Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Menutup Mulut


__ADS_3

Bagian selatan kota tidak damai beberapa hari ini, perselisihan keluarga Zibrano dan Lewis sangat sengit di berbagai bidang, dan bahkan berita tentang karyawan kedua keluarga itu yang berkelahi satu sama lain menjadi berita utama lokal di selatan kota, sehingga menjadi topik pembicaraan masyarakat setempat.


Namun, keluarga Zibrano menggunakan kekuatan Aliansi Bisnis selatan kota untuk memobilisasi kekuatan keluarga lain untuk mengepung dan menekan keluarga Lewis, sehingga Keluarha Lewis kewalahan, jumlah orang yang mendukung mereka juga semakin sedikit, sepertinya tidak akan lama lagi bagi keluarga Lewis untuk diusir dari selatan kota.


Erwin duduk di sofa pagi-pagi sekali dan sangat senang saat menonton berita tentang perselisihan keluarga Zibrano dan Lewis.


"Sepertinya pria dinafkahi wanita ini gak mungkin bisa provokasi aku lagi!"


“Tuan Muda, Tuan Damon menelepon dan bilang bahwa sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk melancarkan serangan terhadap keluarga Lewis, apakah Anda ingin mengerahkan semuanya?” Anita datang dan bertanya kepada Erwin sambil membawa telepon.


"Kerahkan aja, ikut campur di saat seperti ini bakal dapat banyak keuntungan!” Setelah berpikir sejenak, Erwin menelepon Andy yang merupakan penanggungjawab Jade Private Club, dan menyuruhnya untuk memblokir semua jalur pinjaman, pembiayaan, dan jalur keuangan lainnya milik keluarga Lewis, dan jangan biarkan lembaga keuangan manapun untuk mendanai keluarga Lewis.


Setelah semua ini selesai, Erwin baru berhenti! karena keluarga Lewis ini berani bermacam-macam dengan orang-orang di sekitarnya, maka Erwin tak mungkin membiarkannya begitu saja.


"Ngomong-ngomong, Anita, bantu aku cari tahu perusahaan Real Estate West Garden itu punya Group mana di Jakarta, dan siapa penanggungjawabnya." Erwin ingin memastikan apakah Perusahaan Real Estate West Garden ini milik industri Smith keluarganya, dan sekalian cari tahu penanggungjawabnya agar bisa membantu masalah keluarga Lina.


“Baik, Tuan Muda, tolong tunggu sebentar.” Anita menjawab dan pergi secepatnya.


Satu jam kemudian, Anita berjalan kembali dengan sebuah dokumen.


"Tuan, Perusahaan Real Estate West Garden itu milik perusahaan Virtues Group di Kota Jakarta, dan Virtues Group ini milik industri Smith yang ada di Jakarta, sedangkan untuk penanggungjawabnya adalah seorang wanita bernama Ghania Hamlet yang baru berusia tiga puluhan, yang merupakan seorang CEO wanita yang sangat hebat, dan dia itu didikan langsung oleh bos besar industri Smith, bisnisnya sudah berkembang pesat hingga ke beberapa kota di sekitar Kota Jakarta."


Erwin mengangguk, ternyata Ghania ini wanita hebat didikan ayahnya, tak heran kecepatan ekspansi bisnisnya bisa begitu cepat sampai ke Kota Bandung ini.


"Wanita hebat ini lumayan juga! Kasih aku kontaknya." Erwin tiba-tiba menjadi penasaran terhadap wanita ini, dan berpikir wanita ini mungkin bisa berguna saat diperlukan nanti.


Sore harinya, Lina menelepon dan mengajak Erwin untuk makan bersama di rumahnya.

__ADS_1


Erwin mau menolak tapi tak bisa, Lina selalu mengajaknya makan bersama di rumah mereka. Sebenarnya terkadang itu bukan maksud Lina, tapi Ayah Lina yang terus mendesak Lina untuk mengajak Erwin datang ke rumah mereka untuk makan bersama.


Saat Erwin tiba di rumah mereka, Mary tampak sedang bingung dengan kontrak bahan bangunan yang perlu dia dapatkan dari Perusahaan Real Estate West Garden.


Sebelumnya, dia sudah pernah pergi ke Perusahaan Real Estat West Garden untuk diskusi tentang kerja sama, tapi selalu ditolak berulang kali, pada saat yang sama, dia juga menyadari kalau bukan mereka bertiga saudari aja yang ingin bekerja sama dengan Perusahaan Real Estate West Garden, tapi banyak perusahaan bahan bangunan lokal di barat kota lainnya juga, sehingga itu membuatnya merasa cemas dan stres.


“Erwin, udah datang ya, ayo cepat masuk." Lucas sudah menunggu di depan pintu untuk menyambut kedatangan Erwin, melihat Erwin datang, sikap Lucas yang seperti penjilat muncul lagi.


Lina juga dengan senang hati datang untuk memeluk Erwin. Ketika Mary melihat ini, dia tidak senang untuk sementara waktu, tapi dia sudah terlalu malas untuk peduli lagi.


Mary tampak sedih sepanjang waktu saat makan malam, tetapi pada akhirnya dia tetap tidak mau menyerah seperti ini.


"Lucas, kamu punya kenalan di Perusahaan Real Estate West Garden gak?"


Lucas berpikir sejenak dan berkata,


Lucas juga sudah menyelidiki latar belakang perusahaan Real Estate West Garden sejak awal, dan merasa mustahil untuk menandatangani kontrak kerjasama senilai dua triliun dengan mereka.


"Selain itu, ada banyak perusahaan material konstruksi yang besar di barat kota, jadi mau menandatangani kontrak ini di wilayah mereka itu suatu hal yang tak mudah."


Setelah mendengar ini, Mary menghela nafas diam-diam.


"Sepertinya aku hanya bisa cari beberapa teman di barat kota."


Tepat ketika Mary sedang pusing, grup obrolan keluarganya tiba-tiba masuk pesan kabar baik dari kedua saudarinya, mengatakan bahwa berkat koneksi keluarga pacar putri mereka, mereka sudah berhasil menghubungi orang-orang atasan Perusahaan Real Estate West Garden dan itu membuat Mary terpengaruh.


"Lina, lihat pacar sepupumu yang kaya dan berkuasa, mereka aja udah dapat koneksi orang-orang atasan Real Estate West Garden. Tak seperti pacar miskin yang tak berkuasa, pada saat kritis ini malah tak bisa bantu apa-apa."

__ADS_1


Mary adalah seorang wanita yang suka menyombongkan keunggulan, terutama di depan kerabatnya, dia sangat takut dibandingkan dengan orang lain, tetapi sekarang kabar itu membuatnya mengeluh lagi.


Sambil berbicara, dia juga melirik Erwin dengan jijik, dan semakin tak suka dengan Erwin.


“Ma, kita cukup jalani punya kita sendiri aja, ngapain bandingkan sama orang lain?” Lina sangat tidak nyaman dengan sikap sombong Ibunya yang selalu banding-bandingkan, bahkan sampai membanding-bandingkan pacarnya dengan pacar orang lain.


“Manusia hidup hanya demi ini.” Mary menjadi semakin marah. "Apa lagi, kali ini melibatkan pewaris perusahaan Kakekmu, mana mungkin aku tak kesal."


Ketika Erwin melihat ini, dia tak bisa menahan diri dan menghela nafas, ibu Lina ini benar-benar terlalu kompetitif dan mau lebih baik daripada yang lainnya dalam segala hal.


"Tante, aku punya kenalan di Perusahaan Real Estate West Garden, jadi mau kubantu?"


Erwin ingin sedikit membantu Mary, tetapi Mary justru tak memberi tanggapan ramah sama sekali.


"Memangnya kenalan seperti apa yang orang miskin kayak kamu punya di sana? Tukang bersih-bersih? Atau karyawan biasa? Apa gunanya punya kenalan kayak gitu? Memangnya punya tak bicara saat tanda tangan kontrak nanti?" Mary menghina tanpa ampun.


“Gimana kalau punya hak bicara?” Erwin berkata dengan senyum di sudut mulutnya.


“Kalau punya?” Mary mengalihkan pikirannya dan berkata, “Kalau kamu bisa cari orang buat bantu aku tanda tangani kontrak ini, aku tak akan keberatan tentang hubunganmu sama Lina lagi kedepannya.”


"Tapi kalau kamu tak bisa, cukup tinggalkan putriku."


Mary diam-diam bangga pada dirinya sendiri, karena dia selalu memandang rendah Erwin yang merupakan anak miskin pedesaan. Jadi lumayan bagus kalau bisa mengambil kesempatan ini untuk mengusir Erwin dari putrinya.


“Ma, ini tak adil.” Lina sangat marah dan cemas


"Dia yang bilang duluan, apa salahku? Lagipula setuju atau tidak itu tergantung dia juga." Kata Mary dengan sikap tak kenal ampun.

__ADS_1


“Oke, aku setuju.” Erwin tersenyum di sudut mulutnya, dia juga merasa Ibu Lina ini sangat menganggu, jadi sepertinya sudah waktunya menutup mulut wanita ini.


__ADS_2