
Erwin dengan cepat kembali ke perusahaan dengan kontraknya, dan Faira, yaitu asistennya buru-buru mengetuk pintu dan masuk,
“Bos, sutradara sudah mendesak, kapan kita akan mulai pergi ke lokasi syuting.” Faira tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Tunda dulu hari syutingnya sehari, aku masih punya masalah penting yang harus kuurus hari ini, ngomong-ngomong, ini kontrak dengan Jocelyn, cepat pergi atur dan kirim naskah edisi terbaru Wilderness Life ke emailnya," ujar Erwin sambil menyerahkan kontrak tersebut kepada Faira.
Faira langsung membuka mulut dengan ekspresi terkejut.
"Tunggu, Jocelyn si bintang penyanyi terkenal itu? Bos beneran berhasil tandatangan kontrak dengan Jocelyn yang itu?"
Faira merasa sulit percaya, Jocelyn ini biasanya hanya nyanyi saja dan tidak pernah mau syuting film, apalagi ikut acara seperti ini, tentu dia tak nyangka bosnya bisa berhasil tandatangan kontrak dengan Jocelyn, kalau berita resmi ini dipublikasikan, musim terbaru Wilderness Life pasti akan menjadi topik pembicaraan orang-orang.
Faira mengambil kontrak itu dan membaca lagi, ternyata memang benar ada tanda tangan Jocelyn di atasnya, yang mengejutkan sekaligus membuatnya senang, dan pada saat yang sama juga semakin mengagumi Erwin.
Setelah Erwin menyerahkan kontrak kepada Faira, dia segera meninggalkan perusahaan, karena dia harus bertemu seseorang sekarang juga, bertemu dengan orang yang disebut dalam pesan yang dikirim Damon tadi malam.
Namun, sebelum pergi ke tempat janji temu, Erwin memutuskan untuk kembali ke Villa Mahkota dulu dna membawa Lisa pergi bersamanya untuk jaga-jaga, bagaimanapun, orang yang akan dia temui ini adalah orang organisasi jahat di barat kota, dan punya banyak di bawahan juga.
Kalau orang tersebut tak memandang Damon yang ada di balik layar, dengan adanya Lisa di sisinya, dia masih punya peluang untuk melindungi diri.
Di Magma Bar barat kota, sekarang masih awal, jadi pada dasarnya tidak ada pelanggan di sini.
Erwin dan Lisa tiba di sini dengan cepat, setelah masuk, seorang pelayan cantik datang dan berkata dengan nada meminta maaf,
"Maaf Tuan, kami sedang tutup sekarang, silakan datang malam nanti."
“Aku mau cari Boy Raymond, bilang sama dia kalau Tuan Muda Smith datang mencarinya,” kata Erwin dengan ringan
“Baik, tolong tunggu sebentar.” Wanita muda itu memandang Erwin dan Lisa dengan tatapan bingung, tapi tetap pergi mencari penanggung jawab dengan patuh.
Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya gemuk dan telinga besar berjalan keluar dari belakang panggung bar, begitu melihat Erwin, dia langsung buru-buru datang menyambut dengan semangat dan ramah,
"Tuan Erwin, Anda datang juga, nama saya Boy Raymond, orang-orang memanggilku Boy si gemuk, dan Tuan Damon sudah menceritakan semuanya pada saya, semuanya akan sesuai dengan perintah Tuan muda."
__ADS_1
“Mm.” Melihat tidak ada seorang pun di aula, Erwin bertanya dengan ringan setelah menemukan tempat untuk duduk. "Xavier mencarimu, kan?"
Damon sudah mengirim orang untuk mengawasi gerak-gerik Xavier. Tadi malam, ada mata-mata yang melihat Xavier datang mencari Boy ini di barat kota, jadi informasi ini segera diberitahukan kepada Damon, dan Damon juga langsung mengirim pesan kepada Erwin, sekaligus memperingatkan Boy, barulah adanya kejadian Erwin yang datang ke sini.
Itu sebabnya Erwin datang menemui Boy si gemuk ini.
“Ya, dia mencari saya kemarin.” Boy tidak berani menyembunyikan apapun, dan bahkan merasa sedikit gugup saat menjawab. Meskipun Erwin mungkin terlihat biasa-biasa saja, tapi belakangnya ada dukungan dari Damon, dan bahkan Damon sudah memperingatinya untuk tidak mengabaikan Tuan Muda Smith ini, kalau tidak, dia tidak akan dimaafkan.
“Untuk apa dia mencarimu?” Karena Erwin sudah mengatur mata-mata untuk mengawasi Xavier, otomatis dia ingin tahu rencana Xavier yang selanjutnya.
“Dia memberiku sejumlah uang dan ingin aku berurusan denganmu.” Setelah Boy mengatakan ini, dia melirik Erwin dengan gugup, jika Tuan muda ini tersinggung, konsekuensi yang diterimanya pasti tidak kecil.
Erwin tersenyum, sepertinya Xavier ini benar-benar ingin membalaskan dendam! Sayangnya di Kota Bandung ini, sangat tidak mungkin sekali bagi Tuan Muda Baxter dari ibukota ini untuk menyelesaikan masalah dengannya hanya dengan mengandalkan uang saja.
“Bagaimana cara dia berurusan denganku?” Erwin bukannya takut, tapi malah bertanya dengan penuh minat.
"Dia sepertinya punya saham di sebuah perusahaan bernama Synthetic Entertainment, dia sengaja memilih lokasi syuting yang sama dengan Anda, dan berencana untuk menyuruh saya membuat Anda cacat di pedalaman hutan sekaligus mengacaukan syutinganmu."
“Anak ini kayaknya beneran mau menyudutkanku.” Mata Erwin berubah jadi sedikit dingin.
Dia tidak terkejut karena Xavier bisa mengetahui identitasnya. Bagaimanapun, hal semacam ini dapat dilakukan dengan uang. Untungnya, identitas aslinya masih tersembunyi dengan baik, dan bukan merupakan suatu hal yang bisa digali hanya dengan uang saja.
Lokasi di mana Erwin dan yang lainnya syuting kali ini adalah Gunung Tambakruyung yang berjarak sepuluh kilometer dari tempat Erwin tinggal, Ini adalah hutan belantara yang nyata dan terpencil, sebagai produser, Erwin pasti harus ikut pergi ke sana, Xavier sudah memperkirakan Erwin akan ke sana juga, sehingga berencana menyewa organisasi jahat untuk membuat Erwin cacat di pedalaman hutan.
Ini jauh lebih aman daripada langsung mencari masalah di kota. Lagi pula, tidak ada CCTV di hutan, jadi bisa membuat kecelakaan tanpa diketahui.
“Karena aku udah datang ke hadapanmu sekarang apa kamu masih mau membuatku cacat?” Tanya Erwin untuk mengetes, kalau Boy ini benar-benar berani menyerang, Erwin tidak akan takut karena ada Lisa.
“Mana mungkin aku bersikap kasar pada Tuan Erwin." Boy terkejut, mana mungkin dia berani menyerang Erwin, jika Damon mengetahuinya, takutnya dia tak akan bisa melanjutkan organisasinya lagi besok.
Ditambah wanita yang ada di belakang Erwin, cukup dilihat saja sudah tahu kalau wanita itu berlatih seni bela diri, kalau beneran menyerang, dia mungkin bukan tandingan dari wanita itu sama sekali.
Meskipun Xavier adalah anak kaya dari keluarga Baxter di ibu kota, tapi di Kota Bandung ini, baik pemerintah maupun organisasi jahat tetap menghormati Damon, jadi tidak mungkin Boy berani menyinggung orang di bawah perlindungan Damon.
__ADS_1
“Kalau nggak berani, dengarkan aku.” Erwin sangat puas dengan sikapnya.
“Tuan Erwin, kalau ada keperluan, langsung bilang saja sama saya," jawab Boy.
"Kamu pura-pura setuju aja, lalu bawa lebih banyak orang ke sana, aku mau Xavier itu senang dulu, lalu kalian bertindak aja sesuai kondisinya nanti, begitu masalah ini selesai nanti, akan kukasih 6 miliar rupiah, karena aku tak akan membuat kalian melakukannya secara cuma-cuma." Erwin tersenyum sedikit.
Kali ini, Xavier adalah mangsa gemuk, yang punya lebih banyak aset daripada gabungan aset anak orang kaya yang pernah dihadapinya sebelumnya, tentu Erwin harus menggali sebanyak mungkin.
“Saya tak minta uang atau yang lainnya, saya cuman harap Tuan Erwin bisa sedikit memujiku di depan Tuan Damon." Boy sangat pintar, kalau dia berhasil menjalin hubungan baik dengan Tuan Damon, uang tentu akan datang dengan sendirinya bukan?
“Oke, kalau gitu aku pasti akan memujimu di depan Damon, agar kamu bisa dapat sedikit lebih banyak tempat lagi di barat kota.” Erwin cepat tanggap dengan apa yang diinginkan Boy ini.
“Kalau gitu terima kasih banyak Tuan Erwin.” Boy menjawab sambil tersenyum kali ini.
Apa yang organisasi jahat seperti mereka inginkan adalah tanah kekuasaan, semakin banyak tanah yang dikuasai, semakin banyak pula minyak dan air, yang berarti semakin banyak sumber penghasilan, ini adalah sesuatu yang Tuan Muda Baxter dari kota lain tidak bisa tawarkan.
Setelah menyelesaikan masalah dengan Boy, Erwin kembali ke perusahaan untuk mempersiapkan syuting di Gunung Tambakruyung besok.
Di sisi lain, Xavier sedang tinggal di kamar presidential Suite yang mewah, sambil memeluk dua wanita cantik, namun, masih ada memar di wajah tampannya yang masih belum sembuh akibat pukulan Erwin. Meskipun sudah dikasih obat, tapi sepertinya masih butuh beberapa hari agar bengkaknya bisa hilang total.
“Erwin ini, beraninya memukulku, aku pasti akan membuatmu cacat.” Wajah Xavier sangat kejam dan tidak puas, dia belum pernah dihajar seperti ini sejak kecil, dan dia bertekad untuk membalas rasa malu yang diterimanya ini.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering, dan Xavier mengangkatnya tanpa sadar.
“Tuan Muda Baxter, saya sudah siapkan bawahan saya, tinggal tunggu perintah dari Anda." Suara Boy terdengar dari telepon.
"Bagus, besok kamu hanya perlu pakai seragam Synthetic Entertainment dan menyamar jadi karyawan untuk pergi ke Gunung Tambakruyung bersamaku, begitu saatnya tiba nanti, cari kesempatan dan bereskan Erwin." Suasana hati Xavier ikut membaik setelah mendengar kabar baik ini.
“Dimengerti, Tuan Muda Baxter, akan saya laksanakan!” Boy menjawab dari sisi lain telepon.
Setelah Xavier menutup telepon, ekspresinya benar-benar sangat bangga dan sombong saat ini.
"Erwin, berani memukulku? Liat aja gimana aku menyiksamu nanti!"
__ADS_1