Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Berani Satu Lawan Satu?


__ADS_3

Michael dan Edric hanyalah anak orang kaya biasa, yang biasanya hanya tahu berfoya-foya, jadi mana mungkin adalah tandingannya Erwin yang berlatih seni bela diri, sedikit mendorong mereka saja sudah membuat mereka hampir jatuh.


"Langsung ke aku aja kalau ada masalah, mereka ini temanku, jadi tak ada hubungan dengan mereka." Erwin mengerutkan kening dan berkata dengan dingin.


“Kali ini tanpa sepupumu, aku ingin liat kau mau sombong seperti apa!” Michael dan Edric menjadi sedikit lebih berani saat melihat sepupu Erwin tidak ada di sekitar, dan kebetulan juga bisa sedikit pamer di depan Matthew.


Karena Matthew ini putra keluarga Ricardo, yang merupakan salah satu dari empat keluarga besar di Kota Bandung, kalau bisa menjalin hubungan baik dengan keluarga itu, perkembangan keluarga mereka sendiri pasti akan sangat terbantu kedepannya.


Selain itu, walau secara tidak sengaja melukai Erwin sekalipun, mereka tetap tidak takut, karena paman Matthew itu dari departemen Hukum, jadi bisa diatur nanti, mungkin saja bisa menuntut Erwin dan membiarkannya masuk penjara selama beberapa hari.


"Mau sok pahlawan ya? Kalau gitu kami tak akan sungkan lagi!” Michael dan Edric yang tidak puas karena didorong Erwin, langsung melemparkan tinju mereka ke arah wajah Erwin, dan Matthew juga sepertinya setuju terhadap perilaku itu.


Terkadang anak miskin seperti ini memang perlu diberi sedikit pelajaran, ingin sok pahlawan untuk melindungi orang yang disukai itu bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan, dan juga harus menanggung konsekuensinya.


Erwin menggelengkan kepalanya, tenaga kedua orang ini tidak sekuat ketiga preman bawahan pemuda berambut kuning kemarin, tapi kedua orang ini masih berpikir untuk mengalahkannya?


Erwin langsung memberi mereka masing-masing satu tendangan, yang bahkan merobohkan meja di dalam tempat makan, dan para pelanggan terkejut.


“Orang itu terlihat biasa-biasa aja, tapi ternyata cukup kuat juga ya.” Para tamu di tempat kejadian tampak sedikit mundur dan menyamping ketika melihat ini.


“Berani pukul aku?” Michael dan Edric yang ditendang jatuh merasa dipermalukan dan buru-buru bangkit.


"Kalian berdua tak perlu takut, tak sengaja membunuhnya pun, aku akan bantu beresin masalahnya," kata Matthew dengan dingin.


Dengan adanya kata-kata ini, Michael dan Edric tidak ragu lagi sama sekali, mereka mengambil bangku tempat makan dan menyerang Erwin lagi, kali ini mereka sungguh kejam.


Jocelyn dan Ametta yang bersembunyi di belakang Erwin buru-buru mundur begitu melihat ini.


"Erwin, hati-hati, mereka datang!"

__ADS_1


Erwin tentu melihatnya, kedua orang ini yang mengangkat bangku, jelas ingin membunuhnya, jadi dia juga tidak akan menahan diri lagi.


Setelah mengerutkan kening, dia langsung melangkah maju, sambil dengan cepat menghindari bangku Michael, dia juga meninju ke arah wajahnya, tenaga yang sebesar itu langsung mematahkan salah satu giginya, sampai-sampai darah mengalir keluar dari mulutnya.


Edric sedikit terkejut saat melihat ini, tetapi dia tetap mengangkat bangku dan menyerang ke arah Erwin. Erwin sekali lagi bangku dan menendang tepat mengenai dadanya, hingga Edric terpental dan menghantam bangku lainnya.


Kali ini, tenaganya lebih kuat dari sebelumnya, sampai-sampai merobohkan banyak meja dan bangku lainnya.


Erwin merasa sudah mendapat lumayan banyak pengalaman dari pertarungannya dengan empat preman kecil kemarin. Selain itu, dua anak orang kaya ini terlalu lemah, jadi Erwin dengan cepat bisa mengalahkan mereka walau satu lawan dua.


“Masih mau lanjut?” Erwin berkata dengan ringan, dengan aura dingin dalam nada suaranya.


Michael dan Edric terbaring di tanah karena kesakitan, mereka tidak nyangka Erwin akan sekuat ini dan mereka sama sekali bukan lawannya.


“Dasar sampah nggak berguna!” Matthew yang melihat Erwin sekuat itu justru tidak takut sama sekali, melainkan semakin panas, dia itu sabuk hitam peringkat 6 bela diri Judo, dan sangat percaya diri dengan kekuatannya sendiri.


Matthew perlahan datang ke hadapan Erwin dan berkata dengan sedikit arogan,


“Kau?!” Erwin memandang Matthew dari atas sampai ke bawah, melihat anggota tubuh kuat dan ekspresi Matthew yang tenang, Erwin tahu jelas bahwa Matthew ini juga bisa bela diri, dan kebetulan dia juga lagi butuh lawan buat latihan, jadi dia setuju.


"Gimana mainnya?"


"Satu lawan satu denganku, kalau kau menang, kukasih dua miliar, tapi kau harus merangkak lewat selangkanganku kalau kalah, bagaimana?" Matthew sangat percaya diri dengan kekuatannya sendiri, dan pada saat yang sama ingin mempermalukan Erwin, ingin sok jadi pahlawan? Boleh aja, akan kulayani! Tapi jangan lupa untuk menanggung konsekuensinya!


Tepat setelah selesai berbicara, pelanggan yang masih tinggal untuk menyaksikan tontonan ini sedikit terkejut.


"Aku tahu pemuda penuh semangat itu, dia kayaknya Matthew Ricardo, putra keluarga Ricardo, yang merupakan salah satu dari empat keluarga besar di Kota Bandung ini"


"Serius? Kudengar ada anggota keluarga Ricardo yang ada di departemen Hukum, kayaknya anak itu bakal menderita banget deh mau itu kalah atau menang."

__ADS_1


"Iya juga, orang-orang keluarga Ricardo biasanya bakal balas dendam, anak itu dilihat sekilas aja udah tau nggak punya uang sama kekuasaan, tapi masih mau sok pahlawan, ini sedikit berlebihan juga."


"Kurasa dia akan kurang beruntung kali ini."


 …


Kata-kata itu terdengar oleh telinga Erwin di tempat kejadian, termasuk Jocelyn dan Ametta, bahkan mereka juga merasa sedikit prihatin setelah mendengar itu.


“Erwin, kita pergi aja, lebih baik kita jangan memperbesar masalah.” Ametta berkata dengan cemas, mereka mereka bersalah dengan Erwin yang miskin dan tak punya kekuasaan ini begitu membantu mereka, dan sangat khawatir dengan hari-hari yang akan dialami Erwin nanti setelah memperbesar masalah ini.


“Gapapa, jangan takut.” Erwin berkata dengan sedikit senyum sambil melindungi mereka di belakang.


"Aku setuju, tapi aku nggak mau uang itu, kalau aku menang, cukup kasih aku pilih salah satu asetmu dan transfer padaku, kalau aku kalah, sesuai persyaratanmu, aku akan merangkak melewati selangkanganmu, bagaimana?"


Erwin tidak kekurangan uang, jadi dia tak mau persyaratannya uang, menurutnya, aset itu lebih berharga dan berpotensi.


“Oke, setuju!” Melihat persetujuan Erwin, Matthew sangat bersemangat, lagipula Erwin ini juga tak mungkin menang, jadi tak masalah juga mau persyaratan seperti apapun yang Erwin ajukan.


Anak miskin sialan ini mau sok pahlawan di depan wanita cantik, mana akan kulayani sesuai keinginannya, begitu merangkak melewati selangkanganku nanti, kau akan tahu konsekuensinya dari sok pahlawan.


Michael dan Edric yang tidak jauh juga diam-diam mulai bersemangat saat melihat ini. Mereka tahu bahwa Matthew ini adalah sabuk hitam peringkat enam, dan bisa menang lawan beberapa orang sekaligus, dan itu lebih dari cukup untuk berurusan dengan anak miskin sialan itu.


Ketika pemilik tempat makan melihat bahwa kedua orang ini akan berkelahi di dalam tempatnya, dia ketakutan hingga bergegas keluar untuk menghentikan.


"Dua abang-abang sekalian, tolong bicara baik-baik, kalau mau kelahi sekalipun, tolong di tempat lain aja ya? Tempat makan kecilku ini juga tidak mudah bagiku."


“Diam!” teriak Matthew, kemudian menulis cek senilai 200 juta rupiah dan lempar kepada pemilik tempat makan ini dengan arogan dan mendominasi sambil membuktikan kalau dia itu kaya.


“Singkirkan semua meja dan kursi di sini, aku akan beri anak ini sedikit pelajaran." Ketika Matthew berbicara, dia mulai melepas mantel dan pakaiannya, memperlihatkan otot-ototnya yang kuat, dan berencana untuk bertarung dengan serius nanti.

__ADS_1


Setelah pemilik tempat makan menerima cek itu, dia langsung senang dan menyuruh pelayan untuk memindahkan meja dan kursi, agar mereka berdua punya ruang untuk bertarung.


Ketika Erwin melihat ini, dia tersenyum sedikit di sudut mulutnya, baguslah, dia akan membiarkan Matthew ini jadi lawan latihannya, sekalian bisa raup beberapa keuntungan.


__ADS_2