Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Bab 237 Semua yang Dikatakannya Ternyata Benar


__ADS_3

Orang yang berbicara adalah Erwin, dia memiliki kartu platinum yang diberikan oleh Darius, jadi dia ingin mencoba pelayanan prioritas dan semua biaya yang digratiskan.


Begitu selesai berbicara, para anak kaya di tempat kejadian langsung memandang ke arah Erwin, mereka awalnya penasaran, tapi ketika melihat pakaian murahan dan aura pedesaan dari Erwin,  mereka langsung menunjukkan penghinaan dan rasa jijik.


"Kau siapa? Siapa yang membawamu ke sini?" Williamson, si pria gendut itu berjalan mendekat dan berteriak keras, benar-benar tidak menunjukkan rasa hormat sama sekali ketika melihat Erwin hanya seorang anak miskin pedesaan.


"Memangnya kau siapa? Klub Emgrand ini sudah disewa, kamu punya cara untuk masuk? Omong kosong macam apa itu? Main jauh-jauh sana!" Zesven yang terlihat berdedikasi juga memandang Erwin.


Namun, ketika melihat adanya Lina uang secantik bidadari di sebelah Erwin, dia langsung tercengang dans tak bisa memalingkan pandangannya dari Lina.


Yang lain tidak percaya Erwin bisa masuk, begitu juga dengan Divia, jadi Divia menariknya ke samping dan menegur dengan suara rendah.


"Erwin, tolong jangan permalukan aku di sini, ini bukan karaoke bar seperti di pedesaanmu. Klub Emgrand bukan tempat yang bisa keluar masuk sesuka hati, lagi pula seluruhnya sudah disewa, jadi berhenti bicara omong kosong, aku tak mau malu di depan teman-temanku."


Divia sedikit terdiam, dia mulai merasa sedikit menyesal sudah membawa anak miskin pedesaan yang belum pernah melihat dunia mewah ini ke sini, sekarang justru seperti mempermalukan diri sendiri di depan teman-temannya.


"Tapi aku memang bisa masuk," kata Erwin.


“Kenapa masih sombong seperti itu? Untuk apa?” Divia benar-benar kesal, lalu berkata kepada Lina.


"Lina, cepat bujuk pacar miskinmu, suruh dia tarik kembali kata-katanya, aku tidak mau dipermalukan."


"Aku percaya pada Erwin, di Kota Bandung juga Erwin bisa masuk berbagai klub kelas atas hanya dengan modal berbicara dengan mereka." Lina mengingat kembali dan sangat percaya diri terhadap Erwin.


Berakhir sudah, berakhir sudah, tidak heran wanita yang secantik ini bisa suka dengan anak miskin seperti itu, ternyata yang salah itu isi kepalanya, Divia diam-diam mengeluh tentang Lina.


"Divia, kau yang membawa kedua orang ini ke sini? Mereka bicara tanpa pikir pakai otak dulu? Mana mungkin Klub Emgrand bisa dimasuki oleh siapapun sesuka hati? Selain itu tempat ini juga sudah disewa." Yang lain juga datang untuk menanyai Divia.


Mereka tidak mengenal Erwin dan Lina, tapi tahu Divia, jadi hanya bisa bertanya padanya.


"Jangan dimasukkan ke hati, Erwin ini dari pedesaan jadi belum banyak melihat dunia mewah, dia pikir Klub Emgrand itu karaoke bar seperti di pedesaannya yang bisa keluar masuk sesuka hati, aku akan membujuknya." Divia kesal parah terhadap Erwin, Erwin ini langsung berbicara omong kosong di depan teman-temannya begitu tiba di sini, yang benar-benar membuatnya merasa sangat malu.


"Divia, cepat suruh dia pergi, kita main ke klub lain aja, tapi wanita di sebelahnya boleh ikut dengan kita."

__ADS_1


Tatapan Zesven masih tertuju pada Lina sepanjang waktu dan semakin kecanduan. Ini pertama kalinya dia melihat gadis secantik ini, tapi dia merasa kesal melihat Lina yang terus menatap, jadi berencana untuk mengusir Erwin dan mengambil kesempatan untuk memulai percakapan dengan Lina.


Divia tidak mau mengusir Erwin karena itu akan sangat membuat Erwin dipermalukan! Ditambah itu bukan hanya sekedar diusir, tapi pacarnya juga dibiarkan ikut bermain dengan pria lain, itu akan sangat melukai harga diri Erwin.


"Kenapa tidak pulang saja, tak jadi main kita hari ini." Divia buru-buru ingin menyelesaikan masalah.


"Ayolah, lagian kita juga sudah ada di luar, lebih baik lanjut ke klub lain aja." Zesven yang sebelumnya bilang tidak ada klub lain yang seru seperti Klub Emgrand, sekarang tiba-tiba berubah pikiran karena ingin mendekati Lina.


Erwin mengerutkan kening karena pandangan Zesven terus tertuju pada Lina, dia tahu Zesven ini punya niat buruk, jadi dia melangkah maju dan berkata,


"Tak perlu repot-repot ke klub lain, kita main di sini saja, kamu pergi saja sendiri kalau mau ke klub lain."


Setelah berbicara, Erwin berjalan menuju pintu masuk Klub Emgrand, tetapi Zesven tidak dapat menahan diri begitu mendengar itu dan berkata dengan kejam,


"Anak miskin pedesaan sepertimu mau masuk? Aku justru mau lihat bagaimana kamu diusir nanti!"


"Erwin, tidak ada gunanya ke sana, ayo pulang." Divia tanpa sadar membujuk.


Yang lain bahkan bersikap seperti sedang menonton pertunjukan, mereka ingin lihat Erwin diusir secara langsung, sepertinya hanya Lina yang percaya Erwin bisa masuk.


"Tuan, saya harus meminta petunjuk dari manajer umum, mohon tunggu sebentar." Manajer akun itu masuk dengan kartu platinum untuk meminta petunjuk dari manajer umum.


Erwin berdiri di depan pintu masuk sambil menunggu, sementara Zesven yang berdiri sejauh lebih dari sepuluh meter, sedang memandang Erwin seolah Erwin itu orang bodoh dengan tatapan penuh sarkas.


"Bodoh sekali, kenapa masih menunggu di sana? Manajer akun itu sudah menolaknya, tapi dia masih bersikeras tidak ingin pergi."


"Jangan bilang seperti itu, dia itu dari pedesaan jadi belum pernah melihat dunia luar yang penuh kemewahan."


"Kita tak punya waktu buat nunggu di sini dengannya, yuk kita ke klub lain."


...


Mereka sudah tidak sabaran, berbalik dan hendak pergi, tapi pada saat ini, manajer akun itu keluar lagi, berbicara sejenak pada Erwin dengan hormat dan Erwin mengangguk puas.

__ADS_1


Erwin berjalan ke arah mereka, Zesven dan yang lainnya sedang menunggu Erwin dijadikan sebagai bahan lelucon, tapi sebelum sempat membuka mulut, Erwin sudah berbicara lebih dulu kepada Divia,


"Sudah boleh masuk sekarang, kita diberi ruangan tingkat mahkota."


"A … apa kau bilang? Kita sudah boleh masuk sekarang?" Para anak kaya termasuk Divia tampak tidak percaya dan terkejut, mengira Erwin hanya berbohong dan menyombongkan diri.


"Candaan macam apa itu? Kau pikir kau itu siapa? Bisa masuk hanya modal mulut saja? Kau bahkan membual tentang ruang tingkat mahkota, asal kau tahu ruang tingkat mahkota itu bukan ruang yang bisa dimasuki hanya dengan modal banyak uang, dasar udik!"


Teriak Zesven, mana mungkin dia ingin dipermalukan oleh anak pedesaan ini?


"Terserah mau percaya atau tidak, Lina, yuk kita masuk, mereka bilang akan gratiskan semua biayanya." Erwin meraih tangan Lina dan berjalan masuk, tapi Lina menghentikan langkah kaki dan berkata kepada Divia,


"Divia, jangan ragu lagi, yuk masuk."


"Digratiskan?" Divia semakin bingung, ini mustahil, situasi di depan matanya ini sudah di luar imajinasinya.


"Kau hebat juga dalam menyombongkan diri, bahkan kau sampai sejauh itu, tidak ada kemampuan tapi masih sebangga diri itu, anak miskin pedesaan zaman sekarang memang bukan main lagi sombongnya." Termasuk Zesven, yang lainnya juga tidak percaya.


"Divia, ikut saja mereka kalau mau diusir, lagian yang kehilangan muka bukan kami." Melihat bahwa Divia juga ingin ikut, Zesven tidak bisa menahan diri dan berkata dengan sinis.


"Aku akan tes untuk kalian, gimana kalau memang bisa? "Divia berada dalam dilema, tapi bagaimanapun juga, Lina dan Erwin dibawa ke sini olehnya, jadi dia harus menjaga perasaan mereka sebisa mungkin, dengan adanya dia yang ikut diusir keluar, maka rasa malu mereka mungkin tidak terlalu besar nantinya.


“Hehehehe, kau beneran percaya dengan anak miskin itu, pokoknya kami tidak mau diusir.” Zesven tidak bisa menahan ejekan lagi.


Erwin mengabaikan mereka, tapi membawa Lina berjalan masuk, manajer akun itu membukakan pintu untuk mereka dan menyambut dengan wajah penuh hormat.


Ketika Divia melihat Erwin dan Lina benar-benar berhasil masuk, dia terkejut dan mengikuti.


"Beneran bisa masuk." Divia tidak terlalu mempercayai kata-kata Erwin sampai berhasil berjalan masuk ke dalam, lalu bergegas keluar lagi untuk berteriak kepada teman-temannya.


"Ini beneran boleh masuk, ayo cepat sini, ruangan tingkat mahkota juga suka disiapkan."


Begitu kata-kata ini keluar, Zesven, Williamson, dan anak-anak kaya lainnya tercengang.

__ADS_1


"Apa yang dikatakan anak itu ternyata benar, dia beneran bisa masuk, ma … mana mungkin."


__ADS_2