Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Hilang Kabar dan Mengetes


__ADS_3

Hari ini adalah hari di mana ibu Lina, yaitu Mary, pergi ke Perusahaan Real Estate West Garden di barat kota untuk menandatangani kontrak, jadi dia bangun pagi-pagi dan berdandan dengan teliti, bahkan memperhatikan detail pakaiannya.


Bagaimanapun, hari ini adalah hari yang paling menyenangkan baginya selama bertahun-tahun ini.


“Ma, pakaianmu terlihat bagus di tubuhmu.” Lina memandang Mary yang mengenakan gaun merah, dan mengangguk puas.


“Tentu aja, dulu ada banyak pria yang mengejar mamamu ini saat muda, kalau bukan ditipu sama ayahmu, mana mungkin aku bisa menikah dengannya.” Mary berputar di depan cermin dan sangat puas dengan baju yang dipakainya.


"Udah, udah, aku sudah mau pergi sekarang, kalau tidak akan terlambat nanti, aku harus ke perusahaan kakekmu dulu, karena segel resmi masih ada di sana." Sambil berbicara Mary sudah berjalan keluar.


Menyaksikan Mary berjalan keluar dan perlahan menghilang dari pandangannya, Lina merasa adanya firasat buruk di hatinya, seolah-olah sesuatu akan terjadi hari ini.


“Kayaknya tidurku nggak nyenyak semalam, sampai bisa merasa begitu.” Setelah Lina menggelengkan kepalanya, dia berbalik dan pergi untuk beristirahat.


Pada saat yang sama, Rick sudah menunggu kedatangan putri keduanya di perusahaan. Di atas meja di dekatnya, beberapa stempel dan dokumen resmi untuk menandatangani kontrak telah disiapkan, dan bahkan Rick sudah menyiapkan seorang asisten, karena khawatir Mary yang tidak berpengalaman dalam menjalankan perusahaan tidak memahami prosesnya dan membuat kesalahan saat menandatangani kontrak.


"Kenapa masih belum datang juga?” Rick melirik jam, sekarang sudah hampir jam sepuluh, hanya tersisa dua jam sebelum waktu penandatanganan pada jam 12 siang. Kalau buru-buru dari sini ke Perusahaan Real Estate West Garden di barat kota itu setidaknya butuh sejam, tapi kalau Mary masih belum datang juga sekarang, mungkin akan terlambat pada waktu tandatangan kontrak yang sudah ditentukan.


“Ayah, jangan khawatir, kita tunggu aja sebentar lagi, mungkin adik kedua lagi macet di jalan?” Melihat bahwa Rick sudah mulai mendesak, Meisha yang ada di sebelahnya tidak lupa untuk mendekat dan menghibur.


“Cepat telepon dia, kalau masih nggak datang, pasti bakal terlambat!” Rick sedikit kesal karena hari sepenting ini saja bisa terlambat, bagaimana dia bisa mempercayai perusahaannya pada Mary nanti?


“Ayah, sabar ya, akan segera kutelepon dia!” Meisha justru merasa senang saat melihat Rick marah, karena inilah yang dia inginkan.


Dia langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon Mary, tetapi ponsel yang dia telepon ternyata mati daya, agar Rick bisa dengar dengan jelas, Meisha sengaja menyalakan pengeras panggilan.


"Ayah, adik kedua sudah keterlaluan, kan? Hari ini adalah hari tanda tangan kontrak, tapi ponselnya mati saya, gimana kalau beneran melewati waktu tanda tangannya?" kata Meisha dengan datar di dekat telinga Rick.


“Keterlaluan!” Rick menepuk meja dengan kuat, ini adalah pesanan senilai dia triliun, Rick sudah menjalankan bisnis bahan bangunan sepanjang hidupnya, tapi belum pernah menerima pesanan sebesar ini.

__ADS_1


Kalau kontrak ini berhasil ditandatangani, maka perusahaannya pasti dapat menjadi perusahaan kelas atas yang berkuasa di industri bahan bangunan Kota Bandung, keinginan terakhirnya sebelum pensiun itu membawa perusahaannya ke posisi kelas atas di industri kota ini.


“Ayah, jangan marah, adik kedua seharusnya tidak begitu tak tahu diri, kita tunggu bentar lagi!” Meisha menghibur, tetapi diam-diam makin senang.


Wahai adik keduaku, jangan salahkan kakakmu yang melawanmu! Semua yang kami lakukan ini juga demi pengembangan perusahaan ayah kita, orang yang tidak tahu cara mengelola bisnis sepertimu menjadi CEO, bukankah itu nggak ada bedanya dengan memaksa perusahaan ke ambang kehancuran?


“Kita nunggu sejam lagi, kalau sejam lagi masih nggak datang, kamu bawa saja seseorang buat tanda tangan kontrak dengan Perusahaan Real Estate West Garden.” Rick memikirkannya dan berkata terus terang, karena dia tidak mau menyerah pada pesanan Real Estate West Garden hanya karena Mary.


Meisha diam-diam senang, tetapi sengaja berkata, "Kayaknya ini kurang bagus deh, kan adik kedua yang dapat pesanannya, tapi malah aku yang tanda tangan, bukannya ini merampas hasil kerja kerasnya?"


"Dia sendiri yang terlambat, jadi nggak bisa salahin orang lain! Selain itu, hari sepenting ini aja dia bisa terlambat, mana mungkin aku bisa dengan tenang mewariskan posisi CEO kepadanya," ujar Rick dengan hati yang terbakar amarah.


"Kalau gitu kita tunggu bentar lagi!" Meisha diam-diam bersemangat. Dengan adanya kata-kata Rick, waktu di mana dia menggantikan posisi Mary sebagai CEO sudah semakin dekat!


Sedetik demi semenit terus berlalu, Mary tampak menghilang begitu saja, begitu juga dengan ponselnya yang tetap tak bisa dihubungi.


Rick semakin gelisah, dan segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon lagi beberapa kali, namun, hasilnya tetap sama.


"Lina, kapan ibumu akan sampai? Nampak dia nggak?"


“Mama sudah berangkat pagi-pagi, dia belum sampai?” Lina sedang berbaring di sofa untuk beristirahat, tapi ketika mendengar berita ini, dia langsung terduduk dan ekspresinya menjadi gugup.


“Udah berangkat pagi-pagi?” Rick mengerutkan kening dan memiliki firasat buruk.


Setelah menutup telepon, Rick mondar-mandir di kantor CEO beberapa kali, dan akhirnya memutuskan untuk menandatangani kontrak terlebih dahulu.


"Nggak bisa nunggu lagi, Meisha, bawa seseorang dan tanda tangan kontraknya dengan Perusahaan Real Estate West Garden barat kota, aku akan cari adikmu." Rick hanya bisa mengatur seperti ini.


"Baik Ayah, kalau gitu aku akan urus penandatanganan kontraknya.” Mendengar ini, Meisha diam-diam senang, karena saat yang ditunggu-tunggunya akhirnya tiba juga, dan dia tentu tahu mengapa adik keduanya sendiri bisa hilang kabar! Karena ini adalah ulah suaminya, yaitu Alfred yang mengatur agar Mary hilang kabar untuk sementara.

__ADS_1


Namun, begitu dia selesai menandatangani kontrak, adik keduanya akan dibebaskan, pada saat itu nasi sudah menjadi bubur, jadi dia akan menggantikan adik kedua menduduki posisi CEO, dan setelah kejadian tersebut, Rick juga pasti tidak akan tenang jika mewariskan posisi CEO pada Mary, ini bagaikan membunuh dua burung dengan satu batu, benar-benar rencana yang sempurna.


Meisha membawa stempel resmi dan dokumen yang diperlukan, beserta dua asisten untuk pergi ke Perusahaan Real Estate di barat kota. Masih tersisa sejam lagi sebelum pukul 12 siang yang telah ditentukan untuk menandatangani kontrak.


Pada saat ini, Meisha benar-benar bangga dan sepertinya semuanya terkendali.


Sedangkan Lina semakin gelisah setelah menjawab telepon dari kakeknya, nomor ibunya tidak bisa dihubungi, dan hasilnya tetap sama, yaitu nomor yang dituju sedang mati daya.


"Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan?" Lina sangat cemas hingga hanya bisa memikirkan satu orang pada akhirnya. "Kayaknya cuma bisa cari Erwin."


Pada saat kritis seperti ini, hal pertama yang terpikir sama Lina adalah Erwin.


Erwin kebetulan sedang memproduksi sebuah program di TG Entertainment. Setelah menjawab panggilan Lina, dia segera menemukan tempat yang lebih tenang.


"Ada apa? Pelan-pelan, ceritakan situasinya dulu."


Lina di telepon panik hampir menangis, dan Erwin hanya bisa mengetahui situasinya sebelum membuat keputusan.


Di telepon, Lina memberitahu Erwin apa yang terjadi pada ibunya hari ini, termasuk panggilan telepon kakeknya.


"Ibumu hilang kabar?!" Erwin terkejut, kalau tidak salah ingat, hari ini adalah hari di mana Mary menandatangani kontrak dengan Real Estate West Garden, mana mungkin Mary melewatkan hari yang begitu penting?


“Kayaknya benar-benar terjadi sesuatu padanya.” Erwin mengerutkan kening dan memikirkannya dengan teliti, kenapa bisa begitu kebetulan hilang kontak pada hari kontrak ditandatangani?


“Jangan-jangan ulah kedua saudarinya?” Erwin teringat dengan dua sepupu Lina kemarin yang sengaja mencari masalah dengannya untuk membalas dendam ibu mereka.


Tapi ini hanya spekulasi, Erwin masih tidak pasti akan hal ini, jadi dia menelepon Rick untuk bertanya siapa mewakili Mary untuk menandatangani kontraknya.


"Putri sulungku yang menandatangani kontraknya, soalnya sudah terlambat, jadi cuma bisa pakai cara mewakili seperti ini," jawab Rick dengan jujur.

__ADS_1


Setelah menutup telepon, Erwin untuk sementara masih tidak yakin apa ini adalah ulah mereka, tapi dia langsung terpikir sebuah rencana, yang mungkin bisa menjadi solusi.


Dia segera menelepon Ghania, CEO cantik Virtues Group, dan menyuruhnya untuk menginstruksi bawahannya bahwa satu-satunya orang yang boleh menandatangani kontrak tersebut hanya Mary itu sendiri.


__ADS_2