Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Sesuatu Telah Terjadi di Lokasi Konstruksi


__ADS_3

Setelah makan malam bersama di restoran berputar, Fiona membawa mereka berdua ke karaoke untuk nyanyi dan merayakan Erwin menjadi salah satu dari sepuluh anak muda teratas, mereka bertiga sangat bersenang-senang hari ini.


Saat sudah larut, Erwin baru mengantar Lina pulang, Lina sangat senang jadi minum sedikit anggur, wajah cantiknya memerah dan benar-benar terlihat cantik.


Setelah keluar dari mobil, langkahnya sedikit terhuyung-huyung, Erwin dengan cepat membantunya, Erwin dapat mencium aroma harum anggrek dari tubuh Lina yang  memabukkan.


"Erwin, mau tidur di rumahku aja malam ini? Orang tuaku lagi nggak ada di rumah," bisik Lina dengan wajahnya yang cantik memerah, tidak tahu karena mabuk atau punya tujuan yang lain.


"Paman dan Tante nggak ada di rumah?” Erwin terkejut kedua orang tua Lina tidak ada di rumah saat larut malam begini, ketika seorang gadis cantik seperti Lina mengatakan ini padanya, Erwin merasa gatal dan sulit mengendalikan diri.


“Ibuku mau jaga-jaga di lokasi konstruksi barat kota, ayahku khawatir dan ikut pergi, jadi mereka nggak pulang malam ini!” Lina berkata dengan kepala menunduk.


“Begitu ya?” Erwin tiba-tiba teringat dengan kejadian pagi tadi, Lucas bilang Mary akan pergi ke departemen yang terkait untuk menyelesaikan masalah pencurian bahan bangunan di lokasi konstruksi. Tampaknya mereka akan bertindak malam ini, tidak tahu apakah mereka bisa menyelesaikan masalahnya dengan lancar.


"Yah, aku takut tidur sendirian," kata Lina sedikit malu.


"Kalau gitu, aku temanin kamu aja." Erwin tiba-tiba menjadi gugup, Lina sudah kode keras seperti ini, mana mungkin dia masih tidak mengerti maksudnya.


“Yuk kita masuk." Lina bersandar pada Erwin, dan dengan bantuannya, mereka berdua berjalan masuk ke dalam vila.


Detak jantung mereka berdua bisa didengar satu sama lain, Lina menundukkan kepalanya dengan malu-malu dan tidak berani menatap Erwin, begitu juga dengan Erwin yang gugup dan menelan ludah.


Setelah Lina membuka pintu, Erwin membantunya masuk. Tidak ada seorangpun di rumah, sepertinya orang tua Lina memang keluar rumah malam ini.


Setelah menutup pintu, Lina menuangkan segelas air untuk Erwin dan berkata dengan malu-malu.


"Minum air dulu ya, aku mau mandi sebentar."


“Ya.” Erwin mengangguk dan berpura-pura tenang.


Lina dengan gugup jalan cepat ke kamar mandi, dan tak lama kemudian terdengar suara air yang mengalir di dalam kamar mandi.


Mendengarkan suara air yang mengalir itu, pikiran Erwin ke mana-mana, tapi dia menjadi tenang saat teringat kalau dirinya punya tunangan.


"Minum air buat nekan rasa kaget." Erwin buru-buru meminum segelas air di depannya dalam sekali tegukan, yang membuatnya merasa lebih baik.


Setengah jam kemudian, Lina keluar dari kamar mandi dengan handuk putih dengan rambut yang masih basah.


Penampilan Lina dengan tubuh sedikit basah membuat Erwin tertegun sejenak, dan ada sesuatu di bagian tubuh Erwin yang tidak bisa dikendalikan bergejolak.


“Erwin, aku mau keringkan rambut di kamar dulu ya, kamu boleh mandi juga.” Lina tersipu, menutupi dada dengan tangan dan berjalan cepat ke kamar sambil menundukkan kepala.


"Oh, oke." Erwin mengangguk kaget, merasa dirinya tidak bisa lagi menahan godaan seperti ini, tepat ketika dia sudah memutuskan untuk melakukannya dengan Lina nanti, Lina tiba-tiba berlari keluar dari kamar dengan panik, rambutnya juga masih dalam kondisi basah kuyup.


"Gawat Erwin, sesuatu terjadi pada orang tuaku di lokasi konstruksi, bawa aku ke sana."

__ADS_1


Saat berbicara, Lina serasa ingin segera lari keluar begitu saja, dapat dilihat Lina sangat khawatir saat ini.


“Jangan khawatir, kamu pakai baju dulu di kamarmu, aku akan tunggu di luar!” Ekspresi Erwin juga berubah, dan pikiran untuk melakukannya dengan Lina pun menghilang, sesuatu telah terjadi di lokasi konstruksi, barat kota itu wilayah Boy, seharusnya akan lebih mudah kalau meminta bantuannya nanti.


Setelah mendengarkan kata-kata Erwin, Lina baru sadar dirinya hanya memakai handuk mandi dan rambutnya masih sangat basah.


Jadi dia langsung berbalik dan kembali ke kamar untuk pakai baju.


Ketika Lina kembali ke kamar untuk berpakaian, Erwin langsung menelepon Boy, dan tak butuh waktu yang lama telepon terhubung.


"Boy, aku punya masalah mendesak untuk menemuimu sekarang, cepat bangun, bawa semua bawahanmu ke lokasi konstruksi Real Estate West Garden di barat kota dan tunggu aku di sana." Erwin tidak basa-basi lagi dan langsung menyuruh Boy membawa bawaannya ke lokasi konstruksi.


“Baik, Tuan Erwin, saya akan langsung bergerak!” Boy masih mengantuk, tapi mendengar nada bicara Erwin, dia tahu bahwa sesuatu yang gawat akan terjadi, jadi dia tidak berani menunda, segera bangun dan melaksanakan tugasnya.


Tidak sampai lima menit setelah menutup telepon, Lina keluar dari kamar dengan gaun tanpa mengeringkan rambutnya.


“Erwin, bawa aku ke lokasi konstruksi sekarang juga, aku khawatir kita akan terlambat.” Wajah cantik Lina penuh dengan kecemasan saat ini, dan matanya bahkan lebih tak berdaya.


"Oke." Erwin membawa Lina ke mobil, kemudian langsung pergi ke lokasi konstruksi Real Estat West Garden di barat kota.


Di sepanjang jalan, Lina gugup sekaligus khawatir sesuatu akan terjadi pada kedua orang tuanya, Erwin juga mencoba untuk menghiburnya.


Pada saat ini, ada banyak orang berkumpul di lokasi pembangunan Real Estate West Garden di barat kota, terdapat sekelompok orang yang masing-masing memegang batang besi di tangan, terlihat seperti para preman, kedua orang tua Lina juga ada di sana, wajah Lucas bahkan berdarah, yang tampaknya luka pukul.


Pagi ini, dia mengunjungi kepala departemen kepolisian dan memintanya untuk menangkap semua orang yang mencuri bahan bangunan sesuka hati, untuk alasan ini, Mary juga memberinya amplop berisi 200 juta, mereka telah sepakat, kepala departemen akan membawa orang ke sana untuk menangkap para pencuri.


Melihat bahwa kepala departemen telah setuju, Mary berpikir untuk tinggal di lokasi konstruksi malam ini, sehingga dapat dengan mudah memandu orang-orang dari departemen kepolisian untuk menangkap para perampok. Namun, setelah menunggu lama, orang-orang dari departemen kepolisian tidak datang, melainkan sekelompok perampok datang yang datang dan melukai Lucas, yang membuatnya sangat tidak berdaya.


“Para perampok ini mungkin diinstruksikan oleh seseorang, siapa yang sudah kamu singgung?” Meskipun kepala Lucas berdarah, tapi dia masih berpikir dengan jernih.


"Siapa yang bisa kusinggung? Demi proyek ini, aku udah berusaha pagi dan malam buat kasih hadiah buat orang-orang yang bersangkutan karena takut ada kesalahan, tapi sekarang kita malah ditargetkan."


Mary juga tenang saat ini, merasa bahwa para perampok ini mungki diinstruksikan oleh seseorang sebulan terakhir. Sekarang bahkan kepala departemen kepolisian berpura-pura tidak ada yang terjadi, sudah jelas ada dalang yang mengendalikan dibalik semua ini.


“Manajer Millano, kenapa kita tidak pulang dulu, di sini terlalu berbahaya.” Ariel, yaitu asisten Mary, membujuk Mary. Ada sekitar 40 sampai 50 perampok di sisi yang berlawanan, tidak ada gunanya menghadapi mereka di sini, yang dapat kalah dipukul nanti.


“Ya, kenapa tidak pulang dulu! Kepalaku juga udah dipukul, mungkin aja udah gegar otak aku.” Lucas menahan luka di kepalanya dengan tangan, dan juga ingin membujuk Mary untuk pulang dulu, karena dia juga takut dengan para perampok ini.


“Tidak, aku nggak bisa melihat bahan bangunannya dirampok oleh orang-orang ini lagi.” Mary sangat marah, apa hukum masih berlaku? Kenapa tindakan pencurian ini tidak diadili.


Lucas dan Ariel sangat tidak berdaya, dan berpikir sepertinya malam ini tidak akan bisa tidur lagi!


Pada saat ini, sebuah Ferrari tiba di lokasi konstruksi, setelah Erwin keluar dari mobil, dia bergegas ke tempat berkumpulnya orang banyak dengan Lina.


"Pa, ma, kalian baik-baik aja?" Lina yang melihat orang tuanya segera berlari ke sana, matanya penuh kekhawatiran, ketika melihat kepala ayahnya berlumuran darah, wajahnya menjadi pucat ketakutan.

__ADS_1


"Pa, kamu berdarah, ayo cepat kita ke rumah sakit!"


“Lina, kenapa kamu ada di sini!” Baik Mary dan Lucas menyembunyikan kebenaran dari putri mereka, karena takut putri mereka akan khawatir, tapi tak menyangka Lina bisa tahu.


“Saya yang meminta Lina datang ke sini, tolong bujuk ibumu, terlalu berbahaya di sini.” Asistennya Mary, Ariel berdiri dan berkata, melihat manajer Millano tidak mendengarkan bujukannya, dia hanya bisa memanggil Lina untuk bantu membujuk.


“Ma, mereka terlalu ramai, ayo kita pulang dulu! Kepala ayah udah berdarah, dia harus periksa ke rumah sakit!” Lina juga takut sesuatu akan terjadi pada mereka, jadi dia dengan cepat membujuk.


"Baguslah kamu sudah datang, cepat bawa ayahmu ke rumah sakit dulu, aku akan berdiri di sini dan melihat siapa yang berani menyentuh bahan bangunanku hari ini!"


Mary sudah tidak peduli lagi, dia sudah bekerja keras selama sebulan, tapi jumlah bahan bangunan yang dikirim selalu kurang tiap harinya, dan semua ini tanggung jawabnya, ayahnya juga sudah menceramahinya beberapa kali, takutnya posisi CEO mungkin tidak akan dia dapatkan.


“Tante, serahkan aja masalah di sini padaku,” kata Erwin, merasa bahwa sudah waktunya untuk maju.


“Tidak, kamu juga pulang aja!” Mary tidak terlalu suka melihat Erwin pada awalnya, tetapi sekarang melihat Erwin mencoba sok pahlawan lagi, dia tidak bisa menahan diri dan menjawab dengan marah.


Erwin mengabaikannya, tetapi datang langsung ke hadapan para perampok itu dan berkata dengan nada dingin,


"Siapa yang pukul?"


Suara Erwin tidak keras, tetapi memiliki aura membunuh yang kuat.


Dia marah, para perampok ini bukan hanya merampok bahan bangunan, tapi juga memukul orang, jika mereka tidak memberi pelajaran, mereka pasti akan semakin merajalela.


“Erwin, jangan provokasi mereka.” Lina sedikit khawatir, dia takut para perampok ini akan terprovokasi dan memukul Erwin, itu bukanlah hal yang ingin dia lihat.


“Gapapa, mereka nggak bakal bisa buat apa-apa padaku.” Erwin menghiburnya.


Erwin mengambil beberapa langkah lebih dekat lagi ke mereka dan berkata lagi,


"Siapa yang pukul? Maju ke depan kalau berani."


"Aku yang pukul! Emangnya kenapa? Sini pukul aku kalau berani!” Seorang pemuda dengan wajah arogan dan buruk tiba-tiba berjalan maju dari kerumunan.


“Oke, lihat aja, akan kubuat cacat nanti!” Mata Erwin cemberut, sekarang bukan waktunya untuk memulai. Ketika orang-orang Boy tiba nanti, dia tidak akan pergi kalau orang di depannya ini tidak cacat!


"Ayo sini! Buat aku cacat sekarang kalau berani, dasar keroco, sok kuat sampai di depanku, beneran cari mati anak ini! Saudara sekalian, beri dia pelajaran." Pemuda itu tampaknya termasuk pemimpin kelompok orang-orang itu, begitu dia melambaikan tangannya, empat sampai lima puluh perampok di belakangnya segera mengepung Erwin dengan batang besi di tangan.


Wajah cantik Lina menjadi pucat karena ketakutan, begitu juga dengan Lucas dan Mary.


Namun, pada saat ini, selusin mobil van tiba-tiba melaju datang ke lokasi konstruksi dari luar. Seorang pria gemuk dengan kepala dan telinga besar turun dari mobil van paling depan, kemudian ada setidaknya sepuluh orang yang turun dari masing-masing mobil van sambil membawa batang besi.


Total hampir 100 orang yang pergi ke arah Erwin, para perampok itu tertegun sejenak saat melihat adegan ini.


Lucas, Mary dan Lina bahkan lebih ketakutan! Apa jangan-jangan para perampok ini memanggil orang lagi? Bagaimana ini?

__ADS_1


__ADS_2