Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Bab 225 Aku Ingin Berguru


__ADS_3

Erwin tidak menyangka keluarga Gao bergerak di bidang farmasi, ini bukan jenis industri yang dapat dikendalikan oleh orang biasa, biasanya hanya orang-orang kuat dan berkuasa yang mampu, dari mulut Farel, bisa diketahui bahwa industri farmasi ini sudah turun-temurun.


Bahkan sampai ada resep leluhur, yang menunjukkan bahwa keluarga Gao adalah keluarga dengan banyak warisan.


"Aku mau sebotol obat penyembuh luka!"


Erwin berpikir bahwa obat ini pasti akan berguna di masa depan, jadi ingin mengambil kesempatan ini untuk dapatkan sebotol, kemudian dibedah dan diteliti, kalau meminta resep secara langsung, mereka pasti tidak akan beri, bisa jadi mereka juga tidak tahu.


Lagipula, resep semacam ini biasanya terkait dengan nasib seluruh keluarga, jadi pasti hanya diketahui oleh satu atau dua anggota keluarga inti saja, lebih baik ambil sebotol dan membuka penelitian.


Mendengar bahwa Erwin menginginkan obat penyembuh dari leluhur, Farel langsung tampak ragu-ragu, ayahnya sudah peringatkan sebelumnya untuk tidak sembarang serahkan kepada orang luar, tapi kalau tidak mereka pasti akan disiksa.


Farel ragu-ragu dan berkata.


"Aku memang punya sebotol, tapi bagaimana kau bisa jamin akan lepaskan kami setelah obatnya kuserahkan?"


“Tergantung suasana hatiku, obatnya sini dulu.” Erwin berkata dengan ringan, sekarang dia dalam posisi unggul jadi otomatis mau minta lebih.


"Erwin, ini tidak semudah itu, obat penyembuhan leluhur keluarga Graham kami setidaknya 2 miliar sebotol di pasaran." Kata Farel dengan tidak puas.


“Sejak kapan kau boleh tawar-menawar denganku sekarang? Mau kegeledah atau serahkan, pilih sendiri!” Erwin berkata dengan dingin dengan sudut mulut terangkat.


Hal ini membuat Farel dan Chris ketakutan, dan Chris langsung mendesak,


"Farel, cepat serahkan, lagian cuma sebotol obat penyembuh, kan?"


Ekspresi Farel berubah untuk sementara waktu, sepupunya ini sungguh tak berguna, tapi karena situasi mereka sangat gawat sekarang, jadi Farel terpaksa mengeluarkan sebotol kac seukuran setengah telapak tangan yang berisi salep putih.


"Ini obat penyembuhnya." Farel dengan enggan menyerahkan botol obat penyembuh itu kepada Erwin, yang awalnya diberikan oleh ayahnya untuk mengobati luka kakinya dan Chris, tapi sekarang justru dirampok oleh Erwin.

__ADS_1


Erwin sangat senang, kemudian membuka tutup botol dan meletakkannya di depan hidung untuk mencium baunya, baunya terasa seperti asam plum, tidak terlalu enak dicium dan isinya tinggal setengah, tampaknya obat ini yang digunakan oleh Farel dan Chris saat ini.


Setelah Erwin menerima setengah botol obat penyembuhan itu, dia memutar matanya dan bertanya lagi,


"Karena keluarga Graham itu keluarga farmasi, pasti ada obat leluhur lain, kan?"


“Tak ada lagi, cuma ini.” Farel langsung menjawab tanpa pikir panjang, seolah sudah tahu Erwin akan menanyakan pertanyaan seperti itu.


“Begitu ya?” Erwin melirik Chris di sebelahnya, Chris ini tampak sedang menyembunyikan sesuatu dan tidak berani menatap Erwin, bahkan memalingkan wajah, tetapi itu justru membuat Erwin tersenyum kecil.


"Chris, kau saja yang jawab, siapapun yang jujur duluan akan kulepaskan, gimana?"


Begitu Erwin selesai berbicara, keduanya saling memandang, Farel sedikit menggelengkan kepalanya ke arah arah Chris, mengisyaratkan untuk tidak membocorkan informasinya, namun Chris tidak peduli lagi saat ini, karena sudah takut dengan siksaan Erwin, jadi buru-buru berkata dengan tidak sabar.


“Masih ada dua jenis, satu untuk penyakit mata yang pada dasarnya bisa disembuhkan selama bola mata masih ada, dan satunya lagi obat seperti perangsang, yang bisa tingkatkan kekuatan pengguna dalam waktu singkat, tapi karena terdaftar sebagai obat terlarang, jadi pihak keluarga kami jarang membuatnya lagi, namun di gudang seharusnya masih ada."


“Bagus, pergilah sekarang.” Erwin tidak menyangka tingkat farmasi keluarga Graham sudah setinggi ini, jadi harus memikirkan cara untuk dapatkan kedua obat ini.


“Iya, tapi kalau mau selamatkan Farel kau harus jadi pembawa pesanku pada ayahnya.” Kata Erwin.


“Apa?” Chris bertanya, dan Farel juga menoleh dengan khawatir.


“Aku mau dua jenis obat leluhur lainnya, bawakan yang banyak, setidaknya masing-masing sepuluh botol dari ketiga jenis obat leluhur! Begitu obat-obatannya tiba, Farel akan kulepas." Kata Erwin ringan.


"Kau pikir itu nasi ya? Untuk apa mau sebanyak itu? Bahan baku obat leluhur kami ini sangat langka, setiap botol setidaknya 2 miliar, tiga puluh botol itu 60 miliar tahu!" Farel yang mendengar itu langsung mengamuk.


“Kalau tak minta sebanyak itu, gimana cara buktikan kau itu bernilai? Cukup basa-basinya dan sampaikan saja pesan ini, kesabaranku itu ada batasnya.” Erwin mengangkat mulutnya.


Farel memelototi Erwin dengan marah, tapi mengapa dia pikir apa yang dikatakan Erwin itu benar? Tuan muda dari keluarga Graham seharusnya bernilai lebih dari 60 miliar, kan?

__ADS_1


Ketiga obat ini pasti akan sangat berguna, jadi lebih baik menyiapkan sedikit lebih banyak.


“Farel, maaf kau harus menunggu di sini, aku akan segera menyampaikan pesannya." Setelah Chris mengatakan ini, dia buru-buru keluar tanpa menoleh ke belakang sama sekali.


“Chris jangan sampai mengkhianatiku, ingat itu!” Farel mau tidak mau meneriaki Chris.


Setelah melepaskan Chris untuk menyampaikan pesan, Erwinc sementara uni menahan Farel di dalam kantor ini sambil diawasi oleh dua petinju hitam.


Karena sudah tidak pagi lagi, orang-orang di Balai Seni Bela Diri Pencak Silat berangsur bubar dan pulang.


Sharon, Lisa dan Leona yang telah sibuk sepanjang hari sangat kelelahan, jadi langsung naik ke lantai atas untuk mandi dan tidur, sedangkan Henry masih duduk di tempat tidur sambil bermeditasi.


Erwin diam-diam pergi ke kamar Henry dan hendak datang untuk berguru, tapi sebuah suara terdengar dari dalam sebelum Erwin sempat mengetuk pintu,


"Tuan Erwin, masuk saja! Pintunya tak dikunci."


"Bisa dengar sampai sejauh ini? Sungguh pendengaran yang tajam." Erwin tidak terlalu terkejut, bagaimanapun Henry adalah seorang grandmaster, jadi ini sangat wajar.


Setelah membuka pintu dan masuk, lampu dalam ruangan ini cukup redup, Henry sedang duduk bersila di tempat tidur dengan pakaian training putih.


“Tuan Erwin, ada masalah apa mencariku?” Henry membuka mata dan berkata, dia masih tidak berani mengabaikan, karena Balai Seni Bela Diri Pencak Silat ini sepenuhnya disponsor oleh Erwin.


“Aku ingin berguru, aku mohon grandmaster Henry menerimaku sebagai murid.” Erwin berkata dengan tatapan serius, dia sudah punya pemikiram ini sejak lama  agar bisa mendapatkan bimbingan secara langsung dari Henry.


“Tuan Erwin mah jadi muridku?” Ekspresi Henry menjadi sedikit serius, dan saat berbicara, dia turun dari tempat tidur untuk mendekati Erwin.


Meskipun dia tidak lagi menerima murid, tapi identitas Erwin sangat tidak biasa, jadi menerimanya sebagai murid akan sangat bermanfaat bagi reputasi Pencak Silat Raung Mountain kedepannya, itu membuat Henry tergiur.


“Benar, aku serius, apa Grandmaster Henry bersedia menerimaku?” Erwin mengangguk dengan ekspresi tegas di wajahnya, "Karena perkembangan dari latihanku terlalu lambat, jadi mau minta bimbingan pribadi dari Tuan Henry."

__ADS_1


“Bukan mustahil juga untuk menerimamu, perkembangan yang lambat itu disebabkan karena kau sudah melewatkan usia terbaik untuk berlatih seni bela diri, kalau memang mau capai maka harus membuka nadi.” Kata Henry dengan sungguh-sungguh.


“Buka nadi?” Wajah Erwin terlihat bingung, karena belum pernah mendengar istilah itu sebelumnya.


__ADS_2