
Ini adalah ruangan terakhir di ruang bawah tanah. Setelah Lisa membuka pintu, isi dalam ruangan perlahan terungkap di depan mata, terlihat seorang lelaki tua berjubah abu-abu yang sedang berbaring dengan mata tertutup, dan tidak bergerak sama sekali.
Lisa merasa tegang, kemudian melangkah masuk, dan senang sekaligus terkejut saat melihat wajah lelaki tua itu.
"Ternyata beneran Tuan Besar Taylor." Lisa pernah melihat foto Tuan Besar Taylor sebelumnya, jadi langsung mengenal identitas lelaki tua itu dalam sekejap.
Meskipun telah ditemukan, tampaknya Tuan Besar Taylor dalam kondisi pingsan, sehingga tubuhnya terlihat sangat lemah, Lisa mencoba memanggilnya beberapa kali, tetapi tidak mendapat tanggapan, yang membuat Lisa merasa sedikit cemas.
"Cepat bawa dia pergi, tetap di sini sama saja dengan membiarkan ajal menjemputnya." Lisa ingin menggendong Tuan Besar Taylor sendiri, tetapi siapa yang akan menghadapi para satpam nanti?
"Azura, gendong Tuan Besar Taylor." Lisa menyerahkan tugas ini kepada Azura, tetapi tubuh Azura pendek, dan tidak mungkin sanggup menggendong Tuan Besar Taylor yang tinggi.
“Aku tak bisa," kata Azura tanpa daya saat melirik sosok tinggi Tuan Besar Taylor.
"Aku saja," ujar pria paruh baya dengan seragam cheongsam itu, dan dengan santai menggendong Tuan Besar Taylor yang tidak sadarkan diri. "Ayo pergi sebelum kita ketahuan."
Yang lainnya mengangguk ketika mendengar itu, kemudian mulai bergegas keluar, tetapi sesampai di pertengahan jalan, sirene tiba-tiba berbunyi di seluruh ruang bawah tanah.
"Apa-apaan ini? Kenapa sirene tiba-tiba berbunyi?" Azura mulai panik.
“Sepertinya pintu besi akan otomatis membunyikan alarm jika terbuka untuk waktu lama, aku pernah mengalaminya sekali," ujar Pria botak itu yang sepertinya sudah lama terkurung di sini
"Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo cepat lari." Azura paling takut mati, dia buru-buru membawa gadis berusia sepuluh tahun itu dan berlari keluar dengan panik karena tidak ingin mati di sini.
Yang lain juga mulai berlari sekuat tenaga, mereka akhirnya memiliki kesempatan untuk melarikan diri, jadi mana mungkin ingin ditangkap kembali lagi.
"Aku akan membuka jalan di depan, kalian cukup ikuti aku." Lisa mengeluarkan sansetsukon, dan bergegas keluar dari ruang bawah tanah lebih dulu dari yang lain.
Ketika tiba di luar, sudah ada banyak satpam yang mengumpul di tempat, jumlahnya tidak kurang dari belasan, ini adalah gelombang pertama satpam yang datang, dan ada lebih banyak lagi yang akan menyusul.
__ADS_1
Sosok Delny justru menghilang saat ini, dia tidak melarikan diri, melainkan bersembunyi untuk melapor pada Erwin.
Saat ini, Erwin masih berada di Hotel Bellagio, acara rebut karangan bunga dari pengantin sudah selesai, tetapi Lina merasa tidak senang karena gagal mendapatkannya.
"Erwin, aku tak dapat bunganya." Lina turun dari panggung, merasa cukup kecewa karena mendengar rumor kalau gadis yang mendapat karangan bunga pengantin akan menikah selanjutnya.
"Tak masalah kalau tidak dapat." Erwin mencoba untuk menghibur, dan pesan dari Delny tiba-tiba masuk, setelah melirik sejenak, wajahnya tiba-tiba berubah, dan menoleh ke arah Lina untuk memberitahu.
"Lina, aku mau ke toilet sebentar, tunggu aku di sini, ya."
Saat mengatakan itu, dia langsung bergegas ke tempat yang sepi sendirian, lalu memerintah Baka beserta yang lainnya yang telah menunggu di luar mansion untuk segera menjemput Lisa.
Setelah memberitahu semua ini, Erwin diam-diam merasa beruntung karena sudah menghancurkan manor di pinggiran kota dan mencederai semua penjaga keamanan di dalamnya, yang secara tak langsung telah mengurangi pasukan satpam di mansion.
Tetapi itu masih tidak cukup.
Memikirkan hal itu, Erwin berjalan bolak-balik sambil mencari solusi, waktunya sangat mepet, jadi solusi paling efektif dan tercepat yang terpikir oleh Erwin hanya bisa memukul pingsan Clovis.
"Ini adalah satu-satunya cara untuk saat ini, tetapi identitas tidak boleh sampai terungkap, setidaknya harus ditutupi." Erwin melihat sekeliling, dan tiba-tiba melihat Fintan yang sedang berjalan keluar dari toilet.
"Baiklah, kau saja."
Erwin tersenyum, dan segera berjalan menuju Fintan.
"Fintan, bukan? Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Melihat toilet cukup ramai, Erwin ingin memancing Fintan ke tempat yang sepi.
“Erwin, mau bicara apa?” Fintan menatap Erwin dengan tidak senang.
"Mau tau dari mana aku dapat cincin Dream Love? Akan kuberitahu sekarang, tetapi di sini terlalu ramai." Erwin mengarang alasan yang mungkin akan dipercaya oleh Fintan, dan setelah selesai berbicara, dia langsung berjalan menuju tempat yang sepi.
__ADS_1
Ternyata benar, Fintan tertipu.
"Apa jangan-jangan kau mencuri cincin itu?" Memikirkan hal itu, Fintan tiba-tiba merasa memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan, jadi langsung mengikuti langkah Erwin.
Setelah mengikuti Erwin ke tempat yang sepi, Fintan tiba-tiba bertanya dengan waspada, "Mau bawa aku ke mana? Aku akan pergi sekarang kalau masih tak dikasih tahu."
"Sini, akan kukasih tahu." Erwin memberi isyarat, dan itu membuat Fintan ragu-ragu, tetapi pada akhirnya pemikiran untuk membalikkan keadaan berhasil mengalahkan rasa kewaspadaannya.
Jadi, begitu Fintan mendekat, Erwin langsung meninju bagian belakang kepala Fintan dan membuatnya pingsan, lalu melepas semua pakaian dan celananya, untuk dipakai sendiri.
Fintan yang telanjang dikunci dalam ruang utilitas kosong, kemudian Erwin menemukan sebuah kain hitam dari ruang utilitas sebagai penutup wajah.
Sehingga dilihat dari pakaian dan penampilannya, dia ini terlihat seperti Fintan.
"Siapa suruh mencari masalah denganku sepanjang waktu, sekarang aku akan menggunakan identitasmu, dan membiarkanmu disalahkan karena tindakanku nanti." Erwin mengangkat sedikit sudut mulutnya sendiri.
Kemudian berjalan keluar dengan cepat, dan target kali ini adalah Clovis.
Saat ini, jamuan pernikahan telah selesai, dan langit di luar sudah mulai gelap, Clovis yang sedang menyapa para tamu yang pulang tiba-tiba menerima panggilan darurat dari bawahannya.
"CEO, ini gawat! Tahanan yang terkurung di ruang bawah tanah melarikan diri, untungnya alarm berbunyi tepat waktu, dan para tahanan sedang dihadang sekarang."
“Hentikan mereka dengan segala cara, jangan biarkan mereka kabur.” Clovis merasa ada yang tidak cemas saat ini, empat orang yang terkurung di ruang bawah tanah ini adalah para tahanan penting yang markas besar Keluarga Gibson di Kota Bekasi percayakan padanya, akan jadi masalah besar jika terjadi kesalahan.
"Maaf semuanya, aku harus pulang dulu." Clovis buru-buru menyapa semua tamu, lalu menyuruh putranya untuk menggantikannya dalam melayani tamu, sementara dia sendiri memanggil dua pengawal dan bergegas ke garasi bawah tanah sambil meminta bala bantuan dengan ponsel.
Dia merasa sangat cemas saat ini, begitu keempat tahanan itu berhasil melarikan diri, maka hidupnya sendiri juga akan ikut terancam.
Namun, saat lift yang mereka naiki mencapai garasi parkir bawah tanah, seorang pria yang dengan kain hitam di wajah muncul dan menghalangi jalan.
__ADS_1