
Setelah setuju bantu menandatangani kontrak untuk Ibu Lina, Erwin langsung menelepon CEO cantik Virtues Group keesokan harinya dan melaporkan identitasnya.
Ghania tidak berani mengabaikan, begitu sudah memastikan identitas asli Erwin, dia langsung memutuskan untuk datang ke Kota Bandung untuk menemui Erwin secara langsung, yang menunjukkan bahwa dia sangat mementingkan Erwin.
Erwin meneleponnya saat pagi hari dan siang harinya CEO cantik itu sudah datang mengunjunginya secara langsung. Erwin sangat terkejut kinerja CEO cantik ini akan begitu efisien.
Apalagi CEO ini begitu cantik dan memancarkan aura wanita dewasa dan feminin yang menawan.
Ditambah riasan tipis tipis di wajahnya, bibir merah yang merona, rambut bergelombang, dan tahi lalat cantik di bawah sudut matanya.
Dia mengenakan seragam kantoran kemeja putih, dan rok span hitam, dengan dua kaki putih ramping yang dibungkus stoking hitam, yang memperlihatkan lekukan bentuk tubuhnya yang sempurna, sedangkan kakinya memakai sepasang sepatu hak tinggi seksi berwarna merah.
“Tuan muda, apakah Anda memanggilku karena ada keperluan?” Meskipun Ghania adalah CEO cantik yang dingin dan mendominasi di Virtues Group, tapi saat menghadapi Erwin yang merupakan tuan muda Industri Smith, dia tetap sedikit menundukkan diri.
"Aku mau kontrak kerjasama pemasokan bahan bangunan untuk proyek pembangunan Real Estat West Garden di barat Kota Bandung.” Erwin duduk di sofa sambil menatap CEO cantik itu dan memberitahu tujuannya untuk sebenarnya.
Ghania terkejut sejenak, dia tidak nyangka seorang Tuan muda dari Industri Smith akan mengurus masalah sekecil ini, tapi dia sangat pintar, jadi bisa dengan cepat memahami maksud dari Erwin.
“Tidak masalah, tolong beritahu saya Tuan muda ingin memberi kontraknya pada perusahaan mana, jadi saya bisa menyuruh bawahan saya untuk bersiap-siap.” Ghania tidak ragu-ragu, dan segera menyetujui permintaan Erwin.
"Kepada Perusahaan Bahan Bangunan Rick, tapi orang yang menandatangani kontrak itu harus Mary Millano, cukup Ingat aja namanya." Erwin menjelaskan secara rinci, karena takut Ghania malah memberi kontraknya pada kedua bibi Lina, soalnya mereka berdua juga mewakili Perusahaan Bahan Bangunan Rick.
"Baik Tuan muda, saya jamin bawahan saya pasti akan mengingatnya.” Ghania mengangguk, dan melanjutkan setelah jeda.
"Saya akan berada di Kota Bandung beberapa hari ini, jadi kalau ada keperluan, tolong hubungi saya."
"Baguslah kalau begitu, kau udah datang secepat ini, pasti belum makan, kan? Sekalian makan siang di sini aja." Kata Erwin sambil mengisyaratkan Anita untuk menyiapkan makan siang. Ghania ingin menolak, tapi pada akhirnya tak jadi.
“Terima kasih, Tuan muda.” Ghania tidak bisa menahan diri dan menatap Erwin beberapa kali lagi.
Untuk bersaing mendapatkan kontrak pemasokan bahan bangunan dari Perusahaan Real Estat West Garden, dalam beberapa hari ini, semua pemasok bahan bangunan terkenal di Kota Bandung sudah datang ke barat kota untuk membahas tentang kerja sama, bahkan ada perusahaan pemasok bahan konstruksi yang memiliki hubungan, datang menemui General Manager secara langsung ke markas utama Perusahaan Real Estat West Garden di Kota Jakarta untuk membahas kerja sama.
Ibu Lina, dan kedua bibi Lina juga sudah ke sana untuk bahas kerja sama, tapi jelas kedua bibi Lina berhasil memanfaatkan bantuan koneksi pacar putri mereka untuk menghubungi orang-orang atasan Perusahaan Real Estat West Garden, yang salah satu atasan yang disebut tadi sepertinya seorang wakil CEO.
Untungnya, Real Estat West Garden di barat Kota Bandung baru-baru ini memutuskan untuk mengadakan konferensi investasi bahan bangunan, yang mengundang banyak pemasok bahan bangunan terkenal dari Kota Bandung untuk berpartisipasi dalam konferensi tersebut, dan memutuskan untuk menandatangani kontrak dengan pemenang yang paling unggul di antara semua perusahaan pemasok yang ikut serta.
Tentu saja, ini hanya untuk dilihat publik, pemenang pasti punya orang dalam atau punya hubungan dengan mereka.
Mary yang menerima pemberitahuan dan undangan mulai menyiapkan materi sesegera mungkin, terutama dalam kutipan, layanan, kualitas, dan lain sebagainya. Selain bersaing dengan dua saudarinya, dia juga harus bersaing dengan pemasok bahan bangunan lainnya di Kota Bandung yang tentunya tidak sedikit.
__ADS_1
Hari konferensi promosi investasi bahan bangunan yang diadakan oleh Perusahaan Real Estat West Garden pun tiba. Erwin juga diundang untuk pergi, tapi dia pergi bersama Mary, Lucas dan Lina.
“Erwin, udah hubungi orang yang bisa bantu kita?” Tanya Mary dengan nada yang tak ramah begitu turun dari mobil, dia memang tak menaruh harapan besar pada orang yang dicari anak miskin ini.
“Udah, tapi dia mungkin gak bisa hadir di sana hari ini.” Erwin mengatakan yang sebenarnya, karena Ghania sedang ada urusan di suatu tempat di Kota Bandung ini.
Mendengar ini, Mary mulai mencemooh. "Udah kutau kamu memang tak bisa diandalkan, tapi hadir juga tak ada gunanya, karyawan biasa juga tak bisa apa-apa saat tanda tangan kontrak nanti."
Erwin tersenyum dan tidak membantah, karena tinggal lihat hasilnya nanti saat itu. Tapi Lina mendekati Erwin dengan cemas dan bertanya dengan suara rendah,
"Erwin, temanmu serius bisa bantu kontraknya nanti?"
Lina khawatir kalau kontrak kerja sama kali ini tak berhasil, maka dia harus berpisah dengan Erwin sesuai dengan taruhan yang sudah disepakati, ini adalah kejadian yang tidak dia inginkan.
“Tenang aja, udah kuatur semuanya, ibumu pasti bisa menandatangani kontraknya.” Erwin juga berkata dengan suara rendah.
“Baguslah kalau gitu.” Hanya Lina yang sangat percaya pada Erwin.
Erwin dan yang lainnya ikut Mary masuk ke ruang pertemuan Asosiasi Pedagang, dan melihat sudah ada banyak orang dari industri bahan bangunan yang tiba lebih awal di dalamnya. Kedua saudari Mary, Meisha dan Maida juga ada di sini, mereka membawa putri beserta pacar putri mereka, dibandingkan dengan Erwin yang miskin dari pedesaan, tentu pacar putri mereka berdua itu anak orang kaya.
"Kakak kedua, kamu akhirnya datang juga!" sapa Maida sambil tersenyum, Meisha juga datang setelah mendengar itu, wajah mereka berdua benar-benar penuh dengan senyuman palsu.
“Jalan macet tadi,” kata Mary dengan senyum canggung.
"Sebenarnya, gak ada pengaruh juga mau datang atau tidak, soalnya orang yang dipilih Perusahaan Real Estat West Garden pasti bukan kamu," kata Meisha.
Mary jadi kesal dan menjawab,
“Kampanye ini aja belum mulai, gimana kamu bisa tau siapa yang tak terpilih.” Mary masih sangat percaya diri dengan materinya.
“Hehe, jangan-jangan kamu sangking naifnya sampai berpikir konferensi bahan bangunan West Garden ini beneran dipilih berdasarkan kemampuan ya?” Meisha tak bisa menahan diri dan berkata dengan nada menghina.
"Bukan mau sombong, tapi pacar putriku yang dari keluarga Barnard barat kota punya koneksi dengan wakil CEO West Garden, jadi kemarin kami udah ke Jakarta buat diskusi kerja sama sama dia, mungkin setidaknya 80% ke atas aku akan terpilih"
Begitu Meisha selesai berbicara, Maida juga mulai pamer.
"Maaf, tapi paman pacar putriku itu penanggungjawab pemasok bahan bangunan Real Estat West Garden kali ini, jadi maaf ya, sepertinya aku yang bakal menang nanti."
“Kalau gitu kita lihat saja nanti!” Setelah Mary selesai berbicara, dia beneran kesal parah.
__ADS_1
Begitu tanpa sadar melirik Erwin, itu bahkan lebih membuatnya frustrasi dan marah.
Putrinya punya pacar yang miskin dan tak punya kekuasaan, itu membuatnya merasa sia-sia melahirkan seorang putri yang secantik itu.
Namun, dia merasa sedikit lebih baik setelah berpikir kalau kontrak ini gagal, Erwin akan putus dengan Lina, dan itu sepadan.
Seiring berjalannya waktu, ada semakin banyak orang yang datang ke ruang pertemuan, sampai-sampai ada juga banyak senior dalam industri bahan bangunan di Kota Bandung.
Pada saat ini, bahkan Meisha dan Maida juga berada di bawah tekanan besar, karena ada begitu banyak pesaing yang menjalankan industri seperti mereka, tentu mereka akan berada di bawah tekanan besar untuk memenangkan kampanye ini, karena pasti ada peserta yang punya orang dalam juga di sana, dan orang dalam yang orang-orang ini cari juga takkan jauh lebih buruk dari pacar putri mereka.
Saat sudah hampir semua orang sampai di ruang pertemuan, perwakilan yang tiba sudah sekitar empat puluh perusahaan, kalau mau menonjol di antara empat puluh perusahaan ini tanpa orang dalam, peluang untuk menang pada dasarnya adalah nol.
Setelah semua orang tiba, penanggungjawab Perusahaan Real Estat West Garden muncul di ruang pertemuan, dia itu adalah seorang pemuda berkacamata dan berkata kepada semua orang begitu datang.
"Selanjutnya, tolong serahkan bahan materi yang telah disiapkan, dan kami akan memeriksa dari segi harga, layanan, kualitas, dan indikator lainnya secara rinci, setelah pemeriksaan selesai nanti, ronde pertama pemasok yang terpilih akan diumumkan."
Begitu suara itu keluar, perwakilan dari lebih dari empat puluh pemasok bahan bangunan di bawah menyerahkan bahan yang telah mereka siapkan masing-masing, Mary juga tidak terkecuali, tetapi dia semakin tidak percaya diri saat ini.
Dengan adanya begitu banyak pemasok, pasti banyak yang lebih unggul dalam masalah harga, kualitas, layanan, daripada materi yang dia usulkan, ditambah tak ada satupun orang dalam yang akan bantu dia.
“Kayaknya beneran gak ada harapan lagi kali ini!” Mary menghela nafas diam-diam, tetapi begitu terpikir bisa memanfaatkan ini untuk memisahkan Erwin dari putrinya, dia merasa ini sepadan.
Dia bahkan sudah mulai mempertimbangkan, untuk meminta orang kaya yang berkuasa untuk memperkenalkan anak kaya kepada putrinya, dan latar belakang keluarga calon pasangan putrinya harus lebih bagus berlipat ganda dari pacar putri kedua saudarinya, sehingga dia bisa pamer balik di depan mereka.
Erwin cukup tenang, tetapi Lina adalah yang paling gugup di tempat kejadian, bahkan wajah cantiknya sampai pucat karena gugup.
“Erwin, serius ini tak masalah?” Lina masih bertanya dengan khawatir.
“Tenang aja, kali ini bukan cuma bisa dapat kontraknya, tapi sekaligus pemasok eksklusifnya." Kata Erwin sambil tersenyum.
Setelah Mary mendengar ini, dia tak bisa menahan diri dan menggelengkan kepalanya, karena merasa anak miskin ini tak bisa apa-apa selain sok-sokan mampu.
Setelah menunggu hampir dua jam, penanggungjawab Perusahaan Real Estat West Garden keluar lagi dan mengumumkan.
"Para hadirin sekalian, tinjauan data ronde pertama sudah selesai, total ada lima pemasok yang berhasil lolos ke tinjauan ronde kedua. Selanjutnya, saya akan umumkan nama dari lima pemasok ini beserta perwakilannya."
Semua orang di tempat kejadian menjulurkan leher dan menunggu pengumuman. Mary dan yang lainnya tiba-tiba menjadi gugup, terutama Lina, yang menggenggam erat tangan Erwin dengan kedua tangan kecilnya, seolah takut Erwin akan pergi kapan saja.
Di tempat kejadian sepertinya hanya Erwin yang paling tenang, bahkan sampai ngantuk karena sudah nunggu lebih dari dua jam.
__ADS_1