Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Bab 261 Bertanding


__ADS_3

Setelah Erwin memasuki ruang ganti, Jocelyn terlihat pingsan di meja rias saat ini, dan Lily yang sedang mengikat Jocelyn tiba-tiba menjadi pucat saat melihat kemunculan Erwin.


Erwin yang melihat ini langsung marah besar.


"Cari mati!" Erwin melangkah maju, tidak lagi peduli kalau Lily itu seorang wanita, dan langsung meninju wajah Lily hingga membuat seluruh tubuhnya terpental jauh dan membentur dinding.


Wajah Lily berlumuran darah, tubuhnya perlahan jatuh dari dinding ke lantai dan langsung pingsan.


Sejauh ini, Rencana A yang diatur Yanto telah gagal total. Awalnya, menggunakan rencana A ini adalah cara termudah,   setelah menyogok penata rias untuk mengikat Jocelyn, mereka hanya perlu membawa pergi Jocelyn dengan sebuah karung besar, tetapi Erwin telah mengacaukan rencana A ini.


"Jocelyn, kamu baik-baik saja?" Erwin buru-buru mendekat, melepaskan tali yang mengikat tubuhnya dan menekan titik akupuntur di mulutnya, yang pada akhirnya membuat Jocelyn perlahan terbangun.


“Erwin, ada apa denganku?” Jocelyn bangun dan mengira dirinya tertidur karena kelelahan.


“Kamu hampir diculik Lily tadi.” Erwin memperlihatkan tali di depan, yang membuat Jocelyn akhirnya merasa takut, dan sepenuhnya mempercayai kata-kata Erwin.


“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?” Jocelyn tiba-tiba panik, dia tiba-tiba berpikir kakeknya yang hilang bisa jadi diculik seperti ini! Memikirkan hal itu, Jocelyn menjadi semakin ketakutan.


"Tak masalah, aku sudah mengatur rencana, kamu cukup ikut aku saja," kata Erwin sambil memegang tangan Jocelyn dan berjalan keluar, sudah terlambat untuk ganti pakaian dalam situasi saat ini.


Jocelyn hanya bisa ditarik dengan patuh oleh Erwin.


Hanya saja ketika tiba di luar ruang ganti, mereka dikepung oleh lima orang asing, salah satu yang maju adalah seorang pemuda dengan semangat yang luar biasa.


"Hei bocah, kusaran jangan ikut campur dan urus masalahmu sendiri, atau hari ini akan jadi hari kematianmu."


Erwin mengerutkan kening, orang-orang ini seharusnya ahli bela diri dari Gunung Elbus.


Jocelyn yang melihat ini gemetar ketakutan, wajah bakan sampai memucat. Sedangkan Erwin melindunginya di belakang sambil menghibur.

__ADS_1


"Jangan takut, mereka tidak akan bisa menyakitimu selama ada aku di sini."


Jocelyn merasa sedikit lebih baik saat mendengar ini, tetapi masih saja ketakutan.


“Jangan harap bisa tangkap Jocelyn.” Erwin menekuk satu jari dan meletakkannya ke dalam mulut untuk bersiul dengan keras.


Lima murid dari Gunung Elbus masih tidak mengerti tindakan Erwin, tak lama kemudian, bawahan Erwin yang ada di sekitar langsung melepas penyamaran mereka dan bergegas datang untuk mengepung kelima murid tersebut.


"Mustahil! Anak ini ternyata sudah melakukan persiapan penyergapan sejak awal." Lima murid dari Gunung Elbus terkejut, mereka tidak menyangka akan menjadi sasaran penyergapan orang lain.


Ketua di antara para murid tersebut melirik orang-orang di sekitar, pihak Erwin setidaknya berjumlah sepuluh orang, termasuk Baka dan Sharon.


"Kaget, bukan? Baka, Sharon, hajar mereka!" Erwin membiarkan mereka melakukannya setelah berteriak keras, dia tidak ingin berbicara omong kosong dengan bajingan ini lagi.


Begitu perintah diberikan, Baka dan Sharon memimpin para bawahan untuk mengepung lima murid perguruan Gunung Elbus.


Perkelahian langsung terjadi di tempat, tetapi menilai dari situasi saat ini, lima murid perguruan Gunung Elbus jelas berada dalam posisi yang kurang menguntungkan. Meskipun mereka tidak lemah dalam seni bela diri, tetapi menghadapi Baka dan Sharon dalam kondisi kalah jumlah benar-benar membuat mereka tertekan.


"Jocelyn, ayo pergi, di sini tidak aman lagi." Erwin menyerahkan situasi di sini kepada Baka dan Sharon saat melihat kondisi telah berhasil dikendalikan, sedangkan dia sendiri lanjut bergegas keluar bersama Jocelyn.


“Terima kasih Erwin, tetapi gimana caranya kamu bisa tahu ada yang mau menculikku?” Jocelyn mengira situasinya sudah aman, jadi berterima kasih kepada Erwin dan menanyakan keraguannya.


"Ceritanya panjang, kita harus pergi dari sini dulu, ini belum sepenuhnya aman," kata Erwin dan buru-buru melindungi Jocelyn dan terus berjalan keluar, sementara Jocelyn hanya bisa diam-diam dilindungi oleh Erwin, dan merasakan kehangatan di hati karena belum pernah ada orang yang begitu peduli hingga bersedia mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya seperti ini.


Setelah keduanya berhasil meninggalkan ruang kerja, mereka tiba di plaza stadion dan terus bergegas keluar lagi, saat ini mereka sudah bisa melihat para pengemar yang masih belum bubar, lagi pula 80.000 orang yang ingin bubar sekaligus masih butuh waktu.


"Di mana jalan keluar yang lebih sepi?" Erwin melihat sekeliling karena tidak terbiasa dengan tempat ini, jadi hanya bisa bertanya pada Jocelyn.


“Lewat pintu belakang, staf di sana akan membukakan pintu untukku," kata setelah berpikir sejenak, lewat pintu belakang seharusnya merupakan jalur paling aman karena lebih sepi.

__ADS_1


Erwin mengangguk, lalu melindungi Jocelyn dan bergegas ke arah pintu belakang. Pada saat yang sama, banyak ahli seni bela diri yang sedang menyamar menjadi penggemar mulai melepas penyamaran mereka, kemudian membuat barisan untuk melindungi Jocelyn dari segala arah.


Jocelyn tiba-tiba dikelilingi oleh tujuh sampai delapan ahli bela diri, termasuk Erwin.


Melihat ini, Jocelyn tercengang dengan ekspresi kaget, sebenarnya apa lagi yang Erwin ini rencanakan demi melindunginya dari penculikan, yang benar-benar membuatnya terkejut sekaligus tersentuh.


Erwin memimpin tujuh sampai delapan ahli bela diri untuk melindungi Jocelyn sambil bergegas ke pintu belakang, dua satpam yang ada di sana langsung membuka pintu begitu melihat kedatangan Jocelyn.


"Kita bisa keluar." Jocelyn menghela nafas lega, merasa akan aman selama bisa meninggalkan plaza stadion ini, tetapi begitu selesai berbicara, sekelompok besar penggemarnya ternyata sudah menunggu di luar pintu belakang.


"Lihat! itu Jocelyn!" Setelah para penggemar berteriak, mereka bergegas menuju Erwin dan yang lainnya. Para pengemar yang setidaknya berjumlah seratus orang ini membuat Erwin mengerutkan kening. Semakin besar kerumunan yang datang, maka potensi bahayanya akan semakin besar juga.


"Tahan semua pengemarnya!" Erwin menyuruh beberapa ahli seni bela diri yang mengikutinya untuk menghadang kerumunan berisi pengemar.


Para penggemar mendatangi Erwin dan Jocelyn seperti air terjun yang mengalir dari hulu ke hilir.


"Gawat! Ada ahli bela diri di sini!" Erwin kaget, ahli bela diri yang dibawanya sangat kuat, tetapi bisa-bisanya kalah tenaga dengan para penggemar ini, yang menunjukkan bahwa ada penggemar palsu yang sedang menyamar di sini.


"Cari Jocelyn dan minta tanda tangannya!" Seseorang berteriak, dan kerumunan tiba-tiba bergegas ke arah Jocelyn, sedangkan Erwin mati-matian berusaha untuk menghadang orang-orang ini, tetapi seseorang menjatuhkan Erwin dengan pukulan, sehingga Jocelyn tertinggal dan dikepung para penggemar dalam sekejap.


"Ini gawat!" Ekspresi Erwin berubah, ada seorang master bela diri setara dengan Pak Tua Conor yang menyamar di sini, jika tidak, sejauh ini masih tidak ada yang bisa menjatuhkannya hanya dengan satu pukulan.


Erwin dengan cepat berdiri kembali, mengejar dan menarik para penggemar, tteapi terkejut saat mengetahui bahwa Jocelyn sudah menghilang.


"Sial! Sudah diculik! Orang yang bisa melakukan itu dalam waktu sesingkat barusan pasti seorang master kuat." Erwin menjadi sedikit tenang kembali, dan menghela napas ketika teringat Jocelyn yang masih memakai gelang dengan pelacak GPS di pergelangan tangannya.


Kemudian Erwin dengan cepat membuka program tertentu di ponsel, dan pelacak lokasi menunjukkan bahwa Jocelyn sedang dibawa ke arah gerbang timur, sehingga Erwin buru-buru menelepon Pak Tua Conor.


"Pak Tua Conor, Jocelyn sedang dibawa ke gerbang timur."

__ADS_1


"Jangan khawatir bocah, dengan adanya aku di sini, mereka tidak akan berhasil." Pak Tua Conor tersenyum, dan segera mengajak semua bawahan Erwin yang sedang menunggu di luar plaza untuk bergegas menuju gerbang timur.


Setelah menutup telepon, Erwin juga bergegas menuju gerbang timur karena takut meninggalkan rasa penyesalan seumur hidup jika terlambat menyelamatkan Jocelyn.


__ADS_2