Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Bab 202 Dua Master Beladiri Lainnya


__ADS_3

Di bawah pengawalan petugas keamanan, Erwin berhasil kembali ke kantor Andy dengan lancar, kemudian mengganti balik pakaiannya, pada saat yang sama juga melepas arloji beserta topeng putih, dan sepenuhnya kembali menjadi Erwin yang sederhana.


"Pakai ini memang yang paling nyaman." Setelah memakai kaosnya, Erwin melirik ke luar kantor, dan buru-buru berlari keluar begitu sudah memastikan tidak ada seorang pun di koridor.


Di sisi lain, tepatnya di aula resepsi, para pengusaha antri untuk tanda tangan kontrak, yang totalnya sekitar lima sampai enam ratus perusahaan di sini, jika semua bergabung, maka jumlah perusahaan aliansi ini akan melebihi Aliansi Bisnis Bandung yang dibentuk oleh keluarga Ragnarson.


Erwin percaya tidak akan lama untuk merobohkan Aliansi Bisnis Bandung, pada saat itu kalau keluarga Ragnarson tak mau bangkrut, maka mereka hanya bisa datang memohon kepadanya.


Sedangkan para gadis yang berkumpul juga sudah bubar secara perlahan, tapi para gadis itu iri sekaligus benci pada Fiona, karena hanya Fiona satu-satunya yang mendapat perhatian Tuan Muda Smith, kalau tahu dari awal, mereka pasti akan pura-pura jatuh juga untuk menarik perhatian Tuan Muda Smith!


Tetapi yang tidak mereka ketahui adalah jika orang lain yang jatuh, Erwin belum tentu membantu.


Pada saat ini, Fiona baru kembali ke sisi Lina, tapi dengan mata berbunga-bunga, wajah memerah, sambil mengenakan jas hitam kecil.


“Fiona, jas itu seriusan dari Tuan Muda Smith itu?” Lina tidak bisa menahan diri dan bertanya dengan penasaran, bahkan ingin tahu apa yang terjadi barusan, karena kerumunan tadi terlalu ramai, jadi Lina yang ada di belakang tidak bisa melihat dengan jelas.


“Nah, tadi kakiku tersandung gaun, ditambah banyak orang yang saling mendorong disekitarku, jadi aku jatuh dan sulit buat bangun, bahkan aku diinjak beberapa kali, pada saat sedang putus asa itu, Tuan Muda Smith tiba-tiba muncul dan membantuku, dia bahkan mengenakan jasnya padaku, sungguh perhatian sekali."


Sambil berbicara, mata Fiona penuh dengan bunga, dan tanpa sadar tersipu hingga pipinya memerah begitu mengingat kembali adegan barusan!


“Jangan-jangan kamu jatuh cinta!” Ini adalah pertama kalinya Lina melihat Fiona menunjukkan ekspresi yang malu-malu seperti itu.


"Mungkin ini yang disebut takdir, Lina, Tuan Muda Smith adalah Pangeran berkuda putih yang selama ini kutunggu-tunggu!” Fiona tidak menyangkal, melainkan langsung mengakui jatuh cinta pada Tuan Muda Smith.


Dari waktu kecil hingga saat ini, Fiona belum pernah merasakan detak jantung yang sekencang ini, sungguh suatu hal yang luar biasa! Ternyata jatuh cinta pada seseorang itu bisa terjadi begitu saja.


“Seriusan? Mukanya aja belum terlihat, gimana kalau jelek nanti?” Lina membuka mulut dan berkata dengan terkejut.


“Mau jelek atau tidak, Tuan Muda Smith itu pangeran yang selama ini kucari-cari.” Fiona sedikit dibutakan oleh cinta dan tergila-gila saat ini.


"Kalau begitu persaingmu bukan main banyaknya!"


Kata Lina sambil menghela nafas, lalu melirik semua gadis cantik yang ada di aula resepsi dan diam-diam merasa senang karena tidak menyukai Tuan Muda super kaya seperti itu, jika tidak, berpikir harus rebutan seorang pria dengan wanita sebanyak itu sudah membuatnya merasa sangat tertekan.


“Aku percaya pasti akan bertemu dengan Tuan Muda itu lagi.” Fiona menyentuh jas hitam yang menutupi tubuhnya, dan adegan Tuan Muda Smith yang membantunya muncul lagi di dalam benaknya, yang membuat pipinya memerah kembali.


Saat sedang mengobrol, Erwin keluar dari kerumunan dan akhirnya menemukan Lina dan Fiona.


“Lina, resepsinya sudah selesai?” Erwin bertanya dengan sadar.


"Belum, ayah, paman dan tante ketiga sedang antri buat tanda tangannya." Kata Lina dengan sedikit frustasi.


Erwin mengangguk, kemudian menyadari ekspresi Fiona yang sangat berbeda seperti biasanya, Erwin mengira itu karena kejadian jatuh dan diinjak barusan, jadi tanpa sadar bertanya dengan khawatir,


"Fiona, ada apa denganmu? Tidak enak badan ya?"

__ADS_1


Fiona tidak sempat bereaksi, Lina di sebelahnya sudah tersenyum lembut dan menjawab,


"Tidak enak badan apaan? Ini jelas gejala sedang jatuh cinta pada Tuan Muda Smith."


"A-apa?! D-dia jatuh cinta pada Tuan Muda yang barusan itu?” Erwin tampak bingung, kenapa Fiona ini tiba-tiba bisa menyukainya?


"Kamu mungkin tak tahu, tadi Fiona jatuh, Tuan Muda itu bukan cuman membantunya, tapi juga berbaik hati memberikan jas hitamnya, sungguh pria sejati! Aku percaya gadis mana pun akan jatuh cinta pada orang seperti itu," kata Lina dengan sedikit gosip.


“Fiona jatuh cinta begitu saja?” Erwin sedikit terdiam, memangnya seberapa kekurangan pria Fiona ini? Hanya bersikap baik sedikit saja langsung jatuh cinta? atau Fiona ini hanya jatuh cinta dengan identitas dan latar belakang keluarga Smith-nya?


“Yah, mungkin ini yang disebut takdir!” Kata Lina sambil memeluk lengan Erwin dengan penuh kasih sayang, menurut Lina, Erwin adalah pangeran berkuda putih yang ditakdirkan untuknya.


Erwin menghela nafas, wajahnya mengekspresikan kebingungan, tapi dilihat dari keadaan Fiona, sepertinya memang sedang jatuh cinta, tapi Fiona adalah sahabat baik Lina, situasi akan menjadi buruk kalau identitasnya sebagai Tuan Muda Smith ketahuan, jadi, Erwin putuskan untuk membiarkan waktu yang melunturkan rasa suka Fiona padanya!


Setelah resepsi, Erwin menerima kabar baik, yaitu Lisa sudah pulang dari Raung Mountain, Lisa sekarang sudah tiba di Villa Mahkota, dan kepulangan kali ini juga membawa dua orang lainnya.


Hal ini membuat Erwin sangat senang, orang yang dibawa oleh Lisa pasti master beladiri juga, mana mungkin itu tidak membuat Erwin bersemangat. Sesudah pamit kepada Lina dan yang lainnya, dia langsung menuju ke Villa Mahkota di Teluk Oak.


Begitu tiba, memang ada dua pengunjung asing di Villa Mahkota, yang satu mungil, imut, dan penuh energik, tampak muda seperti berusia delapan atau sembilan belas tahun, sementara yang satunya lagi tampak berusia tiga puluh tahunan, berkulit gelap, dan beralis tegas.


Keduanya memakai pakaian training berwarna putih, dan dilihat sekilas saja sudah tahu kedua orang ini adalah orang desa.


Saat ini, mereka berdua sedang melihat barang antik dan lukisan berharga di vila dengan penuh penasaran, terkadang juga menyentuh barang di sana-sini dan berteriak kegirangan.


"Kudengar dari Anita sepertinya lebih dari 40 miliar." Jawab Lisa setelah mengingat.


"Lebih dari 40 miliar?” Adik seperguruan itu terkejut, tangan kecil yang memegang porselen biru-putih tidak sengaja tergelincir, sehingga vasnya jatuh dari tangannya.


Melihat vas yang akan jatuh, abang seperguruan yang ada di sebelah langsung bereaksi dan menangkap vas porselen tersebut dengan cepat sebelum mengenai lantai.


"Untungnya reaksi abang seperguruanmu ini cepat! Kalau vasnya pecah, menjualmu saja belum tentu cukup untuk bayar ganti ruginya." Abang seperguruan itu menegur, dan segera meletakkan vas porselen biru-putih pada posisi semula.


Saat mereka tengah mengobrol santai, Erwin berjalan masuk dari pintu, itu langsung menarik perhatian mereka dan membuat mereka buru-buru mendekat untuk menyapa Erwin.


“Ini tuan muda yang kulindungi.” Lisa secara singkat memperkenalkan Erwin, kemudian menunjuk ke arah adik seperguruannya,


"Tuan muda, ini adik seperguruan kami, Leona, murid guru yang kesembilan."


Setelah berbicara, Lisa menunjuk lagi ke arah pria berkulit gelap,


"Ini abang seperguruan kami, Sharon, adalah yang terkuat di antara para murid, selain itu, guru juga setuju menerima investasi dari Tuan Muda untuk membuka Aula Seni Bela Diri, tapi karena guru tak bisa meninggalkan Raung Mountain untuk sementara ini, jadi Bang Sharon diutuskan untuk menjadi pengajar."


"Bagus, bagus." Erwin mengangguk puas, kepulangan Lisa kali ini membawa banyak keuntungan, bukan hanya dua master beladiri, tapi juga pembukaan Akademi Seni Bela Diri, ini sungguh kabar yang mengejutkannya.


“Besok kita pergi beli beberapa baju yang cocok untuk kalian, dan sekalian milih lokasi untuk membuka aula seni beladiri.” Mulut Erwin sedikit terangkat, dengan adanya aula seni bela diri, maka dia dapat mengolah master beladiri secara terbuka dan terang-terangan.

__ADS_1


Meskipun stadion tinju hitam juga dapat menghasilkan master petinju, tapi stadion tinju hitam itu adalah industri gelap dan tidak sepenuhnya legal, jadi dapat dengan mudah dilarang oleh hukum atau atasan, tapi tempat seni bela diri itu berbeda, sekolah seni beladiri itu diakui dan sepenuhnya legal seperti perusahaan keamanan keluarga Ragnarson, mereka bisa secara terbuka dan terang-terangan dalam mengolah orang-orang mereka sendiri.


Dengan adanya pelatihan seni beladiri, maka kekuatan para bawahan akan meningkat lebih cepat, yang berarti meningkatkan kekuatan tempur juga.


"Terima kasih, Tuan Muda." Sharon berkata sedikit tidak terbiasa.


Saat malam hari, Erwin meminta Anita untuk menyiapkan satu meja besar penuh hidangan mewah untuk menyambut Sharon dan Leona.


Pada saat yang sama, di dalam sebuah ruangan pertemuan VIP keluarga Ragnarson, sedang berlangsung sebuah rapat yang gugup, yang dihadiri oleh Steve, Earson, Fiki, Frendy, dan Drake.


Dalam rapat yang beranggota lima orang, suasananya tidak menyenangkan seperti rapat sebelumnya, ekspresi mereka berlima jelas sangat buruk kali ini, dan tampak sedikit tertekan.


"Menurut laporan mata-mataku, Aliansi Bisnis Dagang Erlin yang dibentuk Damon sudah resmi didirikan, Andy dan walikota juga berpihak pada mereka, dan yang lebih penting lagi adalah pewaris keluarga Smith ini."


Steve mengatakan itu dengan ekspresi yang sangat suram, alisnya semakin berkerut, dan wajahnya penuh kekhawatiran, karena ini jelas bukan kabar baik.


"Alasan aku mengumpulkan kalian semua walau sudah selarut ini, itu karena mau berdiskusi cara kita berurusan dengan Aliansi Bisnis Dagang Erlin selanjutnya."


Steve dan yang lainnya tidak akan mengakui kekalahan begitu cepat, mereka masih belum mengerahkan semuanya, jadi siapa yang akan menang pada akhirnya masih belum pasti.


"Aku sudah lihat semua keuntungan yang ditawarkan Aliansi Bisnis Dagang Erlin, pada dasarnya masing-masing keuntungan mereka itu menargetkan yang kita tawarkan juga, jadi tak ada peluang untuk menang kalau bersaing secara langsung." Fiki mengerutkan kening dan berkata dengan keras.


"Benar, Damon ini licik sekali, kalau terus seperti ini, dalam beberapa hari nanti anggota Aliansi Bisnis Bandung kita pasti akan beralih ke pihak Damon. Kuncinya adalah walikota menyatakan kontrak aliansi kita tidak sah, jadi kita tak bisa memanfaatkan otoritas kontrak untuk menahan para anggota lagi."


Frendy juga menghela nafas, hanya dalam beberapa hari, situasinya benar-benar berbalik, ternyata Damon ini memang tidak mudah untuk dihadapi sama sekali!


Beberapa orang untuk sementara larut dalam perenungan, dan pada akhirnya Earson memecah kesunyian.


"Sekarang kita cuman punya satu cara membalikkan keadaan."


"Cara seperti apa?" Semua orang fokus pada Earson.


"Keluarga kami masih punya personel keamanan sebanyak 500 orang, jadi bisa merancang pembunuhan Damon." Ketika Earson mengatakan ini, matanya bersinar dengan cahaya dingin, sementara yang lainnya terkejut dengan gagasan Earson.


"Sepertinya akan sulit! Damon itu tokoh besar, jadi tidak mungkin bisa disingkirkan semudah itu, begitu meleset, masalah yang timbul akan sangat merepotkan," kata Fiki dengan khawatir.


"Sudah waktunya bagi keluarga kami untuk mempertaruhkan hal ini, kalau masih tak mengambil tindakan, kita ini tidak berbeda dengan menunggu kebangkrutan!" Earson tidak sedang menakut-nakuti mereka, karena kecuali Drake, properti beserta aset ketiga keluarga ini semuanya ada di Kota Bandung, jadi begitu Aliansi Bisnis Dagang Erlin mengasingkan mereka bertiga, maka perusahaan mereka akan kekurangan mitra, dan akan berakhir bangkrut setidaknya dalam sebulan.


Steve masih ragu, tapi Drake menjawab lebih dulu,


"Aku setuju sepenuhnya, kalian cukup berurusan dengan Damon, biar aku yang hadapi Erwin ini! Sudah waktunya bagiku untuk membuat perhitungan dengannya."


Drake awalnya ingin memanfaatkan kekuatan ketiga keluarga ini untuk menekan High Build Group dan memaksa Damon untuk mengembalikan semua aset yang telah direbut dari Keluarga Baxter, tapi sekarang sepertinya ketiga keluarga ini benar-benar tak berguna, karena tidak mampu bersaing sama sekali dengan Damon, sehingga Drake pada akhirnya hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.


Kebetulan ayahnya menemukan seorang master seni beladiri untuknya, jadi dia sekalian ingin melihat dan mengetes kemampuan master beladiri ini pada Erwin!

__ADS_1


__ADS_2