
Hati Adam sudah putus asa, karena adanya Kak Liam yang membantu Erwin, mau seberani apapun Kak Dragon, dia tetap saja tidak bisa melawan Erwin lagi.
“Kenapa, kenapa setiap kali dia sudah mau menginjak Erwin, keadaan selalu aja berbalik!” Kebencian yang ada di dalam hati Adam semakin melonjak saat ini, karena dia awalnya berpikir bahwa perencanaannya ini sudah sempurna, tetapi tidak menyangka Erwin memiliki pendukung yang lebih berkuasa.
Sepertinya bencana akan melandanya kali ini, saat mengingat kembali peringatan dari Erwin sebelumnya, keringat dingin tiba-tiba mengalir keluar dari punggung belakangnya. Sepertinya dia tidak punya pilihan lain selain mengakui kekalahan dan merendahkan harga diri, jika tidak, lengannya yang satu lagi mungkin tidak dapat dipertahankan lagi.
Reaksi Hans tidak jauh berbeda saat ini, dia diam-diam menyeka keringat yang ada di dahinya, dia tidak peduli lagi dengan harga diri dan berlari kecil ke arah Erwin untuk menyanjungnya.
"Ternyata Tuan muda Erwin akrab dengan Kak Liam, kenapa tidak bilang dari awal? Kalau tidak, tidak akan terjadi kesalahpahaman seperti ini."
"Salah Paham? Mana mungkin salah paham.” Erwin tersenyum sedikit, bangkit dari kursi, dan membiarkan Lisa yang terluka duduk di kursi untuk beristirahat.
"Beneran salah paham, dan lupakan saja tentang biaya pengobatan bawahanku.” Bagaimana mungkin Hans berani menagih biaya pengobatan pada Erwin lagi? Bukankah itu sama saja dengan cari mati?
Begitu suara Hans keluar, Liam yang berada di sebelah, langsung menamparnya dan berkata dengan kasar,
"Kau berani menagih biaya pengobatan pada Tuan Muda Erwin? Kau bodoh ya?"
“Betul, betul, aku ini benar-benar buta dan bodoh.” Hans yang dipukuli tidak berani melawan. Dia hanya bisa terus berpura-pura rendah hati, karena seratus orang lebih yang ada di dalam maupun di luar rumahnya ini tidak kenal belas kasihan, jika dirinya melakukan sedikit saja hal yang mencurigakan, dirinya pasti akan dihajar habis-habisan di sini, karena Kak Liam ini terkenal dengan kekejamannya.
Tidak jauh dari mereka, ada Adam yang bahkan lebih putus asa saat melihat Kak Dragon tidak berani melawan.
"Biaya pengobatan tetap harus dibayar, tapi kaulah yang harus bayar, sepupuku terluka karena orang-orangmu, jadi kau harus bertanggung jawab atas biaya pengobatannya. " Ucap Erwin sambil menunjuk ke arah Lisa. Lisa datang bersamanya dan sudah melawan begitu banyak orang sendirian, jadi setidaknya dia harus sedikit memberi Lisa penghargaan.
__ADS_1
“Memang sudah seharusnya, apa boleh tahu berapa biaya pengobatan yang Tuan Muda Erwin inginkan?” Hans menyeka keringat diam-diam, sepertinya pengeluaran ini tak terelakkan.
“4 miliar rupiah!” Erwin mengulurkan empat jari dan berkata pada Hans.
“4 miliar?” Hans merasa enggan, tetapi dia hanya bisa menggertakkan gigi dan menjawab, “Tidak masalah, memang sudah seharusnya begitu.”
Hans mengeluarkan buku cek, menulis cek senilai 4 miliar rupiah, kemudian menyerahkannya pada Erwin dengan sedikit gemetar.
Setelah menerima cek itu sambil tersenyum, Erwin berbalik dan memberi cek itu pada Lisa sambil berkata,
"Lisa, ini hal yang pantas kau dapatkan, ambillah, ingat suruh Anita untuk mengobatimu setelah pulang nanti."
"Tuan… sepupuku, terima kasih banyak." Lisa ingat bahwa Erwin sudah memerintahnya untuk memanggilnya sepupu di luar rumah, jadi dia segera mengubah kata-katanya, tetapi hatinya sedikit tersentuh, karena merasa sangat beruntung memiliki Tuan yang begitu memperhatikannya, pada saat yang sama, keyakinannya untuk mengikuti Erwin menjadi semakin kuat.
"Biaya pengobatan sepupuku sudah dibayar, tapi bagaimana dengan kompensasi kesehatan mentalku yang terkejut karena tindakan kalian?"
Begitu suara itu keluar, Hans gemetar dan bertanya dengan tergagap-gagap,
"T-Tuan, Tuan muda Erwin, kompensasi seperti apa yang kamu inginkan?"
"Kudengar kau koleksi banyak barang antik kaligrafi dan lukisan, jadi beri saja aku beberapa, tapi aku mau yang asli, kalau aku tau kalau barangnya palsu setelah kusuruh orang periksa, aku akan langsung mencarimu dan membuat perhitungan denganmu." Erwin tersenyum untuk memperingatkannya.
Besok adalah hari ulang tahun Kakek Lina yang ke 80, Kakek Lina sangat menyukai koleksi barang antik, jadi sudah jelas barang antik adalah hadiah ulang tahun yang paling cocok.
__ADS_1
"Tentu saja, jika apa yang kau berikan itu memuaskan, aku tidak akan mempersulitkan dirimu."
“Baik, baik, akan segera kuambil Tuan muda Erwin.” Hans menyeka keringat diam-diam, dan tidak punya pilihan lain selain mengambil beberapa koleksi yang bernilai rendah untuk menangani masalah ini, dan berharap Erwin tidak sadar akan harga barangnya.
Hans tidak bodoh, jadi dia tidak mungkin memberi barang antik yang paling berharga untuk orang lain, tapi tepat ketika dia berbalik, Erwin tiba-tiba berkata sambil tersenyum,
"Aku ikut denganmu saja!"
Tubuh Hans sedikit gemetar, kemudian mematuhi karena tidak punya pilihan lain, dan membiarkan Erwin ikut ke ruang koleksinya.
Erwin menyuruh Lisa tetap tinggal di sini untuk beristirahat, sedangkan dia dan Liam ikut ke ruang koleksi bersama Hans. Ruang koleksi Hans berada di kamar tersendiri yang berbeda, jadi mereka pun berjalan ke kamar tersebut.
Hans memang sudah terkenal dengan hobinya yang selalu koleksi barang antik, memaksa dan merampas, membeli dengan harga rendah dan menjual dengan harga tinggi. Dia yang melakukan itu selama bertahun-tahun tentu sudah menghasilkan cukup banyak uang dari kaligrafi dan lukisan barang antik.
Terdapat banyak kaligrafi, lukisan, dan barang antik berharga yang tidak dapat ditemukan di manapun dan hanya Hans yang memilikinya, yang didapatkan dengan licik.
“Tuan muda Erwin, ruang koleksi ini kecil dan kumuh, lebih baik kubantu pilih beberapa barang asli untukmu saja.” Hans berusaha untuk meminimalisir kerugiannya seminimal mungkin.
"Tidak apa-apa, aku bahkan pernah tinggal di kandang babi pedesaan, tempat seperti ini tidaklah seberapa. "Kata Erwin dengan senyum tipis, karena dia dapat menebak apa yang dipikirkan oleh Hans.
Karena Erwin sudah berkata demikian, dia hanya bisa membawa Erwin masuk.
Namun, ketika Erwin melangkah masuk ke ruang koleksi Hans, dia tetap terpana dengan berbagai macam koleksi yang Hans kumpulkan di sini, jumlah dan variasinya jauh melebihi imajinasi Erwin, tetapi Erwin tersenyum, karena ini sebuah keuntungan besar!
__ADS_1