
Pemuda berambut kuning senang melihat Boy membawa para bawahannya ke sini, dan langsung pergi menyapanya,
“Bos, anak di sana itu yang mau rebut wilayah kita,” teriak Pemuda berambut kuning sambil menunjuk ke arah Erwin yang tidak jauh dengan tatapan yang kejam, karena berpikir, kali ini bosnya sudah datang, jadi anak itu sudah tidak mungkin menang.
Boy menyipitkan mata dan melihat ke arah yang ditunjuk pemuda berambut kuning yang tidak jauh, lalu memang terlihat seorang pria muda yang terlihat familiar, dan itu membuat alisnya berkerut,
“Baiklah.” Boy berjalan dengan suasana hati yang gelisah, karena pria yang tunjuk pemuda berambut kuning itu mirip dengan seseorang yang dia kenal, seseorang yang tidak boleh dia singgung.
Di sisi lain, wajah Jocelyn dan Ametta ketakutan sampai memucat begitu melihat sebegitu banyaknya orang panggilan pemuda berambut kuning itu yang berjalan ke arah mereka, karena mereka tidak pernah menghadapi situasi seperti ini.
“Erwin, ayo, kita kabur sekarang juga, kalau tidak, bakal nggak sempat lagi nanti!” teriak Ametta sambil menarik tangan Erwin, dia terlihat sangat gugup, dan takut akan dikepung dan dipukuli oleh begitu banyak orang kalau masih tidak kabur
“Iya, ayo kita kabur, mereka terlalu ramai." Jocelyn juga ketakutan, wajah cantiknya semakin pucat, kalau orang sebanyak itu mengepung mereka, mana mungkin mereka bisa kabur.
“Gapapa, ada aku di sini, jangan takut.” Erwin tersenyum sedikit, setelah menenangkan mereka, dia mengambil langkah maju, bukannya mundur, melainkan melangkah maju, dan berjalan ke arah orang-orang itu.
Jocelyn dan Ametta ketakutan sampai tak berani mengatakan apa-apa lagi, mereka ingin kabut tapi tidak berani, jadi hanya bisa mengikuti Erwin dengan gugup, karena takut Erwin akan meninggalkan mereka dan melarikan diri, tapi detak jantung mereka beberapa kali lebih cepat dari biasanya.
“Boy, lama tidak bertemu.” Ketika mendekat, Erwin menyambutnya dengan senyuman.
Boy terkejut ketika melihat orang yang datang adalah Erwin, pemuda berambut kuning sialan ini ternyata sudah memprovokasi Erwin, bukankah dirinya juga akan kena batunya?
“Tuan Erwin, lama tidak bertemu, aman seperti biasanya.” Boy menyeka keringat di dahi, dan sudah mulai membenci bajingan berambut kuning itu karena sudah melibatkan dirinya!
“Bos, tak perlu basa-basi sama anak ini lagi, gerakan saja bawahan dan hajar dia.” Pemuda berambut kuning masih belum mengerti akan situasi saat ini, jadi masih berani bersikap sesombong itu, yang tidak lain adalah tindakan cari mati.
Tanpa mengatakan apa-apa, Boy langsung menampar langsung wajah pemuda berambut kuning, sampai sudut mulutnya berdarah, dapat dilihat bahwa tenaga dari tamparan itu sangat kuat, dan dia berkata dengan tegas pada saat yang sama,
__ADS_1
"Apa aku butuh diajar cara bertindak sama kamu? Patahkan kakinya!"
Tindakan ini langsung membuat Pemuda berambut kuning dan ketiga bawahannya tercengang, apa-apaan situasi ini? Bos bukannya hajar anak itu, tapi Bang Roy?
Ini membuat mereka kaget sampai terdiam.
Karena ini juga, Jocelyn dan Ametta juga tercengang, apakah sedang terjadi pertikaian internal? Baguslah kalau begitu, mereka juga tidak keberatan melihat terjadi antara pertikaian internal di antara orang-orang itu.
“Bos, apa yang kamu lakukan? Kenapa aku yang dibuat cacat?” Pemuda berambut kuning ingin tahu jawabannya, tetapi perintah Boy sudah dijatuhkan, dan beberapa bawahan segera datang, menahan tubuh pemuda berambut kuning, dan mengeluarkan tongkat besi untuk mematahkan kakinya.
“Bos, kamu tidak serius mau patahkan kakiku, kan?!" Pemuda berambut kuning menjadi pucat karena ketakutan, kenapa bisa begini? Dia pikir dengan kedatangan bosnya, anak itu akan dihajar, tetapi sekarang kenapa dirinya yang dibuat cacat?
“Kamu pikir aku lagi becanda? Lakukan!” Boy jelas hanya ingin memuaskan Erwin! Anak berambut kuning sialan ini justru menyinggung Tuan Muda Smith, kalau Erwin mulai menyalahkan dan melibatkannya, maka tamatlah sudah riwayatnya.
Begitu suara itu keluar, beberapa bawahannya memulai kekerasannya, sehingga yang terdengar sekarang hanya jeritan dari pemuda berambut kuning itu, dan itu membuat Jocelyn dan Ametta tidak berani melihat adegan tersebut.
Mana mungkin mereka berani tanya alasan bos mereka melakukan ini?
Setelah membereskan mereka berempat, Boy baru datang ke hadapan Erwin dengan gugup untuk meminta maaf,
"Tuan Erwin, saya beneran minta maaf, apa menurutmu sudah cukup kalau memberi mereka sedikit pelajaran seperti ini? Kalau Tuan belum puas, saya suruh yang lain hajar mereka lagi."
Pernyataan ini membuat pemuda berambut kuning dan yang lainnya terkejut sekaligus takut, kenapa Bang Boy begitu merendahkan diri di hadapan Erwin?
“Cukup, itu saja, aku capek, jadi mau pamit dulu.” Melihat pemuda berambut kuning sudah seperti ini, Erwin juga tidak mau mempersulit lagi.
Segera, Jocelyn dan Ametta yang tercengang berjalan perlahan ke tempat parkir.
__ADS_1
“Tuan Erwin, hati-hati di jalan.” Boy mengambil beberapa langkah untuk mengantar Erwin pergi, dan akhirnya bisa merasa lega sampai Erwin masuk ke dalam mobil.
Sedangkan pemuda berambut kuning dan ketiga bawahannya masih tercengang, merasa kalau mereka ternyata sudah menyinggung orang yang tidak boleh disinggung.
Saat duduk di dalam mobil, Jocelyn dan Ametta langsung mengelus dada mereka sendiri dan merasa lega karena bisa pergi dengan selamat, tetapi mereka sangat terheran-heran dengan tindakan Erwin barusan.
“Erwin, kamu itu sebenarnya siapa? Kok bosnya si rambut kuning itu malah bersikap sesopan itu sama kamu?” Ametta tidak bisa menahan diri dan bertanya, dia tidak pernah menyangka bos organisasi jahat akn begitu takut sama Erwin.
Dia masih ingat dengan jelas ketika bos itu melihat Erwin, dahinya berkeringat ketakutan, dan diam-diam menyeka keringat yang bahkan lebih dari sekali.
“Iya juga, Erwin, barusan kupikir kita udah nggak bakal bisa pulang malam ini.” Jocelyn juga menjawab, sekarang dia sedikit takut ketika mengingat kembali, sekilas dilihat saja sudah tahu kalau Boy yang gemuk itu bukan orang yang boleh sembarang disinggung, tapi tidak menduga begitu boy itu melihat Erwin, dia malah tiba-tiba bertindak seperti seorang bawahan.
"Aku juga kurang tahu, mungkin, mungkin..." Sambil mengemudi, otaknya terus berputar, kemudian teringat sesuatu dan berkata, "Mungkin takut sama guruku, makanya nggak berani macam-macam denganku."
“Gurumu?” Jocelyn dan Ametta bertanya secara bersamaan.
"Ya, guruku itu Henry James dari perguruan Raung Mountain, rumor bilang kalau guruku pernah membasmi satu kelompok geng sendirian." Kata Erwin dengan bangga, bagaimanapun, mereka juga tidak kenal, jadi terserah saja mereka mau percaya atau tidak.
“Gurumu sehebat itu? Tak heran bos itu ketakutan setengah mati begitu melihatmu barusan.” Jocelyn dengan naif mempercayai apa yang dikatakan Erwin.
“Henry James, guru dari perguruan di Raung Mountain, kayaknya aku pernah bertemu sama dia deh, dan dia itu memang sangat kuat,” kata Ametta yang sepertinya mengingat sesuatu.
Erwin sedikit terkejut dengan kata-kata ini. Dia tidak nyangka Ametta pernah bertemu dengan Henry James dan karena takut kebohongan terungkap, jadi dia buru-buru ganti topik pembicaraan.
"Besok aku bawa kalian ke tempat makan lain lagi ya, tempat yang buka 24 jam, dan makanan yang ada di sana juga lebih berkelas."
“Baguslah, karena tempatnya buka 24 jam, gimana kalau pergi lebih awal besok?!” Jocelyn dan Ametta tiba-tiba mulai menantikan tempat yang disebut Erwin.
__ADS_1
Melihat mereka berdua seperti ini, Erwin mau tidak mau menggelengkan kepalanya.