Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Bab 191 Menanggung Resikonya


__ADS_3

Setelah Erwin menutup telepon, dia tidak buru-buru untuk mencari Liam, tetapi menelepon Baka dulu dan menyuruhnya untuk membawa tim petinju hitam ke Klub Hiburan Lime milik Liam di timur kota. Pihak lawan menyiapkan 200 orang di sana, tentu Erwin harus membawa petinju kuat, karena takut tidak mampu mendominasi situasi di sana nanti.


Setelah menelepon Baka, Erwin memanggil Anita lagi dan memberitahunya,


"Anita, bantu aku selidiki aset yang keluarga Ragnarson punya, aset Earl juga."


"Baik, Tuan Muda~" Jawab Anita dengan patuh dan segera pergi melaksanakan tugasnya.


Erwin memanfaatkan waktu ini untuk menyikat gigi dan mandi, kemudian makan sarapan dengan tenang, dia sudah lama tidak sarapan yang dibuat oleh Anita, yang sungguh enak ini.


Setelah lebih dari satu jam, Anita akhirnya mendapatkan informasi tentang semua aset keluarga Ragnarson.


“Tuan Muda, semua ini aset keluarga Ragnarson, dan Earl sendiri juga punya banyak aset tersendiri." Saat berbicara, Anita menyerahkan dua dokumen kepada Erwin.


Setelah Erwin mengambil dan membaca sekilas,  dia baru menyadari keluarga Ragnarson memang layak disebut keluarga terkaya di Kota Bandung, karena punya jumlah aset yang lebih banyak daripada perusahaan keluarga lainnya yang pernah dia hadapi.


Dan aset ini tidak hanya berlokasi di Kota Bandung, tapi juga dalam bentuk berbagai investasi di kota-kota lain, namun, dalam aspek investasi, industri keuangan mereka menyumbang sekitar setengah dari jumlah total asetnya. Tidak heran Steve bisa menjadi orang terkaya di Kota Bandung, sepertinya menjalani industri yang berhubungan dengan keuangan memang lebih menguntungkan.


“Steve ini sungguh kaya sekali.” Erwin tidak bisa menahan diri dan menghela nafas, di pertengahan membaca, Erwin tiba-tiba menemukan sepotong informasi yang mengejutkan.


“Perusahan milik keluarga Ragnarson ternyata memegang 20% saham Laws Group, ini tidak buruk.” Mata Erwin berbinar, ini merupakan sebuah kejutan yang tak terduga.


Melihat hal ini, Erwin berniat mencoba untuk menukar Earl dengan 20% saham Laws Group, jika berhasil, dia totalnya akan memegang 45% saham Laws Group, sungguh sebuah kejutan!


"Ayo kita lihat aset apa yang Earl punya." Erwin sangat tertarik untuk memperoleh aset baru-baru ini, karena satu-satunya cara untuk mengembangkan dirinya dalam waktu singkat adalah dengan memperoleh dan mengumpulkan aset secara terus-menerus. Perusahaan Investasi Erlin yang setelah berhasil mengambil alih utara kota serta sebagian besar saham keluarga Cole dan keluarga Louis, kira-kira sudah mencapai kekayaan lebih dari 40 triliun rupiah, tapi kalau dibandingkan dengan keluarga besar se-Indonesia, maka masih terlalu jauh.


Sebagai putra kedua dari Steve yang merupakan orang terkaya di Kota Bandung, Earl juga punya banyak aset, termasuk 5% saham Ragnarson Group, saham yang dipegang Earl hanya pecahan saham kecil lain yang bukan dari industri yang sangat penting.


"Anita, bantu aku siapkan beberapa kontrak akuisisi, aku mau segera pakai nanti." Kali ini, Erwin tidak hanya ingin memberi pelajaran pada Earl, tetapi juga memperoleh sebagian besar asetnya, agar Earl sadar Erwin itu bukan orang biasa yang boleh disinggung sesuk hati.


Sekali singgung maka akan menanggung resikonya.


"Baik tuan muda~" Anita menjawab dengan patuh, kemudian pergi menyiapkan kontrak.


Setelah beberapa saat, Anita sudah selesai menyiapkan beberapa kontrak akuisisi, itu membuat Erwin sangat puas dengan efisiensi kerja Anita, dan langsung pergi ke Klub Hiburan Lime di timur kota sambil membawa kontrak.

__ADS_1


Klub Hiburan Lime yang merupakan markas Liam merupakan perusahaan hiburan terbesar yang dia kelola, dan cukup terkenal di timur kota.


Ketika Erwin tiba di sana, sekitar 200 penjaga keamanan dari Ragnarson Group sudah terlihat di luar, untungnya sekarang masih siang, jadi tidak ada tamu yang berlalu lalang.


"Pertempuran ini tidak kecil." Kata Erwin karena tidak takut dengan kerumunan itu, dan langsung berjalan masuk ke dalam. Liam sudah menunggu di pintu, dan segera menyapa begitu melihat kedatangan Erwin.


“Tuan Erwin, jumlah mereka sekitar 200 kali ini dan dipimpin oleh Rizal, apa yang harus kita lakukan? Apa perlu memberitahu Tuan Damon?” Liam tampak sedikit cemas.


"Masalah kecil seperti ini tidak perlu merepotkan Tuan Damon, biar aku yang beresin saja." Erwin menepuk bahu Liam untuk menghiburnya, dan segera mengirim pesan kepada Baka untuk menanyakan lokasi mereka.


Pesan dari Baka segera masuk yang memberitahu mereka telah memasuki batas utara kota ke timur kota, dan akan tiba di Klub Hiburan Lime dalam setengah jam.


Setelah mendapat kepastian, Erwin sudah mengambil keputusan, meskipun tidak ada Lisa, tapi Erwin masih punya Baka dan tim petinju hitam dengan kekuatan tempur yang besar, jadi Erwin masih sangat percaya diri.


Erwin mengikuti Liam ke dalam Klub Hiburan Lime, di dalam ruangan VIP besar, sudah ada orang yang menunggu, di antaranya ada Mike yang babak belur kemarin, tapi Mike itu dalam posisi berdiri, dan sebelahnya duduk seorang pria paruh baya yang sangat elegan.


Pria paruh baya itu memakai cheongsam biru, dengan wajah yang janggutnya dicukur rapi, tatapan mata tenang, serta temperamen yang terlihat sangat elegan dan tenang.


Ini adalah pertama kalinya Erwin bertemu orang seperti itu, jadi dia tidak bisa menahan diri dan meliriknya beberapa kali.


"Oh? Bisa bela diri juga? Aku justru mau lihat kemampuannya." Erwin tersenyum, dia tidak menyangka Steve akan mengirim orang terpercayanya untuk bernegosiasi, jelas Earl ini cukup bernilai.


"Perkenalkan namaku Rizal." Setelah melihat tatapan hormat Liam kepada Erwin, Rizal tahu bahwa pemuda ini pasti tidak biasa, jadi berdiri dengan hormat dan berjalan ke arah Erwin untuk berjabat tangan.


"Namaku Erwin." Erwin pikir Rizal hanya ingin berjabat tangan biasa, tapi ternyata saat berjabat tangan, tangannya tiba-tiba diremas.


"Tuan Erwin benar-benar muda dan menjanjikan, merupakan sebuah kehormatan bagiku." Kata Rizal sambil tersenyum, sementara kekuatan di tangannya sedikit menguat.


"Aku juga." Erwin tersenyum tipis dan pada saat yang juga melakukan hal yang sama.


Keduanya diam-diam saling meremas tangan satu sama lain selama tiga menit sebelum berpisah.


Rizal diam-diam terkejut akan kekuatan Erwin yang begitu kuat, Erwin juga sama terkejutnya, Rizal ini terlihat sangat elegan dalam penampilan tapi punya kekuatan yang tidak kecil.


Jika Erwin tidak melatih diri, maka sudah jelas akan kalah dalam jabatan tangan tadi, itu tidak hanya akan menyebabkan kehilangan muka yang merupakan masalah kecil, tapi juga kegagalan negosiasi yang merupakan masalah besar.

__ADS_1


“Tuan Erwin, kali ini aku tidak akan basa-basi di sini, aku mau kau mengembalikan orang kami.” Kata Rizal yang langsung ke intinya begitu duduk lagi.


“Mana yang harus kukembalikan? Kalau kau tak bilang dengan jelas, mana mungkin aku bisa tahu kau mau yang mana?” Erwin tersenyum dan berpura-pura bodoh, Rizal ini cukup kuat, jadi Erwin perlu menunda waktu sampai Baka dan para petinju hitam tiba, dengan begitu negosiasi akan berjalan sesuai rencana.


"Tuan Erwin, jangan pura-pura bodoh, aku mau putra kedua dari keluarga Ragnarson kami, Earl Ragnarson yang ditangkapmu tadi malam, aku tak mau basa-basi denganmu sekarang, cepat serahkan Tuan Muda Earl, atau jangan harap bisa keluar dari sini."


Rizal berbicara dengan nada penuh aura membunuh, seolah sangat yakin dengan tindakannya, dan kemenangannya.


"Nada suara Tuan Rizal ternyata tidak kecil." Kata Erwin dengan ringan.


"Besar kecil nada suara juga tergantung kekuatan yang kau punya, apa kau mau mengetes kemampuanku sekarang?" Rizal berpikir untuk menunjukkan kekuatannya pada Erwin, agar Erwin bisa sadar diri dan menyerahkan Earl.


"Mengetes kemampuan? sebenarnya bukan tidak bisa, Liam, coba maju dan test kemampuannya." Erwin yang merasa tenaga Rizal sangat kuat bisa menebak kemampuan Rizal tidak akan lemah juga, jadi sebelum memastikan kekuatan lawan, Erwin merasa perlu membiarkan Liam untuk mencoba terlebih dahulu, sekalian untuk menunda waktu.


"Liam? Hahaha, tidak masalah." Rizal tersenyum, dia tidak menganggap serius Liam, tapi karena Liam datang untuk melawannya, Rizal juga tidak keberatan untuk membantainya, dan melihat apa yang bisa Erwin itu sombongkan lagi.


Rizal berbicara sambil berdiri, dan Liam juga sadar dirinya mungkin tidak bisa mengalahkan Rizal ini, tapi tetap ikut berdiri, keberaniannya patut dipuji, tapi dia dihentikan oleh Erwin dan diingatkan dengan suara pelan.


"Tak masalah kalau kalah, yang terpenting itu hanya menunda waktu, begitu timku tiba, situasinya akan berada di bawah kendali kita."


Ketika Liam tahu Erwin masih punya bala bantuan, dia sangat terkejut dan segera mengangguk sebagai tanggapan.


"Baik Tuan Erwin, akan kuingat!"


Mengatakan itu, Liam berjalan maju dan keduanya berdiri berhadapan di satu tempat, ruangan ini sangat besar, dengan luas enam belas sampai sembilan belas meter persegi, jadi cukup bagi mereka berdua untuk saling menguji kemampuan satu sama lain.


Begitu Liam dan Rizal adu tinju, Rizal yang tampak anggun bertarung dengan tanpa ragu dan tajam, sehingga Liam dipaksa mundur dan terus menghindar.


“Kenapa menghindar? Sini adu denganku!” Rizal memprovokasi dengan tidak sabar.


"Sini kejar aku kalau berani!" Liam bertindak sesuai perintah Erwin, demi mengulur waktu, Liam tidak berhadapan secara langsung dengan Rizal, sebenarnya kalau bertarung dengan serius, Liam memang bukan lawan Rizal, jadi gerakan menghindar seperti sekarang tetap adalah strategi terbaik.


Rizal terus mengejar sedangkan Liam terus menghindar berulang kali, dan waktu berlalu dengan cepat.


Sampai seorang bawahan bergegas masuk dari luar dengan tergesa-gesa untuk melaporkan.

__ADS_1


"Ini gawat, Tuan Rizal. Ada segerombolan orang yang menyerbu dari luar, semua adalah petinju ahli, orang-orang kita sudah tidak sanggup lagi!"


__ADS_2