
Kota Santa adalah kota kelas satu dalam negeri ini, yang tiga kali lipat lebih besar dari Kota Bandung dengan populasi lebih dari 10 juta orang, bukan hanya ada banyak keluarga kaya di kota ini, tapi keluarga kuat misterius yang mengawasi dunia sambil tersembunyi di balik layar juga tidak sedikit.
Erwin naik kereta selama hampir tiga jam untuk tiba di Kota Santa.
Setelah keluar dari stasiun kereta, yang terlihat hanya orang yang berlalu lalang. Damon yang sudah tiba beberapa hari sebelumnya, datang untuk menjemput Erwin secara langsung sambil diikuti oleh seorang pria paruh baya dengan tubuh yang agak gemuk. Pria gemuk itu mengenakan setelan jas dan memiliki rambut yang tertata rapi, tapi ekspresi terlihat sedikit gugup.
Pria bernama Darius Caspian ini adalah penanggung jawab industri Keluarga Smith di Kota Santa, Darius adalah CEO dari tiga perusahaan besar di Kota Santa sekaligus kepala Keluarga Caspian. Keluarga Caspian mereka adalah salah satu dari lima keluarga terkaya di Santa Kota, jadi tidak bisa diremehkan sama sekali.
Dapat dikatakan Darius ini cukup terkenal dan berkuasa di Kota Santa.
"Bang Damon gugup tidak, saat pertama kali bertemu dengan Tuan Muda?" Pada saat ini, Darius, seorang bos besar di Kota Santa, yang bermartabat saat bertemu semua orang, justru merasa gugup karena akan bertemu dengan Erwin dan telapak tangannya bahkan sampai keringatan.
“Omong kosong, siapa yang tidak gugup?” Damon memberinya tatapan hina, tapi mengingat tentang pertemuan pertama kalinya dengan Tuan Muda, saat itu dia sangat bersemangat sekali.
Erwin menerima kabar bahwa Damon akan datang menjemputnya, jadi setelah melihat sekeliling di gerbang stasiun kereta, sosok Damon dan seorang pria paruh baya gemuk di samping terlihat.
"Tuan Muda akhirnya tiba juga, serahkan saja barang bawaanmu padaku, orang ini penanggung jawab bisnis Keluarga Smith di Kota Santa, namanya Darius Caspian." Setelah Damon mengambil barang bawaan dari Erwin, dia menunjuk dan memperkenalkan Darius.
"Halo Tuan Muda, nama saya Darius. Saya menyiapkan sebuah hadiah kecil untuk Anda untuk pertemuan pertama kali ini, saya harap hadiah saya bisa diterima," kata Darius dengan gugup sambil mengeluarkan sebuah kartu emas platinum dan menyerahkannya kepada Erwin.
“Apa ini?” Erwin bertanya dengan curiga setelah menerima kartu platinum.
"Ini kartu keanggotaan tingkat tertinggi di keluarga kami, siapapun yang memegang kartu platinum ini bisa belanja secara gratis dan mendapat pelayanan prioritas dalam toko kami," kata Darius dengan serius karena kartu tersebut mewakili sebuah status, sejenis status tertinggi dan penting.
"Keluarga Caspian itu bergerak di bidang industri apa?" tanya Erwin sambil menyimpan kartu platinum tersebut. Dengan adanya kartu platinum ini, jelas akan jadi lebih mudah untuk jalan-jalan di Kota Santa.
"Keluarga Caspian kami sudah berkarir di Kota Santa selama hampir seratus tahun, jadi hampir setiap bidang industri kami miliki, seperti supermarket, department store, keuangan, Internet, real estat, pusat perbelanjaan, kosmetik, klub hiburan, dan lain-lain, Green Group, Monaco Group dan Serbabes Group itu milik kami. Tiga perusahaan besar ini juga sebagai fondasi bagi keluarga Jiang kami untuk mendapat pijakan yang kokoh di Kota Santa."
Darius dengan hati-hati menjelaskannya kepada Erwin, semua industri ini sebenarnya dikendalikan dan merupakan hasil investasi Keluarga Smith, yang hanya saja dipercayakan untuk diurus oleh Keluarga Caspian.
“Green Group itu punya keluargamu?” Erwin ingat Lina itu menjadi manajer proyek perusahaan bernama Green Group.
“Benar, saya penanggung jawab Green Group.” Darius tidak mengerti mengapa tuan muda menyebut nama ini.
“Kalian mempekerjakan seorang gadis bernama Lina sebagai manajer proyek, 'kan?” Erwin bertanya tanpa sadar.
"Benar, itu perintah dari CEO Susi secara langsung dan memberinya 5% saham." Darius menjawab dengan jujur, dia masih cukup ingat dengan gadis yang diperlakukan secara khusus oleh CEO Susi ini.
__ADS_1
“Jangan biarkan orang-orang yang mencurigakan di perusahaan itu mendekati Lina, kalau tidak, kamu akan bertanggung jawab penuh atas konsekuensinya!” Erwin merasa masih perlu memperingatkan Darius, dengan paras Lina yang mencolok seperti itu, mungkin akan ada beberapa pria di perusahaan itu yang akan macam-macam.
"Baik, saya mengerti." Darius diam-diam menyeka keringat, sebelumnya adalah perintah langsung dari CEO Susi dan sekarang adalah peringatan dari Tuan Muda. Sepertinya identitas Lina yang misterius ini tidak biasa dan tak boleh sampai disinggung!
“Tentu saja, kamu juga harus bantu mengasah menggunakan kemampuan profesionalnya.” Erwin berpikir sejenak dan memberi perintah lagi, karena ibunya membiarkan Lina mengambil posisi sebagai manajer proyek, maka itu sebuah pengujian dan sisanya adalah melihat kinerja Lina.
"Baik, jangan khawatir Tuan Muda, akan saya atur sebaik mungkin." Darius mengangguk.
Setelah menyelesaikan urusan ini, Erwin berencana berjalan-jalan sendirian di Kota Santa, jadi menyuruh mereka pergi.
"Kalian pulang aja, tinggalkan barang barang-barangnya di tempat tinggalku, aku mau belanja sendiri dulu, ngomong-ngomong tempatnya jangan terlalu mewah, yang biasa-biasa aja."
"Tuan Muda, situasi di Kota Santa cukup kacau baru-baru ini, jadi tolong lebih berhati-hati dan langsung telepon saya jika terjadi sesuatu. Di Kota Santa, baik para bos bisnis legal maupun ilegal tetap akan menghormati putih Keluarga Caspian kami." Darius sangat takut sesuatu akan terjadi pada Erwin, jadi memberikan kartu nama yang tertera nomor teleponnya kepada Erwin.
"Baiklah, kalian sibuklah dulu."
Setelah menyuruh kedua bos itu pergi, Erwin naik taksi sendiri, Lina sudah mengirim alamatnya begitu tiba di Kota Santa, jadi Erwin hanya perlu langsung pergi mencarinya.
Setengah jam kemudian, Erwin tiba di Heaven Villa Park.
Hubungan antara kedua ibu mereka sangat baik, jadi Lina dan Divia sering jalan-jalan bersama, yang bisa dikatakan cukup dekat!
"Lina, pacarmu kebetulan di kota ini juga, 'kan? Beberapa temanku ada janji ketemu di Klub Emgrand malam ini, ajak saja pacarmu sekalian buat saling kenalan!" Menurut Divia, Lina itu sangat cantik dan terlebih lagi punya kekayaan sebesar sepuluh triliun milik sendiri, jadi pasti punya pacar yang kaya raya juga.
Namun, ketika Erwin turun dari taksi, Divia langsung melirik Erwin dari atas kepala sampai bawah kaki, dia terkejut dengan pakaian murah yang tidak sampai ratusan ribu milik Erwin dan memiliki aura yang jelas dari pedesaan.
“Lina, dia pacarmu?” tanya Divia dengan tidak percaya.
"Iya, namanya Erwin." Lina sangat senang saat melihat Erwin, dia memperkenalkan Erwin kepada Divia sambil memegang lengan Erwin.
"Erwin, ini Divia Danendra, putri sahabat ibuku."
Erwin menyapanya, tapi ditanggapi dengan tatapan penuh jijik dari Divia, walau begitu, Erwin hanya tersenyum dan tidak peduli karena sudah sering melihat yang seperti itu.
"Erwin pasti belum makan, yuk kita ke sana," kata Lina dengan penuh perhatian.
"Iya, aku memang lapar." Erwin menyentuh perut karena belum makan apapun sejak pagi.
__ADS_1
"Biar aku yang bawa kalian ke tempat makan aja, lagi pula kalian berdua masih tidak mengenal tempat ini." Kata Divia dengan enggan.
Divia pulang ke rumah terlebih dahulu untuk menyetir mobil Porschenya dan membawa Lina beserta Erwin ke restoran yang relatif mewah.
Melihat Erwin yang makan tanpa malu-malu, Divia hanya diam-diam menggelengkan kepala, tapi melihat Lina yang terus menambahkan lauk untuk Erwin, dia tidak tahan untuk terus menonton lagi.
“Aku tak paham kenapa Lina bisa tertarik sama anak miskin dari pedesaan ini!” Divia diam-diam menghela nafas.
Setelah cukup makan dan minum, langit sudah mulai gelap, jadi Divia membawa Erwin dan Lina ke Klub Emgrand, yang merupakan klub hiburan komprehensif kelas atas yang terkenal di timur kota.
"Nanti kubawa kalian ke Klub Emgrand untuk ketemuan sama teman-temanku, mereka semua dari keluarga kaya di Kota Santa, jadi kenalan dan menjalin hubungan yang baik dengan mereka akan sangat membantu kedepannya," kata Divia dengan cukup serius pada Erwin dan Lina.
“Klub Emgrand itu milik keluarga mana?” Erwin bertanya dengan santai, jika itu milik keluarga Caspian, maka dia akan mencoba menggunakan kartu platinum yang diberikan Darius kepadanya.
"Properti milik Keluarga Caspian, ada apa?" Divia menjawab tanpa sadar.
"Bukan apa-apa, cuman tanya saja." Erwin jelas berbohong.
Setiba di Klub Emgrand, Divia memarkir mobil dan berjalan bersama Erwin beserta Lina, tapi begitu mereka tiba di pintu, teman-teman Divia sedang berkumpul di luar pintu dan tampak sedih karena tidak diperbolehkan untuk masuk.
Totalnya tiga pria dan tiga wanita, mereka semua mengenakan pakaian bermerek mahal, jadi bisa dilihat kalau mereka itu memang anak dari keluarga kaya.
Divia tidak punya waktu untuk basa-basi, jadi melangkah maju untuk bertanya dengan ragu.
"Kenapa tidak masuk? Bukannya sudah dipesan kamarnya?"
“Bukan tidak mau masuk, tapi seluruh Klub Emgrand sudah disewa malam ini, yuk ke tempat lain aja!” Seorang pria gendut maju dan marah-marah.
"Orang kaya mana yang bisa menyewa seluruh Klub?" Divia terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa ketika mendengar ini. Menyewa seluruh Klub Emgrand untuk satu malam itu setidaknya 20 miliar, orang kaya mana yang sekaya itu sampai bisa menghabiskan uang sebanyak ini sekaligus?!
"Aku tidak tahu siapa, tapi kita tak dikasih masuk." Pria gendut itu menjawab dengan marah.
"Aku sampai tak bisa berkata-kata lagi, kurasa sudah waktunya kita pergi, tapi tak ada Klub lain yang seru seperti Klub Emgrand ini." Pemuda lain yang mengenakan kacamata berbingkai hitam dan terlihat berdedikasi berkata dengan nada suara yang kasar.
"Kalau begitu bubar aja! Lain hari kita kumpul lagi." Mereka hendak pergi setelah berbicara sampai sini, tapi sebuah suara menghentikan mereka.
"Aku punya cara untuk masuk."
__ADS_1