
Sebenarnya Paul tidak ingin berselisih dengan keluarga Lewis, menghadapi kecurigaan Hartono, dia berusaha untuk menjelaskan secara perlahan, berharap untuk tetap mempertahankan hubungan baik, tapi pengumuman proposal selanjutnya membuat permusuhan yang sudah tak terelakkan.
"Teman-teman di lingkaran bisnis sekalian, kita menerima sebuah ajukan proposal baru lagi, yang mengusulkan keluarga Zibrano untuk menggantikan salah satu posisi dari lima pemimpin yang kosong karena keluarnya keluarga Lewis, dan pemungutan suara akan diselenggarakan dalam satu jam." Aisyah menerima proposal tersebut, sesuai prosedur, dia mengambil mikrofon dan memberitahu semua orang, tapi pengumuman ini benar-benar membuat marah Hartono.
"Paul, akan kuingat kau! Kita pergi!” Hartono sepenuhnya percaya dalam hatinya bahwa Paul yang diam-diam merencanakan pengkhianatan ini.
“Hartono, ini cuma salah paham!” Paul ingin menjelaskan lagi. Namun, Hartono sepenuhnya mengabaikan Paul, karena dia sudah menentukan bahwa Paul adalah dalang di balik pengkhianatan keluarga Lewis.
Melihat Hartono memimpin keluarga Lewis pergi dengan marah, Paul merasa dirugikan, sepertinya dia yang dijadikan kambing hitam dari rencana pengkhianatan Keluarga Lewis.
“Aisyah, turun dulu, siapa yang ajukan proposal barusan?” Paul tidak bodoh, mengajukan proposal semacam ini di saat kondisi seperti tadi jelas untuk mengadu domba kebencian antara keluarga Zibrano dan Lewis.
"Ada apa Ayah? Kelvin yang ajukan, kuliat bakal menguntungkan keluarga Zibrano kita, jadi langsung kubacakan." Aisyah masih muda dan tidak punya banyak pengalaman hidup, dia awalnya berpikir ini menguntungkan, tapi tak sadar kalau sudah dimanfaatkan.
“Kamu tak sadar sedang dimanfaatkan jadi kambing hitam?” Paul sangat marah, Kelvin ini licik sekali, ada dukungan Tuan muda misterius dari balik layar, dan yang jadi kambing hitam justru dirinya.
“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?” Aisyah lumayan pintar, sehingga langsung mengerti begitu berpikir sejenak, tapi nasi sudah menjadi bubur, jadi apa boleh buat.
“Kita pulang dan bersiap untuk menghadapi balas dendam dari keluarga Lewis!” Paul sekarang juga pusing dengan masalah ini, dia hanya bisa berharap semuanya berjalan seperti yang dikatakan Tuan Muda misterius itu, yaitu mereka akan dapat bantuan dari High Build Group, jika tidak, dengan kekuatan keluarga Zibrano sendiri, Meski sanggup menahan pembalasan keluarga Lewis, tapi kerugiannya pasti akan sangat besar.
“Ayah, kita gak nunggu pemungutan suaranya dulu? Bukannya posisi lima pemimpin Aliansi Bisnis itu selalu diidamkan sama Ayah?” Aisyah menyadarkan Paul yang sedang marah.
“Oh iya, aku sudah lama mau menduduki posisi ini.” Paul berbalik lagi, awalnya dia berencana untuk membantu keluarga Lewis untuk mengeluarkan dan menggantikan posisi Kelvin sebagai salah satu dari lima pemimpin, tapi sekarang justru menggantikan posisi keluarga Lewis.
Ini benar-benar di luar dugaannya.
__ADS_1
Setelah pemungutan suara selesai, keluarga Zibrano memenangkan posisi salah satu dari lima pemimpin dengan persentase suara yang besar. Itu sudah dianggap mendapatkan posisi yang dia inginkan, tapi justru menimbulkan sebuah masalah besar, yang cukup membuatnya sakit kepala beberapa waktu ini.
Melihat semuanya sudah beres, Erwin berencana untuk pulang dulu.
"Lina, yuk pulang."
“Mm, main ke rumah aja yuk! Akan kumasak buat kamu malam ini.” Lina memeluk lengan Erwin dengan tatapan yang berbinar dan penuh kasih sayang.
Erwin mau setuju, tapi Kakek Lina tiba-tiba memotong percakapan,
"Erwin, omonganku sedikit kasar tadi, jadi jangan masukkan ke dalam hati ya, gimana kalau aku jadi tuan rumah aja malam ini, ajak juga Harry, Lucas, sama Kelvin juga, kita semua makan bersama, karena kita udah melewati masa-masa sulit seperti ini bersama-sama, jadi bisa dikatakan kita ini berteman."
Pertama-tama Rick ingin meminta maaf kepada Erwin, karena tadinya dia bilang menyesal sudah menjalin hubungan dengan Erwin, dan sekarang hasilnya sudah keluar, jadi dia merasa sedikit bersalah pada Erwin. Selain itu, dia juga menerima kartu emas berlian dari Erwin, yang membuatnya semakin tidak enakan.
Yang kedua, Rick ingin berkenalan dengan Kelvin dan Harry, bagaimanapun, mereka semua adalah orang-orang di lingkaran bisnis, terutama Kelvin, baik di organisasi atau di aliansi bisnis, Kelvin ini punya kekuasaan tinggi, jadi pasti akan sangat membantu di masa depan.
“Oke, sudah kita putuskan! Lina, kamu juga harus ikut, kalau tidak, Erwin tak mungkin mau ikut.” Lucas juga berkata dengan kuat di sebelah, dia juga ingin menjalin hubungan yang baik dengan teman-teman bisnis ini di selatan kota, karena akan jauh lebih mudah lagi kalau dia ingin membuka usaha di selatan kota kedepannya.
Erwin menghela nafas, karena orang-orang ini benar-benar melakukan segalanya untuk mengajaknya makan bersama!
Tapi Erwin tetap setuju, Ibu Lina, kedua bibi Lina, dan kedua sepupu Lina juga ikut. Kedua sepupu Lina ini cukup cantik, hanya saja mereka memandang rendah Erwin yang dari pedesaan, dan lebih tertarik dengan pemuda kaya.
Saat makan, Rick sangat kagum dengan Erwin, karena dia adalah yang paling tua di sini, jadi penilaiannya terhadap seseorang lebih akurat.
“Erwin, Kakek dukung hubunganmu sama Lina, jangan pedulikan apa yang dibilang ibunya.” Kata Rick sambil melirik putri keduanya, Mary, dan diam-diam memperingatkan Mary dengan matanya!
__ADS_1
Mary berkecil hati, memangnya apanya yang baik dari seorang anak miskin pedesaan? Putri dan suaminya berada di pihak Erwin, dan sekarang bahkan Ayahnya juga.
Erwin tidak mengatakan apa-apa, tetapi Lina justru senang duluan.
“Makasih Kakek, kutuang anggur buat Kakek!” Lina berkata sambil menuangkan anggur untuk Rick.
Reaksi Lina membuat semua orang tertawa, dan setelah Lina menyadari itu, dia tersipu malu hingga wajahnya memerah.
Setelah minum dan makan, Kelvin dan Harry pulang lebih dulu.
Sehingga sisanya tinggal orang sendiri, dan Rick berkata dengan ekspresi serius setelah berdehem,
"Karena di sini tinggal orang sendiri, aku mau umumkan satu hal penting, yaitu tentang pewaris perusahaan bahan bangunanku."
Berbicara tentang ini, masing-masing dari tiga putri Rick menjadi bersemangat, Rick tak punya putra dan hanya punya tiga putri. Seiring bertambahnya usia, Rick seharusnya sudah mencapai usia pensiun, tapi masalah pewaris belum terselesaikan sampai sekarang, dan ketiga putrinya juga sudah sangat menantikan ini.
"Tahun ini aku udah tujuh puluh enam, seharusnya udah usia pensiun, tapi sayang sekali! Nasib tak sesuai yang diharapkan!" Rick menghela nafas sedih karena tak punya seorang putra. Di zamannya, dia bisa menjalankan sebuah perusahaan bahan bangunan di selatan kota hingga menjadi nomor satu tanpa seorang putra sudah merupakan sebuah hal yang tak mudah untuk dilakukan.
Beberapa orang mendengarkan dengan tenang, terutama Mary dan kedua saudara perempuannya.
"Baru-baru ini, ada proyek real estat di barat kota yang kayaknya dari Jakarta, namanya Real Estate West Garden, mereka beli sebidang tanah besar di barat kota dan sudah siap untuk mengembangkan proyek real estat ini." Rick berhenti sejenak, kemudian melanjutkan,
"Kudengar mereka belum menandatangani kontrak dengan pemasok bahan bangunan manapun, dan pesanan proyek ini setidaknya lebih dari dua triliun rupiah, jadi kali ini, kalau salah satu dari kalian bertiga bisa menandatangani kontrak ini, maka aku akan mengangkatnya sebagai CEO Perusahaan Bahan Konstruksiku, dan juga akan kasih 10% saham sebagai hadiah tambahan."
Setelah mendengar ini, ketiga putrinya terkejut, karena tak nyangka Rick akan serius kali ini!
__ADS_1
“Jangan khawatir Ayah, aku pasti akan menandatangani kontrak ini.” Kakak perempuan tertua, Meisha, langsung menjamin, Mary dan Maida juga tak mau kalah.
Erwin mengerutkan kening saat mendengar ini, Real Estate West Garden ini sepertinya milik industri Smith mereka di Kota Jakarta, apa sekarang proyeknya sudah sebesar ini?