
Di trotoar jalan Kuil Daerah Hype pusat kota, Erwin membawa Lisa, Leona, dan Sharon untuk berbelanja ke mall yang ada di dekat kuil Daerah Hype ini.
Leona dan Sharon adalah orang pegunungan, jadi mereka biasanya hanya memakai pakaian training, karena akan tinggal di kota ini mulai sekarang, otomatis mereka harus mengganti cara berpakaian.
"Di luar rumah jangan panggil aku tuan muda, panggil aja sepupu, kalau begitu Leona itu sepupu kecil, dan Sharon iru sepupu tertua kita, paham?" Erwin masih tidak ingin menimbulkan masalah yang tidak perlu.
"Baik, sepupu." Jawab Sharon dengan sedikit canggung.
"Kalau begitu abang sepupu kedua." Sikap Leona tetap penuh energi, dan penampilannya imut membuat Erwin tanpa sadar mengelus kepalanya.
"Begitu masuk mall nanti, termasuk Lisa, pilih dan ambil saja apapun yang kalian suka, aku yang bayar." Kata Erwin dengan tulus.
"Terima kasih, abang sepupu kedua." Leona dengan cepat terbiasa, dia sudah lama penasaran dengan kehidupan di luar pegunungan, dan karena akhirnya bisa meninggalkan pegunungan, otomatis dia sangat bersemangat sekarang.
Ini adalah pertama kalinya Leona dan Sharon datang ke kota untuk melihat dunia luar, mereka sangat penasaran dan tertarik dengan segala sesuatu di sini, jadi begitu melihat ada yang menarik, mereka pasti ingin coba.
“Sepupu kedua, apa itu? Kenapa orang itu teriak-teriak sambil pakai helm?” Leona tiba-tiba menjadi tertarik dengan game virtual VR di mall, tapi dia tidak tahu itu disebut game virtual VR.
"Itu game virtual VR, bisa main game secara tiga dimensi dengan helm itu." Erwin menjelaskan dengan serius.
"Mau coba ya? Setelah orang itu selesai main, pergilah coba gamenya."
"Boleh, boleh!" Leona bertepuk tangan sambil berkata dengan penuh semangat.
Tak lama kemudian, Leona langsung memainkan game virtual VR, game tersebut tentang bertahan hidup melawan zombie, ada TV LCD yang tergantung di dinding belakang Leona, jadi semua orang bisa melihat sudut pandang pertama Leona.
Setelah permainan dimulai, layar TV muncul banyak zombie yang mengepung di sekitar Leona.
"Sepupu kecil, cepat keluarkan pistolnya." Erwin mengingatkan dengan cepat, karena khawatir Leona tidak pandai memainkannya, tapi yang mengejutkan Erwin adalah Leona tidak pakai pistol sama sekali, tapi langsung melakukan tendangan ke arah zombie dalam game.
Erwin sedikit terkejut, orang yang berlatih seni bela diri dari kecil memang beda, di dalam game juga ingin menggunakan kemampuan asli untuk bertahan!
Namun, tendangannya tidak berguna, karena sistem permainannya diatur menggunakan pistol untuk membunuh zombie, Leona yang melihat zombie yang ditendangnya tidak tumbang, langsung meningkatkan tenaga dan frekuensi tendangan, dan sebuah suara pecahan kaca yang keras tiba-tiba terdengar.
__ADS_1
Leona tidak sengaja menendang TV LCD yang tergantung di dinding hingga hancur berkeping-keping, sangking kuatnya sampai dinding di belakang TV juga retak sebagian.
Para penonton dan staf langsung terpana.
"Tenaga gadis kecil ini sungguh kuat sekali!"
Leona juga tampaknya menyadari sudah menendang sesuatu, jadi segera melepas helm VR dan melihat TV LCD yang pecah dengan wajah yang sedikit panik.
"Tak masalah, tak masalah, biarku atasi." Erwin berusaha untuk menghibur, kemampuan kaki Leona sungguh kuat dan sepertinya tidak kalah dengan Lisa sama sekali.
Erwin langsung berkomunikasi dengan staf dan membantu rugi semua kerusakannya, sebenarnya bagi Erwin uang kompensasinya tidak seberapa, semuanya sepadan selama Leona dan yang lainnya bisa bersenang-senang!!!
Setelah kejadian itu, Leona menjadi sedikit lebih patuh.
Mereka jalan-jalan di mall dari pagi hingga siang, dan membeli banyak barang, terutama pakaian dan sepatu, tapi perempuan yang berlatih seni bela diri sepertinya tidak suka pakai rok, Lisa dan Leona sama-sama membeli celana ketat, dan yang sedikit longgar.
Setelah mengunjungi mall, Erwin membawa mereka untuk makan sepuasnya, kemudian lanjut bersenang-senang hingga malam, dan pada akhirnya baru memutuskan untuk pulang, tapi sesampai di tempat parkir, seseorang sudah menunggu mereka.
Tepat ketika Erwin hendak membuka pintu mobil, sekelompok orang tiba-tiba mendekat dan mengepung mereka.
Earson berjalan keluar dari kerumunan dengan seorang pria paruh baya berjas hitam, kerumunan ini setidaknya berjumlah 30 orang, yang semuanya adalah personel keamanan keluarga Ragnarson, mereka dibawa ke sini hanya untuk mengungguli jumlah, yang kuat dalam bertarung hanya pria berbaju hitam di sebelah Earson, yaitu pengawal yang dikirim ayah Earson untuk melindungi Earson, sekaligus disebut sebagai master seni bela diri.
“Kau pasti putra tertua keluarga Baxter, Drake Baxter, kan!” Erwin tahu orang ini, saat pelelangan amal sebelumnya, Drake ini yang rebutan Cincin biru Bulgari dengannya, jadi otomatis meninggalkan kesan yang cukup kuat.
"Bagus, kau masih ingat sudah menipu aset adikku?" Earson berkata dengan gigi terkatup.
“Tentu saja, kali ini kau yang mau kutipu asetnya?” Erwin tersenyum, karena membawa tiga master beladiri, mana mungkin Erwin takut?
"Hehehe, sudah di situasi ini masih aja sok kuat? Akan kuperlihatkan alasan keluarga Baxter kami disebut salah satu empat keluarga raksasa di ibukota!" Earson melambaikan tangan dan berteriak, "Hajar sampai mati!!"
Drake sudah datang ke Kota Bandung jauh-jauh dari ibukota, dengan tujuan merebut kembali aset adiknya yang ditipu Erwin, dia awalnya ingin mengandalkan keluarga Ragnarson untuk menekan High Build Group, dengan begitu asetnya akan lebih mudah dirampas kembali saat kondisi High Build Group dalam keadaan krisis, tapi ternyata orang-orang keluarga Ragnarson dan yang lainnya hanya sampah yang tak berguna!
Kesabarannya sudah kehabisan, Drake merasa hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk mendapatkan kembali aset 8-10 triliun ini."
__ADS_1
"Bagus." Erwin tersenyum ringan.
Tanpa menunggu perintah dari Erwin, Lisa, Sharon, dan Leona langsung meletakkan barang-barang di tangan dan menyerang sekumpulan personel keamanan yang datang.
Dalam beberapa gerakan, personel keamanan di depan dipukul tumbang satu per satu, personel keamanan di belakang yang menyusul juga mengalami hal yang sama dalam beberapa detik.
Erwin hanya berdiri diam di tempat, 30 personel keamanan yang datang sama sekali tidak bisa mencapai tempat Erwin berdiri, dapat dilihat betapa amannya Erwin dalam perlindungan Lisa, Sharon, dan Leona.
Earson yang melihat ini diam-diam terkejut, karena tidak menyangka tiga orang yang mengikuti Erwin ini akan begitu kuat!
"Lucius, kuserahkan padamu." Drake dengan tak berdaya berbalik untuk melihat pria paruh baya dengan jas hitam di sampingnya. Pria paruh baya itu bernama Lucius dan dikenal sebagai master kungfu Wing Chun!
"Aku justru mau lihat seberapa hebatnya mereka ini," kata Lucius dengan mata berbinar, dan setelah berlari cepat, dia langsung menendang ke arah Leona dengan kecepatan secepat kilat.
Sedangkan Leona yang baru saja merobohkan seorang penjaga keamanan, saat ini berbalik dan menyadari tendangan itu, tapi sudah tidak sempat untuk menghindar sekarang.
Tendangan Lucius langsung mengenai Leona, dan membuat Leona terpental jauh, jatuh ke tanah dan terbatuk beberapa kali.
"Leona!" Erwin langsung bergegas membantu Leona berdiri, dan bertanya dengan khawatir. "Kamu baik-baik saja?"
"Gapapa, hanya saja nafasku menjadi kacau karena tendangan itu, orang ini jelas seorang master."
Leona hendak bangkit dari tanah, tapi Lucius sudah mengangkat tinju dan menghantam ke arah punggung Erwin, tinjunya terlihat berat dan kuat, jika terkena pukulan itu pasti akan mengalami cedera berat.
Erwin masih memunggungi Lucius dan tidak menyadari serangan itu, sementara Lisa di samping yang menyadari ini sudah bertindak dengan buru-buru!
"Hati-hati."
Pada saat kritis, Lisa tanpa pikir panjang langsung menendang tinju Lucius, tendangan dan tinju yang saling bertabrakan membuat keduanya terpental hingga mundur beberapa langkah, tapi keseimbangan tubuh Lucius segera stabil kembali dan terlihat sangat santai.
Sedangkan kaki Lisa yang bertabrakan dengan tinju itu terlihat sedikit gemetar, bahkan wajah Lisa juga sangat pucat.
"Ini mustahil, bahkan Lisa juga bukan lawannya." Erwin menyadari kaki Lisa yang gemetar, dan baru sadar akan seberapa kuat tinju Lucius tadi.
__ADS_1
"Lisa, Leona, kalian bukan lawannya, lindungi tuan muda, biar aku saja yang menghadapinya." Sharon mengalahkan beberapa personel keamanan yang mendekat, kemudian berdiri di depan Erwin dan bersiap untuk menghadapi Lucius.
“Menarik, tak kusangka ada tiga murid pencak silat di sini, tapi sayangnya kalian salah pilih lawan!” Kata Lucius sambil mengeluarkan jurus Wing Chun untuk menyerang Sharon dengan ganas.