
Erwin tidak menyangka orang-orang Keluarga Graham akan menyewa petinju hitam untuk berurusan dengannya, yang membuatnya merasa marah sekaligus lucu, karena masing-masing petinju hitam ini digaji olehnya, dan langkah selanjutnya dari Erwin adalah membiarkan para petinju hitam ini berlatih di Balai Seni Bela Diri Pencak Silat.
“Kalian datangnya kebetulan sekali, kepung orang-orang Keluarga Graham ini.” Erwin menunjuk Farel dan Chris sambil berkata dengan dingin kepada petinju hitam, karena orang-orang keluarga Graham berani menghabiskan uang untuk berurusan dengannya, maka Erwin juga akan melakukan hal yang sama tanpa segan-segan.
"Baik Tuan Erwin." Setelah keempat petinju hitam itu mengangguk setuju, mereka dengan cepat mengepung Farel dan Chris.
Hal ini membuat Farel dan Chris ketakutan.
“Aku yang bayar kalian buat hajar orang itu, kenapa malah ke aku? Mau memberontak ya?!" Farel menggelengkan wajahnya yang gemuk dan berteriak dengan gugup.
"Maaf, kami tak mampu terima uang ini." Salah satu petinju hitam melempar kembali kartu bank kepada Farel dengan ekspresi tidak terima.
Ini membuat ekspresi Farel terlihat berubah total.
"Oke, hebat kalian satu-satu! Aku ini tuan muda Keluarga Graham Kota Santa, kau justru mau lihat siapa yang berani menyentuhku? Jangan macam-macam kalau masih sayang nyawa." Farel berteriak lagi, ingin menggunakan keluarganya untuk mengancam.
Namun, Erwin tak terpengaruh sama sekali, dan berkata dengan tegas,
"Kalau begitu patahkan saja kaki mereka."
Begitu kata-kata ini keluar, keempat petinju hitam itu bergegas maju, yang langsung menakuti Farel dan yang lainnya hingga kabur dengan tergesa-gesa, tapi sebelum sempat lari jauh, mereka sudah tertangkap, dan dipatahkan kaki masing-masing.
Tiba-tiba, teriakan terdengar satu per satu, dan Erwin mengangguk puas.
“Anggap kalian kejam kali ini! Jangan senang dulu, kami akan membalas dendam.” Chris menahan rasa sakit sambil berteriak kasar karena tidak puas.
Ekspresi Erwin berubah saat melirik dan menyadari orang yang berbicara adalah pria yang ingin mempermainkan Giselle, kemudian berkata dengan tegas,
"Patahkan saja kedua kaki pria ini."
Begitu kata-kata itu keluar, seorang petinju hitam berjalan maju, meraih kaki Chris yang satunya lagi dan mematahkannya tanpa ampun, Chris kesakitan hingga menjerit beberapa kali dan pada akhirnya pingsan.
Karena adegan tersebut, Farel yang melihat itu langsung ketakutan, diam-diam merasa Erwin ini sungguh kejam sekali.
Sangking takutnya sampai tidak berani berbicara lagi, karena begitu menyinggung lagi, nyawa mereka saja mungkin akan jadi taruhan, oleh karena itu mereka hanya bisa diam-diam berpikir dalam hati rencana untuk membalas dendam setelah ini.
"Ingat, kalau berani provokasi lagi, masalahnya tidak akan selesai semudah patah kaki." Setelah dengan serius memperingatkan mereka, Erwin pergi bersama Giselle.
__ADS_1
Setelah duduk di dalam mobil, ketakutan di hati Giselle masih tersisa, untungnya yang mereka sewa itu para petinju hitam, jika tidak, dia dan Erwin pasti sudah tamat riwayat.
“Erwin, gimana kalau mereka balas dendam nanti? Bagaimanapun, mereka itu dari Keluarga Graham Kota Santa.” Giselle tampak khawatir.
“Tenang aja, selama ada aku di sini, jangan takut!” Erwin mengangkat sudut mulut dan menghibur sambil menyetir, jangankan keluarga besar dengan kekayaan ratusan triliun, bahkan keluarga besar ribuan triliun sekalipun Erwin juga tidak takut!
Dengan adanya kata-kata itu, hati Giselle yang gelisah tiba-tiba menjadi tenang, seolah selama Erwin ada di sini dia tidak takut lagi.
Ketika kembali ke Distrik Villa Fancy Garden, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Nora masih sedang siaran langsung di kamarnya sendiri, baru-baru ini Nora sedang bekerja sangat keras, jadi mau itu penggemar video pendek atau penggemar di siaran langsung telah meningkat secara signifikan, dan bisa dikatakan cukup terkenal di internet.
“Nora masih sedang siaran langsung, jadi kita pelankan suara." Ketika masuk, Giselle mengingatkan Erwin dengan suara rendah.
“Gadis itu bekerja sekeras itu baru-baru ini?” Erwin melihat jam tanpa sadar yang sudah menunjuk pukul sebelas lewat dan merasa terkejut.
"Iya baru-baru ini dia semangat ekstra, pagi-pagi sudah ke perusahaan dan malamnya sering begadang untuk siaran langsung, seolah penuh semangat karena sesuatu." Giselle menuangkan segelas air dan melanjutkan setelah duduk.
"Kuncinya tiap kali kutanya, dia selalu tak mau beritahu, dan tampak sangat khawatir setiap hari baru-baru ini! Beneran berbeda sekali dengan Nora dulu yang selalu ceria, bahkan pergi ke tempat dansa favoritnya saja dia tidak mau."
“Sepertinya menang ada yang tidak beres.” Erwin mengerutkan kening, gadis ini tidak seperti biasanya, pasti ada sesuatu yang terjadi! Begitu memikirkan itu, Erwin berkata pada Giselle.
Giselle mengangguk, menguap, dan pergi mandi sebelum tidur.
Sedangkan Erwin duduk di sofa sambil mengeluarkan ponsel dan memasuki ruang siaran langsung Nora, Nora yang ada di siaran langsung masih terlihat seperti biasa, mengobrol dengan semua orang dengan sangat terbuka, dan sesekali bernyanyi!
Erwin ingin mengobrol secara langsung dengan Nora, tapi ketika berpikir bahwa Giselle saja tidak diberitahu, apalagi dirinya, lagipula kesan Erwin sudah buruk karena sering memaksanya melakukan pekerjaan rumah yang tidak diinginkannya.
Memikirkan hal ini, Erwin sawer 2 miliar sekaligus di ruang siaran langsung Nora.
Berpikir untuk mencoba berkomunikasi dengannya melalui Internet untuk membantu.
Bagi Erwin, 2 miliar itu hanya uang kecil, namun di siaran langsung, sawer uang sebanyak itu sudah termasuk orang kaya di antara orang-orang kaya.
Tak lama kemudian, puluhan ribu pemirsa di ruang siaran langsung langsung heboh, Nora bahkan lebih terkejut sekaligus senang, penggemar nomor satu yang sudah lama tidak muncul sekarang datang mendukung lagi.
Erwin tidak terlalu memperhatikan layar yang penuh pujian, karena tujuan tindakan ini hanya untuk menarik perhatian dan menciptakan kesan baik untuk Nora, dan menjadi pijakan untuk obrolan berikutnya.
__ADS_1
Setelah sawer, Erwin mengklik obrolan pribadi dengan Nora di halaman seluler, dan mengetik.
"Lama tidak bertemu, gimana kabarnya? Kulihat kau sepertinya sedang sedih, sedang ada masalah apa?bilang saja, mana tahu aku bisa bantu."
Erwin bertanya langsung ke intinya, dan setelah mengirim pesan tersebut, sisanya hanya menunggu jawaban dari Nora.
Untungnya, Nora dengan cepat membalas obrolan pribadi Erwin.
"Lama tidak bertemu! Memang ada sedikit masalah baru-baru ini, tetapi itu mustahil bisa dibantu."
"Aku ini bisa melakukan apa saja, sejauh ini tak ada yang tak bisa kuselesaikan, selama kau buka mulut, aku pasti akan bantu." Erwin mencoba mengobrol dengannya dengan percakapan yang lebih santai, sehingga bisa menurunkan kewaspadaan Nora.
Kali ini Nora ragu-ragu untuk waktu yang lama sebelum mengetik balasan.
"Aku mungkin tak bisa lanjut siaran langsung lagi kedepannya! Tak bisa menjadi bintang lagi."
Ada jejak keengganan dan kehilangan yang tersirat dalam kata-kata itu.
Melihat ini, Erwin mengerutkan kening, sepertinya Nora ini memang alam masalah, kemudian mengetik lagi,
"Kalau ada yang mengganggu pikiranmu langsung bilang sana, perlakukan aku sebagai orang yang bisa diajak bicara."
Nora ragu-ragu untuk waktu yang lama sebelum mengetik balasan.
"Rantai dana perusahaan ayahku di Kota Santa sebentar lagi akan putus, jadi aku dijodohkan dengan anak keluarga Florenza di Kota Santa sebagai syarat pertukaran pernikahan dengan modal investasi, mungkin bulan depan aku tak bisa siaran langsung lagi."
Mungkin Nora memang mau mencari tempat untuk curhat, dan Erwin di Internet adalah orang terbaik untuk diajak bicara, dia tidak perlu bersikap waspada secara psikologis, dan tidak perlu takut teman-temannya akan menertawakannya.
Erwin tertegun untuk sementara waktu, Nora ternyata memang dalam masalah, terlebih lagi masalah yang sebesar ini, tapi segala sesuatu yang dapat diselesaikan dengan uang bukanlah masalah besar bagi Erwin, jadi Erwin mengetik balasan,
"Dana itu hanya masalah kecil, aku ada kenalan perusahaan investasi, jadi bisa perkenalkan pada ayahmu, seharusnya kau tak perlu khawatir tentang dana perusahaan lagi di masa depan."
“Serius? Tapi perusahaan ayahku setidaknya butuh 10 triliun, ini serius bisa?” Nora yang polos tampaknya percaya dengan kata-kata Erwin, atau dengan kata lain, Erwin yang di Internet sudah menyawer uang sebanyak itu, jadi membuatnya memiliki rasa percaya pada Erwin.
“Tidak masalah, 40 triliun juga.” Erwin menjawab dengan santai, karena kebetulan Perusahaan Investasi Erlin sedang bersiap untuk berkembang secara meluas, dan pilihan kota ekspansi pertama yang terbaik adalah Kota Santa, Erwin juga berencana untuk menargetkan kota Santa setelah masalah pembangunan distrik baru di utara kota selesai.
“Bagus, kamu bisa datang ke Kota Bandung lusa nanti? Aku mau bertemu denganmu, sekalian bantu aku urus seseorang!” Nora menjawab dengan gembira.
__ADS_1
"Tak masalah." Erwin ragu-ragu untuk sementara waktu, tapi tetap setuju.
Sedangkan masalah pengungkapan identitas pada pertemuan itu nanti, Erwin masih merasa harus mengenakan topeng dan mengubah identitasnya, agar Nora bisa lebih terima.