
Erwin menggunakan uang untuk memenangkan hari para petinju hitam untuk sementara ini, dan transfer uang untuk setiap petinju, dengan total menghabiskan lebih dari 240 miliar rupiah, untuk merekrur 120 lebih petinju hitam di tempat kejadian.
Namun sangat disayangkan Dallen yang menduduki peringkat pertama di stadion tinju hitam tidak datang untuk mendaftar dan mengisi formulir, kemungkinan karena tidak tertarik dengan uang itu atau yang diberikan Rio lebih banyak.
Kelompok petinju hitam ini telah berubah pihak, dan situasi di tempat kejadian telah sepenuhnya terbalik, sisi Erwin punya jumlah yang jauh lebih banyak dari Rio, jika masih ingin berhadapan dengan Erwin saat ini, diperkirakan harus dipertimbangkan kembali.
“Anton, kau bisa pergi sekarang.” Melihat situasi keseluruhan sudah beres, Erwin membebaskan Anton.
Setelah Anton yang pucat pergi, Rio buru-buru menyuruh bawahannya untuk merawat Anton, lalu berbalik dan berkata kepada Erwin dengan sedikit niat membunuh,
"Erwin, dendam ini akan kuingat, kupastikan akan mengembalikannya sepuluh kali lipat di masa depan!"
“Aku justru khawatir kau tidak dendam!” Erwin berkata sambil tersenyum tipis.
Sekarang Rio tidak punya tim petinju hitam, itu sama dengan mematahkan salah satu sayapnya, seiring waktu, Erwin pasti dapat sepenuhnya mengusir Rio dari lingkaran bisnis di utara kota.
"Ayo pergi!" Setelah Rio menatap Erwin dengan tatapan sinis, dia dengan cepat membawa orangnya pergi, ini adalah hari yang paling memalukan baginya, meskipun berhasil menyelamatkan putranya, tapi dia kehilangan Klub Hiburan Fox yang paling menguntungkan beserta tim petinju hitam.
Dalam hatinya, dia diam-diam menyimpan dendam pada Erwin, jika Erwin ini tidak dimusnahkan, dia tidak akan punya wajah untuk mengangkat kepalanya dengan bermartabat di utara kota ini.
Rio membawa orang-orang pergi, selusin van melaju kencang di depan Erwin, dan akhirnya perlahan menghilang dari pandangan.
Melihat Rio sudah pergi, Doni akhirnya menghela nafas lega.
“Tuan Erwin memang hebat bisa mengusir Rio.” Doni mengagumi Erwin yang masih muda ini dari lubuk hatinya.
“Selanjutnya lebih fokuslah pada Klub Hiburan Fox, sedikit pengawal di Perusahaan Real Estate Hype sudah saja cukup.” Erwin berkata dengan ringan, Klub Hiburan Fox baru saja ditundukkan, dan masih banyak hal yang harus ditangani, terutama tim petinju hitam.
“Baik Tuan Erwin, semuanya sesuai perintahmu.” Pada saat ini, Doni sepenuhnya memuja Erwin dan mengakui Erwin sebagai majikan dari lubuk hatinya.
Saat malam hari, Damon akhirnya pulang dan tampak berantakan.
Erwin langsung memanggilnya ke ruang konferensi secara khusus.
"Damon, bagaimana kerja sama dengan keluarga Davis?” Erwin ingin tahu apakah keluarga Davis di utara kota bisa diajak kompromi, karena itu terkait dengan apakah mereka dapat dengan cepat menempati pasar distrik bisnis di utara kota.
"Tuan muda, aku sudah barter beberapa saham dengan keluarga Davis, bisa dikatakan berhasil ditangani, tapi tidak realistis untuk meminta mereka membantu kita, paling mereka hanya akan bertindak netral," kata Damon dengan jujur, dan diam-diam menghela nafas tak berdaya karena keluarga Davis benar-benar cerdik.
“Sudah cukup bagus bisa dapat hasil seperti itu, setidaknya kita hanya perlu menghadapi keluarga Louis dan Keluarga Cole di utara kota.” Erwin mengangguk, ini kabar yang cukup baik, selama keluarga Davis bertindak netral, maka tekanan yang perlu dihadapi juga lebih sedikit.
Damon juga mengangguk setuju, kemudian Erwin mengeluarkan dua kontrak dan menyerahkannya kepada Damon sambil melanjutkan,
"Ini dua kontrak saham Hotel Sixgold dan klub hiburan Fox, mulai sekarang akan jadi milik Perusahaan Investasi Erlin-ku, atur seseorang untuk tangani secepat mungkin.
__ADS_1
"Selain itu, ada stadion tinju hitam di lantai bawah tanah Klub Hiburan Fox, yang berisi lebih dari 100 petinju hitam yang sudah setuju untuk bergabungku, kamu bisa ambil alih tempat itu, dengan bergabungnya kelompok petinju hitam ini, kekuatan kita di utara kota pasti akan meroket!"
Erwin bermaksud untuk menyerahkan tugas-tugas membosankan ini kepada Damon.
"Baik, Tuan Muda, akan kusuruh seseorang untuk tangani besok."
Damon terkejut saat mendengar bahwa tuan mudanya telah mengumpulkan dua aset lagi hanya dalam beberapa hari, di antara ada Klub Hiburan Fox yang merupakan industri paling menguntungkan dari keluarga Louis, pada saat yang sama membuat Damon diam-diam mengagumi Erwin dalam hati.
Setelah menjelaskan semua yang diperlukan, Erwin tiba-tiba merasa jauh lebih baik.
Ketika kembali ke kantor CEO, Giselle sedang mengoles obat pada Lisa, keseharian Lisa penuh dengan pertarungan beberapa hari ini, jadi terluka itu adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari.
"Lisa, kamu sudah bekerja keras untukku selama dua hari ini, jadi begitu masalah di utara kota ini selesai, aku akan memberimu cuti seminggu, istirahatlah atau kunjungi guru beserta adik kakak seperguruanmu." Erwin mendekat untuk menghiburnya.
"Benarkah?" Ekspresi kerinduan dan kegembiraan muncul di mata Lisa, dia sudah tidak mengunjungi guru dan adik kakak seperguruannya selama lebih dari tiga bulan, jadi sangat merindukan mereka.
“Yah, tentu saja.” Erwin berkata sambil tersenyum.
"Terima kasih sepupu!" Lisa menjawab dengan gembira.
“Oke, aku mau mandi dulu, kalian lanjut saja olesin obatnya.” Erwin berencana untuk mandi dan tidur, karena besok akan jadi hari yang sibuk.
Ada kamar kecil di kantor CEO, yang dilengkapi kamar mandi juga, jadi setelah Erwin membuka pintu rahasia, dia masuk dan mulai melepas pakaiannya untuk mandi.
Begitu baru saja menanggalkan semua pakaian dan menyalakan shower untuk mandi, Giselle tiba-tiba berlari dengan penuh semangat, saat ini masih Erwin belum sempat untuk menutup pintu kamar mandi.
Namun, karena terlalu bersemangat hingga lupa Erwin sedang mandi, jadi begitu masuk, Giselle melihat seluruh tubuh Erwin tanpa sehelai pakaian sama sekali.
Tiba-tiba mata indah Giselle terpana dan mulutnya terbuka sedikit, seluruh tubuhnya serasa membeku di tempat.
“Cepat keluar, aku lagi mandi, nanti saja bahasnya!” Erwin ketakutan hingga buru-buru meraih handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, wajahnya bahkan memerah.
Giselle tersipu, tapi matanya masih menatap sampai Erwin mengusir, baru dia meminta maaf dan keluar dengan canggung.
"Erwin, aku terlalu bersemangat jadi tak sadar kalau kamu itu sedang mandi, maaf!"
Giselle menutupi wajah dan buru-buru keluar dengan rasa malu yang mendalam, Lisa tanpa sadar bertanya dengan penasaran setelah melihatnya,
"Giselle, ada apa denganmu? Wajahmu merah sekali."
“Tidak masalah, sini kita lanjut olesin obatnya.” Giselle menarik napas dalam, berusaha menyingkirkan pemandangan yang baru saja dia lihat dalam benaknya, tapi tidak peduli apapun yang dia lakukan, tampilan tubuh Erwin terus muncul dslam pikirannya, ini yang membuat wajahnya semakin merah.
Dia bahkan lupa bahwa Elijah ingin menjual saham Laws Group dengan harga murah, dan baru teringat kembali saat larut malam.
__ADS_1
“Gawat, aku lupa beritahu Erwin soal saham yang dipegang Elijah!” Setelah berguling beberapa kalo di tempat tidur, Giselle baru memutuskan untuk mencari Erwin di luar, karena kabar ini terlalu penting, jika terlewatkan, maka akan kehilangan 5% saham ini.
“Sudahlah, masalah ini terlalu penting untuk ditunda!” Giselle mengenakan piyama sutra merah seksi, berjalan keluar dari kamar kecil ke kantor CEO di luar.
Pada saat ini, Erwin bersandar di sofa dengan nyaman sambil menonton siaran langsung Nora di ponsel, melihat bahwa Nora tidak berkeliaran di luar rumah, Erwin sawer beberapa sebagai hadiah.
“Erwin, aku lupa memberitahumu sesuatu yang penting.” Giselle mendatangi Erwin dengan canggung dan duduk di sebelahnya.
"Ada apa? Kalau itu tentang yang terjadi di kamar mandi barusan, tak usah dipedulikan, jangan masukkan ke dalam hati." Erwin tidak mempermasalahkan masalah itu lagipula dia itu seorang pria, jadi tidak keberatan tubuh telanjangnya dilihat semua oleh Giselle.
“Aku akan tanggung jawab atas kejadian di kamar mandi tadi.” Melihat Erwin tiba-tiba menyebutkan kejadian itu, Giselle menjawab dengan wajah memerah.
"Tanggung jawab? Gimana tanggung jawabnya? Ingin aku lihat balik punyamu?" kata Erwin dengan nada bercanda.
“Aku tidak keberatan kalau dilihat balik, tapi aku khawatir kamu tidak bisa menahan diri nanti.” Bibir merah Giselle tersenyum, dia sangat percaya diri dengan bentuk tubuhnya sendiri, setiap pria yang lihat pasti tak akan bisa menahan diri, termasuk Erwin.
Justru Giselle ingin melakukan ini, karena dengan begitu dia bisa merebut Erwin dari Lina.
“Serius?” Erwin tanpa sadar melirik lekukan tubuh Giselle, terutama sepasang kaki putih ramping dan dada yang menjulang itu, Erwin sedikit terpana.
"Mau tantang? "Giselle tiba-tiba bertanya dengan genit.
“Tadi apa, kalau tidak penting aku mau tidur dulu.” Erwin menelan ludah, karena sadar pasti tidak akan bisa menahan diri melihat tubuh Giselle.
Giselle tersenyum lembut, Erwin ini terlalu imut! Tak lama kemudian dia baru teringat masalah Elijah, dan berkata dengan tegas,
"Ngomong-ngomong Erwin, Elijah tiba-tiba minta diskusi tentang 5% saham Laws Group, sekarang dia dalam keadaan darurat dan ingin menjual sahamnya."
"Benarkah? Di mana dia dan berapa harganya?” Erwin menjadi tenang.
“8 miliar, tapi dengan syarat harus membantunya,” kata Giselle sambil mengerutkan kening.
“Dari 800 miliar jadi 8 miliar, sepertinya Elijah memang menghadapi masalah yang sulit, apa bantuan yang dimintanya?” Erwin memikirkannya dan bertanya.
"Dia menjadi buronan Keluarga Cole di utara kota dan tidak punya tempat untuk kabur, dia sedang bersembunyi di sebuah pabrik terbengkalai di utara kota, jadi memintaku untuk membantunya melarikan diri dari Kota Bandung, itu yang membuatnya bersedia menjual saham dengan harga murah." Kata Giselle.
“Sepertinya kali ini dia benar-benar tidak punya pilihan lain, orang-orang mungkin tidak ingin menyinggung Keluarga Cole di utara kota, jadi tidak ada pembeli.” Erwin tersenyum, Keluarga Cole di utara kota punya banyak kekuatan, jadi siapa yang ingin mempertaruhkan nyawa hanya untuk menyelamatkannya di utara kota demi 5% saham Laws Group?
"Benar, sepertinya dia berutang banyak uang pada Keluarga Cole, dan diburu oleh Keluarga Cole di utara kota, tidak ada yang akan berpikir untuk pergi ke utara kota untuk menyelamatkannya, karena itu mungkin akan menyinggung Keluarga Cole, jadi dia terpaksa terus menurunkan harga jual sahamnya." Giselle menganalisis dengan serius.
"Lalu apa kita terima? Menyinggung Keluarga Cole juga akan mempersulit kita nanti."
"Mana boleh melewatkan kesempatan yang sebagus itu? Terima saja, tapi harganya masih agak tinggi!" Erwin tersenyum, dia tidak takut dengan Keluarga Cole di utara kota, tentu dia ingin memanfaatkannya kondisi ini untuk terus memotong harganya, kalau tidak pasti akak menyesal nanti!
__ADS_1