
Setelah Lina menutup pintu, dia juga sangat ketakutan, karena tidak pernah menyangka Etan, direktur keuangan yang sangat dipercaya ayahnya, juga disuap oleh William, yang lebih parah lagi adalah membantu William untuk menipunya.
Jika Erwin tidak menyadari trik licik mereka tepat waktu, konsekuensinya akan menjadi bencana! Tidak akan terbayang berapa banyak masalah yang akan ditimbulkan oleh selembar kertas kosong dengan tandatangannya, belum lagi dia sekarang mewakili ayahnya dan seluruh Perusahaan Aleda.
“Direktur Etan, Ayahku begitu percaya padamu, tapi kenapa kamu mengkhianatinya?!” Lina benar-benar marah saat ini.
"Nona, apa yang Anda bicarakan? Mana mungkin saya mengkhianati CEO? Selembar kertas kosong ini salah cetak, ini semua hanya salah paham, saya benar-benar setia kepada CEO." Etan masih bersikeras menyangkal, karena tidak ada bukti, selembar kertas putih juga tidak bisa dijadikan bukti yang kuat, selama dengan keras kepala menyangkal, dan menyalahkan pihak pencetakan, apa yang bisa dilakukan dua anak muda ini padanya?
Namun dia salah, Erwin bukanlah anak muda biasa.
“Akan kubuat kau jujur!” Erwin tersenyum sedikit, lalu meraihnya dan berjalan ke ruang rahasia Lucas, dia berpikir bahwa ruangan kecil itu adalah tempat yang cocok untuk interogasi selain menyimpan anggur.
Tidak perlu khawatir akan didengar oleh orang lain di perusahaan. Bagaimanapun, bahkan direktur keuangan perusahaan ini saja sudah disuap oleh William, apalagi yang lain, begitu informasi ini bocor, itu akan menyebabkan kewaspadaan William, jadi yang paling tepat adalah membawa orangnya ke ruang rahasia untuk diinterogasi.
"Mau bawa aku ke mana? Hentikan sekarang!" Etan diseret oleh Erwin, dia ketakutan dan ingin berjuang melepaskan diri, tetapi tenaga Erwin luar biasa kuat, tidak peduli bagaimanapun dia berjuang melepaskan diri, hasilnya tetap sama, dan itu membuatnya semakin takut.
“Jangan gerak! Percaya tidak kubuat kau cacat di tempat!” Erwin mengancam dengan nada dingin.
"Dasar sialan, jangan keterlaluan, kalau kamu berani menyentuhku..." Sebelum Etan selesai berbicara, Erwin berbalik dan menampar wajahnya, dan berkata dengan tidak sabaran, "Kuhajar beneran kalau masih basa-basi."
Saat mengatakan itu, Erwin meletakkan tangan di bahu Etan dan mencengkram dengan sedikit kekuatan, wajah Etan langsung menjadi pucat karena kesakitan, dan tidak berani berbicara lagi.
Meskipun cara penanganan Erwin sangat kasar, namun sangat efektif juga.
“Lina, kamu jaga di luar! Jangan biarkan siapapun mendekati tempat ini.” Erwin menginginkan kerahasiaan mutlak, dan ingin mengambil kesempatan untuk melawan William, tentu dia tidak ingin informasinya bocor.
“Oke!” Setelah Lina mengangguk, dia berjaga di luar untuk Erwin.
Setelah Erwin menyeret Etan ke ruang rahasia, dia berkata lagi dengan nada dingin,
"Bilang! Siapa yang menyuruhmu melakukannya?"
“A-apa yang kamu bicarakan?” Etan masih keras kepala.
__ADS_1
“Oke, kita lihat seberapa lama keras kepalamu bisa berlangsung,” kata Erwin sambil mengeluarkan sebuah belati. Ini adalah senjata yang dia sembunyikan di tubuhnya untuk menyelamatkan diri pada saat kritis, tapi tidak menyangka akan berguna pada saat ini.
"A-apa yang ingin kamu lakukan?” Melihat Erwin mengeluarkan belati, Etan tiba-tiba menjadi panik dan wajahnya menjadi lebih pucat lagi.
"Apa lagi yang bisa kulakukan? Tentu motong yang ada di selangkanganmu," kata Erwin sambil menyeringai.
"Memangnya kamu berani?! Kamu seharusnya tahu ini melanggar hukum, kan?” Etan sangat ketakutan hingga jantungnya berdegup semakin kencang, anak ini sungguh kejam sekali!
"Kita lihat aja!" Kata Erwin, dan menusuk di dekat selangkangannya dengan belati. Etan ketakutan dan ingin melarikan diri, tetapi ditekan oleh Erwin, dan membuatnya tidak bisa bergerak.
“Akan kubilang, kumohon hentikan!” Etan gemetar ketakutan, anak ini sungguh kejam!
Belati itu baru saja menembus celananya, untungnya, dia memohon belas kasihan tepat waktu, jika tidak, belati itu pasti sudah menusuk lebih dalam, melihat ini, Etan terus berkeringat dingin.
“Buka mulut! Kalau kamu jujur dan bantu aku lakukan sesuatu, mungkin aku akan menghadiahimu, yang tentunya lebih banyak dari apa yang kamu dapatkan dari William.” Erwin tersenyum ringan di sudut mulutnya, ternyata mengancam seorang pria itu sesederhana itu, sepertinya rata-rata pria itu tidak ingin kehilangan yang di bawah sana.
Erwin baru menyadari kalau trik ini sangat praktis dan menarik, jika tahu lebih awal, dia pasti akan menggunakannya untuk menginterogasi pemimpin perampok kemarin malam, dan mungkin saja informasi Bang Ivan akan terbongkar di tempat.
Erwin meliriknya dan merasa bahwa ucapannya sepertinya benar, jadi dia bertanya lagi, "Caiden itu siapa???"
“Caiden itu asisten William.” Etan menjawab dengan jujur.
“Ternyata memang William dalangnya!” Erwin mengerutkan kening, William ini licik, dan Ayah Lina bisa dibilang cukup hebat bisa menekannya selama ini.
Tidak heran Lucas khawatir sesuatu yang besar akan terjadi ketika dia tidak berada di perusahaan selama sehari saja, ternyata Lucas tahu kalau William ini akan merajalela begitu tidak ditekan.
Tanda tangan di kertas putih barusan sudah menjelaskan segalanya secara tidak langsung. Untungnya, Erwin menyadarinya tepat waktu, jika tidak, Erwin dan Lina mungkin sudah terkena jebakan yang diatur oleh William.
“Sudah aku jawab, aku boleh lepaskan aku kan?” Etan berkata dengan gelisah, matanya jelas sangat takut pada Erwin.
"Aku bisa saja membiarkanmu pergi, tapi kamu harus bantu aku lakukan satu hal, atau aku akan menyuruh Lina memecatmu sekarang juga, tentu saja, aku akan memberimu hadiah terkait informasi yang sudah kamu berikan." Erwin mengeluarkan sebuah buku cek, menulis 200 juta dan memberikan cek tersebut pada Etan.
Etan terkejut saat melihat cek 200 juta tersebut, karena dia kenal dengan cek ini, yang merupakan cek dari konsorsium Maroko.
__ADS_1
“K-kamu itu Erwin Smith??” Etan pernah melihat cek CEO sebesar 20 miliar sebelumnya, dan tanda tangannya juga sama dengan Erwin, dia juga pernah pergi ke bank bersama CEO untuk verifikasi keaslian ceknya, yang jelas latar belakang Erwin ini tidak biasa!
"Kamu kenal aku?” Erwin juga sangat bingung, sepertinya ini baru pertama kalinya dia bertemu dengan Etan ini, kan?
"Kamu pernah memberi CEO cek senilai 20 miliar, kan?" Etan bertanya dengan gugup.
“Yah, kenapa?” Erwin tidak menyangka Etan tahu kalau dia pernah memberi Lucas cek senilai 20 miliar.
“Aku pernah melihat cek 20 miliar yang sama persis ini dari CEO." Etan tiba-tiba menyesal, kalau menyinggung seseorang dengan latar belakang yang setinggi itu, mungkin bukan masalah besar bagi Erwin untuk membunuhnya sekarang juga tanpa meninggalkan jejak.
Memikirkan hal ini, Etan mulai ketakutan, tetapi untungnya dia masih bisa menebusnya, jadi dia dengan cepat mengembalikan cek senilai 200 juta itu kepada Erwin.
"Tuan Erwin, katakan saja apapun perintahmu, maaf karena tidak mengenalimu sebelumnya, sekarang aku hanya berharap untuk menebusnya!" Etan menyeka keringat di dahi, kalau Erwin punya dendam dengannya, dia bukan hanya akan kehilangan pekerjaan, mungkin nyawanya sendiri juga tidak akan bisa dipertahankan lagi.
“Oh?” Erwin tiba-tiba mengerutkan kening, mengapa Etan ini tiba-tiba menjadi patuh? "Ambil aja 200 juta ini, kalau kau berani bohong, akibatnya tidak sesederhana kehilangan pekerjaan dan yang ada di selangkanganmu itu."
Erwin mengancam dengan nada dingin.
"Tuan Erwin, aku tidak mungkin berani menipu! Aku sumpah demi Tuhan akan bersedia menebusnya, jika tidak, aku mengutuk seluruh keluargaku sendiri mati mengenaskan."
Etan tiba-tiba bersumpah karena takut dengan latar belakang Erwin, sama seperti Lucas yang menebak latar belakang Erwin saat itu.
“Oke, kalau gitu, aku mau kau lakukan hal yang sama, yaitu minta tanda tangan William di selembar kertas kosong, kau percaya diri bisa dapat?” Erwin ingin membalas dengan cara yang sama, sepertinya akan sulit untuk memikirkan cara merebut saham dari tangan William, dengan menggunakan cara seperti ini, mungkin akan berhasil merebut saham dengan harga yang sangat rendah.
"Ini mudah, William sedang fokus terhadap sebuah pembangunan hotel baru di timur kota baru-baru ini, dia menyogokku untuk mrmbuat dua akun rekening untuknya, sehingga dia bisa korupsi dengan aman! Aku tinggal tambahkan satu halaman kertas putih untuk ditanda tanganinya," kata Etan setelah berpikir sejenak.
“Oke, kalau begitu cepat ambil tindakan.” Erwin mengangguk, kemudian meminta Lina yang menjaga di luar ruang rahasia untuk membawa selembar kertas putih dan pena, lalu menyerahkannya kepada Etan.
“Kamu cukup tiru tanda tangan Lina di kertas putih ini.” Erwin melakukan ini agar William mengendurkan kewaspadaannya, dan juga untuk memberi Etan peringatan, bahwa pemalsuan tanda tangan itu juga melanggar hukum dan bisa masuk penjara.
“Baik, Tuan Erwin.” Etan tidak ragu-ragu, dan segera melakukan apa yang diperintahkan, pada saat ini, dia tidak berani menyinggung Erwin lagi sama sekali.
Erwin mengangguk, sangat puas dengan sikap Etan, dan ketika mendengar bahwa William itu koruptor, sebuah pemikiran diam-diam muncul di benaknya.
__ADS_1