
Giselle yang seksi dan cantik, dengan ikal bergelombang, bibir merah, dan wajahnya yang menawan sangatlah menggoda.
“Giselle, mereka temanmu?” Pria yang dikenal sebagai Baul memandang Giselle dengan sedikit tatapan mesum, yang menunjukkan bahwa tidak ada yang bisa menolak pesona Giselle.
“Iya Baul, boleh bantu kali ini? Akan kutraktir makan malam lain kali.” Giselle mengedipkan mata kepada Baul, yang membuat Baul sangat senang.
“Karena mereka temanmu, boleh aja kuampuni, tapi jangan lupa makan malamnya ya Giselle.” Setelah itu Baul pergi bersama para bawahannya.
Lebih dari 30 orang langsung pergi, dan sekarang hanya tersisa 20 lebih orang lainnya yang merupakan bawahan dari Abel.
Erwin mengerutkan kening, diam-diam menghela nafas lega, karena hanya dengan beberapa kata, Giselle sudah bisa membujuk setengah dari mereka untuk pergi.
Tetapi membujuk Abel ini tidak akan semudah Baul.
“Abel, boleh bantu kali ini?” Giselle tidak mengedipkan mata pada Abel, karena dia tahu itu tidak akan berpengaruh.
“Giselle, kenapa kamu harus terlibat? Boleh saja aku membiarkan mereka pergi, tapi kamu harus minum habis ini sekaligus.” Abel memegang sebotol wiski 700ML di tangan.
"Kalau tak bisa, kamu harus tinggal bersamaku malam ini."
Erwin dan Nora juga sedikit terkejut setelah melihat ini, kadar alkohol wiski tersebut setidaknya 40 persen, tubuh manusia umumnya akan sulit bertahan jika minum 700ML sekaligus.
“Oke, akan kuminum, tapi tolong Abel tepati janjinya." Giselle mengangkat bibirnya sedikit, berjalan ke sana untuk mengambil botol wiski tersebut dari tangan Abel.
Tutup botolnya sudah dibuka, jadi hanya tinggal minum.
Giselle langsung meneguk habis wiski tersebut, orang-orang di sekitarnya tertegun untuk sementara waktu, begitu juga dengan Erwin, karena Erwin sendiri juga tidak berani minum seperti itu.
"Astaga Tuhan, kakak ini luar biasa." Ketika Nora memandang Giselle, matanya jelas memiliki sedikit kekaguman.
“Ini semua salahmu, akan kuberi kau hukuman pulang nanti.” Erwin pusing dengan kelakuan Nora yang sulit diatur, tidak heran Jocelyn minta bantuannya untuk mendisiplinkan Nora, karena Nora ini selalu saja membuat masalah.
Meskipun Ekspresi Giselle terlihat menyakitkan, tapi dia masih bersikeras meminum habis sebotol wiski itu.
“Abel, tolong tepati janjinya.” Giselle membalikkan botol itu yang menunjukkan bahwa sudah habis, tetapi tubuh Giselle mulai terhuyung-huyung, dia jelas sudah mabuk.
"Seperti yang diharapkan dari Giselle, jangan khawatir, akan kutepati." Abel kagum ketika melihat tindakan Giselle dan segera pergi bersama para bawahannya.
Erwin langsung maju untuk menangkap Giselle yang terhuyung-huyung.
"Giselle, kamu baik-baik aja?"
__ADS_1
“Erwin, kamu berutang padaku kali ini.” Wajah Giselle memerah, pandangannya sedikit kabur, langkah kakinya bahkan lebih tidak stabil.
Begitu dia selesai mengatakan ini, dia tanpa sadar lari ke pinggir jalan dan muntah di bawah sebuah pohon.
Erwin berjalan mendekat dan menepuk punggungnya dengan ringan, mencoba membuatnya merasa lebih baik.
“Makasih ya.” Erwin masih sangat berterima kasih kepada Giselle.
Tentu saja, jika Giselle tidak muncul, Erwin juga akan memiliki cara untuk menyelesaikan masalahnya, hanya saja cara Giselle lebih cepat dan efisien.
Nora juga datang dan berterima kasih dengan kagum,
"Kak Giselle, kamu luar biasa, bisa minum habis sebotol wiski sekaligus, aku sampai terkejut lho."
Mendengar ini, Giselle menoleh untuk melirik Nora yang terlihat sangat manis dan cantik, tidak heran Abel dan Baul bisa memperebutkannya.
"Erwin, tak kusangka kamu itu playboy juga ya, sampai bawa gadis keluar bersenang-senang tengah malam begini."
“Dia sepupuku!” Erwin terdiam beberapa saat, dia tidak menyangka Giselle akan berpikir begitu, jadi dia buru-buru mencari alasan untuk berbohong, dan mengisyaratkan Nora dengan matanya.
“Erwin itu sepupuku, jangan salah paham, aku yang keluar sendirian dan diganggu oleh kedua pria itu, jadi aku minta sepupuku buat menjemputku." Jawaban Nora membuat Erwin sangat puas, ternyata reaksi gadis ini cukup cepat dan pintar juga.
"Rumahmu di mana? Biar kuantar pulang."
“Aku nggak mau pulang, bawa aku ke tempatmu aja!” Setelah Giselle mengatakan ini dengan lemah, seluruh tubuhnya jatuh lemas ke dalam pelukan Erwin, kelopak matanya tidak pernah buka lagi, yang jelas sudah mabuk berat.
"Giselle, Giselle." Erwin memanggilnya beberapa kali, tetapi tidak ada respon, karena tidak punya pilihan, Erwin hanya bisa membawanya ke Fancy Garden Villa.
Memikirkan hal ini, Erwin langsung menggendongnya dan berjalan menuju mobil.
Pada saat kembali ke Fancy Garden Villa, jam sudah menunjuk pada pukul tiga pagi.
Setelah meletakkan Giselle yang mabuk di kamar tamu lantai atas untuk beristirahat, Nora juga langsung kembali ke kamar, karena takut Erwin akan memberinya pelajaran.
Setelah menyelesaikan semuanya, Erwin yang sangat lelah langsung tertidur di sofa.
Erwin baru bangun saat hampir siang hari, dia menguap dan hendak mandi, tanpa diduga, sosok seksi dan mempesona turun ke bawah saat ini, itu adalah Giselle yang terlihat jauh lebih baik setelah tidur.
“Udah bangun ya, mau makan apa? biar kubuat.” Erwin berkata sambil tersenyum, mau itu bentuk tubuh ataupun wajah, Giselle itu merupakan godaan yang fatal bagi kaum pria, tetapi hati Erwin sudah diisi oleh Lina, jadi dia tidak terlalu memandangnya.
Giselle menggosok pelipis dengan tangan, dan ketika dia mendengar bahwa Erwin bisa memasak, dia penasaran sekaligus bingung,
__ADS_1
"Kamu pandai masak?"
Menurut Giselle, sangat sedikit pria yang bisa memasak, apalagi Erwin itu orang kaya misterius seperti yang bisa menghabiskan 800 miliar dengan santai untuk membuat pacarnya bahagia.
“Kenapa kaget? Aku bisa masak berbagai jenis hidangan lho." Erwin tersenyum sedikit, lalu pergi ke dapur, dan dalam waktu singkat sudah siap menyiapkan satu meja penuh hidangan.
Setelah makanan disajikan, nafsu makan Giselle juga membesar dan sangat menantikan, dia menjadi semakin penasaran dengan Erwin ini.
"Aku kaget liat orang kaya misterius sepertimu bisa masak." Giselle mencicipi hidangannya, dan rasanya memang lumayan enak.
Erwin tidak membantah, tetapi mengubah topik pembicaraan dan berterima kasih lagi,
"Mengenai tadi malam, makasih ya."
“Kalau mau berterima kasih padaku, jadilah pacarku!” kata Giselle dengan nada yang setengah bercanda sekaligus setengah serius.
"Kamu terlalu memandang tinggi diriku, aku cuma anak miskin dari pedesaan yang merantau ke Kota Bandung ini, dan tidak semisterius yang kamu pikirkan." Erwin tersenyum sedikit.
“Aku tidak percaya, Lina yang secantik itu bersedia pacaran dengan anak miskin pedesaan?” Giselle selalu merasa bahwa Lina itu gerak cepat dan berhasil mendekati orang kaya misterius ini, tapi dia sangat percaya diri bisa merebut Erwin dari Lina.
“Terserah padamu mau percaya atau tidak.” Erwin menggelengkan kepala, perjalanan hidup dan kisah antara dirinya bersama Lina itu tidak dapat dijelaskan hanya dengan beberapa kalimat saja.
"Ngomong-ngomong, karena kamu udah bantu aku semalam, bilang aja padaku kalau kamu ada masalah ke depannya." Erwin memikirkannya dan berkata, anggap saja sebagai balas budi! Karena dia tidak ingin berutang budi pada orang lain.
“Serius? Kalau aku ada masalah?” Giselle tampaknya benar-benar mengalami kesulitan dan ingin memastikan kata-kata Erwin.
“Iya, langsung bilang aja.” Erwin tersenyum ringan, lalu menundukkan kepala untuk meminum bubur daging.
“Kebetulan aku memang lagi kesulitan, apa boleh minta bantuanmu?” Giselle bubur daging dan bertanya dengan ekspresi serius.
“Iya, bilang aja.” Erwin meminum seteguk bubur lagi.
“Aku mau kamu bantu aku mengendalikan Laws Group,” kata Giselle dengan tatapan serius.
“Bantu kamu mengendalikan Laws Group? Kamu mau jadi CEO?” Erwin sedikit terkejut, tetapi tidak menyangka wanita ini punya ambisi sebesar ini.
"Aku adalah putri tidak sah dari keluarga Lawrence selama kamu membantuku mengendalikan Laws Group, aku akan lakukan apapun yang kamu mau." Giselle tiba-tiba mengepalkan tinjunya dan sepertinya sudah membulatkan tekad.
"Kamu itu putri tidak sah dari keluarga Lawrence, tapi mau mengendalikan Laws Group? Ini menarik! "Erwin tidak menyangka bahwa Giselle adalah putri tidak sah dari keluarga Lawrence. Melihat tatapannya yang penuh tekad, sepertinya Giselle banyak menerima pembullyan m dalam keluarganya, sehingga bisa mencari bantuan orang lain untuk membalas kembali.
“Oke, aku setuju, tapi setelah dapat nanti, aku mau 60% saham Laws Group” Erwin berkata dengan sedikit tersenyum, dia tentu dengan senang hati membantu permintaan yang bisa membunuh dua burung dengan satu batu.
__ADS_1