
Mansion Keluarga Gibson di Kota Santa kedatangan tamu dari markas Keluarga Gibson saat ini. Tamu tersebut bernama Abian, memiliki tubuh yang tinggi dan tegak, wajah persegi dan mata tajam, dengan aura yang sangat mengesankan, dia adalah sebuah sosok yang penting di markas Perusahaan Gibson.
Yang berdiri di belakangnya adalah dua pengawal dengan pakaian ketat berwarna hitam, mereka berotot dan memiliki mata yang tegas, dapat dilihat bukanlah pengawal biasa, melainkan master yang terlatih.
Abian berdiri di depan Clovis dan Yanto, yang membuat mereka berdua terlihat sangat gugup, Clovis bahkan sampai gemetar ketakutan.
"Clovis, sebagai penanggung jawab Perusahaan Gibson di Kota Santa, empat tahanan penting yang merupakan tanggung jawabmu telah berhasil kabur, ditambah misi penangkapan Jocelyn juga gagal, ada penjelasan untuk kesalahan besar seperti itu?"
Mendengar itu, seluruh tubuh Clovis gemetaran.
"Kumohon beri aku satu kesempatan lagi, aku jamin pasti akan kutuntaskan semuanya."
Wajah Clovis memucat, hatinya ketakutan sekaligus gelisah, dia tahu bahwa begitu dilantarkan oleh markas, maka hanya ada satu akhir untuknya, yaitu kematian.
“Kau pikir masih ada kesempatan?” Begitu Abian selesai berbicara, noda darah merah tiba-tiba mengalir keluar dari leher Clovis, dan seorang pengawal berbaju hitam menjilat noda darah yang ada di belatinya.
Yanto yang melihat ini gemetar hebat, kecepatan pengawal berbaju hitam itu terlalu cepat, dan merupakan sesuatu yang belum pernah dilihat Yanto sebelumnya.
Tubuh Clovis tumbang begitu saja dan benar-benar tidak bernapas lagi.
Sangat memalukan bahwa Clovis yang telah menjadi CEO Draco Group selama puluhan tahun, meninggal begitu saja.
“Aku akan ambil alih Draco Group mulai saat ini, Yanto, jadilah asistenku!” Abian duduk di sofa empuk dan menatap Yanto.
"Merupakan kehormatan bagiku untuk melayani CEO Abian." Yanto buru-buru mengungkapkan kesetiaannya. Abian ini tampak seperti orang yang kejam, yang beberapa kali lipat lebih dapat diandalkan daripada Clovis yang lemah, dan dua pengawal berpakaian hitam yang dibawanya itu juga jelas sangat kuat.
“Sudah cari lokasi Jocelyn?” Abian terus bertanya.
"Belum ada kabar tentang dia sejak konser kemarin, seharusnya sedang bersembunyi di suatu tempat, tetapi aku tahu dia akan syuting musim kedua 'Wilderness Life' di sebuah pulau terpencil di luar Kota Santa minggu depan, dan syutingnya akan berlangsung selama setengah bulan, kita bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk menangkapnya lagi."
__ADS_1
Yanto diam-diam menyeka keringat saat menjawab, untungnya, dia sudah menemukan beberapa petunjuk sebelumnya, kalau tidak, dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi CEO baru ini.
"Baiklah, kali ini kuingin kau turun tangan secara langsung, sedangkan untuk tenaga kerja, akan kukirim tim Black Hawk, kau seharusnya tahu konsekuensinya kalau gagal lagi," kata Abian dengan dingin.
"Dimengerti, akan selesaikan tugas ini," jawab Yanto sambil menelan seteguk ludah.
"Bagus, pergilah." Abian mengangguk puas.
Pada saat yang sama, Jocelyn dalam perjalanan ke South Dragon Bay dengan mengenakan masker dan kacamata hitam, South Dragon Bay merupakan objek wisata di selatan kota, Jocelyn akan syuting iklan sebuah merek terkenal yang telah diatur sebelum konser di sana, biaya kompensasi dan pembayarannya endormentnya sangat besar, sehingga harus pergi syuting.
Erwin otomatis akan ikut, orang-orang dari Keluarga Gibson sedang mencari Jocelyn ke mana-mana saat ini, Jocelyn pasti akan diculik kalau tidak dilindungi dengan ketat.
"Kak Ametta duduk di kursi sebelah pengemudi saja, biar aku dan Jocelyn yang duduk di belakang, kalau sesuatu terjadi, aku bisa melindungi Jocelyn secepat mungkin," kata Erwin kepada Ametta setelah Jocelyn masuk ke dalam mobil.
"Oke, akan kulakukan, tetapi jangan coba-coba manfaatkan alasan melindungi Jocelyn untuk mendekatinya."
Ametta tanpa sadar mengingatkan, dikarenakan dalam beberapa hari ini Erwin telah menggunakan alasan melindungi Jocelyn untuk mendekatinya, yang membuat Ametta merasa sangat tidak nyaman, dan yang lebih penting lagi adalah Jocelyn tidak menolak sama sekali, bahkan berpikir bahwa perlindungan pribadi memang seperti ini.
Semenjak malam konser kemarin, setelah Erwin berusaha untuk menyelamatkannya, kesan Erwin dalam pandangan Jocelyn menjadi cukup baik. Selain itu, Erwin juga menyelamatkan kakeknya dan menstabilkan situasi Keluarga Taylor, yang membuat Jocelyn merasa kagum pada Erwin, hanya saja Jocelyn sendiri tidak sadar akan perasaan itu.
"Ayo pergi." Erwin menggelengkan kepalanya, jika punya niat seperti itu, dia pasti sudah mengungkapkan identitasnya. Dengan status sebagai tunangan, bukankah dia bisa lebih dekat dengan Jocelyn? Bahkan bisa berbagi ranjang yang sama sekalipun.
South Dragon Bay adalah tempat wisata terkenal di selatan Kota Santa. Selain banyak turis, ada juga berbagai selebriti yang merekam video, bahkan sepasangan suami istri juga datang untuk mengambil foto pernikahan di sini, yang membuktikan pemandangan di sini memang sangat indah.
Ini adalah properti pariwisata di bawah pimpinan perusahaan Keluarga Caspian, yang sebenarnya adalah milik Keluarga Smith, hanya saja karena dikelola oleh Darius.
Setelah mobil berhenti, Jocelyn keluar dari mobil di bawah perlindungan Erwin. Pintu masuk South Dragon Bay sangat ramai, tetapi untungnya, Jocelyn mengenakan masker dan kacamata hitam, sehingga tidak ada yang mengenalinya.
"Ayo masuk, Sutradara Adtiya bilang sudah nunggu kita di lereng kedua." Ametta juga mengenakan masker dan kacamata hitam, paparazzi zaman sekarang sudah tidak hanya mengincar selebriti sendiri saja, tetapi juga manajernya.
__ADS_1
Saat mereka bertiga masuk bersama, Erwin melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada yang aneh, lalu lanjut berjalan menuju South Dragon Bay.
Sepanjang jalan banyak orang yang mengagumi keindahan dari pemandangan dan air sungai yang sangat jernih, bahkan banyak wisatawan yang langsung meminum air sungai tersebut.
Setelah berjalan lebih dari setengah jam, akhirnya mereka tiba di lereng kedua, di mana sudah ada kru yang menunggu, kru syuting komersial ini sudah cukup besar karena terdiri dari sepuluh orang, kru sejenis ini pada umumnya hanya lima sampai enam orang saja.
Tetapi begitu mereka tiba, ada seorang pria kaya dengan kemeja berbunga-bunga dan berkacamata hitam, yang berjalan menuju Jocelyn sambil membawa sebuah karangan bunga.
"Jocelyn, kamu akhirnya tiba juga, aku sudah lama menunggumu di sini," kata pria itu.
“Carel Cassanova, kenapa kamu bisa tahu aku syuting iklan di sini?!” Jocelyn sangat terkejut karena keberadaannya baru-baru ini sangat dirahasiakan, dan hanya sedikit orang yang tahu dia akan datang ke sini untuk syuting iklan.
"Itu gampang, keluargaku pemegang saham di perusahaan merek Disya ini, dan aku yang merekomendasi mereka untuk mencarimu." Carel tersenyum.
“Oh, kalau begitu aku tak jadi syuting.” Jocelyn sangat marah, ternyata semua ini telah direncanakan oleh Carel, tak heran penawarannya hampir mencapai 40 miliar untuk syuting ini.
Jocelyn sangat tahu karakter Carel ini, yang sering mendekati aktris populer dan berbuat sesuka hati, jadi kali ini tujuannya sudah jelas.
"Tak masalah, tetapi kamu harus bayar ganti rugi sebesar 400 miliar, kusaran pikirkan baik-baik," kata Carel dengan senyum di sudut mulutnya, tampak sangat yakin bisa menjebak Jocelyn.
Iklan komersial untuk merek Disya ini perlu syuting bukan sejenis syuting yang bisa diselesaikan dalam satu kali, jadi di tengah-tengah ini, Carel dapat menggunakan iklan tersebut sebagai alasan untuk mendekati Jocelyn.
"Carel, dasar tidak tahu malu!" Jocelyn gemetar karena marah.
“Aku hanya mengundangmu untuk syuting iklan, aku salah apa?” kata Carel sambil mengangkat bahunya.
"Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan?" Jocelyn berada dalam dilema sekarang, melanjutkan syuting iklan akan dilecehkan oleh Carel, tetapi kalau tolak harus bayar ganti rugi sebesar 400 miliar rupiah.
Tepat ketika Jocelyn sedang kebingungan, Erwin tiba-tiba muncul dan berkata dengan enteng.
__ADS_1
"Jocelyn, lanjut syuting saja, tidak ada yang perlu ditakutkan, lagi pula Keluarga Cassanova tidak akan jadi pemegang saham perusahaan merek Disya sebentar lagi, dan Carel juga tidak akan punya alasan lain lagi."