Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Ternyata Benar


__ADS_3

Mary dengan ajaibnya berhasil lolos, bahkan dia sendiri tak bisa mempercayainya, tetapi kenyataannya memang demikian.


Setelah lolos ronde pertama, wawancara diperlukan yang biasanya untuk membahas rincian spesifik kontrak, termasuk harga, layanan, kualitas, purna jual, dan lain-lain. Jika negosiasi disepakati, maka kontrak akan ditandatangani, begitu juga dengan sebaliknya.


Untuk ini, Mary juga sangat yakin, jadi saat pemasok lain sedang diwawancara, dia sudah memikirkan detail kontrak yang akan dijawabnya nanti.


Namun, ketika dia masuk untuk diwawancara, pertanyaan pertama yang diajukan oleh penanggungjawab bukan tentang kontrak, melainkan tentang Erwin.


“Nona Millano, aku ingin bertanya, Erwin itu siapanya kamu?” Penanggungjawab yang bertanya adalah seorang pria paruh baya bernama Andrian yang lihai, cukup kurus dan punya sepasang mata yang tajam.


"Erwin?" Mary sedikit terkejut, penanggungjawabnya tak bertanya tentang detail kontrak melainkan tentang Erwin, apa jangan-jangan penanggungjawab ini teman yang dicari Erwin? Namun, Erwin sudah bilang sebelumnya kalau temannya tak bisa hadir hari ini, jadi seharusnya bukan.


Lagi pula, bagaimana mungkin anak miskin dari pedesaan bisa mengenal penanggungjawab ini?


Ketika Mary diam-diam menebak, Andrian bertanya lagi,


"Nona Millano, boleh beritahu aku apa hubunganmu dengan Erwin?"


“D-dia teman sekelas putriku.” Mary berkata tanpa sadar, dia tidak mau mengakui anak miskin seperti Erwin sebagai pacar putrinya di depan orang lain.


“Oke, gitu ya, kamu sudah boleh keluar.” Andrian mengangguk karena sudah jelas, lalu memberi isyarat kepada Mary untuk keluar.


Mary kebingungan, bukannya penanggungjawab ini seharusnya bahas detail kontrak? Kenapa menyuruhnya pergi begitu selesai tanya tentang hubungannya dengan Erwin?


Mary tampak bingung, tanpa sadar bangkit dari kursi dan berjalan meninggalkan ruangan, sebelum mengambil beberapa langkah, dia semakin merasa ada yang tidak beres.


"Kayaknya aku lolos ronde pertama itu beneran ada hubungannya dengan Erwin, kalau tidak, tak mungkin penanggungjawab ini bukannya bahas detail kontrak, tapi langsung tanya tentang hubunganku dengan Erwin!"

__ADS_1


Memikirkan kembali hal ini, Mary kesal dengan dirinya sendiri yang mengambil tindakan bodoh, kemudian buru-buru berbalik dan kembali ke ruangan tadi, untungnya, penanggungjawabnya masih ada di sana.


Mary ragu-ragu, menggertakkan giginya, dan berkata dengan kuat,


"Sebenarnya, Erwin itu pacar putriku."


Saat mengatakan ini, ini serasa menampar wajahnya sendiri! Karena jelas dia ingin memisahkan Erwin dan Lina, tapi demi menandatangani kontrak ini, dia sudah tak peduli lagi dan mempertaruhkan segalanya.


“Oh? Serius?” Penanggung jawab tiba-tiba menjadi  mendengar ini, dan memastikan sekali lagi.


"Betul, dia itu pacar putriku!” Mary menemukan saat mengatakan ini, pandangan penanggungjawab itu sudah berbeda terhadapnya, dan langsung sadar kalau taruhannya kali ini sudah benar.


"Tolong tunggu dulu, aku mau keluar sebentar." Andrian meninggalkan kata-kata ini dan berjalan keluar untuk menelepon.


Namun, Mary tetap gelisah di dalam ruangan sambil menunggu dengan sabar, memikirkan dirinya yang baru saja mengakui Erwin adalah pacar putrinya, itu serasa menampar wajahnya sendiri!


Lebih dari sepuluh menit kemudian, Andrian kembali dengan tergesa-gesa, dan tampaknya sudah selesai menelepon.


Yang terpenting adalah kontraknya sepakat, kalau penawaran sedikit berlebihan juga tak apa-apa, asalkan transaksi ini tak merugikan!


"Yah, aku sudah bicara sama CEO Ghania kami di telepon tadi, karena Erwin itu pacar putrimu, maka Perusahaan Real Estat West Garden kami tak akan merugikanmu. Begini saja, kami akan beli bahan bangunan dari perusahaan kalian dengan harga 10% lebih tinggi dari harga pasar, apakah bisa diterima?" Sikap Andrian terhadap Mary menjadi lebih ramah.


"A-apa? 10% lebih tinggi dari harga pasar?" Mary tercengang lagi, awalnya dia berencana untuk menurunkan harga jual demi menandatangani kontrak ini. Tapi tak nyangka begitu pihak lain tahu Erwin itu pacar putrinya, langsung menawarkan harga yang 10% lebih tinggi dari harga pasar untuk membeli bahan bangunan mereka.


Ini terlalu tak sesuai dengan logika pasar.


“Iya Nona Millano, kamu sudah melahirkan seorang putri yang baik, kalau tak ada kendala, kontrak resminya sudah bisa ditandatangani dua hari lagi.” Andrian mengangguk dan berkata sambil tersenyum.

__ADS_1


“Udah bisa?” Mary terkejut sekaligus senang, karena tak nyangka begitu bilang Erwin itu pacar putrinya, semuanya bisa berjalan selancar ini.


"Kami akan menyiapkan kontraknya, karena ini adalah pemasok eksklusif satu-satunya, kami perlu menyusun ketentuan kontrak, jadi kontraknya baru bisa ditandatangani dua hari lagi secara resmi, kami akan memberitahu begitu waktunya tiba." Andrian menjelaskan lagi.


“Satu-satunya pemasok eksklusif??” Mary benar-benar terkejut kali ini.


Secara umum, untuk proyek real estat yang begitu besar, biasanya akan ada lebih dari satu pemasok bahan bangunan, setidaknya empat sampai lima untuk memulai proyek, karena setiap pemasok menghasilkan beberapa jenis bahan bangunan yang berbeda, jadi tidak hanya lebih efisien, tapi dari segi kualitas juga akan lebih bagus.


Jarang ada pemasok konstruksi yang mengambil proyek real estat dan menyiapkan semua bangunannya sendirian, biasanya hanya pemasok bahan bangunan yang sangat terpercaya atau sangat besar yang bisa mengambil proyek konstruksi real estat yang bernilai sampai dua triliun rupiah ini sendirian.


"Kamu gak bercanda, kan? Mau tanda tangan kontrak pemasok eksklusif dengan kami?" Mary berdiri dari kursi dan bertanya lagi dengan tidak percaya.


“Iya, karena hubungan putrimu dan Erwin, kami sangat percaya pada perusahaanmu, jadi kami Mau menandatangani kontrak pemasok eksklusif denganmu.” Andrian menjelaskan kembali.


Jantung Mary berdetak kencang, karena tak nyangka kontrak proyek sebesar ini beneran berhasil dinegosiasikan olehnya, ini terlalu luar biasa.


Tetapi dia juga terpikir bahwa keberhasilan ini semuanya berkat Erwin.


“Kayaknya kenalan Erwin ini punya posisi yang tak bisa diremehkan di Virtues Group, kalau tidak, tak mungkin aku bisa dapat kontrak pemasok eksklusif.” Mary merasa malu saat mengingat kembali dirinya yang mengejek Erwin sebelumnya, bilang kalau kenalannya palingan hanya petugas kebersihan atau karyawan biasa.


Setelah keluar dari ruang wawancara, Mary kembali ke ruang tamu, Lina dan yang lainnya sudah menunggu dengan cemas, melihat Mary berjalan keluar, Lina langsung bergegas ke sana dengan wajah yang gugup.


"Ma, gimana? Negosiasinya berhasil?"


Mary melirik Erwin yang masih memakai pakaian murahan, kemudian melihat putri kesayangannya yang cantik bagaikan bidadari beserta pakaian merek terkenal di tubuh putrinya, yang mau dilihat gimanapun kedua orang ini tak serasi sama sekali.


Tapi justru anak miskin pedesaan inilah yang membuatnya berhasil menandatangani kontrak senilai dua triliun di depan begitu banyak pemimpin industri lainnya, meskipun dia tidak ingin mempercayainya, tapi itulah faktanya.

__ADS_1


"Negosiasinya berhasil, jadi sesuai taruhanku, aku takkan ikut campur masalah kalian berdua lagi kedepannya, lakukanlah sesuka kalian! "Mary menghela nafas, kenyataan selalu begitu kejam!


“Hebat.” Lina sangat bersemangat, dan segera memeluk Mary dengan gembira, "Makasih ya, CEO Mary!"


__ADS_2