
Erwin mengira apa yang dikatakan Jocelyn dan Ametta tentang bangun pagi hanya bualan, mengingat mereka yang selalu bangun kesiangan, tidak mungkin akan bangun pagi, tapi ternyata mereka serius kali ini.
Pada pukul enam pagi, Erwin yang sedang tidur di sofa dibangunkan oleh mereka berdua.
“Erwin, jangan tidur lagi, yuk kita pergi makan.” Jocelyn mencubit hidung Erwin karena ingin segera membangunkannya.
Dalam tidurnya, Erwin merasa hidungnya dicubit, dan karena merasa sangat tidak nyaman, dia tanpa sadar mengulurkan tangan ke arah hidungnya sendiri, namun malah menangkap tangan lembut nan halus Jocelyn.
“Ah.” Jocelyn tiba-tiba berteriak, ingin segera menarik kembali tangannya dari genggaman Erwin, tapi genggaman Erwin terlalu erat.
“Erwin, lepaskan!” Jocelyn yang lembut tidak mungkin menang melawan tenaga Erwin, begitu digenggam, Jocelyn susah untuk menariknya kembali, tapi untungnya Erwin langsung bangun.
Setelah itu, Erwin baru sadar kalau itu bukan mimpi, tetapi kenyataan.
Dia langsung melepaskan tangan Jocelyn karena canggung, tetapi tangan kecil Jocelyn yang lembut memang membuatnya sedikit enggan untuk melepaskan.
“Kenapa tiba-tiba cubit hidungku?” Erwin berkata dengan canggung.
“Membangunkanmu, dasar babi pemalas!” Setelah Jocelyn berhasil menarik kembali tangannya, wajahnya yang cantik sedikit memerah, ini adalah pertama kalinya dia digenggam seerat itu oleh seorang pria.
“Membangunkanku?” Erwin tanpa sadar melihat jam di ponsel, dan sekarang baru pukul enam pagi, "Kenapa bangunkan aku sepagi ini, aku masih ngantuk." Kata Erwin sambil menguap.
“Bukannya kamu bilang ada food street yang buka 24 jam? Ayo cepat kita ke sana!” Begitu membahas tentang makanan, Jocelyn tidak lagi mempermasalahkan kejadian barusan, dan menjadi lebih bersemangat.
Pada saat yang sama, Ametta juga turun dari lantai atas setelah selesai berdandan.
“Erwin, cepat mandi! Kami udah siap!” Ametta juga mengingatkan dengan tidak sabaran.
Erwin menghela nafas, kedua wanita ini mikirnya makan terus, tidak heran postingan sosial media Jocelyn, kalau bukan nyanyi, pasti makanan lezat dari seluruh dunia, kedua wanita ini benar-benar pecinta makanan lezat.
“Kalau gitu tunggu bentar!” Setelah Erwin mandi, dia langsung didorong keluar dari vila oleh mereka berdua dengan buru-buru.
Mereka berdua memakai masker seperti biasa, tetapi penampilan dan lekukan tubuh Jocelyn tetap terlihat sangat mencolok walau memakai masker sekalipun.
Mandro Street, ini adalah kedua kalinya Erwin datang ke sini.
Semenjak makan kue berbentuk anak anjing yang harganya berjuta-juta di sini, Erwin merasa bahwa makanan di sini pasti sangat mewah, dan jauh berkelas daripada kios-kios yang ada di food street lainnya.
Setelah Erwin dan yang lainnya turun dari mobil, mereka segera berjalan ke Jalan Mandro.
__ADS_1
Meski baru pukul tujuh pagi, tapi sudah cukup banyak orang di sini, kebanyakan datang untuk sarapan di sini.
“Ada banyak sekali tempat makan, kebetulan kita juga lagi lapar, yuk pilih salah satu!” Ametta sudah tidak sabar untuk masuk saat melihat ada banyak tempat makan mewah di sini.
"Tempat ini seharusnya sedikit lebih berkelas dari food street tadi malam, biar aku yang traktir aja hari ini, makanlah sepuasnya," kata Jocelyn sambil tersenyum, melihat banyaknya tempat makan di jalan ini, matanya terus berbinar.
Selama dia bisa makan makanan enak, dia tidak peduli lagi dengan harganya, bagaimanapun, keluarganya sangat kaya, belum lagi uang yang dia hasilkan dari konsernya sendiri, yang tidak bisa dia habiskan.
Sambil berbicara, Jocelyn menarik Ametta dan berlari ke tempat makan terdekat. Dari segi dekorasinya, tempat makan ini cenderung bergaya Eropa. Kebanyakan orang yang keluar masuk juga cantik-cantik dan tampan-tampan semua, begitu juga dengan pakaian yang mereka pakai juga bermerek, sedangkan yang memakai pakaian dagangan tepi jalan seperti Erwin, pada dasarnya tidak ada.
Ketika Erwin masuk, banyak orang yang sedang makan menatap Erwin yang memakai pakaian lusuh dengan tatapan jijik, tetapi Erwin tidak peduli, dan mengikuti Ametta sama Jocelyn.
“Aku ingin kue mousse ini, dan bolu gulung, em? Sama biskuit ini” Setelah Jocelyn duduk, dia memesan banyak dimsum.
Ametta di sebelahnya juga memesan banyak dimsum, dan sekalian pesan porsi Erwin juga.
Awalnya, Erwin mengira pagi ini akan jadi pagi yang damai, tapi tidak nyangka begitu baru memakan sesuap kue, dua sosok yang dikenalnya muncul di pintu.
Itu adalah Michael dari keluarga Barnard di barat kota dan Edric dari selatan kota, pacar dari kedua sepupu Lina, tetapi setelah ditipu oleh Erwin sebelumnya, kedua pasangan itu sudah putus.
Tapi hari ini, di samping mereka berdua masih ada seorang pria kaya lainnya.
“Musuh memang nggak akan ke mana-mana, Edric, liat siapa itu?” Michael memanggil Edric di sebelah dengan tangannya, dan tidak butuh waktu lama bagi Edric untuk melihat keberadaan Erwin, yang membuat wajahnya sedikit berubah.
"Itu Erwin, kan?" Edric memang membenci Erwin, semenjak ditipu dan kehilangan banyak aset, dia selalu mencari kesempatan untuk balas dendam, tapi keberadaan Erwin selalu tidak didapatinya sampai sekarang.
Sekarang kebetulan bisa bertemu, otomatis dia ingin membalas dendamnya.
Terlebih lagi, mereka berdua bersama seseorang hari ini, yaitu Matthew Ricardo, putra keluarga Ricardo, yang merupakan salah satu dari empat keluarga besar di Kota Bandung. Keluarga Ricardo adalah keluarga terkenal di Kota Bandung, sampai-sampai keluarga kaya lainnya juga akan menghormati mereka, bahkan walikota sekalipun akan memberi muka.
Dapat dilihat mengapa keluarga Ricardo dapat dianggap sebagai salah satu dari empat keluarga besar di Kota Bandung.
Selain itu, mereka juga menemukan dua wanita cantik yang memakai masker yang makan bersama Erwin, itu membuat mereka merasa iri sekaligus benci secara bersamaan.
Memikirkan hal ini, mereka bertiga berjalan menuju Erwin dengan sedikit tatapan provokasi.
“Erwin, tak kusangka bisa bertemu denganmu di sini, masih kenal aku?” Michael berbicara dengan nada yang sedikit provokatif.
Setelah mendengar suara itu, Erwin menoleh, dan begitu melihat itu adalah Michael dan Edric, dia tidak bisa menahan senyum.
__ADS_1
"Tentu aja kenal, mana mungkin tak kenal? Aku selalu mengingat orang yang memberiku hadiah besar, kali ini mau kasih hadiah lagi ya?"
Ketika topik itu disebut oleh Erwin, itu sama dengan mengingatkan penghinaan mereka, dan itu membuat wajah Michael berubah.
"Hehehe, jangan senang dulu, aku bakal membuatmu muntah kembali semuanya, kenal pria di sebelahku ini? Dia ini putra keluarga Ricardo, salah satu dari empat keluarga besar di Kota Bandung, Matthew Ricardo."
Michael memperkenalkan Matthew dengan sungguh-sungguh, tetapi perhatian Matthew justru tidak pada mereka sama sekali, melainkan terfokus pada Jocelyn yang duduk di seberang Erwin dengan tatapan ingin berburu di matanya.
"Hai cantik, boleh minta nomornya?"
Mata Matthew benar-benar jeli sekali, hanya sekilas dia dapat melihat bahwa wanita cantik yang duduk di seberang Erwin terlihat mirip dengan bintang terkenal, yaitu Jocelyn Taylor, jadi dia berpikir untuk meminta nomornya, yang merupakan perilaku tidak tahu malu.
“Maaf, aku nggak tertarik!” Jocelyn langsung menolak.
Ini membuat Matthew sangat kesal, pada saat yang sama, Michael dan Edric juga memperhatikan wanita cantik yang duduk di seberang Erwin. Meskipun memakai masker, tapi mau dari segi lekukan tubuh dan temperamen memang sedikit mirip dengan Jocelyn Taylor, sejak kapan ada wanita secantik ini di Kota Bandung?
Tidak heran Matthew menargetkan wanita cantik itu.
"Cantik, aku dari keluarga Ricardo, salah satu dari empat keluarga besar di Kota Bandung ini, berteman denganku itu punya banyak manfaat." Matthew masih belum menyerah dan ingin menggunakan kekuatan keluarganya untuk menggoda Jocelyn.
Namun, Jocelyn tidak menjawab, tetapi justru Ametta yang marah,
"Tak perlu berpura-pura lagi! Jangankan empat keluarga besar di Kota Bandung, empat keluarga besar sedunia pun aku tak peduli, main sana jauh-jauh, jangan ganggu aku makan."
"Aku lagi ngomong sama si cantik ini, ngapain kamu ikut campur?” Matthew terbiasa menjadi sombong, jadi secara alami tidak bisa mentolerir orang lain yang berbicara dengan nada seperti itu dengannya, terutama ketika Ametta meremehkan keluarga Ricardo mereka, yang membuatnya semakin kesal.
"M-minta maaf sama aku, atau aku akan membuatmu menyesal." Ametta tidak takut pada putra keluarga kaya ini, mempertimbangkan kekuatan keluarga Taylor mereka di negara ini, Ametta tidak takut dengan keluarga Ricardo sama sekali.
Tapi yang dia takutkan adalah sejenis preman yang tidak terpengaruh saat menyebut tentang kekuatan keluarga, karena preman jalanan tidak mungkin mengenal keluarga Taylor mereka, jadi sangat tidak mungkin memanfaatkannya untuk menekan lawan bicara.
"Hahaha, aku tak salah dengar, kan?! Orang ini mau Aku minta maaf? Aku tumbuh sebesar ini aja tak tau cara minta maaf itu bagaimana," kata Matthew dengan arogan.
“Sini, keluarlah, aku mau liat bagaimana cara kamu membuatku menyesal.” Kata Matthew sambil menyuruh Michael dan Edric untuk menarik Ametta keluar, dengan sikap mereka yang sombong dan mendominasi.
“Apa yang mau kalian lakukan di siang bolong begini? Aku lapor polisi ini!” Wajah Ametta berubah ketika melihat mereka akan melakukan sesuatu.
"Silakan dilapor, pamanku itu dari departemen hukum, kita lihat siapa yang bakal pamanku tangkap nanti." Matthew memasang ekspresi tak kenal takut.
Mendengar ini, Michael dan Edric semakin berani dan mencoba menarik Ametta keluar, tetapi pada saat ini Erwin mengambil tindakan dan meraih lengan Michael dan Edric.
__ADS_1