
Setelah menjemput ibunya dari stasiun kereta, Erwin langsung mengantar ibunya ke Villa Mahkota di Teluk Oak.
Apa yang berbeda dari yang diingat Erwin tentang ibunya yaitu, penampilan ibunya yang sekarang berpakaian dengan sangat modis, sampai-sampai Erwin hampir tidak kenal.
Selain itu, kulit Susi juga terawat dengan sangat baik, cara berbicara beserta temperamen juga beda kelas, pada usia yang hampir menginjak lima puluh tahun, ibunya justru terlihat seperti kakak-kakak berusia tiga puluhan.
"Aku hampir tak kenal karena ibu berpenampilan seperti ini, kupikir aku yang salah jemput orang." Kata Erwin sambil tersenyum. Tampaknya setelah tidak harus berpura-pura miskin lagi, penampilan Susi juga kembali seperti yang seharusnya dimiliki seorang istri kaya raya.
"Ibumu ini dulunya seorang wanita super cantik, pria yang mengejarku itu antri dari timur sampai barat kota." Jawab Susi dengan sedikit bercanda.
"Kali ini rencana ibu tinggal berapa lama di sini?" Erwin membukakan pintu untuk Susi dan menurunkan barang bawaannya.
"Aku akan pergi setelah tinggal dua hari. Ayahmu menyerahkan seluruh urusan dalam negeri padaku, sedangkan dia sendiri pergi untuk urusan luar negeri, jadi sekarang aku sangat sibuk." Susi melirik Villa Mahkota yang mewah dan mengangguk puas.
"Hanya dua hari? Mau kutemani bersenang-senang di Kota Bandung ini?" Erwin menuangkan segelas air untuk ibunya sesampai di vila, kemudian menyuruh Anita untuk menyiapkan makanan.
"Aku tidak punya waktu untuk bersenang-senang! Situasi dalam negeri sangat berantakan sekarang, jangan hanya lihat sisi keluarga Smith kita yang kaya raya saja, tapi sebenarnya banyak orang yang mengincar dan diam-diam ingin menjatuhkan kita. Kedatanganku kali ini untuk beritahu tentang kontrak pernikahanmu dengan Jocelyn."
Kata Susi sembari duduk di sofa dan menyesap air dengan santai.
“Kontrak pernikahanku dengan Jocelyn?” Erwin menjadi tegang dan langsung bertanya dengan ragu, "Ada apa dengan kontraknya? Ada yang tidak beres?"
"Memang ada yang tidak beres, Tuan Besar Keluarga Taylor menghilang sejak tanggal 5 bulan lalu. Sekarang Keluarga Taylor berada dalam situasi tak punya pemimpin, jadi ketiga putranya saling melawan untuk merebut kekuasaan dan konflik internalnya sangat serius. Jika ini terus berlanjut, keluarga Taylor mungkin akan berakhir terbagi menjadi tiga."
Kata Susi sambil mengerutkan kening, jelas dia tidak ingin Keluarga Taylor terbagi menjadi tiga dan sedang merasa pusing tentang masalah ini.
"Tuan Besar Keluarga Taylor menghilang? Kenapa bisa tiba-tiba menghilang? Dan apa hubungannya dengan kontrak pernikahanku dengan Jocelyn?" Erwin bertanya dengan ekspresi bingung.
"Karena menghilangnya Tuan Besar Taylor, Keluarga Taylor tak punya pemimpin, jadi ayah Jocelyn, Naufal Taylor, bermaksud mengumumkan kontrak pernikahan Jocelyn secara umum. Dengan adanya dukungan dari Keluarga Smith kita, reputasinya bisa mengalahkan kedua saudaranya dan untuk sementara berhak mengambil alih posisi sebagai CEO Taylor."
Ibu Susi melanjutkan setelah meminum seteguk air.
"Sebenarnya, ini juga kemauan kakekmu, Keluarga Taylor yang terbelah tidak ada keuntungannya bagi Keluarga Smith kita. Satu-satunya solusi masalah ini adalah pengambilan alih posisi pemimpin oleh Naufal secepat mungkin dan menghentikan pertikaian internal keluarga, itu adalah pilihan terbaik mau itu bagi Keluarga Taylor ataupun Keluarga Smith kita."
Erwin akhirnya mengerti mengumumkan kontrak pernikahan ternyata bertujuan untuk memperkuat hak bersuara ayah Jocelyn dalam Keluarga Taylor, sehingga bisa mengambil alih posisi CEO lebih awal.
“Lalu kapan akan diumumkan?” Erwin bertanya dengan tak berdaya.
__ADS_1
"Bulan depan! Beritanya akan langsung diumumkan setelah konser Jocelyn selesai," jawab Susi tanpa sadar.
“Setelah konser selesai?” Erwin mengerutkan kening, merasa bahwa kejadian ini ada hubungannya dengan penculikan Jocelyn. Kemungkinan besar tujuan penculikan Jocelyn adalah untuk mencegah pengumuman tersebut.
Dengan kata lain, seseorang ingin mencegah Naufal mengambil alih Keluarga Taylor.
Erwin terkejut begitu memikirkan hal ini, ternyata memang ada rencana tersembunyi di dalamnya! Memang benar, semakin besar sebuah keluarga, maka konflik internal akan semakin sengit dan sedikit tidak hati-hati saja bisa berakhir kehilangan segalanya.
Erwin tidak memberitahu Susi bahwa seseorang akan menculik Jocelyn pada hari konsernya. Alasan pertama karena takut ibunya akan langsung bertindak untuk menekan Keluarga Gibson, yang akan lebih awal membuat pihak Keluarga Gibson meningkatkan kewaspadaan, alasan kedua karena dia khawatir berita itu palsu, jadi lebih baik mengandalkan kekuatannya sendiri untuk menyelesaikan masalah ini.
"Aku cukup menyukai Jocelyn, bukan hanya jago bernyanyi tapi juga cantik, yang lebih penting lagi dia tidak sulit diatur dan keras kepala seperti anak orang kaya lainnya." Susi terus memuji dan tampaknya menyukai Jocelyn.
"Bu, apa pengumumannya bisa ditunda?" Erwin bertanya dengan berani, dia berencana untuk membatalkan pernikahannya suatu hari nanti, jika diumumkan secepat itu, maka akan lebih sulit lagi untuk dibatalkan kedepannya!
"Dalam kondisi seperti ini, menunda satu hari saja pengumumannya akan sangat memberatkan Keluarga Taylor, Keluarga kita bisa menunggu tapi tidak dengan Keluarga Taylor." Jawab Susi dengan sangat rasional.
“Lalu gimana kalau aku bisa menemukan Tuan Besar Taylor?” Kata Erwin setelah berpikir sejenak, dia merasa bahwa hilangnya Tuan Besar Taylor mungkin juga berhubungan dengan Keluarga Gibson.
“Kamu bisa menemukan Tuan Besar Taylor?” Susi menatap dengan serius, pemikirannya tiba-tiba berubah, dia tampaknya mengetahui sesuatu dan berkata sambil tersenyum, "Kenapa seberusaha itu untuk menunda pengumumannya? Bilang saja, demi siapa ini? Gadis bernama Lina itu?"
Erwin tidak pernah menyangka ibunya bahkan tahu tentang Lina, tapi segera merasa lega kembali, justru aneh jika orang tuanya yang berkuasa bahkan tidak tahu hal yang telah diperbuat oleh Erwin.
"Bukannya ini demi Keluarga Taylor? Lagi pula, Tuan Taylor belum mati, tapi para putranya justru sibuk merebut posisi, itu jelas tidak sehat!"
"Alasanmu masuk akal, sepertinya kamu memang sangat menyukai Lina itu," kata Susi dan mengambil segelas air untuk diminum, kemudian bersandar di sofa dan memikirkannya dengan serius.
"Aku juga sudah membaca informasi yang disampaikan dari para bawahan. Gadis bernama Lina ini cukup baik, tapi sepertinya tidak realistis kalau kamu ingin menikahinya, bukan hanya Keluarga Taylor yang akan keberatan, kakek dan ayahmu juga akan begitu.”
"Keluarga Smith kita memang luar biasa berkuasa sekarang, tapi Keluarga Taylor juga tidak buruk, mereka itu berada di peringkat keluarga terkaya kesembilan dalam negeri ini. Ditambah dengan dukungan kekuatan misterius dibalik layar, jadi kalau mereka serius ingin menjatuhkan kita, setidaknya industri kita dalam negeri ini akan kurang sampai tersisa 30% saja."
Susi berhenti sejenak, lalu berkata dengan cukup serius.
"Kamu seharusnya tidak ingin melihat situasi di mana kedua belah pihak saling menyakiti, 'kan?"
Erwin menghela nafas, dia tahu situasi akan berakhir seperti ini.
"Lebih baik kamu cari kesempatan untuk putus dengannya secepat mungkin! Kusarankan sebelum kontrak pernikahannya diumumkan. Tentu saja aku akan memberinya kompensasi yang layak." Ujar Susi setelah berpikir sejenak.
__ADS_1
“Bu, gimana kalau aku mengajakmu menemui Lina? Setelah bertemu langsung ibu pasti akan suka juga.” Erwin tidak ingin menyerah begitu cepat dan memilih untuk berjuang.
“Aku punya pendapat sendiri tentang masalah ini, ayo makan dulu.” Susi berdiri dan sengaja tidak ingin membicarakan masalah ini lagi.
Erwin menghela nafas, tapi pantang menyerah karena dia telah memutuskan untuk menemukan Tuan Besar Taylor sebelum pengumuman diumumkan demi penundaan pernikahan, jika tidak, identitasnya pasti akan terungkap begitu beritanya menyebar.
Lina juga pasti akan terpukul dan kaget jika tahu dia sudah bertunangan dengan Jocelyn.
Siang hari berikutnya, di Jalan Pusat Perbelanjaan kota, sebuah mobil mewah yang terparkir di depan ternyata milik ibu Erwin, Susi. Hari ini, dia mengenakan pakaian sederhana seperti tante-tante yang keluar dari pedesaan.
Melalui jendela mobil, dia melihat dua gadis cantik yang sedang berbelanja di area pejalan kaki sambil dibandingkan dengan foto, kemudian tiba-tiba tidak bisa menahan rasa kagum.
"Cantik sekali, tak heran anakku begitu tergila-gila sampai mau batalkan pernikahannya."
Memikirkan hal ini, dia keluar dari mobil setelah parkir, kedatangannya kali ini untuk mencari Lina tanpa memberitahu Erwin, tapi tujuannya bukan untuk memisahkan, melainkan untuk menguji.
Tidak peduli seberapa cantiknya seseorang, jika hatinya busuk dan tidak tahu diri, maka Susi akan membuat Lina ini meninggalkan putranya apapun yang terjadi, tapi dia akan mempertimbangkannya lagi jika sebaliknya.
Kedua gadis cantik yang sedang belanja itu adalah Lina dan Fiona, mereka masing-masing memegang segelas teh susu di tangan, minum teh susu sambil belanja dan menjalani kehidupan yang sangat santai.
"Lina, kudengar Tuan Muda Smith itu muncul di pelelangan distrik baru, kalau tahu aku pasti akan berusaha untuk ikut hadir di sana." Kata Fiona dengan ekspresi menyesal.
"Ternyata kamu masih memikirkan Tuan Muda itu, kudengar banyak gadis yang mengejarnya, kamu mungkin akan terdorong sampai jatuh lagi di kerumunan kalau ke sana." Lina tanpa sadar mengingatkan.
“Baguslah, kalau begitu Tuan Muda Smith bisa memperhatikanku dan bisa jadi datang membantuku lagi, 'kan?” Fiona teringat dengan kejadian adegan di Jade Private Club lagi sehingga pipinya langsung memerah.
"Kamu suka Tuan Muda Smith? Apa kamu tak merasa dia itu terlalu jauh untuk digapai?" Lina bertanya dengan tak berdaya setelah minum seteguk teh susu.
"Dia itu bagaikan pangeran berkuda putih bagiku! Kudengar dia mewakili Perusahaan Investasi Erlin, apa aku punya kesempatan bertemu dengannya kalau bekerja di perusahaan itu?" Kata Fiona dengan mata berbinar.
Melihat Fiona yang tergila-gila, Lina hanya bisa menghela nafas tak berdaya.
Ketika berjalan sambil mengobrol sejenak, tiba-tiba mereka menemukan seorang wanita tua yang pingsan di pinggir jalan, orang-orang yang berlalu lalang takut dan mengelak semua.
“Fiona, ada yang pingsan, ayo kita ke sana!” Lina buru-buru ingin ke sana, tapi ditahan oleh Fiona.
"Jangan mau dibodohi, gimana kalau kita dituduh nanti? Aku sudah lihat berita beberapa hari yang lalu, tentang seorang mahasiswa baik hati yang membantu seorang lelaki tua dan mengantarnya ke rumah sakit, tapi lelaki tua itu justru menuduh mahasiswa itu begitu bangun dan membuatnya hampir kehilangan segalanya karena ganti rugi.”
__ADS_1
Fiona buru-buru menghentikan Lina, melihat tidak ada CCTV di tempat wanita tua itu jatuh, dia bahkan lebih tidak mau membantu sama sekali.
“Tidak mungkin kita tinggalkan begitu saja!” Lina berkata sambil berlari ke arah wanita tua itu, sedangkan Fiona tidak punya pilihan selain mengikuti, "Kamu ini keras kepala sekali."