
Keluarga Cole di utara kota akhirnya jatuh ke tangan Erwin, setelah pertempuran ini, Erwin semakin suka dengan efektivitas dan efesiensi petinju hitam.
Dengan adanya tim kekuatan seperti ini, pada dasarnya bisa menyapu seluruh Kota Bandung, Erwin serasa telah memunggut pulang harta karun.
Setelah kembali ke Perusahaan Real Estate Hype, Erwin meminta Damon untuk bernegosiasi dengan Morgan tentang pertukaran saham.
70% saham Cole Group pada dasarnya sudah dapat mengontrol hidup dan mati Keluarga Cole, bahkan Morgan harus bertindak sesuai perintah Damon mulai sekarang, jadi tidak akan bisa macam-macam dengan Erwin.
Namun, Erwin meminta Damon untuk mentransfer 70% saham Cole Group ke Perusahaan Erlin, sedangkan 1% saham yang diberikan kepada Cole Group tetap saham milik High Build Group.
Meskipun tidak membuat banyak perbedaan bagi orang luar, tapi bagi Erwin adalah perbedaan besar, lagipula Perusahaan Erlin itu miliknya, 70% saham Cole Group setidaknya bernilai triliunan, yang tentu saja masuk ke dalam saku sendiri.
Saat malam hari, langit tiba-tiba mulai turun hujan, bercampur dengan kilat dan guntur yang menakutkan!
Giselle terbangun oleh suara guntur, dia sedang mengenakan gaun tidur merah yang seksi dan mendatangi Erwin, kemudian duduk di sebelahnya sambil berkata,
"Erwin, temani aku ke cabang perusahaan Laws Group ya besok."
“Iya, situasi di utara kota ini juga sudah hampir stabil, jadi cabang Laws Group di utara kota juga seharusnya sudah boleh memulai bisnis.” Erwin mengangguk, keluarga Cole dan Davis sudah berkompromi, era tiga keluarga besar utara kota juga mulai runtuh, jadi beberapa industri luar seharusnya sudah dapat masuk secara perlahan.
“Ngomong-ngomong, bisnis apa yang kamu rencanakan untuk cabang ini?” Erwin bertanya dengan santai, mengingat bahwa Giselle baru saja memulai bisnis pasti akan kesulitan, Erwin berencana untuk membantunya, karena kebetulan Keluarga Cole dan Keluarga Davis telah ditundukkan, industri dari kedua keluarga itu yang runtuh, seharusnya mampu memenuhi bisnis awal perusahaan cabang Giselle.
"Industri Laws Group itu terkonsentrasi pada produksi kain, kulit, bulu, dan lain sebagainya, jadi yang terbaik adalah bekerja sama dengan industri pakaian dan tekstil rumah, tapi sebelum memulai bisnis, aku harus melihat kondisi perusahaan cabang ini, akan tidak masalah selama tidak terlalu buruk." Giselle berkata dengan sedikit khawatir.
Cabang Laws Group di utara kota bagaikan perusahaan cangkang kosong, diperkirakan hanya berisi beberapa karyawan, jadi kalau ingin memulai bisnis secara resmi sepertinya akan sulit.
“Percayalah, semuanya akan baik-baik saja." Erwin menyemangati dengan sudut mulut yang terangkat.
"Iya." Giselle mengangguk. Dia menjadi semakin percaya dan bergantung pada Erwin baru-baru ini, terkadang juga merasa tidak bisa pergi dari sisi Erwin, jika Erwin kembali ke sisi Lina, dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi perjalanan ke depannya.
Pada saat ini, suara guntur terdengar keras, membuat Giselle teriak ketakutan dan tanpa sadar menyandar ke tubuh Erwin.
“Erwin, aku lumayan takut dengan guntur malam ini, apa aku boleh tidur denganmu?” Giselle bersandar pada Erwin dengan wajah yang sedikit memerah, detak jantungnya bahkan lebih cepat, Giselle yang mengatakan itu pada dasarnya sudah tidak peduli apapun lagi.
__ADS_1
Dia tidak ingin melihat Erwin kembali ke sisi Lina, dia harus memanfaatkan waktu bersama Erwin untuk mencari cara dan mempertahankan Erwin di sisinya.
“Tidur denganku??” Erwin tertegun sejenak, aroma anggrek kental yang keluar dari tubuh Giselle membuat Erwin menelan ludah lagi, "Tidak baik bagi lawan jenis untuk tidur bersama, kamu tidur dengan Lisa saja, dia tidak takut guntur."
"Kenaa? Takut aku memakanmu ya?” Giselle memalingkan wajahnya yang menawan dan berkata dengan marah.
"Tidak, kita berdua tidak muat di sofa." Erwin menemukan alasan yang sangat cocok untuk menolak.
“Tidak apa-apa, sempit itu tidak masalah.” Giselle masuk ke dalam pelukan Erwin tidak peduli ingin atau tidaknya Erwin, dia sangat percaya diri dengan pesona dan bentuk tubuhnya, selama bisa berpelukan sambil tidur dengan Erwin malam ini, Erwin pasti tidak akan bisa menahan diri!
Erwin juga sedikit gugup, tetapi saat ini, Lisa tiba-tiba keluar dengan mengenakan piyama sutra putih.
"Apa yang kalian berdua lakukan?"
“Tidak, tidak ada.” Giselle buru-buru keluar dari pelukan Erwin dengan panik, kemudian merapikan baju tidur dan rambut yang berantakan, dengan ekspresi bingung seolah ketahuan bermesraan.
"Cepat kembali tidur kalau gitu, peluk aku saja kalau takut guntur," kata Lisa sambil menguap dengan sedikit perhatian.
Melihat Giselle kembali bersama Lisa, Erwin menghela nafas lega, Giselle ini benar-benar terlalu menggoda bagi pria, belum lagi hanya memakai baju tidur yang tipis, Erwin tidak yakin sanggup menahan dir jika tidur bersamanya.
Malam kilat dan guntur berlalu dengan cepat, tapi hujan masih belum reda.
Setelah Erwin berolahraga secara mandiri di ruang pelatihan untuk sementara waktu, Giselle baru bangun, hari ini dia tidak berpakaian dengan seksi, tapi memakai baju kantor profesional.
Tubuh bagian atas adalah kemeja putih wanita, sedangkan bagian bawah adalah rok kantor hitam, hanya saja karena bentuk tubuh yang lumayan mencolok, jadi tampak visualnya tetap sangat menggoda.
"Yuk, kantor cabangnya di tengah utara kota, kalau bergegas ke sana sekarang seharusnya tiba tepat pada saat jam kerja." Giselle sengaja mengibaskan rambutnya sambil berbicara, ingin membuat perhatian Erwin ke dirinya, tapi dia kecewa karena Erwin langsung berjalan keluar.
'Kamu itu seorang pria, kan?!' Giselle menghentakkan kakinya dengan ekspresi marah, Giselle sangat percaya diri dan cantik, tapi dia selalu gagal mencuri perhatian Erwin, justru dia sendiri yang semakin tertarik pada Erwin.
Erwin mengantar Giselle ke gedung bisnis yang agak tua, lokasi di sini sangat terpencil dan lingkungannya tidak bagus sama sekali.
“Giselle, yakin cabangmu ada di sini?” Erwin berdiri di depan gedung dan tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya, cabang perusahaan keluarga Lawrence, salah satu raksasa di Kota Bandung, justru sangat bobrok.
__ADS_1
“Alamatnya tepat menunjuk ke sini, kamar nomor 405 di lantai 4.” Giselle juga sedikit terkejut, lingkungan dan lokasi di sini terlalu kotor dan terpencil, sejak kapan penampilan bobrok ini bisa menarik orang berbakat untuk bergabung?
Keduanya bersiap untuk masuk dengan payung di tangan, tapi saat ini sebuah mobil tiba-tiba melaju melewati mereka, air yang menumpuk karena hujan di tanah langsung memercik saat mobil lewat.
Reaksi pertama Erwin adalah dengan cepat melindungi Giselle, sehingga Giselle aman.
“Sialan, supirnya jelas sengaja.” Erwin marah, hampir semua bagian celana dan pakaiannya terciprat air hujan di tanah.
Sebaliknya, Giselle sangat tersentuh, meskipun hanya peristiwa kecil, tapi ini membuktikan Erwin sangat peduli dengannya.
Tapi semakin baik Erwin memperlakukan Giselle dengan baik, Giselle justru semakin enggan pergi dari sisinya.
“Erwin, kamu baik-baik saja? Ayo cepat bersihkan di dalam saja.” Giselle memegang payung untuknya dan berjalan masuk, Erwin tidak punya pilihan selain ikut masuk.
Pada saat yang sama di vila besar keluarga Louis, Rio sedang merokok cerutu, peristiwa baru-baru ini di utara kota membuatnya sangat sedih dan kecewa, walaupun sudah berbisnis di utara kota selama bertahun-tahun, tapi ini adalah pertama kali dia merasakan krisis.
Tiba-tiba, seorang bawahan bergegas masuk untuk melapor.
"CEO, informan datang untuk melaporkan, telah ditemukan jejak Erwin, dia sedang ada Gedung Komersial Golden dengan Giselle."
“Oh? Kau yakin?” Rio akhirnya menerima kabar baik.
"Tentu, karena ingin memastikan dengan jelas apakah itu Erwin saat hujan, orang-orang kita sengaja lewat, jadi membasahi pakaiannya dengan percikan air hujan di tanah, dan hasilnya tidak salah lagi." Bawahan itu melaporkan dengan yakin.
“Apa dia membawa petinju wanita bernama Lisa itu?” Rio melanjutkan.
“Tidak, hanya ada satu wanita bertubuh bagus, yang seharusnya adalah Giselle.” Bawahan itu menjawab dengan jujur.
“Bahkan Tuhan berpihak padaku! Erwin ternyata tidak membawa petinju wanita itu, cepat awasi Erwin ini, jangan sampai dia lolos.” Rio tiba-tiba menjadi bersemangat, ini pasti kesempatan besar, jadi dia buru-buru menelepon Dallen, petinju nomor satu di stadion tinju hitam.
Telepon dengan cepat terhubung, Rio langsung memerintah dengan penuh semangat,
"Dallen, cepat bawa orang ke Gedung Komersial Golden, terget kali ini adalah Erwin, pastikan bawa dia ke hadapanku!"
__ADS_1