Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Masih Belum Menyerah?


__ADS_3

Jatuhnya pemuda berambut kuning secara tiba-tiba, membuat kaget orang-orang di sekitar, terutama ketiga bawahannya, mereka tidak nyangka ada orang di food street ini yang berani memukul salah satu dari mereka, pelakunya pasti sudah bosan hidup!


Jocelyn dan Ametta yang melihat Erwin muncul merasa lega, ekspresi di wajah cantik mereka juga jadi gembira.


“Erwin, kamu akhirnya datang juga.” Jocelyn dan Ametta tanpa sadar bersembunyi di belakang Erwin.


"Sudah kubilang jangan lari, kuliat apa kalian masih berani tidak dengar kata-kataku lagi." Erwin marah dengan wajah tegas.


Kedua wanita itu menundukkan kepala mereka dan tidak mengatakan apa-apa seperti anak-anak yang telah melakukan kesalahan. Pemuda berambut kuning itu ingin buru-buru bangun, tapi ditendang jatuh lagi oleh Erwin.


"Masih berani bangun ya kau, sini biar kuhajar kau!"


“Hajar dia!” Melihat ini, tiga preman lainnya bergegas menuju Erwin.


Erwin memang kurang pengalaman berkelahi, jadi kebetulan tiga preman kecil ini bisa jadi lawan latihan tinjunya.


Erwin langsung mempraktikkan teknik tinjunya, dengan cepat, akurat dan kejam. Meskipun Erwin belum mampu mencapai tingkat satu pukulan mematikan seperti Lisa, tetapi setelah berkelahi seperti ini, Erwin masih bisa menang melawan mereka bertiga.


Namun, Erwin juga terluka, sepertinya dia masih perlu banyak berlatih lagi, jika Lisa yang ada di sini, sepertinya masing-masing satu pukulan sudah dapat menjatuhkan mereka semua.


“Mau lanjut lagi?” Erwin memandang keempat orang yang jatuh ke tanah dan berkata dengan dingin.


“Sialan, kalau berani jangan pergi dari sini!” Pemuda berambut kuning berjuang untuk berdiri, dan meninggalkan kalimat ini sebelum buru-buru pergi bersama ketiga preman lainnya.


Setelah mereka pergi, Erwin tiba-tiba merasakan rasa sakit di tubuhnya, terutama di lengan dan punggungnya, dia baru saja melawan tiga orang sendirian, meskipun terlihat sangat heroik, tapi sebenarnya dia terkena beberapa pukulan dari ketiga preman tadi.


“Erwin, kamu baik-baik aja?" Jocelyn datang dan bertanya dengan ekspresi khawatir.


“Gapapa, palingan oles obat waktu pulang nanti.” Erwin berkata tanpa mempermasalahkan lukanya, sepertinya dia masih harus banyak berlatih setelah pulang nanti.


“Kalau gitu, kita jadi makan?” Ametta berkata dengan lemah, barusan dia yang lari sambil membawa Jocelyn, sehingga bisa berpisah dengan Erwin.

__ADS_1


“Tentu aja, ngapain takut sama mereka? Aku kan udah janji buat traktir kalian, jadi makanlah sepuasnya!" Kata Erwin tanpa peduli dengan beberapa preman tadi.


Selain itu, bagian barat kota ini adalah wilayah Boy, jadi kalau khawatir, dia cukup memanggil Boy untuk menghancurkan para preman itu.


“Syukurlah, ayo makan!” Teriak Ametta dan Jocelyn, tapi kali ini mereka berdua tidak berani berpisah dengan Erwin sama sekali.


“Di sini ada banyak sekali makanan enak, kayak Nasi Campur, Gado-Gado, Bubur Ayam, takutnya malah kalian yang tak sanggup coba semuanya.” Erwin mengajak mereka makan sambil menjelaskan.


Di sisi lain, pemuda berambut kuning dan ketiga bawahannya tidak puas setelah dipukul, dan menaruh benci pada Erwin di dalam hati.


“Sialan, tinju anak itu lumayan kuat!” Pemuda berambut kuning mengusap wajahnya yang bengkak karena pukulan Erwin sambil memasang ekspresi tak puas.


"Kita harus cari bantuan buat hajar balik anak itu, atau kita tidak akan bisa ditakuti orang-orang di food street ini lagi!"


"Bang, apa yang harus kita lakukan sekarang? Cari bantuan Bang Boy?" Ketiga preman itu juga tidak puas karena dipukul sampai memar oleh Erwin.


"Anak itu lumayan kuat, kayaknya cuman bisa cari bantuan Bang Boy, sedangkan untuk dua wanita cantik yang pakai masker itu, cukup dilihat sudah tahu produk mulus, terutama yang lebih muda itu, mirip sekali dengan Jocelyn Taylor, kalau bisa main satu malam, pasti seru banget."


Pemuda berambut kuning ini melihat bahwa wanita cantik yang memakai masker itu terlihat sedikit mirip dengan Jocelyn Taylor, sehingga pergi mengganggu mereka, tapi tak diduga akan dipukul oleh anak laki-laki yang tiba-tiba muncul.


Tak lama kemudian, pemuda berambut kuning  itu mengeluarkan ponsel dan menelepon Boy Raymond, Boy ini adalah orang yang paling berkuasa di barat kota, jadi orang biasa tidak mungkin berani menyinggungnya.


Pemuda berambut kuning sengaja menaburkan garam di atas luka, dengan mengatakan bahwa Erwin itu orang yang datang buat merebut food street ini, sehingga berhasil menarik perhatian Boy.


“Kalian awasi dia, bisa-bisanya berani merebut food street-ku, udah bosan hidup kayaknya!” Kata-kata dingin Boy terdengar dari ponsel.


Meskipun food street ini tidak begitu besar, tapi juga bisa menghasilkan beberapa uang setiap malamnya, dengan mengatas namakan biaya perlindungan, setidaknya juga bisa dapat beberapa juta setiap malam dari toko-toko di sini, yang berarti kaki nyamuk yang kecil juga termasuk daging! Dan tidak boleh dibiarkan begitu saja.


Setelah menutup telepon, pemuda berambut kuning sangat bersemangat.


"Ayo, awasi anak itu, jangan sampai dia kabur."

__ADS_1


Mereka yang ingin membalas dendam dengan cepat masuk ke kerumunan lagi, kali ini dengan adanya dukungan Bang Boy, mereka harus memberi sedikit pelajaran pada anak sialan yang sudah menghajar mereka tadi.


Erwin mengajak Jocelyn dan Ametta keliling food street, dan makan banyak makanan yang belum pernah mereka makan sebelumnya.


“Erwin, gorengan tadi enak banget!” Kedua gadis itu pada dasarnya sudah kenyang, tapi tetap tidak lupa untuk bungkus pulang.


“Oke, udah waktunya pulang sekarang, di sini bentar lagi juga udah mau tutup." Erwin melirik jam yang sudah menunjuk pada pukul 11 malam, jadi sudah waktunya untuk pulang.


"Baiklah, gimana kalau besok kita datang lagi?" Tanya Jocelyn karena masih belum puas bersenang-senang.


“Besok aku yang traktir aja.” Ametta sepertinya belum puas makan juga.


Erwin tidak bisa menahan diri dan menggelengkan kepalanya, dia beneran kehabisan kata-kata dengan  kemampuan makan kedua orang ini.


Sudah hampir tengah malam, dan semakin sedikit orang yang ada di food street. Ketika Erwin dan yang lainnya ingin pulang, mereka tiba-tiba bertemu lagi dengan pemuda berambut kuning yang menghalangi jalan.


“Kenapa ini? Mau pulang begitu aja sehabis hajar kami?” Raut wajah arogan pemuda berambut kuning sepertinya sudah menargetkan Erwin dan yang lainnya.


Melihat para preman ini masih belum pergi, wajah cantik Ametta dan Jocelyn sedikit berubah, dan bersembunyi di belakang Erwin lagi.


“Belum puas dipukul? Jadi mau lagi?” Erwin berkata dengan ringan, kalau para preman ini berani maju lagi, Erwin tidak keberatan untuk menghajar mereka lagi.


“Sialan, jangan sombong dulu, bentar lagi abang kami bakal sampai, kau cukup tunggu mati aja! Untuk dua gadis di belakangmu itu, jangan pikir bisa pergi dari sini malam ini.” Kata-kata pemuda berambut kuning penuh dengan penghinaan, yang membuat Erwin mengerutkan kening.


Sepertinya dia harus memberi pelajaran pada pemuda berambut kuning ini, karena masih berani menargetkan wanitanya!


Karena para preman ini sudah panggil bantuan, Erwin juga akan melakukan hal yang sama, Boy seharusnya yang paling dekat di sekitar barat kota ini, kalau memanggil Boy, sepertinya bisa tiba ke sini dalam setengah jam.


Memikirkan hal ini, Erwin mengeluarkan ponselnya dan ingin menelepon Boy, namun tanpa diduga, Boy sendiri sudah terlihat berjalan ke sini bersama puluhan bawahannya.


Pemuda berambut kuning dan ketiga bawahannya menjadi bersemangat ketika melihat Boy membawa bawahan sebanyak itu ke sini.

__ADS_1


“Tunggu mati aja kau! Bantuan kami sudah tiba, akan kutunjukkan betapa kuatnya kami!” Saat mengatakan itu, wajah pemuda berambut kuning itu semakin arogan karena kedatangan Boy.


Di sisi lain, Erwin sedikit terkejut, karena tak nyangka bos dari pemuda berambut kuning ini ternyata adalah Boy, ini akan jadi lebih mudah! Dan sudut mulut Erwin pun terangkat.


__ADS_2