
Lina ketakutan sampai berteriak saat melihat ketiga pria yang menghalangi pintu lift tiba-tiba bergegas menuju Erwin dengan ganas.
"Erwin, hati-hati!"
Erwin justru tidak takut, dan pada saat yang sama diam-diam senang karena sudah belajar bela diri dengan Lisa, kalau tidak, mungkin masalah ini akan sangat sulit untuk dihadapi hari ini.
Dia melemparkan pukulan kuatnya ke arah wajah pria yang paling dekat dengannya, pria tersebut belum sempat bereaksi terhadap tindakan Erwin, saat baru saja bereaksi, tinju berat itu sudah mengenai wajahnya.
"Buk!" Tinju tersebut menghantam tepat ke wajahnya, dan kekuatan besar itu langsung membuat tubuhnya jatuh ke tanah, hingga hidungnya juga mengeluarkan darah.
Dua pria lainnya tidak punya waktu untuk memedulikan itu, dan sudah tiba di hadapan Erwin.
Dengan masing-masing satu pukulan dari kiri dan kanan, Erwin menahan kedua serangan tersebut, dan melawan mereka berdua sendirian tanpa menunjukkan kelemahan.
Para pengikut Nicky ini tak tau cara bertarung, mereka hanya asal pukul mengandalkan emosi marah saja, setelah Erwin melihat adanya celah, dia langsung menendang perut salah satu pria yang menyerangnya hingga terpental, pria tertendang itu jatuh ke tanah dan menahan rasa sakit di perut yang menyakitkan.
Untuk pria yang terakhir, setelah Erwin bertarung dengannya beberapa saat, Erwin langsung mengubah tinjunya menjadi telapak tangan dan memukulnya hingga terpental jauh.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Erwin menghajar mereka bertiga hingga jatuh ke tanah, hanya menyisakan seorang wanita yang berdiri di pintu masuk lift sambil menggigil.
Nicky dan beberapa temannya dikejutkan oleh kekuatan Erwin.
“A-anak miskin ini, bisa bela diri?” Nicky sangat terkejut, tiga lawan satu tetap tidak bisa menang, yang benar-benar mengejutkannya.
"Masih mau lanjut?” Erwin berkata dengan nada dingin.
Ketiga pria itu langsung mundur ketakutan, saat melihat Erwin juga, jelas ada sedikit rasa takut di mata mereka.
“Yuk Lina, kita udah bisa naik lift.” Erwin berkata sambil tersenyum.
"Oke, oke." Lina mengangguk kosong, dia tidak menyangka Erwin bisa bela diri dan begitu kuat, setelah kejutan singkat tadi, dia sangat bahagia.
Lina mengikuti Erwin masuk ke dalam lift, dan begitu pintu lift tertutup, dia langsung berkata dengan kagum, "Erwin, tak kusangka kamu bisa bela diri, kamu keren banget loh tadi!"
“Aku belajar dari sepupuku." Dipuji oleh Lina, Erwin masih sangat menikmati momennya, dan diam-diam senang karena sudah belajar bela diri dari Lisa, jika tidak, mungkin hari ini dia akan mengalami kesulitan.
Setelah Nicky dan yang lainnya diberi pelajaran oleh Erwin, mereka jelas sangat tidak senang!
__ADS_1
"Sialan, anak itu cukup kuat!"
“Tuan Muda Greyson, apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita biarkan dia begitu aja?!” Salah satu temannya berkata dengan enggan sambil menutupi hidungnya yang berdarah, dihajar oleh Erwin di depan umum, tentu dia harus mencari kembali panggung dan mukanya.
“Betul itu, Tuan Muda, anak itu keterlaluan!” Kata teman lainnya sambil memegang perut.
“Kita kasih dia senang dulu! Nanti bakal kutunjukkan seberapa hebatnya aku!” Nicky memegang perutnya yang masih sakit, matanya dipenuhi ketidakpuasan, dirinya itu seorang putra keluarga Greyson yang berkuasa, tapi justru dihajar oleh seorang anak miskin biasa, jika kejadian ini tersebar, di mana letak muka dan harga dirinya?!
Lift dengan cepat berhenti di lantai delapan, Erwin dan Lina melangkah keluar dari lift, begitu baru mengambil beberapa langkah setelah keluar, mereka melihat beberapa penjaga keamanan yang sedang menjaga lorong.
"Tolong tunjukkan surat undangan jika Anda ingin menghadiri resepsi generasi muda." Kata salah satu penjaga keamanan sambil mengulurkan tangan untuk menghentikan mereka.
“Ini surat undangan kami.” Lina tanpa sadar mengeluarkan dua surat undangan dari tasnya dan menyerahkannya kepada penjaga keamanan.
Kedua surat undangan ini didapatkan oleh Lucas, yang ingin Erwin dan Lina menghadiri resepsi masyarakat kelas atas di Kota Bandung bersama.
Setelah memeriksa kedua undangan tersebut, penjaga keamanan segera membiarkan mereka masuk.
"Cukup belok kiri dan jalan ke kanan ke aula pesta."
Mengikuti arahan penjaga keamanan, Lina meraih lengan Erwin, dan keduanya segera tiba di aula pesta.
Seluruh aula sangat luas yang kira-kira seluas lima sampai enam ratus meter persegi, dekorasi di dalam juga sangat mewah, ada juga konser kecil, dan banyak orang mendengarkan di sana dengan penuh minat. Tentu saja, tidak lupa dengan adanya berbagai macam makanan lezat dan anggur mewah.
Kemunculan Lina dan Erwin secara alami menarik perhatian banyak orang, tetapi alasan perhatian mereka tertarik pada kemunculan kedua orang ini justru sangat berbeda.
Perhatian mereka tertarik karena paras cantik Lina yang memikat, seolah-olah begitu Lina muncul, semua wanita cantik lainnya yang ada di aula menjadi tidak seberapa.
Sedangkan perhatian mereka tertarik juga karena Erwin yang berpakaian sangat sederhana, lupakan saja kalau sangat sederhana, tapi juga murahan, dan terlihat seperti anak miskin.
Tetapi kedua orang ini tidak serasi sama sekali ini, justru muncul bersama sambil bergandengan tangan, membuat orang-orang yang melihat ini serasa sedang melihat pemandangan setangkai bunga yang tertancap di atas kotoran sapi.
“Erwin, banyak yang lihat kita.” Lina sedikit malu, dan menarik Erwin dan bersembunyi di tempat yang sedikit lebih sepi.
Erwin tersenyum, tetapi dia tidak mempermasalahkan pandangan orang lain, karena dia tidak tertarik untuk mendekati pada para anak muda ini, bagaimanapun, mereka tidak lebih kaya atau berkuasa darinya, alasan dia datang ke sini murni untuk menemani Lina dan memeriksa properti saja! Jadi tidak terlalu memperhatikan pakaiannya sendiri.
“Erwin, Lina, kalian juga ada di sini ya.” Sebuah suara yang memikat menyadarkan Lina dan Erwin, mereka berdua menoleh, dan melihat Fiona yang memakai gaun off shoulder sambil memegang segelas anggur merah di tangan dan tersenyum pada mereka.
__ADS_1
“Fiona, ternyata kamu juga ada di sini.” Lina sangat senang saat melihat Fiona.
Erwin tidak terkejut dengan kehadiran Fiona, lagipula, keluarga Fiona di selatan kota bisa dianggap sebagai keluarga kaya kelas dua, jadi Erwin hanya mengangguk padanya yang sudah termasuk menyapa.
"Erwin, kudengar kamu sedang memproduksi musim kedua Wilderness Life, dan popularitasnya bahkan udah naik ke peringkat satu sebelum dirilis, seharusnya kamu bisa pertahankan peringkat satu itu, selamat ya!!" Sikap Fiona terhadap Erwin berubah total dan tidak seperti sebelumnya lagi, karena ketika keluarganya berada di ambang kebangkrutan, Erwin yang secara pribadi membujuk Damon untuk berinvestasi, jadi Fiona selalu mengingat kebaikan tersebut.
Meskipun Erwin adalah anak miskin dari pedesaan, tapi sekarang Fiona tidak memandang rendahnya seperti dulu, justru memperlakukannya sebagai teman sejati.
“Terima kasih, kamu juga sangat cantik hari ini!” Erwin menjawab sambil tersenyum, karena Fiona menganggap dirinya sebagai teman, maka Erwin secara alami juga akan melakukan hal yang sama.
“Lihat betapa bagusnya kalau sudah begini dari dulu." Lina adalah yang terbahagia.
Ketiganya mengobrol dan tertawa bersama, dan jumlah hadirin juga terus bertambah di aula pesta, ada yang mengobrol dalam bentuk kelompok, ada juga pemuda dan pemudi yang saling menyapa, di resepsi dan situasi seperti inilah anak-anak muda dari keluarga kaya bisa menemukan pasangan hidup atau memulai hubungan asmara mereka.
“Fiona, kenapa ada di sini? Kalau ada teman kenapa tidak perkenalkan padaku?” Pria yang tiba-tiba datang untuk mengobrol adalah seorang pria tinggi dan tampan, yang terlihat mengenal Fiona dan sepertinya juga sangat dekat.
Namun, Fiona tidak terlalu menyukainya, bahkan sedikit jijik.
"Novendi, ngapain kamu ke sini?"
Pria tinggi dan tampan ini bernama Novendi Clarkson, mantan pacar Fiona, merupakan pria yang langsung putus dengan Fion begitu tahu keluarga Fiona diambang kebangkrutan, pada saat ini, dia datang untuk menyapa dengan Fiona, tapi matanya terus menatap Lina, yang artinya sudah jelas.
“Kalau punya teman di sini, kenapa tidak perkenalkan padaku?” Novendi sangat berani dan tak tahu malu, bahkan mengabaikan keberadaan Erwin, dan mulai berbicara dengan Lina, "Halo, namaku Novendi, putra keluarga Clarkson di barat kota, boleh kenalan?"
Lina bahkan tidak memperhatikannya, pria brengsek seperti itu lebih baik pergi jauh-jauh.
Tapi Novendi tampaknya sangat tidak tahu malu, dan tak menyerah walau diabaikan, dia bahkan mengulurkan tangan dan ingin menjabat tangan dengan Lina, Erwin mengerutkan kening saat melihat ini, sepertinya pria ini tak akan pergi kalau tak diberi sedikit pelajaran.
Jadi, Erwin langsung mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Novendi, dan berkata,
"Halo, namaku Erwin, pacarnya Lina."
Saat berbicara, kekuatan genggaman tangan Erwin tiba-tiba meningkat, dan membuat wajah Novendi sedikit memucat.
Novendi tidak ingin kehilangan muka di depan dua wanita cantik ini, jadi dia juga meningkatkan tenaga jabat tangannya, tetapi tidak peduli seberapa kerasnya dia mencoba, Erwin tetap mampu menekannya, dan membuat tangannya terasa semakin sakit.
Pada akhirnya, dia tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi dan menyerah.
__ADS_1
“Sakit, sakit, lepaskan.” Novendi berteriak kesakitan dan minta untuk dilepaskan.
Fiona dan Lina tertawa senang saat melihat ini, pria brengsek seperti itu memang harus diberi sedikit pelajaran.