
Wanita tua yang pingsan itu memang berpakaian sederhana seperti tante-tante dari pedesaan, tapi jika diamati lebih dekat, kulitnya terawat dengan baik. Wanita tua itu adalah Susi, yang tidak benar-benar pingsan, tapi hanya berpura-pura untuk menguji karakter Lina.
Sesampai di sana, Lina dan Fiona segera membantunya.
"Tante baik-baik saja?" Lina bertanya dengan khawatir setelah membantu Susi.
Melihat wanita tua itu tidak sadarkan diri, Fiona buru-buru menekan filtrum yang membuat wanita tua itu bangun, bisa dikatakan kemampuan aktingnya benar-benar luar biasa di sini.
“Aku pusing dan dadaku sakit, bisa bantu antar aku ke rumah sakit?” Kata Susi sambil berpura-pura merasa tidak nyaman.
“Kalau begitu ayo.” Melihat wanita tua itu terlihat sangat tidak nyaman, Lina menjadi cemas dan menoleh sembari berkata pada Fiona, "Cepat setir mobilmu ke sini! Kami tunggu."
"Tak perlu pakai mobil, rumah sakit ada di seberang jembatan, pakai mobil justru harus mutar, jadi langsung bawa saja aku ke sana." Susi menunjuk ke depan dan berpura-pura lemah.
“Baiklah, kalau begitu ayo.” Lina mengangguk tanpa pikir panjang karena memang ada rumah sakit di depan sana dan hanya perlu menyeberangi jembatan layang. Namun, Lina tidak kuat dan pakai sepatu hak tinggi, jadi cukup sulit untuk berjalan ke sana sambil menggendong seseorang di punggung.
“Lina, serius kamu bisa?” Melihat Lina yang pantang menyerah, Fiona bertanya dengan cemas.
"Seharusnya bisa, Fiona, bantu aku pegang sepatu hak tinggiku," kata Lina yang langsung melepas sepatu hak tingginya, kemudian berdiri tanpa alas kaki di atas tanah dan memang terasa jauh lebih mudah tanpa sepatu hak tinggi.
Hanya saja Fiona terlihat sedikit khawatir.
"Terima kasih nak, kamu baik sekali." Susi merasa cukup puas saat melihat Lina menggendongnya sambil berjalan dengan kaki telanjang.
"Tak masalah tante, cepatlah." Lina menggendong Susi dan berjalan menuju jembatan layang dengan sekuat tenaga, jarak dari sini sampai menyeberangi jembatan hanya sekitar satu kilometer dan tidak termasuk jauh.
Namun, ada banyak bebatuan kecil dan debu di atas tanah, jadi hanya dalam beberapa menit, kaki putih nan lembut Lina sudah sepenuhnya kotor, bahkan keringat terus mengalir keluar dari dahinya.
“Lina, istirahat minum air dulu.” Wajah Fiona penuh kekhawatiran, lalu mengeluarkan sebotol air mineral dan menyerahkannya kepada Lina.
"Aku juga haus, kasih aku dulu." Sebelum Lina sempat menjawab, Susi sudah membuka mulut lebih dulu.
“Kasih tante dulu,” kata Lina sembari menyeka keringat di dahi.
"Oke." Fiona dengan enggan menyerahkan air itu kepada Susi. Susi mengambilnya dan minum dengan tegukan besar, kemudian berpura-pura gemetaran setelah minum sehingga botol airnya dengan kondisi belum ditutup.
"Maaf, airnya jatuh," kata Susi dengan ekspresi berpura-pura menyesal.
"Ka… Kamu sengaja, 'kan?" Fiona dengan cepat memungut kembali botolnya, tapi air do dalam sudah habis karena tumpah.
"Mana boleh asal tuduh? Aku pusing dan tanganku gemetaran, jadi jatuh botolnya, kamu tidak boleh menyalahkanku," kata Susi dengan tampang tidak bersalah.
“Cukup Fiona, aku antar dulu tante ke rumah sakit dulu baru minum air aja.” Lina mengatupkan bibir dan melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Sesampai di jembatan layang, Lina tidak kuat lagi, jadi menurunkan Susi dan duduk untuk istirahat sebentar.
“Lina, kakimu baik-baik saja? Gimana kalau gantian saja nanti?” Fiona berkata dengan khawatir.
"Tak mau, aku mau dia yang gendong aku." Susi menunjuk ke arah Lina.
"Kamu jelas mau mempersulit Lina, 'kan? Bukannya sama saja siapa yang gendong? Kamu tak lihat dia sudah capek dan kakinya sakit?" Fiona tidak tahan lagi dan berteriak.
"Jangan teriak lagi, kepalaku terasa sakit, aku tak tahan lagi, cepat bawa aku ke rumah sakit." Kata Susi sambil berpura-pura memegang kepalanya sendiri dan hampir jatuh ke tanah.
"Tante? Akan kugendong ke sana, tunggu sebentar." Lina yang melihat ini langsung panik, kemudian berdiri lagi dan menggertakkan gigi sambil menggendong Susi.
Kakinya terasa semakin sakit selangkah demi selangkah, wajahnya juga penuh keringat, tapi Lina masih bersikeras untuk membawa Susi ke rumah sakit.
Setengah jam kemudian, mereka akhirnya sampai di depan pintu rumah sakit, Lina sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit di kaki. Lina terhuyung-huyung hingga jatuh ke tanah, tapi karena tangannya yang lebih awal menghantam tanah, jadi gelang giok berwarna ungu di pergelangan tangan kirinya langsung retak.
Fiona bergegas maju untuk membantu mereka berdua, sedangkan Lina yang melihat gelang giok ungu dari Erwin terbelah menjadi dua, merasa sangat sedih.
"Nak, maafkan aku, gelangmu rusak karena aku, aku bersedia ganti rugi dan jamin akan lebih bagus dari yang itu." Susi tidak menyangka akan kecelakaan ini dan bahkan menghancurkan gelang giok ungu milik Lina, jadi dia merasa bersalah.
"Terus apa setelah ganti rugi? Itu hadiah dari pacarnya, memangnya beli yang baru bisa mengandung arti yang sama?" Fiona langsung memarahi karena merasa tante ini jelas hanya ingin mempersulit dan merugikan Lina. Lina menempuh perjalanan yang jauh dengan kaki telanjang tapi tidak diizinkan untuk gantian, jelas ini sudah keterlaluan.
"Gapapa, ini tidak terlalu mahal juga, Tante, kita sudah sampai rumah sakit, gimana kalau sekalian kutemani jumpa dokter?" Lina bangkit dari tanah dan dengan hati-hati menyimpan gelang gioknya yang rusak ke dalam tas.
“Tante yakin?” Lina bertanya lagi dengan khawatir.
"Iya, aku baik-baik saja, kamu baik sekali, aku percaya kamu akan mendapat karma baik juga, aku pulang dulu ya, lain kali akan kutraktir makan." Susi berjalan pergi setelah mengatakan itu.
"Apa-apaan? Jelas cuman mau menyusahkan mu, kamu terlalu baik dan lihatlah sekarang, bahkan gelangmu yang jadi korban. Sungguh sial sekali, kakimu gimana? Masih sakit?" Fiona berkata dengan khawatir.
"Kulitnya terkelupas." Lina menyeka keringat di dahi dan berkata sembari menahan rasa sakit, "Baguslah kalau tante itu baik-baik saja, untuk apa mempermasalahkan hal sepele?"
“Baiklah, baiklah, tunggu di sini saja, biar aku jemput pakai mobil nanti.” Fiona membantu Lina duduk di depan pintu masuk rumah sakit, lalu pergi setelah mengatakan beberapa kata lagi.
Susi baru pulang ke Villa Mahkota setelah larut malam.
"Ibu ke mana saja sepanjang hari ini?" Melihat Susi akhirnya pulang, Erwin bertanya tanpa sadar.
"Menyelidiki seseorang, ngomong-ngomong aku akan pergi besok pagi!" Susi langsung berhenti berbicara tanpa memberitahu secara detail.
"Secepat itu? Kita ketemu Lina dulu, kujamin ibu akan suka, gimana kalau malam ini? Kita makan malam di luar." Kata Erwin dengan cemas.
"Tak perlu, bertemu atau tidaknya dengan seorang gadis kecil keluarga kelas tiga itu tidak membawa banyak pengaruh, tapi bisa dilihat kalau dia sangat menyukaimu, tenang saja, aku akan memberinya kompensasi yang layak dan sebuah kesempatan, jadi semuanya tergantung apa dia bisa memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin." Susi Berkata dengan penuh arti.
__ADS_1
"Maksudnya? Kesempatan apa?" Erwin tertegun.
"Kamu akan tahu sendiri, aku mau mandi dan tidur dulu, besok pagi aku sudah harus berangkat." Kata Susi sambil naik ke lantai atas.
Erwin menghela nafas karena tidak tahu apa maksud dari kata-kata ibunya, tapi langsung tahu setelah Susi meninggalkan Kota Bandung karena Lina menerima hadiah misterius, yaitu sebuah surat pekerjaan mengenai penunjukan Lina sebagai manajer proyek Green Group di Kota Santa, dengan gaji tahunan sebesar 2 milliar ditambah 5% kepemilikan saham dan sebuah gelang giok langka.
"Apa ini?" Mary kebingungan begitu tahu putrinya dipekerjakan sebagai manajer proyek sebuah perusahaan besar dengan nilai pasar sebesar 200 triliun di Kota Santa.
Bahkan Lucas yang juga kebingungan tentang hal ini.
"Green Group ini perusahaan yang luar biasa besar di Kota Santa, kenapa tiba-tiba menunjuk Lina yang tak punya pengalaman proyek sebagai manajer proyek? Terlebih lagi dengan tawaran gaji sebesar itu dan 5% saham."
Lucas sudah berpikir keras, tapi masih tidak menemukan jawabannya.
"Ayah, apa mungkin surat kerja ini palsu?" Lina mengambil surat kerja tersebut dan membacanya berulang kali, dia bahkan berharap surat kerja tersebut palsu karena tidak ingin pisah dan tinggal di kota yang berbeda dengan Erwin.
“Seharusnya bukan palsu, gelang giok ini sudah jelas asli.” Lucas mengambil gelang giok yang disertakan dengan kotak kado.
“Gelang ini pasti sangat mahal.” Mata Mary berbinar begitu melihat ini dan dengan cepat merebutnya dari tangan Lucas untuk dipakai sendiri.
“Bu, jangan dipakai, gimana kalau harus dikembalikan nanti?” Lina buru-buru merebut kembali dan menaruhnya di tempat.
"Kenapa harus dikembalikan? Gaji tahunan 2 miliar ditambah 5% saham, 5% saham dari perusahaan 200 triliun seperti itu setidaknya juga sepuluh triliun, mana mungkin tidak diterima? Putriku sebentar lagi akan punya kekayaan sebanyak itu, jelas aku bisa membangga-banggakan kamu di depan orang-orang."
Pemikiran pertama Mary hanya ingin memamerkan hal ini pada orang lain nanti.
“Sudah di situasi seperti ini ibu hanya berpikir untuk pamer.” Lina hampir menangis dan memutuskan untuk mendengar pendapat dari Erwin yang mungkin bisa membantu, kedua orang tuanya ini tidak bisa diandalkan sama sekali.
Begitu menghindari orang tuanya, Lina masuk ke kamarnya sendiri dan menelepon Erwin.
Erwin juga kaget setelah menerima telepon dari Lina, kemudian tiba-tiba teringat dengan kata-kata ibunya tentang kompensasi dan kesempatan untuk Lina sebelum pergi, apa mungkin membiarkan Lina menjadi manajer proyek Green Group merupakan kesempatan, sedangkan 5% saham itu adalah kompensasi yang dimaksud ibunya?
Memikirkan hal ini, Erwin buru-buru pergi ke rumah Lina.
Begitu tiba, Erwin langsung ditarik ke dalam rumah oleh Lina dan tidak lupa untuk menunjukkan surat kerja tersebut.
"Erwin, aku harus terima atau tolak?" Lina sangat ragu, dia tidak ingin pisah dengan Erwin, tentu saja dia tidak keberatan untuk terima jika Erwin pergi bersamanya.
"Tentu saja bukan hanya terima, tapi kamu harus berjuang keras.” Erwin memikirkan kemungkinan tertentu, kemudian melihat gelang giok di sebelah surat kerja dan merasa sangat familiar, seolah-olah pernah melihatnya di suatu tempat.
"Gelang itu juga dikirim bersama surat kerja ini?"
“Iya, kudengar dari ayahku kalau gelang ini asli dan sangat mahal.” Lina takut merusaknya.
__ADS_1
Erwin mengambil gelang itu dan memeriksanya di bawah cahaya dengan hati-hati. Begitu melihat adanya benang merah tipis di dalam gelang giok tersebut, Erwin langsung memucat ketakutan, gelang ini milik ibunya, kenapa bisa ada di sini?