Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Pembalikan Situasi


__ADS_3

Melihat bahwa langit sudah mulai gelap, Erwin bersiap untuk mendirikan tenda, dan menyuruh Lisa menemani Lina untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu.


Ketika Erwin hendak mendirikan tenda, Lina membawakan beberapa sayap ayam panggang, kaki ayam dan sosis untuk Erwin.


“Erwin, makanlah sedikit dulu, dan bangun tendanya nanti saja.” Mata Lina penuh kasih sayang dan dia mengeluarkan tisu untuk menyeka keringat di dahi Erwin.


“Mm.” Setelah Erwin meletakkan peralatannya, dia duduk di tanah, lalu mulai memakan sayap panggang dan kaki ayam panggang yang Lina bawa.


"Maaf, karena aku, kau jadi malu di depan teman-temanmu lagi."


"Untuk apa aku merasa malu! Kakekku juga anak miskin dari pedesaan, kan? Dia juga membangun karir dengan usahanya sendiri, dan sekarang bisa dibilang adalah salah satu tokoh penting di Kota Bandung. Aku yakin kau pasti bisa, walau tidak bisa mencapai posisi seperti Kakek, tapi sebenarnya tidak buruk juga kalau hidup sederhana bersama."


Lina duduk di sebelah Erwin dan menghirup udara pegunungan dengan tenang karena merasa sangat nyaman.


Erwin tersenyum dan sedikit tersentuh.


Jika posisi Lina sekarang bertukar dengan mantan pacarnya, leticia, dia pasti sudah mengeluh Erwin tidak berguna, karena membuatnya kehilangan muka di depan teman-teman dan sahabatnya.


Karena Erwin sudah pernah disalahkan oleh Leticia karena tidak berguna, tapi dalam situasi yang sama, tanggapan Lina justru begitu melindunginya, perbedaan yang drastis ini membuatnya merasa bahwa Lina ini benar-benar gadis yang baik.


Erwin tiba-tiba memegang tangan kecil Lina dengan erat, dan berpikir tidak ingin menyia-nyiakan gadis sebaik ini dalam hidupnya.


Lina tidak menolak, membiarkan Erwin memegang tangannya, wajah cantiknya sedikit memerah, bahkan tanpa sadar dia menyandarkan kepalanya di bahu Erwin dan menikmati momen damai ini.


“Cukup bermesraannya, Vincent sudah ada di sini.” Lisa tiba-tiba muncul di belakang mereka dengan ekspresi dingin di wajahnya.


“Vincent juga ikut ke sini?” Lina tampak curiga, dan dengan cepat berdiri dari tanah.


“Akhirnya muncul juga! Sepertinya jebakan untukku sudah siap dan tinggal memancingku ke sana.” Pikir Erwin dalam hati sambil berdiri dari tanah.


Ternyata benar, tatapan Erwin berbalik ke arah kerumunan, dan terlihatlah Vincent yang sedang mengobrol bersama beberapa wanita cantik dengan gembira saat ini.


“Yuk kita ke sana!” Erwin tersenyum tipis di sudut mulutnya.


Begitu ingin berjalan ke arah Vincent, Lina langsung menahan Erwin dengan sedikit gugup.


"Erwin, jangan ke sana, kau sudah mempermalukannya sebelumnya, jadi dia pasti sangat membencimu, gimana kalau kalian kelahi nanti?"


Lina sangat khawatir karena tidak ada penjaga keamanan di alam liar seperti ini, jadi dia takut Vincent tidak bisa menahan emosi dan mulai memukul Erwin.


Tidak masalah kalau yang terluka adalah Vincent, tapi kalau Erwin terluka, dirinya akan merasa tidak tega dan tertekan.


“Tenang saja, Lisa ada di sini, jadi jangan takut.” Erwin tersenyum sedikit.


Lina menoleh dan menatap Lisa yang memasang wajah dingin, lalu baru teringat kembali bahwa Lisa pernah menghajar empat orang yang dibawa Adam di bar sendirian.

__ADS_1


Memikirkan hal ini, Lina menjadi sangat tenang.


"Baiklah kalau begitu, kalau dia berani memukulmu, kita perlihatkan seberapa hebatnya Lisa kita!"


Erwin tidak bisa menahan senyum untuk sementara waktu.


Vincent tersenyum dingin saat melihat Erwin berjalan ke arahnya.


"Erwin, sudah kusiapkan jebakan untukmu hari ini, kuingin lihat apa kau masih berani melawanku lagi, sedangkan Lina, kau sepenuhnya milikku malam ini."


Vincent menjilat bibirnya sendiri dan meminum habis sekaleng bir dalam satu tegukan.


“Nak, kenapa kau ada di sini juga?” Erwin berjalan mendekat dan mempermalukan Vincent tanpa ampun.


Vincent mengepalkan tinju, ekspresinya sedikit berubah, 'beraninya bertingkah begitu sombong di depanku', tapi dia masih bisa menahan emosinya.


"Erwin, kusaran anak miskin sepertimu jangan terlalu sombong, akan kutunjukkan seberapa hebatnya diriku."


Setelah mengatakan ini, Vincent langsung berjalan melewati Erwin dan pergi mencari para wanita cantik itu untuk sedikit bersenang-senang.


Erwin tidak menyangka Vincent akan menahan emosi dan begitu toleran.


Saat tengah malam, semua orang sudah tidur dan beristirahat di dalam tenda, ini adalah pertama kalinya Erwin berkemah di alam liar.


Erwin tetap waspada sepanjang waktu, sebuah kertas tiba-tiba masuk ke dalam tendanya, dan dia juga mendengar langkah kaki yang buru-buru lewat di luar.


Erwin tahu siapa itu tapi tidak keluar untuk mengejarnya. Sebaliknya, dia membuka secarik kertas yang masuk tadi yang terdapat tulisan : Kalau kau tak ingin Daniel dan pacarnya mengalami kecelakaan, cepat datang ke bagian timur.


Melihat ini, Erwin mengerutkan kening! Dan tatapannya menjadi dingin.


Ternyata Vincent begitu licik sampai mengincar Daniel dan pacarnya, sudah pasti Vincent ini tidak boleh dibiarkan terus seperti ini lagi.


Erwin merasa marah, setelah merobek kertas itu, dia keluar dari tenda dan berjalan ke arah timur lereng gunung sesuai dengan isi yang tertulis di kertas itu, sambil memegang senter di tangannya.


Di sepanjang perjalanan, Erwin cukup berhati-hati, setelah belasan menit kemudian, dia tiba di tepi tebing. Tebing tersebut cukup curam, tapi tidak terlalu dalam, hanya sekitar sepuluh meter, terjatuh dari sini tidak akan mati, tapi akan mengalami cedera serius.


“Sepertinya inilah jebakan yang diatur Vincent untukku," kata Erwin sambil tersenyum tipis.


Ternyata benar, begitu dia selesai bergumam, Vincent berjalan keluar dari belakangnya, diikuti oleh hampir sepuluh pria berpakaian hitam, salah satunya adalah Liam.


“Erwin, tak menduga akan hal ini, kan?! Sebagai balasan karena sudah mempermalukanku, akan kubuat kau bernasib buruk hari ini.” Vincent dalam keadaan gila balas dendam saat ini, dia ingin membalas rasa penghinaan yang dia rasakan saat berlutut pada Erwin puluhan kali lipat.


"Gitu ya? Jadi kalian ini mau mengeroyokku ya? "Erwin berkata dengan ringan tanpa sedikit pun ketegangan.


“Tidak tidak, aku hanya ingin kau jatuh dari tebing ini secara tidak sengaja, itu tidak ada hubungannya dengan kami. Sedangkan akan mati atau mengalami kecacatan, itu tergantung pada keberuntunganmu.” Wajah Vincent tersenyum penuh kemenangan, bahkan sedikit memprovokasi.

__ADS_1


“Kau begitu percaya diri aku akan jatuh dari sini?” Erwin bertanya dengan tenang.


"Kenapa tidak? Apa kau anggap sepuluh saudara berpakaian hitam di sampingku ini benda mati? Mereka akan membantumu melompat ke tebing secara tak sengaja,” teriak Vincent penuh kemenangan.


"Jangan khawatir, setelah kau jatuh nanti, aku akan membantumu merawat Lina, dan akan membuatnya merasa nikmat sepanjang malam, haha~"


Berbicara tentang kenikmatan nanti, Vincent tertawa terbahak-bahak.


“Vincent, jangan berpuas diri dulu, ini belum berakhir, jadi siapa yang menang masih pasti!” Erwin memperingatkan dengan tenang.


“Sudah diujung tanduk tapi masih begitu sombong, aku beneran kagum sama keberanianmu. Cukup, aku sudah tak sabar untuk menemani Lina, kau cukup ikut alur saja sampai terjatuh ke tebing!” Vincent berhenti sejenak, dan segera berkata kepada seorang pria berpakaian hitam di sebelahnya.


"Kak Liam, kuserahkan masalah di sini padamu."


“Ya.” Liam mengangguk. Vincent pun berjalan pergi dengan cepat setelah tertawa beberapa kali.


Menurut Vincent, Erwin yang dikelilingi oleh sepuluh orang-orang Kak Liam sudah tidak mungkin bisa melarikan diri, jadi malam ini, Erwin sudah pasti mati atau cacat.


Sekarang masalah Erwin sudah beres, yang tersisa hanyalah menemukan Lina, jika Lina menolak untuk patuh, dia masih memiliki cara untuk membuatnya menyerah.


Lebih dari sepuluh menit kemudian, Vincent datang ke tenda Lina. Tanpa banyak bicara, dia memotong tenda Lina dengan pisau, dan terlihat Lina sedang tidur dengan seorang gadis.


“Kalau begitu aku mau dua-duanya.” Vincent benar-benar mengabaikan gadis Lisa, karena mengira Lisa hanyalah seorang gadis lemah.


Memikirkan itu, Vincent dengan bersemangat mengeluarkan apa yang telah dia siapkan dari sakunya, tetapi begitu mengeluarkannya, dia baru menyadari bahwa Lisa tiba-tiba membuka mata, dan itu mengejutkannya.


“Kau.” Sebelum Vincent sempat bertanya, mata kirinya sudah ditinju oleh Lisa, dan itu membuatnya berguling kesakitan di tanah.


“Cari mati.” Tanpa basa basi, Lisa langsung memukulnya lagi.


“Beraninya kau memukulku, lihat saja, akan kupanggil orang untuk mengajarku nanti.” Vincent tiba-tiba memikirkan Kak Liam, dan segera menelepon.


“K-kau lihat saja nanti, orang-orangku ada di dekat sini. Akan kubuat kau mati tanpa kuburan sepuluh menit nanti, kecuali kau memohon belas kasihan padaku sekarang, mungkin aku akan bersikap sedikit lembut padamu nanti,” kata Vincent dengan ekspresi yang penuh percaya diri.


Kak Liam ada di dekat sini, jadi untuk apa dia takut pada seorang wanita biasa?


Tak lama kemudian, banyak orang yang datang kemari, dan salah satunya adalah Liam, dan Vincent yang melihat ini langsung menjadi bersemangat.


"Hahaha, Kak Liam sudah datang, mampus kau"


Namun, begitu Vincent selesai berbicara, terdengar suara familiar yang menakutkan baginya.


"Sepertinya kaulah yang akan mampus nanti!"


Dengan senyum tipis di sudut mulut, Erwin berjalan keluar dari pepohonan yang gelap, sambil diikuti oleh Kak Liam dan sepuluh anak buahnya dengan hati-hati.

__ADS_1


__ADS_2