bawa pulang aja, buat minum bersama malam nanti, lagian cuma ada kita berdua di rumah malam ini!” Lina tampaknya sangat ingin minum wiski Islandia ini.


“Iya, sekarang urus masalah perusahaan dulu.” Erwin mengangguk.


Segera, mereka berdua berjalan keluar dari ruangan kecil dan tiba dia kantor CEO. Ternyata memang benar, ada seseorang yang menunggu di sana, itu adalah Direktur keuangan, Etan.


“Nona, saya punya laporan keuangan di sini yang perlu Anda tanda tangani,” kata Etan sambil menyerahkan dokumen yang ada di tangan kepada Lina.

__ADS_1


Lina sepertinya mengenal Etan ini dan sangat mempercayainya.


Lagi pula, saat bekerja di sini dulu, Ayahnya Lina sangat mempercayai Etan ini, sehingga Lina juga mempercayainya.


“Beri aku dokumennya.” Setelah Lina mengambil dokumen dan laporan, dia menemukan ternyata isinya berlembar-lembar, dan butuh banyak waktu untuk membaca dengan cermat, jadi dia hanya melirik sekilas beberapa halaman, setelah memastikan isinya memang tentang laporan keuangan, dia baru menandatangani nya.


Selain itu, dia juga tidak terlalu memahami laporan keuangan seperti ini.


"Oke." Setelah Lina menandatanganinya, dia ingin mengembalikannya pada Etan, tetapi Etan mendorong kembali dan mendekat ke arah Lina, membalik beberapa halaman di dokumen, dan menunjuk ke sebuah sudut kosong sambil berkata,


"Di sini juga harus tanda tangan."


"Maaf, terlewat~" kata Lina dan menandatangani namanya lagi di tempat yang ditunjuk Etan.


"Udah oke kan?"


“Ya, kalau begitu saya pamit dulu Nona.” Setelah Etan mengambil dokumen yang ditandatangani, dia berbalik dan berjalan keluar, diam-diam menyeka keringat di dahi. Tepat ketika sudah mencapai pintu, Erwin tiba-tiba menghentikannya.


“Tunggu, sini kulihat dokumennya.” Melihat Etan tampak sangat gugup, Erwin merasa ada yang tidak beres, jadi dia ingin melihat dokumennya juga.


"Maaf, ini adalah laporan keuangan perusahaan Aleda kami, yang merupakan rahasia dagang jadi tidak dapat ditunjukkan kepada orang luar." Etan langsung menolak.


“Direktur Etan, Erwin bukan orang luar, kasih lihat saja.” Lina tidak sadar ada yang tidak beres, dia hanya dengan polos berpikir Erwin sekedar ingin melihat laporan keuangannya juga.


Ketika dia berbicara, Erwin sudah berdiri dan berjalan menuju Etan, Erwin tidak mengenal Etan ini, jadi tidak mempercayainya sama sekali.


"Baiklah kalau begitu," kata Etan, kemudian dengan enggan menyerahkan dokumen di tangan kepada Erwin. Setelah Erwin ambil, dia membaca halaman demi halaman secara teliti, dan menemukan ada selembar kertas putih yang terselip, alisnya langsung berkerut, karena ada tanda tangan Lina di selembar kertas putih tersebut.


“Kenapa ada selembar kertas kosong di sini? Ditambah ada tanda tangan Lina juga.” Erwin mengeluarkan kertas kosong tersebut dari dokumen dan bertanya dengan ekspresi serius.


Jika tanda tangan di kertas kosong ini dimanfaatkan oleh seseorang yang berniat jahat, maka bahayanya akan sangat besar, apalagi sekarang Lina mewakili seluruh Perusahaan Aleda.


“M-mungkin kesalahan pencetakan, saya akan meminta petugas untuk mencetak ulang lagi." Setelah mengatakan itu, Etan ingin pergi, tetapi Erwin langsung meraih kerah dan mengangkatnya.

__ADS_1


Bisnis pusat perbelanjaan ini benar-benar bagaikan medan perang, hanya setengah hari tiba di sini, sudah hampir jatuh ke dalam jebakan orang lain, untungnya, Erwin menyadarinya tepat waktu.


“Lina, tutup pintunya!” Erwin menyuruh Lina untuk menutup pintu. Pepatah mengatakan akan tidak sopan kalau tidak membalas hadiah kepada orang yang sudah memberi kita hadiah, Erwin tentu juga akan membalas hadiah pada William ini.


__ADS_2