
Untuk menghindari terjadinya hal buruk kalau ditunda, keesokan harinya Mary langsung pergi ke perusahaan Rick pagi-pagi sekali bersama Lucas, mengambil stempel resmi dan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk tanda tangan kontrak, dan segera pergi ke Perusahaan Real Estate West Garden.
Pada akhirnya Mary menandatangani kontrak sesuai keinginannya, dan menjadi orang yang bertanggung jawab atas pasokan bahan bangunan untuk Perusahaan Real Estate West Garden, yang sangat dipandang oleh Rick.
Di kantor CEO, Rick memegang kontrak yang ditandatangani oleh Mary sambil senyum-senyum sendiri, karena Ini adalah pesanan terbesar yang didapatkan di perusahaannya sejak berdiri.
"Karena kamu berhasil menandatangani kontraknya, sesuai janji sebelumnya, aku akan mempercayakan seseorang untuk mentransfer 10% saham perusahaan padamu beberapa hari lagi nanti, sedangkan untuk posisi CEO, aku masih mau pertimbangkan lagi, terutama terjadi kesalahan besar seperti yang kemarin."
"Ayah, kalau bukan karena rencana kakak, mana mungkin aku terlambat, dan tanpa bantuan Erwin, kakak pasti udah berhasil merebut hasil kerja kerasku." Mary sangat marah, karena kakaknya semakin melawannya, dan sepertinya akan ada banyak rintangan dan perhitungan dari kakaknya yang harus dia hadapi kedepannya.
"Jangan asal tuduh kalau tak ada bukti, mulai minggu depan, bahan bangunan akan dikirim ke lokasi konstruksi barat kota, dari sini ke lokasi konstruksi di barat kota setidaknya akan butuh sejam, lebih baik kamu awasi dengan teliti, akan ada banyak organisasi jahat yang akan mencari masalah di lokasi konstruksi di barat kota, jadi berhati-hatilah."
Rick paling muak dengan pertikaian antara sesama saudara kandung, dan tidak ingin mereka menghabiskan waktu dan usaha mereka pada hal yang tak bermanfaat semacam ini, jadi menyuruh Mary untuk fokus pada proyeknya.
“Jangan khawatir Ayah, aku akan mengawasi dengan hati-hati.” Mary diam-diam membulatkan tekad kalau proyek ini harus diselesaikan dengan sesempurna mungkin, agar bisa ditunjukkan pada kakaknya, dan pada saat yang sama juga bisa ditunjukkan pada semua orang di perusahaan Rick, bahwa dirinya punya kemampuan untuk mengambil alih posisi CEO.
Bisa dibilang kalau hasil proyek ini akan mempengaruhi kelayakan dan keberhasilannya dalam menduduki posisi CEO.
Dua hari kemudian, hari konser Jocelyn akhirnya tiba, Erwin memikirkannya sepanjang malam, dan memutuskan untuk menemuinya.
“Mau bilang apa ya nanti.” Erwin hanya sebatas penasaran dengan tunangannya ini, sedangkan untuk menjalankan hubungan, dia tidak tertarik sama sekali.
"Apa beritahu dia tentang pembatalan nikah aja?"
Erwin agak ragu-ragu, bagaimanapun, dampak pembatalan nikah itu sangat besar, kemungkinan bahkan kedua orang tua dan kakeknya akan terlibat, dan itu adalah hal yang tidak dia inginkan.
Bagaimanapun, keluarga Taylor adalah salah satu dari sepuluh keluarga kaya teratas di negara ini, bukankah membatalkan pernikahan secara terang-terangan itu tidak ada bedanya dengan mempermalukan mereka? Mana mungkin mereka membiarkannya begitu saja.
Setelah pulang kerja saat sore hari, Erwin berkendara langsung ke stadion timur kota, ini adalah stadion olahraga terbesar yang dapat menampung 20.000 orang pada saat yang sama, bisa dianggap sebagai stadion olahraga terkenal.
Ketika Erwin tiba, bagian luar stadion olahraga sudah penuh dengan orang, kebanyakan adalah pria dan wanita muda, terutama pelajar.
“Tak kusangka akan ada begitu banyak orang yang akan menonton konser Jocelyn.” Erwin tertekan untuk sementara waktu, dan melihat sekeliling, semua anak muda menunggu untuk memasuki tempat tersebut.
Tujuan Erwin adalah pergi ke belakang panggung untuk melihat Jocelyn, bukan untuk menontonnya nyanyi dari depan, jadi sambil mengantri, Erwin sudah mengeluarkan uang tunai sebesar 40 juta dari ATM terdekat yang akan digunakan nanti untuk berjaga-jaga, karena terkadang uang adalah segalanya.
Tepatnya pukul 7:30 malam, konser akhirnya mulai dibuka, dan Erwin berjalan masuk secara perlahan.
Setelah memeriksa tiket, Erwin memasuki stadion olahraga dengan lancar, tiket yang diberi Anita adalah tiket VIP teratas di depan, jadi tempat duduk Erwin ada di depan
Setelah Erwin berdiri di depan, dia melihat 20.000 kursi di seluruh stadion olahraga di sekeliling yang penuh dengan orang. Semua jenis lightstick, light sign, dan fansign diangkat tinggi-tinggi, yang menunjukkan bahwa penggemarnya sangat menyukai Jocelyn.
“Tunanganku ini ternyata begitu populer!” Erwin menelan ludahnya sendiri, kalau para penggemar ini tahu Erwin datang mencari Jocelyn itu untuk membatalkan pernikahan, mungkin mereka akan memukulnya sampai mati di stadion ini.
Tak lama kemudian, delapan belas lampu neon di atas stadion olahraga tiba-tiba menyala, di bawah penerangan lampu, panggung yang indah perlahan naik. Para penggemar di sekitar mulai melambaikan lightstick mereka sambil bersorak dan berteriak.
Sampai-sampai telinga Erwin yang mendengar itu hampir tuli.
“Apa harus bersemangat seperti ini?” Erwin tidak bisa menahan diri dan mengeluh.
Setelah panggung dinaikkan, musik segera mengikuti, dan perhatian Erwin secara bertahap beralih ke panggung.
__ADS_1
Saat musik pembuka secara bertahap mulai terdengar, tujuh sampai delapan penari perlahan muncul di panggung, semuanya sangat cantik, tetapi sosok Jocelyn masih belum muncul.
Setelah musik pembukaan berakhir, suara yang bagaikan suara surgawi terdengar dari sudut panggung, dan melalui pengeras suara di sekitar stadion olahraga, suara yang indah menyebar ke seluruh stadion olahraga.
Mendengar suara ini, para penggemar berteriak kegirangan, pada saat yang sama, enam belas lampu di atas stadion olahraga juga langsung terfokus pada sosok yang bernyanyi tersebut.
Erwin tanpa sadar tertarik pada suara nyanyian tersebut sepertinya tunangannya sangat berbakat dalam bernyanyi.
Mata Erwin mengikuti pergerakan Jocelyn di atas panggung, meskipun agak jauh dan di malam yang gelap, tapi dengan adanya cahaya yang terang, dia masih bisa melihat wajah tunangannya yang cantik beserta lekukan tubuhnya yang anggun.
Setelah lagu selesai, Jocelyn di atas panggung langsung turun ke belakang panggung untuk berganti pakaian, tetapi para penggemar dan penonton di tempat tampak masih belum puas.
Erwin dengan sabar mendengarkan beberapa lagu lagi, kemudian melirik waktu, jam sudah menunjuk pukul sepuluh malam, dan masih ada setengah jam sebelum konser berakhir,
"Kayaknya udah boleh siap-siap, begitu konser selesai nanti, aku akan bertemu dengannya." Memikirkan hal ini, Erwin meninggalkan kursinya dan bersiap untuk pergi ke belakang panggung.
Umumnya, orang luar tidak diperbolehkan untuk masuk ke belakang panggung, tetapi Erwin datang dengan persiapan.
Erwin menyelinap ke pintu yang bisa mengakses ke belakang panggung, selama melewati pintu ini, maka sudah bisa masuk ke belakang panggung. Hanya saja ada dua penjaga keamanan yang menjaga, serta kamera CCTV yang memantau di dekat situ, jadi tidak mudah untuk masuk.
Erwin mengamati terlebih dahulu dan melihat bahwa staf dengan kartu karyawan dapat masuk dan keluar sesuka hati, dan yang tidak memakai kartu karyawan justru dihalang sama dua penjaga keamanan tersebut, terutama beberapa penggemar yang sudah sangat sering dihentikan oleh dua penjaga keamanan ini.
“Kayaknya harus dapat kartunya dulu deh, kalau nggak bakal susah masuk.” Erwin mengamati untuk waktu yang lama di sekitar titik buta dari pintu itu, dan akhirnya melihat seorang pemuda kurus yang memiliki kartu karyawan, yang saat ini sedang berjalan keluar dari belakang panggung, dan kebetulan sedang menuju ke arah dirinya.
Memanfaatkan di saat pemuda itu sedang lengah, Erwin langsung menariknya ke sudut yang kosong dan berkata,
"Bro, pinjam kartu sama bajumu dong"
“Kenapa aku harus kasih?” Setelah pemuda kurus itu sadar, dia buru-buru melepaskan tangan Erwin dan berkata dengan marah.
Mata pemuda itu langsung berbinar saat melihat uang sebanyak itu.
"Karena kamu itu penggemar berat Jocelyn, tenang aja, kartu sama bajuku ini punyamu sekarang." Pemuda kurus itu langsung buka baju dan celana tanpa basa-basi.
Erwin tak nyangka pemuda ini akan begitu cepat tanggap, jadi dia juga tidak segan-segan lagi.
Setelah tukar pakaian, dan memakai kartu karyawan, barulah Erwin dengan berani berjalan ke pintu yang dijaga kedua penjaga keamanan tersebut.
Saat hendak mendekati kedua satpam itu, Erwin seketika menjadi gugup, takut ketahuan sama kedua penjaga keamanan ini, tapi dia tetap berpura-pura tenang dan terus berjalan masuk.
Setelah dua penjaga keamanan sekilas melirik kartu karyawan di dada Erwin, mereka berinisiatif untuk membukakan pintu untuknya, Erwin langsung masuk sambil menahan rasa gugup di hatinya, dan melangkah secepat yang dia bisa ke dalam.
Setelah masuk dan pergi ke belakang panggung, Erwin diam-diam menghela nafas lega.
"Akhirnya masuk juga, konser Jocelyn udah mau selesai sekarang, aku harus cari ruangannya."
Erwin makin cemas sekarang, karena di belakang panggung ini bukan hanya milik Jocelyn seorang, tapi ada banyak penari latar dan penyanyi latar yang juga merias wajah mereka di belakang panggung ini, tentu saja, mereka tidak akan merias wajah di ruangan yang sama dengan bintang besar seperti Jocelyn.
“Ruangan yang mana?” Begitu Erwin mencari ruangannya, konser Jocelyn telah berakhir, dan itu membuat Erwin semakin gelisah, jadi Erwin sudah tidak peduli apapun lagi saat ini, dia langsung meraih seorang anggota staf yang baru saja berjalan melewatinya.
"Di mana ruangan Jocelyn?"
__ADS_1
“Aku lagi sibuk, cari sendiri!" Staf itu sedikit tidak sabar, jelas sedang sibuk untuk mengemas alat yang diperlukan, tapi Erwin juga lagi terburu-buru sekarang, jadi langsung mengeluarkan 20 juta lagi, yang membuat staf itu terpana di tempat.
“Cepat, di mana ruangan Jocelyn?” tanya Erwin sekali lagi.
“Belok kiri ruangan ketiga.” Anggota staf yang mengambil 20 juta dari Erwin langsung senang besar, sampai-sampai langsung memberitahu lokasi ruangan Jocelyn, tanpa terpikit dengan apa niat dari orang yang bertanya.
Tapi pada saat dia ingin menoleh untuk melihat seperti apa wajah orang yang bertanya tadi, Erwin sudah pergi.
Saat ini, Erwin sudah tiba di depan pintu ruangan Jocelyn, mendengar suara yang datang dari pintu belakang panggung, Erwin tidak ragu lagi dan masuk ke ruangan tersebut, lalu menutup kembali pintunya.
Erwin melihat sekeliling ruangan tata rias, sepertinya hanya lemari pakaian yang bisa muat, dia tak punya pilihan selain bersembunyi terlebih dahulu, dan keluar saat situasi sudah memadai.
Jocelyn dikelilingi oleh orang banyak dan kembali ke belakang panggung, meskipun dikelilingi oleh bintang serta selebriti, tapi wajah cantiknya tetap penuh dengan kelelahan, dia sudah bernyanyi selama tiga jam tanpa henti, justru aneh kalau tidak lelah.
“Tante, aku sedikit lelah, jadi mau istirahat sendirian.” Suara Jocelyn terdengar lemah, yang menunjukkan bahwa dia beneran lelah.
“Baiklah kalau gitu, aku akan membangunkanmu kalau penggemarmu udah hampir pulang semua, kalau tidak, akan susah pulang nanti, kamu istirahat aja dulu.” Orang yang berbicara adalah Ametta Taylor, yang merupakan asisten Jocelyn sekaligus tantenya, biasanya dipanggil Kak Ametta, dia memiliki rambut pendek dan sangat terampil dalam pekerjaannya.
Setelah mengatakan ini, Ametta pergi untuk mengerjakan hal-hal lain, tetapi untuk berjaga-jaga, dia menyuruh dua penjaga keamanan untuk menjaga di luar pintu Jocelyn. Untungnya Erwin masuk terlebih dahulu, kalau tidak, akan sulit untuk masuk sekarang.
Jocelyn terlihat sangat cantik dalam gaun kasa putri putih, setelah memasuki ruang tata rias, dia melepas sedikit aksesoris yang ada di kepalanya, dan tertidur begitu berbaring di atas meja rias karena kelelahan.
Karena tak mendengar adanya suara pergerakan di luar, Erwin yang sembunyi di dalam lemari tidak bisa menahan diri lagi dan membuka sedikit pintu lemarinya, dan melihat keluar melalui celah pintu tersebut, lalu terlihatlah Jocelyn yang sedang istirahat sambil berbaring di atas meja rias.
Sosok cantik dengan tubuh lelah itu membuat Erwin merasa sedikit tidak tega.
Tak lama kemudian, dia dengan pelan mendorong pintu lemari dan perlahan-lahan keluar dari dalam, agar tidak menimbulkan suara, Erwin berusaha sebisa mungkin untuk bergerak perlahan.
Jocelyn sepertinya sangat lelah sampai tak menyadari keberadaan Erwin, dia berbaring di meja rias dan tertidur lelap sambil ngiler.
Begitu Erwin yang mengendap-endap melihat Jocelyn yang ngiler di atas meja, dia sedikit terkejut, karena tak menyangka bintang besar yang punya lebih dari 10 juta penggemar ini bisa-bisanya ngiler saat tertidur.
Erwin tanpa sadar mengeluarkan ponsel dan memotret pemandangan ini. Segera, Erwin mengambil pakaian panggung untuk menyelimuti tubuh Jocelyn agar Jocelyn tidak masuk angin.
Untuk pertemuan ini, Erwin masih tak tahu harus bilang apa sama Jocelyn, tapi melihat Jocelyn dari dekat seperti ini tidak buruk juga.
“Cantik sekali, sama seperti Lina, bagaikan bidadari." Erwin diam-diam memuji.
Namun, tak lama kemudian terdengar suara keras di luar pintu, seolah-olah seseorang ingin melihat Jocelyn, tapi dihalangi oleh dua penjaga keamanan.
"Kalian tau siapa aku? Beraninya menghalangiku, cari mati ya?!" Pria yang berteriak di luar pintu itu sangat tampan, pakaiannya juga merek internasional, begitu juga dengan gaya rambut yang lagi trending, sambil memegang sebuah buket mawar merah yang sepertinya datang mencari Jocelyn.
"Tuan muda Baxter, Nona Taylor baru saja selesai konser dan sedang istirahat di dalam, Kak Ametta sudah memberi perintah untuk tidak memperbolehkan siapapun untuk masuk mengganggu Nona." Walaupun menghalangi, tapi kedua penjaga keamanan tak berani berbuat lebih jauh, dapat dilihat kalau identitas Tuan muda Baxter ini tidak biasa.
“Kalau masih begini, aku tak akan sungkan lagi ya.” Ketika Tuan Muda Baxter berbicara, dua pengawal berbaju hitam mendekat dari belakangnya.
“Tuan Muda Baxter, jangan mempersulitkan kami, ini tanggung jawab pekerjaan kami.” Kedua penjaga keamanan itu merasa kesulitan, dan tak berani sama sekali di depan pemuda tampan dan kaya ini.
"Kubilang sekali lagi, minggir." Rasa dingin melintas di mata Tuan Muda Baxter.
"Tuan Muda Baxter, ini tanggung jawab kami, maaf." Meskipun kedua penjaga keamanan itu takut pada Tuan Muda Baxter, tapi masih memegang teguh tanggung jawab mereka.
__ADS_1
"Oke! Akan kuhajar kalian." Begitu selesai berbicara, Tuan muda Baxter sedikit melambaikan tangannya, dan kedua pengawal berpakaian hitam di belakangnya langsung memukul ke arah dua penjaga keamanan tersebut, dan mereka berempat pun mulai berkelahi.
“Berani-beraninya menghalangiku, cari mati itu namanya.” Tuan muda Baxter meninggalkan kata-kata itu, dia langsung mendorong pintu tata rias sampai terbuka dengan paksa, tapi dia tak nyangka Erwin yang ada di balik pintu tiba-tiba menghentikannya dan menatapnya dengan sepasang mata dingin.