Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Bab 219 Bersedia Mematuhi Perintahmu


__ADS_3

Giselle baru saja selesai sarapan dan hendak berangkat kerja, tapi suara ketukan pintu yang mendesak tiba-tiba berbunyi, jadi Giselle segera berjalan keluar untuk membuka pintu.


Begitu pintu terbuka, seorang pria paruh baya berpakaian rapi masuk dengan wajah marah.


"Mana Nora? Suruh dia keluar!" Pria paruh baya itu langsung meraung marah begitu masuk, seolah datang secara khusus untuk mencari Nora.


“Nora masih tidur, kamu siapa?” Giselle bertanya sambil mengerutkan alisnya.


“Aku ayahnya, cepat panggil dia, ada yang mau kutanyakan.” Pria paruh baya yang meraung dengan wajah marah ini adalah ayah Nora, Marco Florenza.


"Kalau begitu mohon tunggu sebentar, kupanggil sekarang." Giselle yang tahu itu ayah Nora langsung tidak berani mengabaikan dan bergegas memanggil Nora yang masih di tempat tidur.


Ketika Nora mendapat kabar ayahnya sudah ada di sini, dia baru teringat dengan sesuatu yang penting, jadi dengan cepat mengeluarkan kartu hitam yang diberikan oleh penggemar akutnya kemarin dari tas, yang katanya bisa dapat investasi 10 triliun dari High Build Group.


Setelah mengambil kartu hitam, Nora bergegas turun tanpa mandi atau cuci muka sama sekali.


“Ayah kenapa datang? Kebetulan aku punya kabar baik.” Nora memegang kartu hitam itu dengan penuh semangat dan ingin memberitahu kabar baik tersebut mepada ayahnya, tapi tanggapan yang didapatnya adalah sebuah tamparan keras di wajah.


Marco memukul Nora, terlebih lagi adalah sebuah tamparan keras di wajah, itu membuat Nora tercengang, Giselle yang di sebelah bahkan lebih kaget.


“Ayah, kenapa pukul aku?” Nora menutupi wajahnya dengan tidak percaya.


"Kau tahu masalah apa yang kau timbulkan? Kau kemarin bilang punya pacar di depan Andi dan suruh dia berhenti mengganggu kedepannya?!" Marco menunjuk putrinya sambil marah-marah.


“Ayah, aku cuma berbohong padanya, itu cuma teman yang pura-pura jadi pacarku! Agar Andi berhenti menggangguku.” Di depan ayahnya, Nora tidak berani menyembunyikan apapun.


“Baguslah kalau begitu, cepat ikut aku pulang dan minta maaf pada Andi, lalu bertunangan dengannya dulu!” Marco melembutkan nadanya ketika mendengar itu bukan pacar beneran.


“Aku tak mau tunangan dengan Andi, aku sama sekali tidak suka dia!” teriak Nora.


"Mau tidak mau harus tunangan, ini masalah tentang kelangsungan hidup perusahaan ayahmu, cepat pulang denganku kalau tak mau lihat ayahmu lompat dari gedung tinggi, minta maaf dan jelaskan semuanya pada Andi." Marco berkata sambil mengulurkan tangan untuk menarik Nora, tapi Nora menghindari dan menyerahkan sebuah kartu hitam kepada Marco.


"Kalau ini karena masalah investasi, ayah tidak perlu khawatir, temanku bilang dengan kartu hitam ini ayah bisa bertemu dengan Damin dari High Build Group dan dapat 10 triliun investasinya." Nora berkata sambil meletakkan kartu hitam itu ke tangan Marco.


“Siapa identitas temanmu itu? Dapat investasi sebanyak itu hanya dengan kartu hitam ini? Memangnya dia siapa?!” Marco tidak percaya dengan kartu hitam tersebut.


"Temanku itu penggemar nomor satu di siaran langsungku yang menyawer miliaran, mengendarai Rolls-Royce, dan keluarganya sangat kaya."


Nora tidak tahu apakah penggemar akutnya ini kaya atau tidak, tapi karena melihatnya mengendarai Rolls-Royce, jadi seharusnya dari keluarga kaya, belum lagi bisa dengan santai menyawer beberapa miliar, mikir pakai dengkul saja tahu pasti dari keluarga kaya.


“Penggemar siaran langsungmu?” Marco mengerutkan kening, karena dia tidak terlalu tahu tentang siaran langsung, tapi kalau yang dikatakan Nora ini adalah kenyataan, maka penggemar nomor satu ini sangat tidak biasa, sehingga nada suaranya melunak lagi.

__ADS_1


"Iya, penggemar nomor satuku, sering menyawerku, orang yang gampang diajak bicara dan sering menyemangatiku." Kata-kata Nora semakin melenceng dan tanpa sadar mulai memuji penggemar akut ini di depan ayahnya.


"Cukup, cukup, biar kucoba dulu kartu hitam ini, kalau tak bisa kau harus minta maaf dan jelaskan semuanya pada Andi, jangan coba macam-macam denganku." Marco mengambil kartu hitam tersebut dan melihat dengan teliti, tapi tidak melihat adanya informasi lainnya selain nama Perusahaan Investasi Erlin, yang membuatnya tidak yakin dengan kartu ini.


“Kalau kartu itu tak bisa, aku bersedia minta maaf pada Andi, dan mematuhi semua perintahmu.” Nora menjawab dengan percaya diri karena sangat yakin dengan penggemar akutnya.


"Oke, kau tunggu di sini, jangan harap bisa kabur waktu aku pergi, akan kusuruh orang untuk awasi." Kata Marco sambil memanggil dua pengawal yang dibawanya.


“Kalian berdua awasi Nona ketiga, jangan sampai dia kabur.” Marco memerintah dengan serius, khawatir putrinya akan macam-macam untuk menghindari pernikahan.


“Jangan khawatir CEO, Nona ketiga akan kami awasi dengan ketat.” Kedua pengawal itu berkata dengan serempak.


"Ayah, percayalah padaku, aku tidak berbohong." Nora tidak peduli dengan kedua pengawal itu, bagaimanapun pada akhirnya pasti akan mundur sendiri.


"Sebaiknya begitu." Marco berbalik dan pergi setelah mengucapkan kata-kata itu.


Setelah duduk kembali di mobil Mercedes-Benz-nya, dia berkata kepada Jacky si sopirnya.


"Ke High Build Group."


Di sepanjang jalan, Marco sedikit khawatir sambil memegang dan memperhatikan kartu hitam di tangan, dia masih tidak percaya apa yang dikatakan putrinya tentang satu kartu hitam ini yang dapat menarik investasi sebesar 10 triliun, karena itu butuh pendukung tokoh besar yang luar biasa di balik ini untuk mampu melakukannya.


Tak lama kemudian, dia teringat sesuatu dan mengeluarkan ponselnya untuk menelepon asistennya yang berada jauh di Kota Santa.


Bagaimanapun, Marco adalah seorang senior yang sudah berbisnis di pusat perbelanjaan selama beberapa dekade, jadi secara alami punya pengalaman dan observasi tersendiri.


Tak lama kemudian asistennya yang sudah mendapat informasi langsung meneleponnya.


"CEO Marco, Perusahaan Investasi Erlin itu anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh High Build Group, dan Damon ini karakter yang tidak bisa, Damon ini mengendalikan lebih dari 70% pasar Kota Bandung melalui akuisisi dan pengaruh Aliansi Bisnis Dagang Erlin, bisa dianggap sebagai tokoh penting di Kota Bandung."


"Apa?! Damon ini sosok sebesar itu di kota Bandung?"


Ekspresi Marco berubah drastis, sebuah perusahaan yang menguasai lebih dari 70% pasar kota itu kekuatan yang sangat menakutkan, bahkan di kota tingkat satu seperti Kota Santa saja sudah bisa sebanding dengan lima keluarga teratas.


"Iya, hampir semua bos besar yang pergi ke Distrik Baru utara kota untuk berinvestasi kali ini juga mengunjungi Damon, tapi Damon ini sangat sulit diajak bertemu, jika CEO Marco mau ikut investasi juga, mungkin harus melakukan persiapan ekstra." Asistennya mengingatkan dengan sangat serius.


Setelah menutup telepon, Marco berpikir keras, awalnya dia mengira Damon ini hanya sebatas bos dari perusahaan investasi biasa, tapi tidak menyangka adalah seorang tokoh penting di Kota Bandung.


Marco sudah menganggap dirinya sebagai tokoh penting juga di pusat perbelanjaan, karena punya nilai bisnis di Kota Santa sebesar 60-80 triliun, tapi ternyata tidak seberapa di hadapan Damon dari High Build Group.


“Lebih baik pergi lihat dulu!” Marco menghela nafas, sebenarnya dia juga tidak mau menikahkan putrinya kepada Andi yang pendek dan gemuk itu, tapi jika kenyataan memaksa, maka dia terpaksa mengorbankan kebahagian putrinya.

__ADS_1


Mobil berhenti dengan stabil di depan pintu High Build Group, seperti yang dikatakan asistennya, yang datang ke sini untuk mengunjungi Damon bukan main banyak!


Selain dari Kota Santa, ada banyak bos dari kota-kota sekitarnya juga.


Faktanya, kalau dipikirkan baik-baik, bagaimanapun juga, mereka di sini untuk berinvestasi di Distrik Baru utara kota, dan Distrik Baru utara kota ini merupakan salah satu wilayah Kota Bandung, dan orang paling kuat di Kota Bandung adalah Damon.


Jadi mereka yang ingin memperluas bisnis ke distrik baru utara kota jelas harus berteman dengan orang yang berkuasa di wilayah tersebut, agar lebih mudah untuk kerja sama bisnis di Distrik Baru utara kota di masa depan, jika berjalan dengan baik, maka juga bisa mengambil kesempatan untuk memasuki pasar Kota Bandung, yang pasti akan sangat bermanfaat bagi masa depan bisnis mereka masing-masing.


"Ramai sekali." Marco akhirnya melihat kehebatan Damon dengan matanya sendiri, bahkan di sini ada beberapa bos yang dikenalnya, Marco dengan cepat melangkah maju dan meraih seorang pria paruh baya gemuk dengan kacamata.


"CEO Bell kenapa ada di sini?"


"CEO Marco juga ada di sini ternyata! Tapi sudah terlambat, jadwal Tuan Damon penuh hari ini, jadi tidak ada waktu untuk bertemu dengan kita, ayo pulang saja." Kata CEO Bell sambil menghela nafas.


“Lagian sudah sampai di sini, mana mungkin aku puas sebelum mencoba!” Marco benar-benar tidak puas, karena ini adalah masalah hidup dan mati, jadi mana mungkin berbalik dan pulang begitu saja.


"Oke, kalau begitu kutunggu di sini, kalau kamu diusir juga, kita yang kebetulan bisa ketemu ini sekalian cari tempat buat minum-minum aja." CEO Bell langsung memutuskan  bahwa Marco akan berakhir seperti diusir secara tidak langsung seperti dia.


Marco tidak tahu harus berkata apa, tapi tetap berjalan maju ke meja resepsionis, dan berkata dengan sopan kepada wanita resepsionis.


"Aku mau adakan janji temu dengan Tuan Damon untuk bahas tentang investasi, ini kartu namaku dan dokumen informasi perusahaanku."


“Baik Pak, tapi jadwal Tuan Damon sudah penuh minggu ini, Tuan Damon akan menghubungi bapak jika tertarik untuk berinvestasi di perusahaan bapak." Setelah menerima kartu nama dan dokumen, wanita resepsionis itu menjawab dengan sopan.


Marco menghela nafas, jadwal minggu ini sudah penuh, jadi tidak tahu sampai kapan gilirannya, apalagi bertemu dengan Damon juga masih belum pasti bisa.


Ketika CEO Bell melihat Marco juga berakhir sama, dia langsung menghampiri dengan senyuman sambil menghibur,


"Tak perlu kecewa, kita semua berakhir sama, yuk kita minum-minum aja."


“CEO Bell, mana mungkin aku punya suasana hati untuk minum-minum.” Marco sedikit kesal, kemudian teringat dengan kartu hitam yang diberikan putrinya, lalu mengeluarkan dan menyerahkannya kepada wanita resepsionis sambil berkata,


"Nona, tolong berikan kartu hitam ini kepada Tuan Damon, bilang saja pemilik kartu hitam ini yang menyuruhku datang diskusi tentang investasi."


“Baik Pak, akan saya tanya pada Tuan Damon.” Setelah menerima kartu hitam, wanita muda itu mengangkat telepon dan menelepon dengan Damon.


Tetapi CEO Bell menarik Marco sambil membujuk lagi.


"Tak perlu tunggu lagi, Tuan Damon itu salah satu tokoh terpenting di Kota Bandung, mana mungkin mau bertemu sama orang-orang kecil seperti kita."


Marco juga menghela nafas, kartu hitam itu terasa tidak berguna! Ketika dia hendak berbalik dan pergi, wanita resepsionis tadi tiba-tiba mengejarnya.

__ADS_1


"Pak Marco, tolong tunggu sebentar."


__ADS_2