
Perhitungan Xavier tidaklah seberapa bagi Erwin, rencananya yang dia pikir bisa menang justru dibalikan sama Erwin.
Bukan hanya tidak berhasil balas dendam, tapi juga kehilangan total aset senilai delapan sampai sepuluh triliun dalam satu malam, yang akan membuatnya kesulitan untuk memberitahu ini pada orang-orang di keluarganya begitu pulang nanti.
Saat malam kejadian itu juga, Xavier dan Bashan meninggalkan kru dan melarikan diri kembali ke kota, untuk membuat rencana lebih lanjut.
Sedangkan Erwin sangat berterima kasih kepada Boy.
"Tuan Erwin, kalau gitu saya pamit dulu ya, kalau ada keperluan di barat kota, tolong hubungi saya kapanpun."
Saat fajar, Boy ingin mengucapkan selamat tinggal pada Erwin.
“Terima kasih banyak Boy, aku takkan lupa tentang pujiannya di depan Tuan Damon nanti.” Erwin berjanji padanya, dan tentu saja dia tidak akan melupakannya.
“Kalau gitu terima kasih Tuan Erwin, saya mohon pamit.” Setelah mengatakan ini, Boy langsung mengemudi kembali dengan para bawahannya.
Setelah melihat beberapa mobil van pergi dari kaki gunung, Erwin sedikit menghela nafas, untungnya ada bantuan Boy kali ini, kalau tidak, dia mungkin beneran akan jatuh ke tangan Xavier.
“Erwin, siapa mereka? Kenapa bisa muncul dalam satu malam?” Jocelyn tiba-tiba keluar dari belakang Erwin, dan penasaran mengapa bisa muncul orang sebanyak ini dalam satu malam.
“Hanya temanku, ngomong-ngomong tidurmu nyenyak semalam?” Erwin menoleh dan bertanya.
“Tidak terlalu bagus, malam tadi aku kayaknya mimpi ada orang yang teriak kesakitan,” kata Jocelyn sambil mengerutkan kening.
Tampaknya teriakan Xavier tadi malam masih mempengaruhi tidur Jocelyn, tapi untungnya Jocelyn tidak bangun untuk melihat situasinya tadi malam dan hanya mengira semua itu adalah mimpi.
Para kru melanjutkan syuting dengan tertib, sementara Erwin yang tidak melakukan apa-apa mengikuti Lisa untuk belajar seni bela diri.
Setelah begitu banyak insiden yang bersangkutan dengan kekerasan secara berturut-turut, Erwin merasa dirinya sangat lemah, dan pasti akan menghadapi insiden kekerasan seperti ini lagi kedepannya, jadi dia ingin belajar sedikit bela diri, karena tidak mungkin dia menyuruh Lisa berada di sisinya selama 24 jam setiap hari, itu akan membuatnya merasa tidak punya privasi sama sekali.
Kebetulan di Gunung Tambakruyung ini, udaranya sangat sejuk dan alami, jadi merupakan tempat yang sangat cocok untuk belajar bela diri.
"Seni bela diri perguruan kami memperhatikan kuda-kuda, lompatan, fleksibel, tinju yang kuat, dapat melepaskan dan menerima kekuatan dengan baik, kamu ikuti gerakanku untuk membiasakan diri dengan teknik tinju, lalu meningkatkan tenaga fisik saja sudah cukup." Lisa juga mengajar dengan sangat serius, bahkan terpikir sebuah ide yang berani.
__ADS_1
Kalau dia berhasil membawa Erwin yang kaya raya ini bergabung ke dalam perguruannya, gurunya pasti akan memuji dia, dan mungkin Erwin juga akan berinvestasi dalam promosi perguruan mereka, sehingga perguruan mereka bisa dikenal oleh lebih banyak orang.
Pada zaman dan masyarakat yang damai saat ini, seni bela diri tradisional sudah semakin memudar.
“Begini?” Erwin meluncurkan sebuah pukulan ke depan sesuai dengan gerakan Lisa.
“Iya, betul, terus ikuti saja gerakanku.” Lisa bahkan lebih senang saat Erwin cepat tanggap.
Seharian penuh, Erwin berlatih tinju dengan Lisa, hingga berkeringat deras dan terengah-engah, tapi napas Lisa tidak banyak berubah, yang dapat dilihat bahwa stamina mereka berdua sangat berbeda jauh.
"Besok, mulailah lari pagi jam enam pagi, mulai dari satu kilometer aja dulu! Lalu perlahan di naikin nanti." Kata Lisa.
Erwin mengangguk, karena ingin belajar bela diri, maka otomatis dia harus mendengarkan kata-kata Lisa!
Dalam beberapa hari berikutnya, Erwin mengikuti instruksi Lisa dan perlahan-lahan meningkatkan jarak lari paginya untuk melatih kekuatan fisik. Dalam hal tinju, Erwin belajar dengan cepat, hanya ada delapan gerakan, jadi setelah mempelajarinya, dia terus berlatih untuk membiasakan diri, hingga yang tersisa hanya lawan musuh yang beneran.
Sepuluh hari kemudian, tenaga dan stamina Erwin secara keseluruhan sudah meningkat pesat, dengan tambahan teknik tinju, melawan dua atau tiga orang biasa seperti bukan masalah lagi baginya.
Pada saat yang sama, para kru akhirnya selesai syuting, Jocelyn masuk ke dalam mobil dengan lelah, begitu juga dengan Ametta, Erwin dan Lisa juga masuk ke dalam mobil yang sama.
"Sudah tau rasanya syuting di alam liar seperti ini kan? Liatlah kamu makin kurus akhir-akhir ini." Kata Ametta dengan tidak tega, karena beberapa hari ini mereka sangat menderita, bukan hanya tidak bisa makan dengan teratur tapi tidur mereka juga tidak nyenyak, dia benar-benar sangat membenci Erwin.
"Aku akan bawa kalian makan di bagian barat kota nanti, di sana ada banyak makanan yang enak-enak, aku yang traktir, jadi makanlah apapun yang kalian mau." Erwin juga tahu bahwa Jocelyn sudah bekerja keras kali ini, jadi dia berpikir untuk menghadiahinya, dan dapat dilihat juga dari konten yang diposting Jocelyn di sosial media, kalau Jocelyn ini sangat suka makan.
Dan ternyata memang benar, begitu Erwin selesai berbicara, Jocelyn yang semangat lagi.
“Ini kamu yang bilang ya, jangan nyesal ya nanti," kata Jocelyn dengan mata berbinar.
“Besok kamu lebih baik bawa lebih banyak uang, dia itu bisa makan sampai membangkrutkanmu.” Ametta mengingatkan, pada saat yang sama juga berpikir dalam hatinya untuk makan sebanyak-banyaknya untuk melampiaskan derita yang sudah dialaminya selama sepuluh hari ini.
“Jangan khawatir, makanlah sebanyak yang kalian mau,” kata Erwin sambil tersenyum.
Di Villa Mahkota di Kota Bandung, Erwin dan Lisa akhirnya pulang ke rumah setelah lama menghilang selama lebih dari sepuluh hari, dan merasa bahwa rumah tetaplah tempat yang paling nyaman.
__ADS_1
“Tuan muda, Lisa, udah balik ya, apakah kalian mau mandi?” Anita menyarankan begitu mencium bau aneh dari tubuh mereka.
“Tentu saja, aku belum mandi dengan bersih di hutan itu.” Erwin juga merasa tidak nyaman, lagipula, kondisi di hutan tidak terlalu baik, jadi tidak mungkin bisa mandi setiap hari.
Lisa di belakangnya juga berpikir begitu.
“Akan kusiapkan air mandinya.” Anita berkata dan ingin pergi berjalan ke kamar mandi untuk menyiapkan air untuk Erwin.
“Biar aku saja, kamu pergi kirimkan kontrak yang kubawa pada Damon aja, agar dia bisa mengurus prosedur akuisisinya.” Erwin menyuruh Lisa untuk menyerahkan lebih dari selusin kontrak akuisisi kepada Anita, yang membuat Anita sedikit terkejut
“Tuan muda, Anda itu pergi syuting atau berbisnis?” Anita membuka mulutnya dengan tak percaya.
“Kayaknya dua duanya.” Erwin tersenyum sedikit, kemudian melanjutkan, “Sebelum kamu pergi nanti, bantu aku siapin catatan masak, dan beberapa pakaian ganti ya, aku akan tinggal di luar beberapa hari."
Erwin berencana untuk pindah ke tempat tinggal Jocelyn selama beberapa hari, karena Jocelyn akan pergi setengah bulan lagi, jadi dia bermaksud untuk tinggal beberapa hari lagi bersamanya, membuatkan masakan enak untuknya, lalu mencari kesempatan untuk memberitahunya tentang pembatalan nikah!
“Baik, Tuan muda!” Anita mengangguk patuh dan dengan cepat mengambil tindakan
Saat malam hari, Erwin membawa koper ke area Villa Fancy Garden di barat kota lagi, tetap masih ada banyak satpam yang berpatroli di luar, tetapi jumlah orang yang lalu lalang jauh lebih sedikit, tampaknya Austin ini sudah meningkatkan dengan cukup efisien.
Ketika Erwin masuk, dia tidak perlu melapor pada satpam dan langsung masuk, sepertinya Austin juga sudah memberitahu para satpam di gerbang ini sebelumnya.
Erwin datang ke pintu vila Jocelyn lagi, dan dengan cepat membunyikan bel pintu.
Setelah menunggu lama, Ametta yang memakai celemek berjalan dari dapur untuk membuka pintu, melihat bahwa orang yang datang adalah Erwin, dia memasang ekspresi lagi,
"Kenapa datang lagi?"
Saat berbicara, matanya beralih ke koper di tangan Erwin, jangan-jangan anak sialan ini bermaksud tinggal di sini?!
“Biar aku aja yang masak buat kalian, sekalian aku mau sembunyi dari pengejaran Xavier.” Erwin berkata sambil tersenyum, mencari dua alasan yang bagus, dan langsung mendorong sambil berjalan masuk tanpa menunggu jawaban Ametta.
“Aku belum setuju kalau kamu boleh masuk.” Ametta sedikit kesal pada Erwin.
__ADS_1
“Tante, biarkan dia tinggal di sini aja setengah bulan ini, kalau tidak, masakanmu tidak bisa dimakan sama sekali.” Suara Jocelyn beras dari dalam, dan tepat di depan Jocelyn terdapat semangkuk telur goreng gosong, yang dilihat saja sudah tidak enak, apalagi memakannya.
"Baiklah.” Demi masakan enak, Ametta untuk sementara setuju agar Erwin tinggal di sini.